Slide Of Love

Loading...

Sabtu, 02 Februari 2008

Zainab Dan Ayah

Kita sebut saja lelaki berumur 55 tahun itu ayah,
sebab apalah artinya nama. Yang lebih penting: ayah
macho, tampan, keturunan Arab, dan sejak mudanya sudah
banyak perempuan yang dia cicipi, baik yang umur 40-an
tahun maupun yang baru aqil-baliq, dikawini atau tidak
dikawini.

Peristiwa itu terjadi ketika dia berkunjung ke rumah
anak angkatnya untuk suatu keperluan. Dia sengaja
lewat pintu belakang, karena dia berharap ketiban
rejeki lagi seperti beberapa pekan yang lalu,
berhasil melihat tubuh telanjang menantunya yang
cantik lagi mandi. Si menantu menjerit kecil sambil
menggapai handuk, tetapi wanita usia 24 tahun yang
belum punya anak itu tahu adalah kecerobohannya
sendiri telah tidak menutup pintu kamar mandi.


Tetapi hari ini dia tidak melihat Zainab menantunya
itu di kamar mandi ataupun di dapur. Dia panggil
namanya tetapi tidak ada sahutan. Diapun masuk ke
ruang tengah dan melongok ke kamar, sepi, anak
angkatnya Zainal juga tak ada dan itu dia sudah tahu.
Lalu dia melangkah ke ruang tamu ... dan darahnya
tersirap. Di sana dia melihat pemandangan mendebarkan.
Zainab terbaring setengah miring di sofa dengan posisi
yang aduhai. Kimononya terbuka di bagian dada yang
tampaknya tidak berkutang dan ... sebelah kakinya
keluar dari belahan kimono memperlihatkan bagian dalam
pangkal pahanya yang putih mulus dan padat. Ayah
mereguk liurnya. Tapi tiba-tiba dia panik,
jangan-jangan .... diapun mendekat lalu berlutut di
depan sofa memperhatikan helaan nafas dan mendengar
baik-baik, dan diapun lega, Zainab bernafas dalam
dengan teratur, dia hanya tertidur lelap. Ditatapnya
wajah Zainab yang rupawan, hidungnya yang bangir,
bibirnya yang bak limau seulas, dan dia perhatikan
tangannya yang berbulu-bulu halus terbalik, dan
dadanya yang membusung indah dan separuh terbuka.
Sudah lama ayah mengagumi diam-diam kecantikan
menantunya ini. Dan walaupun pernah dia pergoki lagi
mandi telanjang, tidak pernah dia begitu dekat padanya
seperti sekarang ini.

Zainab tidur nyenyak sekali. Perlahan ayah mendekatkan
wajahnya ke wajah Zainab sehingga dapat menghirup
nafasnya, duh harum sekali. Jantung ayah berdebar
semakin kencang dipacu hasrat berahi yang makin
bergelora. Didekatkannya mulutnya ke mulut Zainab dan
dikecupnya bibir mungil yang indah itu dan dikulumnya,
sementara sebelah tangannya menyelusup ke balik kimono
di bagian dada yang tidak berkutang. Sambil terus
melumat bibir, tangannya meremas lembut payudara
Zainab yang berbentuk bukit tempurung. Mula-mula yang
kiri kemudian bergeser ke yang kanan.

Zainab terbangun. Dia terperanjat dan hendak memaki
karena mengira suaminya. Tetapi ketika melihat ayah
kemarahannya segera pupus. Malah dia jadi
berdebar-debar dan nafasnya kacau mengetahui apa yang
telah diperbuat ayah mertuanya, dan darahnya mengalir
kencang.

Sudah lama Zainab jadi pengagum diam-diam ayah. Kagum
kalau dia lagi bicara berapi-api di depan mimbar yang
membuat semua hadirin tertegun terpesona.
Kagum karena walau tua dia tampak atletis dan kuat
dengan menyiratkan kejantanan dan keperkasaan seorang
lelaki sejati, berbeda dengan suaminya yang walau
masih muda tapi cepat loyo di tempat tidur. Ayah juga
baik hati, punya banyak sumber penghasilan kiri-kanan
dan bertanggungjawab. Semua biaya rumahtangganya
ayahlah yang mencukupi. Dan dia ingat sekitar empat
minggu yang lalu ketika ayah memergokinya sedang
mandi. Betapa malunya dia. Mata ayah sempat menjilati
seluruh tubuhnya, tidak ada lagi bagian yang tidak
pernah dia lihat. Dan dia masih ingat apa yang
dikatakan ayah setelah dia berpakaian dan menemuinya
di ruang tamu dengan wajah bersemu merah. "Bukan main
Nab, bukan main." Dan dia tahu benar apa yang
terpancar dari mata laki-laki itu. Hasrat keinginan
hendak memiliki.

Dan kini dia berada dalam rangkulan ayah yang jongkok
di depan sofa. "Ayah jangan, ini tidak boleh.."
bisiknya seperti hendak menangis. "Aku sudah lama
menginginkanmu Nab ..", kata ayah tersengal dan
kembali melumat mulut Zainab. Dia bahkan memasukkan
lidahnya ke mulut Zainab dan melilit lidah Zainab.
Tangannya kembali meremas-remas kesana-kemari. Zainab
gelagapan. Ketika ciuman dan kecupan ayah pindah ke
wajah kemudian ke pangkal telinga dan ke lehernya,
Zainab kembali tersengal, "Ayah sudah .... nanti
kelihatan orang." Tapi ayah tidak peduli. Kenyataan
Zainab tidak menjerit dan tidak banyak menolak, dan
mendengar degup dadanya yang memburu kencang, membuat
hatinya bersorak karena tahu tak lama lagi dia akan
mendapatkan Zainab. Kecupan ayah pindah dari leher ke
dada, sementara tangannya mulai menjamah mengusap paha
Zainab yang tersingkap. Dibenamkannaya wajahnya di
celah dada Zainab kemudian digigitnya kedua puting
perempuan itu, sementara tangannya mengusap dan
meremas bukit kemaluan Zainab yang masih ditutupi
celana dalam. "Ayah jangan!" desah Zainab dekat
telinganya. Tangannya mencoba menyingkirkan tangan
ayah yang mulai menyelusup kedalam celana dalamnya dan
menyentuh klitoris Zainab dengan jarinya, yang membuat
perempuan bertubuh gemulai indah itu menggelinjang dan
menggigit bahu ayah. Tapi ayah tahu perlawanan itu
hanya perlawanan malu-malu. Dilumatnya lagi mulut
Zainab dan dia lilit lagi lidah Zainab dengan lidahnya
dan dia remas gemas lagi dadanya, lalu bukit
kemaluannya, dan beberape menit kemudian setelah
tangannya liar menjamah seluruh tubuh bagian bawahnya,
celana dalam Zainab-pun berhasil dia loloskan dan
terlepas dari ujung jari kakinya. "Ayah....hhhhhh",
Zainab makin tersengal dan ayah cepat-cepat meloloskan
celana luar dan celana dalamnya sendiri. Dirangkulnya
perempuan cantik bahenol itu dan dihimpitnya di sofa.
Dengan kedua lutut dibukanya jepitan paha Zainab dan
dikangkangkannya kedua kakinya. Zainab juga sudah
menggigil dilanda nafsu berahinya sendiri, liang
vaginanya sudah basah menunggu tancapan batang
kejantanan ayah yang sudah dia perkirakan akan jauh
lebih perkasa dari milik suaminya. Dia letakkan
sebelah kakinya di punggung sofa dan satu lagi
terjuntai ke lantai. Dan ayahpun mengambil posisi
diantara kedua paha Zainab lalu menuntun penisnya yang
memang sudah lama ingin mereguk rasa bersarung di
dalam liang nikmat menantu montok padat itu. Di
cecahkannya kepala penisnya di mulut lobang vagina
Zainab dan membasahinya dengan linangan pelumas yang
sudah tergenang disana. "Zainab.." bisiknya dengan
nafas sesak dekat telinga Zainab. "Apa yah ..?" sahut
Zainab juga berbisik dirangsang nafsu. "Ayah boleh
masuk?" Zainab tidak menjawab, dia malu. "Kamu kan
tidak terpaksa kan Nab?" bisik ayah lagi. Dan ayah
menusukkan kepala penisnya. "Kamu juga ingin kan?"
Zainab diam namun dia merasakan nikmat masuknya kepala
besar yang kenyal itu. Ayah menikamkan lagi separuh
batangnya. "Enak kan zakar ayah Nab?" dengusnya.
Zainab mengeluarkan suara dengusan dan merangkul leher
ayah. "Sekarang kau kusantap habis", kata ayah dalam
hatinya, dan seiring dengan itu ditikamkannya seluruh
batangnya kedasar vagina Zainab. Tidak sampai disitu
saja dia pun mengocok Zainab dengan dahsyat. Zainab
seperti terbang ke langit yang ketujuh. Tancapan
batang kejantanan ayah dalam sekali, menyentuh bagian
yang belum pernah tersentuh dalam persetubuhan dengan
suaminya. Dan punya ayah sungguh besar dan panjang.
Kocokannya juga mantap. Oh nikmatnya. Zainab merangkul
ayah kuat-kuat dan melumat mulutnya. Mulutnya
menceracau berulang-ulang seiring dengan kocokan ayah:
"Duh enaknya yah ... duh enaknya yah .. duh enaknya
yah..." Kedua pahanya gelisah bergerak-gerak
menanggapi gerakan panggul ayah yang terus memompa.

Ayah tahu mereka tidak punya waktu banyak. Zainal anak
angkatnya bisa pulang sewaktu-waktu. Atau mereka bisa
dipergoki orang lain. Sebab itu dia berusaha keras.
Dia ingin memuaskan Zainab sepuas-puasnya sebelum
mereka selesai. Dan usaha itu berhasil. Dia merasa
tubuh Zainab mengejang dan dinding vaginanya mulai
mencengkam. Ayah tahu saatnya tiba. Dihunjamkannya
penisnya untuk terakhir kali sedalam-dalamnya ke dasar
liang Zainab dan disemburkannya bongkahan sperma
kentalnya berulang-ulang ke rahimnya. Zainab melolong,
merangkul makin erat dan melumat mulut ayah
sementara kedua paha dan kakinya memiting panggul
ayah. Otot-otot vaginanya meremas zakar besar ayah dan
membasahi dengan air mazi kewanitaannya. Lalu keduanya
lemas.

Ayah membiarkan penisnya terendam dalam liang
kewanitaan Zainab beberapa lama sebelum mencabutnya.
Dihapusnya peluh di kening dan pelipis perempuan itu
yang tampak makin cantik di kala letih dan puas. Dan
dia merasa bahagia sekali. Zainab sudah berhasil dia
cicipi dan dia juga bertekad untuk memilikinya. Dia
akan menyuruh Zainab berkeras minta cerai dari Zainal
dan setelah habis masa idah Zainab dia akan mengawini
perempuan yang sudah separuh jadi miliknya itu. Dan
ketika dia mengenakan kembali celananya, dan Zainab
menyelipkan celana dalamnya yang tadi terlempar di
selangkangannya, rencananya itu dikatakannya pada
Zainab. "Tapi bagaimana kalau aku hamil di masa idah
ayah?" tanya Zainab manja. "Ya jangan diberitahu orang
bahwa haid-mu tidak datang. Sebab kalau mulai sekarang
kamu tidak berhubungan lagi dengan Zainal, berarti
kandunganmu itu pasti buah cinta kita bukan?", kata
ayah tersenyum. Zainabpun juga tersenyum mengerti. Dia
juga sangat bahagia, sebab sejak dulu dia sebenarnya
lebih suka kalau jadi isteri ayah.

Inilah cerita seorang ayah mertua yang mencurangi
anaknya, walau hanya anak angkat. Dan nama
anak-angkatnya itu sebenarnya bukan Zainal. Namanya
ZAID.

TAMMAT


To: islamkristen@yahoogroups.com
From: "Mas Sato" <[EMAIL PROTECTED]> Add to
Address Book
Yahoo! DomainKeys has confirmed that this message was
sent by yahoogroups.com. Learn more
Date: Fri, 24 Jun 2005 01:32:22 -0700 (PDT)
Subject: [islamkristen] Cerpen khayal Sato Sakaki:
AYAH DAN ZAINAB ( versi HOT )


Saya reposting dengan sedikit revisi pilihan kata. Ide
ucapan kagum: "Bukan main, Nab. Bukan main", aslinya
di Sirah Haekal adalah: "Mahasuci Dia yang telah
membalikkan hati manusia."
Tapi sekali lagi ini hanya cerpen khayal. Jadi
niru-niru Leonardo da Vinci-lah hehehehe ...
-----------

AYAH dan ZAINAB
(Cerpen imajinasi karangan Sato Sakaki sekedar
intermezzo dari perdebatan keras di milis ini ..
hehehe.)

Kita sebut saja lelaki berumur 55 tahun itu ayah,
sebab apalah artinya nama. Yang lebih penting: ayah
macho, tampan, keturunan Arab, dan sejak mudanya sudah
banyak perempuan yang dia cicipi, baik yang umur 40-an
tahun maupun yang baru aqil-baliq, dikawini atau tidak
dikawini.

Peristiwa itu terjadi ketika dia berkunjung ke rumah
anak angkatnya untuk suatu keperluan. Dia sengaja
lewat pintu belakang, karena dia berharap ketiban
rejeki lagi seperti beberapa pekan yang lalu,
berhasil melihat tubuh telanjang menantunya yang
cantik lagi mandi. Si menantu menjerit kecil sambil
menggapai handuk, tetapi wanita usia 24 tahun yang
belum punya anak itu tahu adalah kecerobohannya
sendiri telah tidak menutup pintu kamar mandi.

Tetapi hari ini dia tidak melihat Zainab menantunya
itu di kamar mandi ataupun di dapur. Dia panggil
namanya tetapi tidak ada sahutan. Diapun masuk ke
ruang tengah dan melongok ke kamar, sepi, anak
angkatnya Zainal juga tak ada dan itu dia sudah tahu.
Lalu dia melangkah ke ruang tamu ... dan darahnya
tersirap. Di sana dia melihat pemandangan mendebarkan.
Zainab terbaring setengah miring di sofa dengan posisi
yang aduhai. Kimononya terbuka di bagian dada yang
tampaknya tidak berkutang dan ... sebelah kakinya
keluar dari belahan kimono memperlihatkan bagian dalam
pangkal pahanya yang putih mulus dan padat. Ayah
mereguk liurnya. Tapi tiba-tiba dia panik,
jangan-jangan .... diapun mendekat lalu berlutut di
depan sofa memperhatikan helaan nafas dan mendengar
baik-baik, dan diapun lega, Zainab bernafas dalam
dengan teratur, dia hanya tertidur lelap. Ditatapnya
wajah Zainab yang rupawan, hidungnya yang bangir,
bibirnya yang bak limau seulas, dan dia perhatikan
tangannya yang berbulu-bulu halus terbalik, dan
dadanya yang membusung indah dan separuh terbuka.
Sudah lama ayah mengagumi diam-diam kecantikan
menantunya ini. Dan walaupun pernah dia pergoki lagi
mandi telanjang, tidak pernah dia begitu dekat padanya
seperti sekarang ini.

Zainab tidur nyenyak sekali. Perlahan ayah mendekatkan
wajahnya ke wajah Zainab sehingga dapat menghirup
nafasnya, duh harum sekali. Jantung ayah berdebar
semakin kencang dipacu hasrat berahi yang makin
bergelora. Didekatkannya mulutnya ke mulut Zainab dan
dikecupnya bibir mungil yang indah itu dan dikulumnya,
sementara sebelah tangannya menyelusup ke balik kimono
di bagian dada yang tidak berkutang. Sambil terus
melumat bibir, tangannya meremas lembut payudara
Zainab yang berbentuk bukit tempurung. Mula-mula yang
kiri kemudian bergeser ke yang kanan.

Zainab terbangun. Dia terperanjat dan hendak memaki
karena mengira suaminya. Tetapi ketika melihat ayah
kemarahannya segera pupus. Malah dia jadi
berdebar-debar dan nafasnya kacau mengetahui apa yang
telah diperbuat ayah mertuanya, dan darahnya mengalir
kencang.

Sudah lama Zainab jadi pengagum diam-diam ayah. Kagum
kalau dia lagi bicara berapi-api di depan mimbar yang
membuat semua hadirin tertegun terpesona.
Kagum karena walau tua dia tampak atletis dan kuat
dengan menyiratkan kejantanan dan keperkasaan seorang
lelaki sejati, berbeda dengan suaminya yang walau
masih muda tapi cepat loyo di tempat tidur. Ayah juga
baik hati, punya banyak sumber penghasilan kiri-kanan
dan bertanggungjawab. Semua biaya rumahtangganya
ayahlah yang mencukupi. Dan dia ingat sekitar empat
minggu yang lalu ketika ayah memergokinya sedang
mandi. Betapa malunya dia. Mata ayah sempat menjilati
seluruh tubuhnya, tidak ada lagi bagian yang tidak
pernah dia lihat. Dan dia masih ingat apa yang
dikatakan ayah setelah dia berpakaian dan menemuinya
di ruang tamu dengan wajah bersemu merah. "Bukan main
Nab, bukan main." Dan dia tahu benar apa yang
terpancar dari mata laki-laki itu. Hasrat keinginan
hendak memiliki.

Dan kini dia berada dalam rangkulan ayah yang jongkok
di depan sofa. "Ayah jangan, ini tidak boleh.."
bisiknya seperti hendak menangis. "Aku sudah lama
menginginkanmu Nab ..", kata ayah tersengal dan
kembali melumat mulut Zainab. Dia bahkan memasukkan
lidahnya ke mulut Zainab dan melilit lidah Zainab.
Tangannya kembali meremas-remas kesana-kemari. Zainab
gelagapan. Ketika ciuman dan kecupan ayah pindah ke
wajah kemudian ke pangkal telinga dan ke lehernya,
Zainab kembali tersengal, "Ayah sudah .... nanti
kelihatan orang." Tapi ayah tidak peduli. Kenyataan
Zainab tidak menjerit dan tidak banyak menolak, dan
mendengar degup dadanya yang memburu kencang, membuat
hatinya bersorak karena tahu tak lama lagi dia akan
mendapatkan Zainab. Kecupan ayah pindah dari leher ke
dada, sementara tangannya mulai menjamah mengusap paha
Zainab yang tersingkap. Dibenamkannaya wajahnya di
celah dada Zainab kemudian digigitnya kedua puting
perempuan itu, sementara tangannya mengusap dan
meremas bukit kemaluan Zainab yang masih ditutupi
celana dalam. "Ayah jangan!" desah Zainab dekat
telinganya. Tangannya mencoba menyingkirkan tangan
ayah yang mulai menyelusup kedalam celana dalamnya dan
menyentuh klitoris Zainab dengan jarinya, yang membuat
perempuan bertubuh gemulai indah itu menggelinjang dan
menggigit bahu ayah. Tapi ayah tahu perlawanan itu
hanya perlawanan malu-malu. Dilumatnya lagi mulut
Zainab dan dia lilit lagi lidah Zainab dengan lidahnya
dan dia remas gemas lagi dadanya, lalu bukit
kemaluannya, dan beberape menit kemudian setelah
tangannya liar menjamah seluruh tubuh bagian bawahnya,
celana dalam Zainab-pun berhasil dia loloskan dan
terlepas dari ujung jari kakinya. "Ayah....hhhhhh",
Zainab makin tersengal dan ayah cepat-cepat meloloskan
celana luar dan celana dalamnya sendiri. Dirangkulnya
perempuan cantik bahenol itu dan dihimpitnya di sofa.
Dengan kedua lutut dibukanya jepitan paha Zainab dan
dikangkangkannya kedua kakinya. Zainab juga sudah
menggigil dilanda nafsu berahinya sendiri, liang
vaginanya sudah basah menunggu tancapan batang
kejantanan ayah yang sudah dia perkirakan akan jauh
lebih perkasa dari milik suaminya. Dia letakkan
sebelah kakinya di punggung sofa dan satu lagi
terjuntai ke lantai. Dan ayahpun mengambil posisi
diantara kedua paha Zainab lalu menuntun penisnya yang
memang sudah lama ingin mereguk rasa bersarung di
dalam liang nikmat menantu montok padat itu. Di
cecahkannya kepala penisnya di mulut lobang vagina
Zainab dan membasahinya dengan linangan pelumas yang
sudah tergenang disana. "Zainab.." bisiknya dengan
nafas sesak dekat telinga Zainab. "Apa yah ..?" sahut
Zainab juga berbisik dirangsang nafsu. "Ayah boleh
masuk?" Zainab tidak menjawab, dia malu. "Kamu kan
tidak terpaksa kan Nab?" bisik ayah lagi. Dan ayah
menusukkan kepala penisnya. "Kamu juga ingin kan?"
Zainab diam namun dia merasakan nikmat masuknya kepala
besar yang kenyal itu. Ayah menikamkan lagi separuh
batangnya. "Enak kan zakar ayah Nab?" dengusnya.
Zainab mengeluarkan suara dengusan dan merangkul leher
ayah. "Sekarang kau kusantap habis", kata ayah dalam
hatinya, dan seiring dengan itu ditikamkannya seluruh
batangnya kedasar vagina Zainab. Tidak sampai disitu
saja dia pun mengocok Zainab dengan dahsyat. Zainab
seperti terbang ke langit yang ketujuh. Tancapan
batang kejantanan ayah dalam sekali, menyentuh bagian
yang belum pernah tersentuh dalam persetubuhan dengan
suaminya. Dan punya ayah sungguh besar dan panjang.
Kocokannya juga mantap. Oh nikmatnya. Zainab merangkul
ayah kuat-kuat dan melumat mulutnya. Mulutnya
menceracau berulang-ulang seiring dengan kocokan ayah:
"Duh enaknya yah ... duh enaknya yah .. duh enaknya
yah..." Kedua pahanya gelisah bergerak-gerak
menanggapi gerakan panggul ayah yang terus memompa.

Ayah tahu mereka tidak punya waktu banyak. Zainal anak
angkatnya bisa pulang sewaktu-waktu. Atau mereka bisa
dipergoki orang lain. Sebab itu dia berusaha keras.
Dia ingin memuaskan Zainab sepuas-puasnya sebelum
mereka selesai. Dan usaha itu berhasil. Dia merasa
tubuh Zainab mengejang dan dinding vaginanya mulai
mencengkam. Ayah tahu saatnya tiba. Dihunjamkannya
penisnya untuk terakhir kali sedalam-dalamnya ke dasar
liang Zainab dan disemburkannya bongkahan sperma
kentalnya berulang-ulang ke rahimnya. Zainab melolong,
merangkul makin erat dan melumat mulut ayah
sementara kedua paha dan kakinya memiting panggul
ayah. Otot-otot vaginanya meremas zakar besar ayah dan
membasahi dengan air mazi kewanitaannya. Lalu keduanya
lemas.

Ayah membiarkan penisnya terendam dalam liang
kewanitaan Zainab beberapa lama sebelum mencabutnya.
Dihapusnya peluh di kening dan pelipis perempuan itu
yang tampak makin cantik di kala letih dan puas. Dan
dia merasa bahagia sekali. Zainab sudah berhasil dia
cicipi dan dia juga bertekad untuk memilikinya. Dia
akan menyuruh Zainab berkeras minta cerai dari Zainal
dan setelah habis masa idah Zainab dia akan mengawini
perempuan yang sudah separuh jadi miliknya itu. Dan
ketika dia mengenakan kembali celananya, dan Zainab
menyelipkan celana dalamnya yang tadi terlempar di
selangkangannya, rencananya itu dikatakannya pada
Zainab. "Tapi bagaimana kalau aku hamil di masa idah
ayah?" tanya Zainab manja. "Ya jangan diberitahu orang
bahwa haid-mu tidak datang. Sebab kalau mulai sekarang
kamu tidak berhubungan lagi dengan Zainal, berarti
kandunganmu itu pasti buah cinta kita bukan?", kata
ayah tersenyum. Zainabpun juga tersenyum mengerti. Dia
juga sangat bahagia, sebab sejak dulu dia sebenarnya
lebih suka kalau jadi isteri ayah.

Inilah cerita seorang ayah mertua yang mencurangi
anaknya, walau hanya anak angkat. Dan nama
anak-angkatnya itu sebenarnya bukan Zainal. Namanya
ZAID.


Tidak ada komentar:

Boleh Ide Creative nya ...

Sebelumnya terima kasih karena anda telah mengunjungi blog ini.
Untuk itu saya menawarkan bagi anda yang ingin memberikan cerita atau pengalaman pribadi tentang dunia sex, dapat dikirimkan ke alamat email di bawah ini.
ceria_070589@yahoo.com

atau kirim sms ke no +628999122641
Terima kasih atas partisipasinya.

Salam

Pujangga