<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252</id><updated>2011-08-28T18:25:55.585+07:00</updated><title type='text'>Sex Story</title><subtitle type='html'>Kumpulan Cerita-Cerita Sex Terkenal dan Terlaris di Dunia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-6387633911210253440</id><published>2008-02-02T13:36:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:37:16.977+07:00</updated><title type='text'>Diary Niken</title><content type='html'>Well... mulanya ini ide iseng-iseng gue, "love hotel" dalam rangka hari kemerdekaan! Panjat pinang cinta di puncak asmara. Eh, pacar gue Riko malah menanggapi dengan serius. So... why do he waiting for..? Just make it come true! 3 days 2 nights make-love romantic-exotic party… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riko mempersiapkan segalanya, hampir komplit: selain bawa pakaian casual dan makanan - minuman ringan, juga membawa DVD player beserta beberapa film triple-x, handycam, beberapa thong dan boxer, topeng, lilin, pelumas, kondom dan sejenisnya. Gue bilang hampir komplit karena nggak bawa : dildo / vibrator.. he.he..he.. belon punya. Ada yg tau bisa dapetin barang tsb yg berkualitas prima dengan harga wajar..??? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah hari riko check-in sendirian di hotel MR, hotel yg masih gres dan cukup favorit di bilangan jakarta selatan. Setelah itu dia jemput gue di rumah dan mengantar gue ke kampus untuk kuliah. "Holly shit..! My Sexy niken..." gurau riko menatap gue. Memandangi rambut gue yang hitam panjang, kulit putih mulus, wajah cantik indo-japan, tinggi 160an...wow! Kaus ketat putih gue cukup tipis sehingga bra motif kotak-kotak biru ukuran 36 pemberian riko yg gue kenakan membayang jelas dan tak kuasa menyembunyikan keindahan payudara dibaliknya itu. Adrenalin riko langsung bergejolak, dalam hatinya gue yakin dia berteriak... "Buset dah! Mau kuliah pake thong-bikini gitu dibalik kaus ketat putih dan celana panjang hitam..!" Si Niko (nama penis riko, singkatan dari Niken's kontol.. he..he..) jadi bangun deh! &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, selesai kuliah sekitar jam 3 sore, kita langsung melaju menuju hotel MR, lantai 7 kamar xxx. Tanpa bisa berbasa-basi, riko mulai mencumbu gue, maklum... ini momen yg sudah lama kita tunggu. Dia melumat bibir gue yg masih terpoles lipstik merah merona sambil tangannya memeluk erat-erat bodi gue yang hangat menggemaskan. Perlahan kami berbaring di ranjang yg empuk sambil berkecup mesra dan liar, meraba tubuh yang semakin memanas lekas... Sebentar dengan setengah memaksa, riko segera mencopot kaus ketat putih dan celana panjang hitam ketat yg melekat di badan gue... "Aduh, apa-apaan sih riko... masih siang nih, jangan dulu dong, please.." gue berkata pelan. Namun ia seperti tidak menggubris kata-kata gue. Lekuk tubuh gue yang tinggal mengenakan thong-bikini bermotif kotak-kotak biru mungkin sangat-sangat menggairahkan sekali dirinya... membuat si "niko" mengeras... serasa menantang iman kejantanan riko. Terus ia mencumbu gue, kiss my lips, my face, lick my ear and my neck, bermain-main dengan putting dan payudara gue... make me so horny... higher and higher... "Ssshhhh... ahhhh...hmmm..." gue mulai beraksi melawan cumbu rayunya. Sebentar riko membuka kaus dan jeans yg dipakainya, wow... tinggal boxer ketat yang menonjolkan kegagahan kontolnya. Nggak sadar gue raih boxernya, menelanjangi itu, tangan kanan gue membetot batang zakarnya sementara lidah gue menjelajah di ujung kepala dan urat leher kontolnya. "Ahh...!" riko berteriak kaget campur sedikit sakit dan nikmat... Dengan lahap bibir dan lidah gue menyerbu dan menjilati kepala dan leher si niko yg semakin mengejang, tangan kiri gue mempermainkan dan meremas-remas biji zakarnya sementara tangan kanan gue terus membetot dan mengocok batang kontol itu. "Aouuuu... honey... you... ahhh..." riko mendesah kenikmatan dari ganasnya oral seks yang gue lakukan. Sambil terus melahap kontolnya, mata gue terus menatap langsung wajah riko yang lagi menikmati... oh no... he is... mupeng... muka pengen.. ha..ha..ha..! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sinar matahari yang menerangi melalui kaca jendela kamar yang terbuka lebar, mulai meredup senja. Istirahat sejenak, setelah menutup jendela, kami memasang lilin-lilin warna-warni di sekeliling tempat tidur. Penyejuk udara terus-menerus menghembuskan udara segar, membuat suasana menjadi sangat nyaman, adem dan romantis, namun membuat gejolak panas di dada... Kembali riko memegang kendali, menjilati sekujur tubuh seksi gue yang tinggal mengenakan thong, sementara tangannya mempermainkan klitoris seputar meiko ( vaginanya gue, singkatan dari memek si riko.. he..he..). Panas di dalam... Dengan gaya konvensional, jemarinya menguak thong-bikini gue, perlahan kontolnya mulai terarah ke dalam liang sempit vagina gue yang sudah membasah. "Aaaahhhsss...sssshhhh..." riko seperti merasakan kejantanannya menjelajahi lubang vagina gue . "Ahhh...ahhhh..." gue mendesah-desah sedikit sakit bercampur nikmat ketika seperti setengah terpaksa kontolnya yang cukup gede (kira-kira 18cm guys..!) bablas memenuhi memek gue. "Uuhhhhh...auuuuu...ahhhhh..." gue melolong-lolong kenikmatan tatkala kontolnya menggesek-gesek memek basah gue... harder... harder... Ia menggempur terus..! Keringatnya menetes... pantat riko terus mengayun merangsek selangkangan gue. Kaki gue mengangkat lalu menjepit erat pinggangnya. Nikmat! Wajah gue merintih-rintih seakan meminta genjotan tiada akhir... menuju pintu orgasme...indah. Puluhan menit berlalu, memek gue terasa panas lengket dan basah! Tiba-tiba riko mengangkat badan gue sehingga posisi gue menunggangi badannya berhadapan-hadapan. Kali ini giliran gue yang menggenjot dia... " Oh guyz...shhh...." Riko mendesir menahan nikmat genjotan getol gue, membuat payudara gue ikut melonjak-lonjak, girang. Sesekali riko mengisep-isep puting susu gue yang menggelayut aduhai itu, woooooww... yang membuat gue semakin menikmati dan menambah kencang menggenjot! Dengan gaya gue di atas begini membikin gue seperti mudah menuju orgasme... mau... oooh.... oohh... no..no..! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba riko mengangkat pantat gue dengan kedua tangannya... "Kenapa sih say...'kan lagi enaak.." gue agak kecewa karena jalan panjang nikmat menuju orgasme terinterupsi. "Hmm, nungging dong honey.." pinta riko pendek. Gue cepat membalik bodi gue, mengangkang bergaya doggie...kepala gue rebahkan di tempat tidur sehingga pantat gue menungging menampilkan memek yang merekah basah dibelahan pantat gue. Segera riko berlutut menunggangi gue seakan gue itu kuda betina liar. Blass... "ahhhhh..." hampir bersamaan kami menjerit nikmat. Kali ini riko yang menggenjot gue. Kontolnya bertahan perkasa dalam lubang memek hangat gue. Ah, nikmat indah luar biasa. Terus dia menggenjot... menghentak-hentakkan pantatnya keluar-masuk. Sesekali riko nge-bor, diputer-puter pantatnya sambil menusuk kontolnya itu ke dalam meiko. Sedap..! Sementara gue pasrah ditunggangin menuju puncak orgasme... Genjot terus... nunggang... ahhh... si niko mulai meronta-ronta minta ngecerr... Huh..! Riko menarik kontolnya, seakan menetralisir titik puncak rasa. "Kenapa sayang... Keluarin aja di dalem, pleaaase... niken mauu... niken kepingin kehangatan sperma riko di dalem, pleaassee... riko jantan deh..." gue menggoda. Membuat gairah kejantanan riko nggak mungkin menolak! Kembali riko amblesin kontol gedenya ke memek gue, still in doggie style. Hahh... genjotannya semakin kasar, semakin keras... "Au...hhhmmh... keluarin di dalem... sayang.." gue memelas, menggoda. Huahh... genjotan pantatnya semakin kasar tak terkendali. Segenap tenaga riko menunggangi sang kuda betina liar yang menggoda pejantannya... yang... "Ahhhhhhh.... Ahhhhhh... " kontol riko berdenyut-denyut tak kuasa menyemprotkan air mani hangat yg telah lama tersimpan, jauh ke dalam lubang vagina gue. "Cret...crett...crreett...! Jizzz..." Terkuras sudah segala daya tenaga dan sperma riko, tergoler di ranjang. Sementara gue tersenyum nakal tetap posisi nungging. "Hmmm...enak... biar spermanya riko benar-benar masuk ke dalam.." gue mendesah manja. Oh God...! What a life..! He's hot! I'm his angel... Riko meremas pantat bahenol gue, memeluk dan mengulum bibir gue... say thanks for a wonderful night with me...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-6387633911210253440?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/6387633911210253440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=6387633911210253440' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/6387633911210253440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/6387633911210253440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/diary-niken.html' title='Diary Niken'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-2318905130226131216</id><published>2008-02-02T13:35:00.001+07:00</published><updated>2008-02-02T13:35:42.487+07:00</updated><title type='text'>Tante Nita</title><content type='html'>Apa yang akan kuceritakan ini terjadi beberapa tahun yang lalu, sewaktu aku masih kuliah sebagai mahasiswa teknik di Bandung tahun 90-an. Kejadiannya sendiri akan kuceritakan apa adanya, tetapi nama-nama dan lokasi aku ubah untuk menghormati privasi mereka yang terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak tahun kedua kuliah, aku bermaksud pindah tempat kos yang lebih baik. Ini biasa, mahasiswa tahun pertama pasti dapat tempat kos yang asal-asalan. Baru tahun berikutnya mereka bisa mendapat tempat kos yang lebih sesuai selera dan kebutuhan. Setelah "hunting" yang cukup melelahkan akhirnya aku mendapatkan tempat kos yang cukup nyaman di daerah Dago Utara. Untuk ukuran Bandung sekalipun, daerah ini termasuk sangat dingin apalagi di waktu malam. Kamar kosku berupa paviliun yang terpisah dari rumah utama. Ada dua kamar, yang bagian depan diisi oleh Sahat, mahasiswa kedokteran yang kutu buku dan rada cuek. Aku sendiri dapat yang bagian belakang, dekat dengan rumah utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak kosku, Om Rahmat adalah seorang dosen senior di beberapa perguruan tinggi. Istrinya, Tante Nita, wanita yang cukup menarik meskipun tidak terlalu cantik. Tingginya sekitar 163 cm dengan perawakan yang sedang, tidak kurus dan tidak gemuk. Untuk ukuran seorang wanita dengan 2 anak, tubuh Tante Nita cukup terawat dengan baik dan tampak awet muda meski sudah berusia di atas 40 tahun. Maklumlah, Tante Nita rajin ikut kelas aerobik. Kedua anak mereka kuliah di luar negeri dan hanya pulang pada akhir tahun ajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kesibukannya sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, Om Rahmat agak jarang di rumah. Tapi Tante Nita cukup ramah dan sering mengajak kami ngobrol pada saat-saat luang sehingga aku pribadi merasa betah tinggal di rumahnya. Mungkin karena Sahat agak cuek dan selalu sibuk dengan kuliahnya, Tante Nita akhirnya lebih akrab denganku. Aku sendiri sampai saat itu belum pernah berpikir untuk lebih jauh dari sekedar teman ngobrol dan curhat. Tapi rupanya tidak demikian dengan Tante Nita....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Doni, kamu masih ada kuliah hari ini?", tanya Tante Nita suatu hari.&lt;br /&gt;"Enggak tante..."&lt;br /&gt;"Kalau begitu bisa anterin tante ke aerobik?"&lt;br /&gt;"Oh, bisa tante..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Nita tampak seksi dengan pakaian aerobiknya, lekuk-lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas. Kamipun meluncur menuju tempat aerobik dengan menggunakan mobil Kijang Putih milik Tante Nita. Di sepanjang jalan Tante Nita banyak mengeluh tentang Om Rahmat yang semakin jarang di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Om Rahmat itu egois dan gila kerja, padahal gajinya sudah lebih dari cukup tapi terus saja menerima ditawari jadi dosen tamu dimana-mana..."&lt;br /&gt;"Yach, sabar aja tante.. itu semua khan demi tante dan anak-anak juga," kataku mencoba menghibur.&lt;br /&gt;"Ah..Doni, kalau orang sudah berumah tangga, kebutuhan itu bukan cuma materi, tapi juga yang lain. Dan itu yang sangat kurang tante dapatkan dari Om."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba tangan Tante Nita menyentuh paha kiriku dengan lembut,&lt;br /&gt;"Biarpun begini, tante juga seorang wanita yang butuh belaian seorang laki-laki... tante masih butuh itu dan sayangnya Om kurang peduli."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh sejenak dan kulihat Tante Nita menatapku dengan tersenyum. Tante Nita terus mengelus-elus pahaku di sepanjang perjalanan. Aku tidak berani bereaksi apa-apa kecuali, takut membuat Tante Nita tersinggung atau disangka kurang ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari kelas aerobik sekitar jam 4 sore, Tante Nita tampak segar dan bersemangat. Tubuhnya yang lembab karena keringat membuatnya tampak lebih seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Don, waktu latihan tadi tadi punggung tante agak terkilir... kamu bisa tolong pijitin tante khan?" katanya sambil menutup pintu mobil.&lt;br /&gt;"Iya... sedikit-sedikit bisa tante," kataku sambil mengangguk. Aku mulai merasa Tante Nita menginginkan yang lebih jauh dari sekadar teman ngobrol dan curhat. Terus terang ini suatu pengalaman baru bagiku dan aku tidak tahu bagaimana harus menyikapinya. Sepanjang jalan pulang kami tidak banyak bicara, kami sibuk dengan pikiran dan khayalan masing-masing tentang apa yang mungkin terjadi nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di rumah, Tante Nita langsung mengajakku ke kamarnya. Dikuncinya pintu kamar dan kemudian Tante Nita langsung mandi. Entah sengaja atau tidak, pintu kamar mandinya dibiarkan sedikit terbuka. Jelas Tante Nita sudah memberiku lampu kuning untuk melakukan apapun yang diinginkan seorang laki-laki pada wanita. Tetapi aku masih tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya terduduk diam di kursi meja rias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doni sayang... tolong ambilkan handuk dong..." nada suara Tante Nita mulai manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kuambil handuk dari gantungan dan tanganku kusodorkan melalui pintu sambil berusaha untuk tidak melihat Tante Nita secara langsung. Sebenarnya ini tindakan bodoh, toh Tante Nita sendiri sudah memberi tanda lalu kenapa aku masih malu-malu? Aku betul-betul salah tingkah. Tidak berapa lama kemudian Tante Nita keluar dari kamar mandi dengan tubuh dililit handuk dari dada sampai paha. Baru kali ini aku melihat Tante Nita dalam keadaan seperti ini, aku mulai terangsang dan sedikit bengong. Tante Nita hanya tersenyum melihat tingkah lakuku yang serba kikuk melihat keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, sekarang kamu pijitin tante ya... ini pakai body-lotion..." katanya sambil berbaring tengkurap di tempat tidur. Dibukanya lilitan handuknya sehingga hanya tertinggal BH dan CD-nya saja. Aku mulai menuangkan body-lotion ke punggung Tante Nita dan mulai memijit daerah punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante, bagian mana yang sakit..." tanyaku berlagak polos.&lt;br /&gt;"Semuanya sayang... semuanya... dari atas sampai ke bawah. Bagian depan juga sakit lho...nanti Doni pijit ya..." kata Tante Nita sambil tersenyum nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus memijit punggung Tante Nita, sementara itu aku merasakan penisku mulai membesar. Aku berpikir sekarang saatnya menanggapi ajakan Tante Nita dengan aktif. Seumur hidupku baru kali inilah aku berkesempatan menyetubuhi seorang wanita. Meskipun demikian dari film-film BF yang pernah kutonton sedikit banyak aku tahu apa yang harus kuperbuat... dan yang paling penting ikuti saja naluri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante sayang..., tali BH-nya boleh kubuka?" kataku sambil mengelus pundaknya. Tante Nita menatapku sambil tersenyum dan mengangguk. Aku tahu betul Tante Nita sama sekali tidak sakit ataupun cedera, acara pijat ini cuma sarana untuk mengajakku bercinta. Setelah tali BH-nya kubuka perlahan-lahan kuarahkan kedua tanganku ke-arah payudaranya. Dengan hati-hati kuremas-remas payudaranya... ahh lembut dan empuk. Tante Nita bereaksi, ia mulai terangsang dan pandangan matanya menatapku dengan sayu. Kualihkan tanganku ke bagian bawah, kuselipkan kedua tanganku ke dalam celana dalamnya sambil pelan-pelan kuremas kedua pantatnya selama beberapa saat. Tante Nita dengan pasrah membiarkan aku mengeksplorasi tubuhnya. Kini tanganku mulai berani menjelajahi juga bagian depannya sambil mengusap-usap daerah sekitar vaginanya dengan lembut. Jantungku brdebar kencang, inilah pertamakalinya aku menyentuh vagina wanita dewasa... Perlahan tapi pasti kupelorotkan celana dalam Tante Nita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tubuh Tante Nita tertelungkup di tempat tidur tanpa selembar benangpun... sungguh suatu pemandangan yang indah. Aku kagum sekaligus terangsang. Ingin rasanya segera menancapkan batang kemaluanku ke dalam lubang kewanitaannya. Aku memejamkan mata dan mencoba bernafas perlahan untuk mengontrol emosiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seranganku berlanjut, kuselipkan tanganku diantara kedua pahanya dan kurasakan rambut kemaluannya yang cukup lebat. Jari tengahku mulai menjelajahi celah sempit dan basah yang ada di sana. Hangat sekali raanya. Kurasakan nafas Tante Nita mulai berat, tampaknya dia makin terangsang oleh perbuatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmhh... Doni... kamu nakal ya..." katanya.&lt;br /&gt;"Tapi tante suka khan...?"&lt;br /&gt;"Mmhh.. terusin Don... terusin... tante suka sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jariku terus bergerilya di belahan vaginanya yang terasa lembut seperti sutra, dan akhirnya ujung jariku mulai menyentuh daging yang berbentuk bulat seperti kacang tapi kenyal seperti moci Cianjur. Itu klitoris Tante Nita. Dengan gerakan memutar yang lembut kupermainkan klitorisnya dengan jariku dan diapun mulai menggelinjang keenakan. Kurasakan tubuhnya sedikit bergetar tidak teratur. Sementara itu aku juga sudah semakin terangsang, dengan agak terburu-buru pakaiankupun kubuka satu-persatu hingga tidak ada selembar benangpun menutup tubuhku, sama seperti Tante Nita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukecup leher Tante Nita dan dengan perlahan kubalikkan tubuhnya. Sesaat kupandangi keindahan tubuhnya yang seksi. Payudaranya cukup berisi dan tampak kencang dengan putingnya yang berwarna kecoklatan memberi pesona keindahan tersendiri. Tubuhnya putih mulus dan nyaris tanpa lemak, sungguh-sungguh Tante Nita pandai merawat tubuhnya. Diantara kedua pahanya tampak bulu-bulu kemaluan yang agak basah, entah karena baru mandi atau karena cairan lain. Sementara itu belahan vaginanya samar-samar tampak di balik bulu-bulu tersebut. Aku tidak habis pikir bagaimana mungkin suaminya bisa sering meninggalkannya dan mengabaikan keindahan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante seksi sekali..." kataku terus terang memujinya. Kelihatan wajahnya langsung memerah.&lt;br /&gt;"Ah.. bisa aja kamu merayu tante... kamu juga seksi lho Don... lihat tuh burungmu sudah siap tempur... ayo jangan bengong gitu... terusin pijat seluruh badan tante....," kata Tante Nita sambil tersenyum memperhatikan penisku yang sudah mengeras dan mendongak ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menjilati payudara Tante Nita sementara itu tangan kananku perlahan-lahan mempermainkan vagina dan klitorisnya. Kujilati kedua bukit payudaranya dan sesekali kuhisap serta kuemut putingnya dengan lembut sambil kupermainkan dengan lidahku. Tante Nita tampak sangat menikmati permainan ini sementara tangannya meraba dan mempermainkan penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin sekali menjilati kewanitaan Tante Nita seperti dalam adegan film BF yag pernah kutonton. Perlahan-lahan aku mengubah posisiku, sekarang aku berlutut di atas tempat tidur diantara kedua kaki Tante Nita. Dengan perlahan kubuka pahanya dan kulihat belahan vaginanya tampak merah dan basah. Dengan kedua ibu jariku kubuka bibir vaginanya dan terlihatlah liang kewanitaan Tante Nita yang sudah menanti untuk dipuaskan, sementara itu klitorisnya tampak menyembul indah di bagian atas vaginanya. Tanpa menunggu komando aku langsung mengarahkan mulutku ke arah vagina Tante Nita. Kujilati bibir vaginanya dan kemudian kumasukkan lidahku ke liang vaginanya yang terasa lembut dan basah. "Mmhhh.. aahhh" desahan nikmat keluar dari mulut Tante Nita saat lidahku menjilati klitorisnya. Sesekali klitorisnya kuemut dengan kedua bibirku sambil kupermainkan dengan lidah. Aroma khas vagina wanita dan kehangatannya membuatku makin bersemangat, sementara itu Tante Nita terus mendesah-desah keenakan. Sesekali jari tanganku ikut membantu masuk ke dalam lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduuh.. Donii... enak sekali sayang... iya sayang... yang itu enak.. emmhh .. terus sayang... pelan-pelan sayang... iya... gitu sayang... terus.. aduuh.. aahh... mmhh.." katanya mencoba membimbingku sambil kedua tangannya terus menekan kepalaku ke selangkangannya. Tidak berapa lama kemudian pinggul Tante Nita mulai berkedut-kedut, gerakannya terasa makin bertenaga, lalu pinggulnya maju-mundur dan berputar-putar tak terkendali. Sementara itu kedua tangannya semakin keras mencengkeram rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doni.. Tante mau keluaar... aah.. uuh..aahh...oooh.... adduuh... sayaaang... Doniiii.... terus jilat itu Don... teruus... aduuuh... aduuuh...tante keluaaar..." bersamaan dengan itu kepalaku dijepit oleh kedua pahanya sementara lidah dan bibirku terus terbenam menikmati kehangatan klitoris dan vaginanya yang tiba-tiba dibanjiri oleh cairan orgasmenya. Beberapa saat tubuh Tante Nita meregang dalam kenikmatan dan akhirnya terkulai lemas sambil matanya terpejam. Tampak bibir vaginanya yang merah merekah berdenyut-denyut dan basah penuh cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doni.. enak banget.... sudah lama tante nggak ngerasain yang seperti ini..." katanya perlahan sambil membuka mata. Aku langsung merebahkan diri di samping Tante Nita, kubelai rambut Tante Nita lalu bibir kami beradu dalam percumbuan yang penuh nafsu. Kedua lidah kami saling melilit, perlahan-lahan tanganku meraba dan mempermainkan pentil dan payudaranya. Tidak berapa lama kemudian tampaknya Tante Nita sudah mulai naik lagi. Nafasnya mulai memburu dan tangannya meraba-raba penisku dan meremas-remas kedua buah bola pingpongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doni sayang... sekarang gantian tante yang bikin kamu puas ya..." katanya sambil mengarahkan kepalanya ke arah selangkanganku. Tidak berapa lama kemudian Tante Nita mulai menjilati penisku, mulai dari arah pangkal kemudian perlahan-lahan sampai ke ujung. Dipermainkannya kepala penisku dengan lidahnya. Wow.. nikmat sekali rasanya... tanpa sadar aku mulai melenguh-lenguh keenakan. Kemudian seluruh penisku dimasukkan ke dalam mulutnya. Tante Nita mengemut dan sekaligus mempermainkan batang kemaluanku dengan lidahnya. Kadang dihisapnya penisku kuat-kuat sehingga tampak pipinya cekung. Kurasakan permainan oral Tante Nita sungguh luar biasa, sementara dia mengulum penisku dengan penuh nafsu seluruh tubuhku mulai bergetar menahan nikmat. Aku merasakan penisku mengeras dan membesar lebih dari biasanya, aku ingin mengeluarkan seluruh isinya ke dalam vagina Tante Nita. Aku sangat ingin merasakan nikmatnya vagina seorang wanita untuk pertama kali....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante... Doni pengen masukin ke punya tante... " kataku sambil mencoba melepaskan penisku dari mulutnya. Tante Nita mengangguk setuju, lalu ia membiarkan penisku keluar dari mulutnya. "Terserah Doni sayang... keluarin aja semua isinya ke dalam veggie tante... tante juga udah pengen banget ngerasain punya kamu di dalam sini...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kurebahkan Tante Nita disebelahku, Tante Nita langsung membuka kedua pahanya mempersilahkan penisku masuk. Samar-samar kulihat belahan vaginanya yang merah. Dengan perlahan kubuka belahan vaginanya dan tampaklah lubang vagina Tante Nita yang begitu indah dan menggugah birahi dan membuat jantungku berdetak keras. Aku takut kehilangan kontrol melihat pemandangan yang baru pertama kali aku alami, aku berusaha keras mengatur nafasku supaya tidak terlarut dalam nafsu.... Perlahan-lahan kupermainkan klitorisnya dengan jempol sementara jari tengahku masuk ke lubang vaginanya. Tidak berapa lama kemudian Tante Nita mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, "Doni sayang.. masukin punyamu sekarang, tante udah siap..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuarahkan penisku yang sudah mengeras ke lubang vaginanya, aku sudah begitu bernafsu ingin segera menghujamkan batang penisku ke dalam vagina Tante Nita yang hangat. Tapi mungkin karena ini pengalaman pertamaku aku agak kesulitan untuk memasukkan penisku. Rupanya Tante Nita menyadari kesulitanku. Dia memandangku dengan tersenyum.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini pengalaman pertama ya Don...."&lt;br /&gt;"Iya tante...." jawabku malu-malu.&lt;br /&gt;"Tenang aja... nggak usah buru-buru... tante bantu..." katanya sambil memegang penisku. Diarahkannya kepala penisku ke dalam lubang vaginanya sambil tangan yang lain membuka bibir vaginanya, lalu dengan sedikit dorongan ke depan...masuklah kepala penisku ke dalam vaginanya. Rasanya hangat dan basah.... sensasinya sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya perlahan tapi pasti kubenamkan seluruh penisku ke dalam vagina Tante Nita, aah.. nikmatnya. "Aaahh...Donii.. eemh..." Tante Nita berbisik perlahan, dia juga merasakan kenikmatan yang sama. Sekalipun sudah diatas 40 tahun vagina Tante Nita masih terasa sempit, dinding-dindingnya terasa kuat mencengkeram penisku. Aku merasakan vaginanya seperti meremas penisku dengan gerakan yang berirama. Luar biasa nikmat rasanya.... Perlahan kugerakkan pinggulku turun naik, Tante Nita juga tidak mau kalah, pinggulnya bergerak turun naik mengimbangi gerakanku. Tangannya mencengkeram erat punggungku dan tanganku membelai rambutnya sambil meremas-remas payudaranya yang empuk. Sementara itu bibir kami berpagutan dengan liar....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa menit saja aku sudah mulai merasa seluruh tubuhku bergetar dijalari sensasi nikmat yang luar biasa... maklumlah ini pengalaman pertamaku... kelihatannya tidak lama lagi aku akan mencapai puncak orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante...Doni sudah hampir keluar.... aaah...uuh..." kataku berusaha keras menahan diri.&lt;br /&gt;"Terusin aja Don... kita barengan yaa.... tante juga udah mau keluar... aahh... Doni... tusuk yang kuat Don... tusuk sampai ujung sayang... mmhh...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Tante Nita membuatku makin bernafsu dan aku menghujamkan penisku berkali-kali dengan kuat dan cepat ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduuh...Doni udah nggak tahan lagi..." aku benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi, pantatku bergerak turun naik makin cepat dan penisku terasa membesar dan berdenyut-denyut bersiap mencapai puncak di dalam vagina Tante Nita. Sementara itu Tante Nita juga hampir mencapai orgasmenya yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayoo Don... tante juga mau...ahhhh...ahhh kamu ganas sekali....... aaaahhh.... Doniii.... sekarang Don.... keluarin sekarang Don... tante udah nggak tahan...mmmhhh".&lt;br /&gt;Tante Nita juga mulai kehilangan kontrol, kedua kakinya dijepitkan melingkari pinggulku dan tangannya mencengkeram keras punggungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian aku melancarkan sebuah tusukan akhir yang maha dahsyat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante...aaaa...aaaagh....Doni keluaaaar.....aagh.." aku mendesah sambil memuncratkan seluruh spermaku ke dalam liang kenikmatan Tante Nita. Bersamaan dengan itu Tante Nitapun mengalami puncak orgasmenya,&lt;br /&gt;"Doniii.... aduuuh......tante jugaa....aaaah... I'm cumming honey... aaaahh.....aah...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpelukan lama sekali sementara penisku masih tertanam dengan kuat di dalam vagina Tante Nita. Ini sungguh pengalaman pertamaku yang luar biasa.... aku betul-betul ingin meresapi sisa-sisa kenikmatan persetubuhan yang indah ini. Akhirnya aku mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, seluruh persendianku terasa lepas dari tempatnya. Kulepaskan pelukanku dan perlahan-lahan kutarik penisku yang mulai sedikit melemah karena kehabisan energi. Lalu aku terbaring lemas di sebelah Tante Nita yang juga tergolek lemas dengan mata masih terpejam dan bibir bawahnya sedikit digigit. Kulihat dari celah vaginanya cairan spermaku meleleh melewati sela-sela pahanya. Rupanya cukup banyak juga spermaku muntah di dalam Tante Nita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Tante Nita membuka matanya dan tersenyum padaku,&lt;br /&gt;"Gimana sayang...enak?" katanya sambil menyeka sisa spermaku dengan handuk. Aku hanya mengangguk sambil mengecup bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante nggak nyangka kalau kamu ternyata baru pertama kali "making-love". Soalnya waktu "fore-play" tadi nggak kelihatan, baru waktu mau masukin penis tante tahu kalau kamu belum pengalaman. By the way, Tante senang sekali bisa dapat perjaka ting-ting seperti kamu. Tante betul-betul menikmati permainan ini. Kapan-kapan kalau ada kesempatan kita main lagi mau Don...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam tersenyum, betapa tololnya kalau aku jawab tidak. Tante Nita membaringkan kepalanya di dadaku, kami terdiam menikmati perasaan kami masing-masing selama beberapa saat. Tapi tidak sampai 5 menit, energiku mulai kembali. Tubuh wanita matang yang bugil dan tergolek dipelukanku membuat aku kembali terangsang, perlahan-lahan penisku mulai membesar. Tangan kananku kembali meraba payudara Tante Nita dan membelainya perlahan. Dia memandangku dan tersenyum, tangannya meraih penisku yang sudah kembali membesar sempurna dan digenggamnya erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah siap lagi sayang...? Sekarang tante mau di atas ya...?" katanya sambil mengangkangi aku. Dibimbingnya penisku ke arah lubang vaginanya yang masih basah oleh spermaku. Kali ini dengan lancar penisku langsung meluncur masuk ke dalam vagina Tante Nita yang sudah sangat basah dan licin. Kini Tante Nita duduk diatas badanku dengan penisku terbenam dalam-dalam di vaginanya. Tangannya mencengkeram lenganku dan kepalanya menengadah ke atas dengan mata terpejam menahan nikmat.&lt;br /&gt;"Aahh...Doni... penismu sampai ke ujung... uuh.... mmhh... aahhh" katanya mendesah-desah. Gerakan Tante Nita perlahan tapi penuh energi, setiap dorongannya selalu dilakukan dengan penuh energi sehingga membuat penisku terasa masuk begitu dalam di liang vaginanya. Pantat Tante Nita terus bergerak naik turun dan berputar-putar, kadang-kadang diangkatnya cukup tinggi sehingga penisku hampir terlepas lalu dibenamkan lagi dengan kuat. Sementara itu aku menikmati goyangan payudaranya yang terombang-ambing naik-turun mengikuti irama gerakan binal Tante Nita. Kuremas-remas payudaranya dan kupermainkan pentilnya sehingga membuat Tante Nita makin bergairah. Gerakan Tante Nita makin lama makin kuat dan dia betul-betul melupakan statusnya sebagai seorang istri dosen yang terhormat. Saat itu dia menampilkan dirinya yang sesungguhnya dan apa adanya... seorang wanita yang sedang dalam puncak birahi dan haus akan kenikmatan. Akhirnya gerakan kami mulai makin liar dan tak terkontrol...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doni... tante sudah mau keluar lagi.... aaah... mmmhh.. uuuughhh..."&lt;br /&gt;"Ayoo tante... Doni juga udah nggak tahan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan sebuah sentakan yang kuat Tante Nita menekan seluruh berat badannya ke bawah dan penisku tertancap jauh ke dalam liang vaginanya sambil memuncratkan seluruh muatan... Tangan Tante Nita mencengkeram keras dadaku, badannya melengkung kaku dan mulutnya terbuka dengan gigi yang terkatup rapat serta matanya terpejam menahan nikmat. Setelah beberapa saat akhirnya Tante Nita merebahkan tubuhnya di atasku, kami berdua terkulai lemas kelelahan. Malam itu untuk pertama kalinya aku tidur di dalam kamar Tante Nita karena dia tidak mengijinkan aku kembali ke kamar. Kami tidur berdekapan tanpa sehelai busanapun. Pagi harinya kami kembali melakukan persetubuhan dengan liar... Tante Nita seolah-olah ingin memuaskan seluruh kerinduannya akan kenikmatan yang jarang didapat dari suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak saat itu kami sering sekali melakukannya dalam berbagai kesempatan. Kadang di kamarku, kadang di kamar Tante Nita, atau sesekali kami ganti suasana dengan menyewa kamar hotel di daerah Lembang untuk kencan short-time. Kalau aku sedang "horny" dan ada kesempatan, aku mendatangi Tante Nita dan mengelus pantatnya atau mencium lehernya. Kalau OK Tante Nita pasti langsung menggandeng tanganku dan mengajakku masuk ke kamar. Sebaliknya kalau Tante Nita yang "horny", dia tidak sungkan-sungkan datang ke kamarku dan langsung menciumi aku untuk mengajakku bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak berhasil merenggut keperjakaanku Tante Nita tidak lagi cemberut dan uring-uringan kalau Om Rahmat pergi tugas mengajar ke luar kota. Malah kelihatannya Tante Nita justru mengharapkan Om Rahmat sering-sering tugas di luar kota karena dengan demikian dia bisa bebas bersamaku. Dan akupun juga semakin betah tinggal di rumah Tante Nita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu malam setelah Om Rahmat berangkat keluar kota, Tante Nita masuk ke kamarku dengan mengenakan daster. Dipeluknya aku dari belakang dan tangannya langsung menggerayangi selangkanganku. Aku menyambut dengan mencumbu bibirnya dan membaringkannya di tempat tidur. Saat kuraba payudaranya ternyata Tante Nita sudah tidak memakai BH, dan ketika kuangkat dasternya ternyata dia juga tidak memakai celana dalam lagi. Bibir vaginanya tampak merah dan bulu-bulunya basah oleh lendir. Samar-samar kulihat sisa-sisa lelehan sperma dengan baunya yang khas masih tampak disana, rupanya Tante Nita baru saja bertempur dengan suaminya dan Tante Nita belum merasa puas. Langsung saja kubuka celanaku dan penis yang sudah mengeras langsung menyembul menantang minta dimasukkan ke dalam liang kenikmatan. Tante Nita menanggapi tantangan penisku dengan mengangkangkan kakinya. Ia langsung membuka bibir vaginanya dengan kedua tangannya sehingga tampaklah belahan lubang vaginanya yang merekah merah.&lt;br /&gt;"Masukin punyamu sekarang ke lubang tante sayang....." katanya dengan nafas yang berat dan mata sayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku rasa Tante Nita sudah sangat "horny", tanpa banyak basa-basi dan "foreplay" lagi aku langsung menancapkan batang penisku ke dalam vagina Tante Nita dan kami bergumul dengan liar selama hampir 5 jam! Kami bersetubuh dengan berbagai macam gaya, aku diatas, Tante Nita diatas, doggy-style, gaya 69, kadang sambil berdiri dengan satu kaki di atas tempat tidur, lalu duduk berhadapan di pinggir ranjang, atau berganti posisi dengan Tante Nita membelakangi aku, sesekali kami melakukan di atas meja belajarku dengan kedua kaki Tante Nita diangkat dan dibuka lebar-lebar, dan masih banyak lagi. Aku tidak ingat apa masih ada gaya persetubuhan yang belum kami lakukan malam itu. Dinginnya hawa Dago Utara di waktu malam tidak lagi kami rasakan, yang ada hanya kehangatan yang menggetarkan dua insan dan membuat kami basah oleh keringat yang mengucur deras. Begitu liarnya persetubuhan kami sampai-sampai aku mengalami empat kali orgasme yang begitu menguras energi dan Tante Nita entah berapa kali. Yang jelas setelah selesai, Tante Nita hampir tidak bisa bangun dari tempat tidurku karena kakinya lemas dan gemetaran sementara vaginanya begitu basah oleh lendir dan sangat merah. Seingatku itulah malam paling liar diantara malam-malam liar lain yang pernah kulalui bersama Tante Nita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualanganku dengan Tante Nita berjalan cukup lama, 2 tahun, sampai akhirnya kami merasa Om Rahmat mulai curiga dengan perselingkuhan kami. Sebagai jalan terbaik aku memutuskan untuk pindah kos sebelum keadaan menjadi buruk. Tetapi meskipun demikian, kami masih tetap saling bertemu paling sedikit sebulan sekali untuk melepas rindu dan nafsu. Hal ini berjalan terus sampai aku lulus kuliah dan kembali ke Jakarta. Bahkan sekarang setelah aku beristri, kalau sedang mendapat tugas ke Bandung aku masih menyempatkan diri menemui Tante Nita yang nafsu dan gairahnya seolah tidak pernah berkurang oleh umurnya yang kini sudah kepala lima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-2318905130226131216?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/2318905130226131216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=2318905130226131216' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/2318905130226131216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/2318905130226131216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/tante-nita.html' title='Tante Nita'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-8184779402828766411</id><published>2008-02-02T13:34:00.001+07:00</published><updated>2008-02-02T13:34:49.185+07:00</updated><title type='text'>Menantuku Yang Aduhai</title><content type='html'>Hans, 56 tahun, dengan perutnya gendut yang kebanyakan minum bir, kepalanya mulai botak dan sudah menduda selama 10 tahun. Setelah rumahnya dijual untuk membayar hutang judinya, dia terpaksa datang dan menginap di rumah putranya yang berumur 28 beserta menantu perempuannya. Sekarang dia harus menghabiskan waktunya dengan pasangan muda tersebut sampai dia dapat menemukan sebuah rumah kontrakan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketuknya pintu depan dan Ester, menantu perempuannya yang berumur 24 tahun, muncul memakai celana pendek putih dan kemeja biru dengan hanya tiga kancing atasnya yang terpasang, memperlihatkan perutnya yang rata. Rambutnya yang berombak tergerai sampai bahunya dan mata indahnya terbelalak menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Papi, aku pikir papi baru datang besok, mari masuk", katanya sambil berbalik memberi Hans sebuah pemandangan yang indah dari pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingginya yang 175 itu, dia terlihat sangat cantik. Dia mempunyai figur yang sempurna yang membuat lelaki manapun akan bersedia mati untuk dapat bercinta dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Johan masih di kantor, sebentar lagi pasti pulang."&lt;br /&gt;"Kupikir aku hanya nggak mau ketinggalan bus", kata Hans sambil duduk.&lt;br /&gt;"Nggak apa-apa", jawab Esty, membungkuk ke depan untuk mengambil sebuah mug di atas meja kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya tiga kancing yang terpasang, itu memberi Hans sebuah pemandangan yang bagus akan payudaranya, kelihatan sempurna. Memperhatikan hal tersebut menjadikan Hans ereksi dengan cepat, dan dia harus lebih berhati-hati untuk menyembunyikan reaksi tubuhnnya. Esty duduk di sofa di depan Hans dan menyilangkan kakinya, memperlihatkan pahanya yang indah. Posisi duduknya yang demikian membuat pusarnya terlihat jelas ketika dia mulai bertanya pada Hans tentang perjalanannya dan bagaimana keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perjalanan yang melelahkan", Hans menjawab sambil matanya menjelajahi dari kepala hingga kaki pada keindahan yang sedang duduk di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari 5 tahun sejak Hans berhubungan seks untuk terakhir kalinya. Setelah isterinya meninggal, Hans sering mencari wanita panggilan. Tetapi hal itu semakin membuat hutangnya menumpuk, dan dia tidak mampu lagi untuk membayarnya. Esty menyadari kalau kemejanya memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya pada mertuanya, maka dia dengan cepat segera membetulkan kancing kemejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku harus ke atas, mandi dan segera menyiapkan makan malam. Anggap saja rumah sendiri", katanya sambil berjalan naik ke tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Hans mengikuti pantat kencangnya yang bergoyang saat berjalan di atas tangga dan dia tahu bahwa dia memerlukan beberapa ‘format pelepasan’ dengan segera. Kemudian telepon berbunyi. Hans mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo"&lt;br /&gt;"Hallo, ini papi ya?", itu Johan.&lt;br /&gt;"Ya Jo", jawab Hans.&lt;br /&gt;"Pi, aku khawatir harus meninggalkan papi untuk urusan bisnis dan mungkin nggak akan kembali sampai Senin. Ada keadaan darurat. Maafkan aku soal, ini tapi papi bisa kan bilang ini ke Esty, aku harus mengejar pesawat sekarang. Maafkan aku tapi aku akan telepon lagi nanti". Mereka mengucapkan selamat jalan lalu menutup teleponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans memutuskan untuk menaruh koper-kopernya. Dia berjalan ke atas, melewati kamar tidur utama, terdengar suara orang yang sedang mandi. Hans menaruh koper-kopernya dan pelan-pelan membuka pintu kamar tidur itu lalu menyelinap masuk. Ada sepasang celana jeans berwarna biru di atas tempat tidur, dan sebuah atasan katun berwarna putih. Hans mengambil atasan itu dan menemukan sebuah pakaian dalam wanita dibawahnya. Ini sudah cukup. Diambilnya celana dalam itu, membuka resliting celananya, dan mulai menggosok kemaluannya dengan itu. Jantungnya berdebar mengetahui menantu perempuannya sedang berada di kamar mandi di sebelahnya selagi dia sedang memakai celana dalamnya untuk ‘format pelepasan’ dirinya. Dipercepatnya gerakannya sambil mencoba membayangkan seperti apa Esty saat di atas tempat tidur, dan bagaimana rasanya mendapatkan Esty bergerak naik turun pada penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans hampir dekat dengan klimaksnya ketika dia mendengar suara dari kamar mandi berhenti. Dengan cepat Hans menaruh pakaian itu ke tempatnya semula dan keluar dari kamar itu. Dia menutup pintunya, tapi masih membiarkannya sedikit terbuka. Baru saja dia keluar, Esty muncul dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang membungkus tubuhnya. Hans bisa langsung orgasme hanya dengan melihatnya dalam balutan handuk itu, lalu dia tahu dia akan mendapatkan yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esty melepas handuknya, membiarkannya jatuh ke lantai, tidak mengetahui kalau mertuanya yang terangsang sedang mengintip tiap geraknya. Dia mendekat ke pintu, saat dia pertama kali melihatnya Hans memperoleh sebuah pemandangan yang sempurna dari pantat yang sangat indah itu. Kemudian Esty memutar tubuhnya yang semakin mempertunjukkan keindahannya. Vaginanya terlihat cantik sekali dihiasi sedikit rambut dan payudaranya kencang dan sempurna, seperti yang dibayangkan Hans. Dia mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, membuat payudaranya sedikit tergoncang dari sisi ke sisi. Hans menurunkan salah satu kopernya dan menggunakan tangannya untuk mulai mengocok penisnya lagi. Esty yang selesai mengeringkan rambutnya, mengambil celana dalamnya dan membungkuk ke depan untuk memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melakukannya, Hans mendapatkan sebuah pemandangan yang jauh lebih baik dari pantatnya, dan dia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya, dia bisa langsung masuk ke dalam sana dan menyetubuhinya dari belakang. Lubang anusnya yang berwarna merah muda terlihat sangat mengundang ketika pikiran Hans membayangkan apa Esty mengijinkan putranya memasukkan penisnya ke dalam lubang itu. Ketika dia membungkuk untuk memakai jeansnya, gravitasi mulai berpengaruh pada payudaranya. Penglihatan ini mengirim Hans ke garis akhir, saat dia menembakkan spermanya ke seluruh celana dalamnya. Pelan-pelan Hans mengemasi baarang-barangnya dan dengan cepat memasuki kamarnya sendiri untuk berganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah makan malam, mereka berdua pergi ke ruang keluarga untuk bersantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak kita buka sebotol wine. Aku menyimpannya untuk malam ini buat Johan tapi karena sekarang dia tidak pulang sampai hari Senin, kita bisa membukanya", kata Esty sambil berjalan ke lemari es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ide yang bagus", jawab Hans memperhatikan Esty membungkuk ke depan untuk mengambil botol wine. Ketika Esty mengambil gelas di atas rak, atasan putihnya tersingkap ke atas, memberi sebuah pandangan yang bagus dari tubuhnya. Atasannya menjadikan payudaranya terlihat lebih besar dan jeansnya menjadi sangat ketat, memperlihatkan lekukan tubuhnya. Hans tidak bisa menahannya lagi. Dia harus bisa mendapatkannya. Sebuah rencana mulai tersusun dalam otak mesumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua jam berbicara dan mulai mabuk saat alkohol mulai menunjukkan efeknya pada Esty. Dengan cepat topik pembicaraan mengarah pada pekerjaan dan bagaimana Esty sedang mengalami stress belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kamu tidak mendekat kemari dan aku akan memijatmu", tawar Hans. Esty dengan malas berkata ya dan pelan-pelan mendekat pada Hans dan berbalik pada punggungnya lalu tangan Hans mulai bekerja pada bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh, ini sudah terasa agak baikan", dia merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans tetap memijat bahunya ketika perasaan mendapatkan Esty mulai mengaliri tubuhnya, membuat penisnya mengeras. Mata Esty kini terpejam saat dia benar-benar mulai menikmati apa yang sedang dilakukan Hans pada bahunya. Pantatnya kini berada di atas penis Hans, membuat Hans ereksi penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh, aku tidak bisa percaya bagaimana leganya perasaan ini, papi sungguh baik".&lt;br /&gt;"Ini keahlianku", jawab Hans saat dia pelan-pelan mulai menggosokkan penisnya ke pantat Esty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esty menyadari apa yang sedang terjadi. Dia tidak menghiraukan apa yang Hans lakukan dengan pijatannya yang mulai ‘salah’ itu. Dia sangat mencintai suaminya dan tidak pernah akan mengkhianati dia. Dan bayangan tidur dengan mertuanya sangat menjijikkannya. Dia meletakkan kedua tangannya pada kaki Hans saat mencoba untuk melepaskan dirinya dari penis Hans. Tapi dengan gerakan malasnya, hanya menyebabkannya menggerakkan pantatnya naik turun selagi dia menggunakan tangannya untuk menggosok paha Hans. Tahu-tahu dia merasa sangat bergairah, dan dia ingin Johan ada di sini agar dia bisa segera bercinta dengannya. Hans tahu dia telah mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini mulai terasa nggak nyaman untuk aku, kenapa kita tidak pergi saja ke atas", ajak Hans .&lt;br /&gt;"Baiklah, aku belum merasa lega benar, tapi sebentar saja ya, sebab aku nggak mau membuat papi lelah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka memasuki kamar tidur, Hans menyuruhnya untuk membuka atasannya agar dia bisa menggosokkan lotion ke punggungnya. Dia setuju melepasnya dan dia memperlihatkan bra putihnya yang menahan payudaranya yang sekal. Gairahnya terlihat dengan puting susunya yang mengeras yang dengan jelas terlihat dari bahan bra itu. Apa yang Esty kenakan sekarang hanya bra dan jeans ketatnya, yang hampir tidak muat di pinggangnya. Esty rebah pada perutnya ketika Hans menempatkan dirinya di atas pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini jadi lebih mudah untukku", kata Hans saat dia dengan cepat melepaskan kemejanya dan mulai untuk menggosok pinggang dan punggung Esty bagian bawah. Alkohol telah berefek penuh pada Esty ketika dia memejamkan matanya dan mulai jatuh tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh Johan", dia mulai merintih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans tidak bisa mempercayainya. Di sinilah dia, setelah 5 tahun tanpa seks, di atas tubuh menantu perempuannya yang cantik dan masih muda dan yang dipikirnya dia adalah suaminya. Pelan-pelan dilepasnya celananya sendiri, dan membalikkan tubuh Esty. Hans pelan-pelan mencium perutnya yang rata saat dia mulai melepaskan jeans Esty dengan perlahan. Vagina Esty kini mulai basah saat dia bermimpi Johan menciumi tubuhnya. Dengan hati-hati Hans melepas jeansnya dan mulai menjalankan ciumannya ke atas pahanya. Ketika dia mencapai celana dalam yang menutupi vaginanya, dia menghirup bau harumnya, dan kemudian sedikit menarik ke samping kain celana dalam yang kecil itu dan mencium bibir vagina merah mudanya. Vaginanya lebih basah dari apa yang pernah Hans bayangkan. Esty menggerakkan salah satu tangannya untuk membelai payudaranya sendiri, sedang tangan yang lainnya membelai rambut Hans .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh Johan", dia merintih ketika sekarang Hans menggunakan lidahnya untuk menyelidiki vaginanya. Penisnya akan meledak saat dia mulai menjalankan ciumnya ke atas tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan berhenti", bisik Esty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sekarang menggerakkan penisnya naik turun di gundukannya, merangsangnya. Hanya celana dalam putih kecil yang menghalanginya memasuki vaginanya. Hans lebih melebarkan paha Esty, dan kemudian mendorong celana dalam itu ke samping saat dia menempatkan ujung penisnya pada pintu masuknya. Pelan-pelan, di dorongnya masuk sedikit demi sedikit ketika Esty kembali mengeluarkan sebuah rintihan lembut. Sudah sekian lama dia menantikan sebuah persetubuhan yang panas, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan ‘memasuki’ menantu perempuannya yang cantik. Dia menciumi lehernya saat menusukkan penisnya keluar masuk. Dia mulai meningkatkan kecepatannya, saat dia melepaskan branya. Hans mencengkeram kedua payudara itu dan menghisap puting susunya seperti bayi. Perasaan ini tiba-tiba membawa Esty kembali pada kenyataan saat dia membuka matanya. Dia tidak bisa percaya apa yang dia lihat. Mertuanya sedang berada di atas tubuhnya, mendorong keluar masuk ke vaginanya dengan gerakan yang mantap, dan yang paling buruk dari semua itu, dia membiarkannya terjadi begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans melihat matanya terbuka, maka dia memegang kaki Esty dan meletakkannya di atas bahunya dengan jari kakinya yang menunjuk lurus ke atas. Kini dia menyetubuhinya untuk segala miliknya yang berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh tidak... hentikan... oh... Tuhan... kita nggak boleh... tolong.. ooohhh", Esty berteriak. Payudaranya terguncang seperti sebuah gempa bumi ketika Hans menyetubuhinya layakanya seekor binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hentikan pi... ini nggak benar... oohh Tuhan", Esty berteriak dengan pasrah. Hans melambat, dia menunduk untuk mencium bibir Esty. Lutut Esty kini berada di sebelah kepalanya sendiri saat dia menemukan dirinya malah membalas ciuman Hans. Sesuatu telah mengambil alihnya. Lidah mereka kini mengembara di dalam mulut masing-masing ketika mereka saling memeluk dengan erat. Hans menambah lagi kecepatannya dan keluar masuk lebih cepat dari sebelumnya, Esty semakin menekan punggungnya. Hans berguling dan Esty kini berada di atas, ‘menunggangi’ penis Hans .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh Tuhan, papi merobekku", kata Esty ketika dia meningkat gerakannya.&lt;br /&gt;"Kamu sangat rapat, aku bertaruh Johan pasti kesulitan mengerjai kamu", jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah vagina yang paling rapat yang pernah Hans ‘kerjai’ setelah dia mengambil keperawanan isterinya. Dia meraih ke atas dan memegang payudaranya, meremasnya bersamaan lalu menghisap puting susunya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong jangan keluar di dalam... oohh... papi nggak boleh keluar di dalam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esty kini menghempaskan Hans jadi gila. Mereka terus seperti ini sampai Hans merasa dia akan orgasme. Dia mulai menggosok beberapa cairan di lubang pantat Esty. Dia kemudian menyuruh Esty untuk berdiri pada lututnya saat dia bergerak ke belakangnya, dengan penisnya mengarah pada lubang pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, punya papi terlalu besar, aku belum pernah melakukan ini, Tolong pi jangan", Esty menghiba berusaha untuk lolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itu tidak cukup untuk Hans. Sambil memegangi pinggulnya, dengan satu dorongan besar dia melesakkan semuanya ke dalam pantat Esty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh Tuhan", Esty menjerit, dia mencengkeram ujung tempat tidur dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans mencabut pelan-pelan dan kemudian mendorong lagi dengan cepat. Payudaranya tergantung bebas, tergguncang ketika Hans mengayun dengan irama mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh papi bangsat".&lt;br /&gt;"Aku tahu kamu suka ini", jawab Hans, dia mempercepat gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esty tidak bisa percaya dia sedang menikmati sedang ‘dikerjai’ pantatnya oleh mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih keras", Esty berteriak, Hans memegang payudaranya dan mulai menyetubuhinya sekeras yang dia mampu. Ditariknya bahu Esty ke atas mendekat dengannya dan menghisapi lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan keluar", teriak Hans.&lt;br /&gt;"Tunggu aku ", jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans menggunakan salah satu tangannya untuk menggosok vaginanya, dan kemudian dia memasukkan dua jari dan mulai mengerjai vaginanya. Esty menjerit dengan perasaan nikmat sekarang saat dalam waktu yang bersamaan telepon berbunyi. Esty menjatuhkan kepalanya ke bantal ketika Hans mengangkat telepon, dengan satu tangan masih menggosok vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo... Johan... ya dia menyambutku dengan sangat baik... ya aku akan memanggilnya, tunggu", katanya saat dia menutup gagang telpon supaya Johan tidak bisa dengar suara jeritan orgasme istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bisa merasakan jarinya dilumuri cairan Esty. Dengan satu dorongan terakhir dia mulai menembakkan benihnya di dalam pantat Esty. Semprotan demi semprotan menembak di dalam pantat rapat Esty. Mereka berdua roboh ke tempat tidur, Hans di atas punggung Esty. Penisnya masih di dalam, satu tangan masih menggosok pelan vagina Esty yang terasa sakit, tangan yang lain meremas ringan payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo Johan", kata Esty mengangkat telepon. "Tidak, kita belum banyak melakukan kegiatan... jangan cemaskan kami, hanya tolong usahakan pulang cepat... aku mencintaimu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menutup dan menjatuhkan telepon itu. Mereka berbaring di sana selama lima menitan, Hans masih di atas, nafas keduanya berangsur reda. Hans mencabut jarinya yang berlumuran sperma dan menaruhnya ke mulut Esty. Dia menghisapnya hingga kering, dan kemudian bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pikir lebih baik papi keluar", dia berkata dengan mata yang berkaca-kaca. Dia berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi itu. Rambutnya berantakan. Hans bisa lihat cairannya yang pelan-pelan menetes turun di pantatnya, dan menurun ke pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-8184779402828766411?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/8184779402828766411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=8184779402828766411' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/8184779402828766411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/8184779402828766411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/menantuku-yang-aduhai.html' title='Menantuku Yang Aduhai'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-2046387742353288587</id><published>2008-02-02T13:32:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:34:02.448+07:00</updated><title type='text'>Ibu Heni Dan Temannya</title><content type='html'>Telah sebulan lamanya Andi, seorang pemuda tampan rupawan, berkenalan dengan wanita paruh baya berumur empat puluh lima tahun bernama Bu Henny, istri seorang pejabat teras pemerintah pusat di Jakarta. Berawal saat mereka bertemu di sebuah department store di kawasan Senen dekat tempat Andi bekerja. Ketika itu Andi dengan tidak sengaja menolong Bu Henny waktu wanita itu mencari sesuatu yang terjatuh dari tas tangan yang dibawanya. Dari pertemuan itulah kemudian keduanya memulai hubungan teman yang kini berkembang menjadi lebih erat, perselingkuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda lajang yang berwajah tampan itu telah membuat Bu Henny jatuh hati hingga tak dihiraukannya lagi status dirinya sebagai istri seorang pejabat. Ditambah dengan kebiasaan buruk dan kondisi keluarganya yang memang penuh pertengkaran akibat suami yang doyan menyeleweng seperti layaknya kebiasaan para pejabat pemerintah yang tak pernah lepas dari perihal korupsi, kolusi, nepotisme dan perilaku seks yang selama ini selalu diarahkan pada generasi muda sebagai kambing hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pertama yang begitu mengesankan bagi kedua orang itu telah membawa mereka mengarungi petualangan demi petualangan cinta yang dari hari ke hari semakin membuat mereka mabuk asmara. Kencan-kencan rahasia yang selalu mereka lakukan di saat suami Bu Henny melakukan tugas ke luar negeri telah menjadi sebuah jadwal rutin bagi keduanya untuk semakin mendekatkan diri. Nafsu seksual Bu Henny yang meledak-ledak dan terpendam, menemukan tempat yang begitu ia impikan semenjak bertemu pemuda itu. Sebagai pemuda lajang yang juga masih memiliki keinginan libido seksual yang tinggi, Andipun tak kalah menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bu Henny seperti memberi semua yang pemuda itu dambakan. Kepuasan seksual yang ia peroleh dari hubungannya dengan istri pejabat itu benar-benar telah membuat hidupnya bahagia. Dendam pribadinya sebagai anak muda yang merasa sangat tertipu oleh para pejabat negara seperti terlampiaskan dengan melakukan perselingkuhan itu. Ditambah lagi dengan pesona tubuh Bu Henny yang sangat ia sukai. Sesuai dengan seleranya yang suka pada tubuh montok ibu-ibu dengan postur tubuh bahenol dan payudara besar seperti yang dimiliki wanita itu benar-benar pas seperti seleranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Postur tubuh Bu Henny yang bongsor dengan pantat, pinggul dan buah dada yang besar memang telah membuat Andi menjadi gila seks hingga dalam setiap hubungan badan yang mereka lakukan keduanya selalu menemukan kepuasan seks yang hebat. Apalagi dengan bentuk kemaluan yang besar dan sangat panjang dari Andi semakin membuat Bu Henny tak pernah puas dan selalu haus dengan hubungan seksual mereka. Kemaluan Andi yang besar dan panjang serta kemampuannya menaklukkan nafsu kewanitaan Bu Henny hingga wanita itu harus bangkit lagi untuk mengimbangi permainan Andi telah melahirkan gairah yang selalu membara pada diri wanita itu. Tak bosan-bosannya mereka melakukan persetubuhan dimana mereka merasa aman dan nyaman. Hari-hari kedua insan yang mabuk kepuasan seks itupun berjalan lancar dan penuh kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan November tahun 1996, Andi meminta cuti selama satu minggu. Pemuda tampan itu telah sebulan sebelumnya merencanakan untuk menghabiskan liburan di sebuah pulau kecil lepas pantai Bali. Perusahaan tempat ia bekerja memberinya tiket gratis untuknya. Sementara di lain tempat, suami Bu Henny mendapat tugas ke luar negeri untuk jangka waktu yang cukup panjang. Hingga saat Andi mengatakan rencananya pada wanita itu Bu Henny langsung menyambutnya dengan penuh suka cita. Dengan gemas ia membayangkan apa yang akan mereka lakukan di pulau kecil itu. Dengan kemewahan hotel berbintang lima yang eksklusif, tak tertahankan rasanya untuk segera melakukan hal itu. Benaknya kian dipenuhi bayangan kebebasan seks yang akan ia tumpahkan bersama Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saatnya mereka berangkat ke Bali, keduanya bertemu di airport dan langsung berpelukan mesra sepanjang perjalanan. Tak terasa penerbangan satu jam lebih itu telah membawa mereka sampai di tujuan. Bagaikan sepasang pengantin baru keduanya begitu mesra hingga feri yang membawa mereka menuju pulau Nusa Lembongan itu telah merapat di sebuah dermaga kecil tepat di depan hotel tempat mereka menginap. Keduanya langsung menuju lobby dan melakukan prosedur check in. Tergesa-gesa mereka masuk ke sebuah bangunan villa yang telah dipesan Bu Henny dan langsung menghempaskan tubuh mereka di tempat tidur. Dengan nafas yang terdengar turun naik itu keduanya langsung bergumul dan saling mengecup. Bibir mereka saling memagut disertai rabaan telapak tangan ke arah bagian-bagian vital tubuh mereka. Saat tangan Bu Henny meraba punggung Andi, pemuda itu dengan perlahan melepaskan kancing gaun terusan yang dikenakan Bu Henny hingga gaun itu terlepas dari tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tampak tubuh putih mulus dan bahenol itu terbuka. Dadanya yang membusung ke depan dengan buah payudara yang besar masih dilapisi BH putih berenda itu terlihat semakin menantang dan membuat nafsu Andi semakin tak tertahan. Disingkapnya BH itu kebawah hingga buah dada Bu Henny tersembul dihadapannya. Bibir Andi langsung menyambut dengan kecupan.&lt;br /&gt;“aahh…, hhmm”, desah Bu Henny, kecupan Andi membuatnya merasakan kenikmatan khas dari mulut pemuda itu saat Andi mulai menyedot putingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu terus mendesah sambil berusaha melepaskan celana yang dikenakan Andi, setelah berhasil melepaskan celana panjang itu tangan Bu Henny langsung meraih batang penis Andi yang telah tegang mengeras. Dirabanya lembut sambil mengusap-usap kepala penis yang begitu disukainya itu.&lt;br /&gt;“ooohh…, Bu…, ooohh”, kini desahan Andi terdengar menimpali desahan Bu Henny, kecupan pemuda itupun kini menuju ke arah bawah dada Bu Henny yang terus-menerus mendesah menahan nikmatnya permainan lidah Andi yang terasa menari di permukaan kulitnya. Perlahan pemuda itu menuju ke daerah bawah pusar Bu Henny yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari sekitar daerah kemaluannya. Dengan pasrah Bu Henny mengangkang membuka pahanya lebar untuk memberi jalan pada Andi yang semakin asik itu. Jari tangan pemuda itu kini menyibak belahan kemaluan Bu Henny yang menantang, dan dengan penuh nafsu ia mulai menjilati bagian dalam dinding vagina wanita paruh baya itu. Andi tampak begitu buas menyedot-nyedot clitoris diantara belahan vagina itu sehingga Bu Henny semakin tampak terengah-engah merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“uuuhh…, uuuhh…, uuuhh…, ooohh…, ooohh…, teruuusss sedooot sayaang…, ooohh pintaar kamu Andi…, ooohh”, kini terdengar Bu Henny setengah berteriak.&lt;br /&gt;Andi semakin terlihat bersemangat mendengar teriakan nyaring Bu Henny yang begitu menggairahkan. Seluruh bagian dalam dinding vagina yang berwarna kemerahan itu dijilatnya habis sambil sesekali tangannya bergerak meraih susu Bu Henny yang montok itu, dengan gemas ia meremas-remasnya. Kenikmatan itupun semakin membuat Bu Henny menjadi liar dan semakin tampak tak dapat menguasai diri. Wanita itu kini membalik arah tubuhnya menjadi berlawanan dengan Andi, hingga terjadilah adegan yang lebih seru lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua insan itu kini saling meraih kemaluan lawannya, Andi menjilati liang vagina Bu Henny sementara itu Bu Henny menyedot buah penis pemuda itu keluar masuk mulutnya. Ukuran penis yang besar dan panjang itu membuat mulutnya penuh sesak. Ia begitu menyenangi bentuknya yang besar, penis yang selalu membuatnya haus. Buah penis itulah yang selama ini dapat memuaskan nafsu birahinya yang selalu membara. Dibanding milik suaminya tentulah ukuran penis Andi jauh lebih besar, penis suaminya tak lebih dari satu perlima ukuran penis pemuda itu. Ditambah lagi dengan kemampuan Andi yang sanggup bertahan berjam-jam sedang suaminya paling hanya dapat membuat wanita itu ngos-ngosan. Sungguh suatu kepuasan yang belum pernah ia rasakan dari siapapun seumur hidupnya selain dari Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan menit sudah mereka saling mempermainkan kemaluan masing-masing membuat keduanya merasa semakin ingin melanjutkan indehoy itu ketahap yang lebih hebat. Bu Henny bahkan tak sadar bahwa ia belum melepas sepatu putih yang dikenakannya dalam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu mereka yang telah tak tertahankan itu membuat keduanya seperti tak peduli akan hal-hal lain. Bu Henny kini langsung menunggangi Andi dengan arah membelakangi pemuda itu. Digenggamnya sejenak penis Andi yang sudah tegang dan siap bermain dalam vaginanya itu, lalu dengan penuh perasaan wanita itu menempelkannya di permukaan liang vaginanya yang telah basah dan licin, dan “Sreeeppp bleeesss”, penis Andi menerobos masuk diiringi desahan keras dari mulut mereka yang merasakan nikmatnya awal senggama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ooo…, hh…”, teriak Bu Henny histeris seketika merasakan penis itu menerobos masuk ke liang vaginanya yang seakan terasa sangat sempit oleh ukuran penis pemuda itu.&lt;br /&gt;“aahh…, Buu…, enaakkk”, Balas Andi sambil mulai mengiringi goyangan pinggul Bu Henny yang mulai turun naik di atas pinggangnya. Matanya hanya menatap tubuh wanita itu dari belakang punggungnya. Tangan Andi meraih pinggang Bu Henny sambil membelainya seiring tubuh wanita itu yang bergerak liar di atas pinggang Andi.&lt;br /&gt;“Ohh Andi…, ooohh sayang…, enaaknya yah sayang ooohh…, ibu suka kamu sayang ooohh…, enaknya And…, penis kamu enaakkk”, desah Bu Henny sambil terus bergoyang menikmati penis Andi yang terasa semakin lezat saja. Andipun tak kalah senang menikmati goyangan wanita itu, mulutnya juga terdengar mendesah nikmat.&lt;br /&gt;“aauuu…, ooohh vagina ibu juga nikmat, oooh lezatnya oohh bu, ooohh goyang terus bu..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sini tanganmu sayang remas susu ibu..”, tangan Bu Henny menarik tangan Andi menuju buah dadanya yang menggantung dan bergoyang mengikuti irama permainan mereka. Andi meraihnya dan langsung meremas-remas, sesekali puting susu itu dipilinnya. Bu Henny semakin histeris”,aauuu…, ooohh enaak, remeeess teruuus susu ibu Andi…, ooohh…, nikmat…, ooohh Andi”.&lt;br /&gt;“Ohh Bu Henny…, ooohh Bu enaknya goyang ibu ooohh terus goyang ooohh sampai pangkal bu ooohh…, tekan lagi ooohh angkat lagi ooohh…, mmhh ooohh vaginanya enaakkk bu ooohh”, teriak Andi mengiringinya, kamar villa yang luas itu kini penuh oleh teriakan nyaring dan desahan bernafsu dari kedua insan yang sedang meraih kepuasan seks secara maksimal itu. Bu Henny benar-benar seperti kuda betina liar yang baru lepas dari kandangnya. Gerakannya diatas tubuh Andi semakin liar dan cepat, menunjukkan tanda-tanda mengalami klimaks permainannya. Sementara itu Andi hanya tampak biasa saja, pemuda itu masih asik menikmani goyangan liar Bu Henny sambil meremasi payudara wanita itu bergiliran satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit saja adagan itu berlangsung kini terlihat Bu Henny sudah tak dapat lagi menahan puncak kenikmatan hubungan seksual itu. Lalu dengan histeris wanita itu berteriak keras dan panjang mengakhiri permainannya.&lt;br /&gt;“ooouuu…, ooo…, aa…, iiihh…, ibu keluaarrr…, ooo…, nggak tahaann laagiii enaaknyaa Andi…, ooohh”, teriaknya panjang setelah menghempaskan pantatnya ke arah pinggang Andi yang membuat kepala penis pemuda itu terasa membentur dasar liang rahimnya, cairan kental yang sejak tadi ditahannya kini muncrat dari dalam rahim wanita itu dan memenuhi rongga vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat Andi merasakan vagina Bu Henny menjepit nikmat lalu ia merasakan penisnya tersembur cairan kental dalam liang kemaluan wanita itu, vagina itu terasa berdenyut keras seiring tubuh Bu Henny yang mengejang sesaat lalu berbah lemas tak berdaya.&lt;br /&gt;“ooohh An, ibu nggak kuat lagi…, Istirahat dulu ya sayang?”, pintanya pada Andi sambil melepaskan gigitan vaginanya pada penis pemuda itu.&lt;br /&gt;“Baiklah Bu”, sahut Andi pendek, ia mencoba menahan birahinya yang masih membara itu sambil memeluk tubuh Bu Henny dengan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penis pemuda itu masih tampak berdiri tegang dan keras. Dengan mesra dicumbunya kembali Bu Henny yang kini terkapar lemas itu. Andi kembali meraba belahan kemaluan Bu Henny yang masih basah oleh cairan kelaminnya, jarinya bermain mengutil titik kenikmatan di daerah vagina wanita itu. Bibirnyapun tak tinggal diam, ia kembali melanjutkan jilatannya pada sekitar puting susu Bu Henny. Sesekali diremasnya buah dada berukuran besar yang begitu disenanginya itu. Kemudian beberapa saat berlalu, Bu Henny menyuruhnya berjongkok tepat di atas belahan buah dada itu, lalu wanita itu meraih sebuah bantal untuk mengganjal kepalanya. Ia meraih batang penis Andi yang masih tegang dan mulai mengulumnya, tangan wanita itu kemudian meraih payudaranya sendiri dan membuat penis Andi terjepit diantaranya. Hal itu rupanya cukup nikmat bagi Andi sehingga ia kini mendongak menahan rasa lembut yang menjepit buah penisnya. Sementara itu tangan pemuda itu terus bermain di permukaan vagina Bu Henny, sesekali ia memasukkan jarinya ke dalam liang kemaluan itu dan mempermainkan clitorisnya sampai kemudian beberapa saat lamanya tampak Bu Henny mulai bangkit kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…, Andi, kamu memang pintar sayang, kamu buat ibu puas dan nyerah, sekarang kamu buat ibu kepingin lagi, aduuuh benar-benar hebat kamu An”, puji Bu Henny pada Andi.&lt;br /&gt;“Saya rasa suasana ini yang membuat saya jadi begini Bu, saya begitu menikmatinya sekarang, nggak ada rasa takut, kuatir ketahuan suami ibu atau waswas. Ibu juga kelihatan semakin menggairahkan akhir-akhir ini, saya semakin suka sama badan ibu yang semakin montok”&lt;br /&gt;“Ah kamu bisa aja, An. Masa sih ibu montok, yang bener aja kamu”.&lt;br /&gt;“Bener lho, Bu. Saya begitu senang sama ibu belakangan ini, rasanya kenikmatan yang ibu berikan semakin hari semakin hebat saja”.&lt;br /&gt;“Mungkin ibu yang semakin bersemangat kalau lagi main sama kamu, gairah ibu seperti meledak-ledak kalau udah main sama kamu. Tapi, ayo dong kita mulai lagi, ibu jadi mau main lagi nih kamu bikin. iiih hebatnya kamu sayang”, kata Bu Henny sambil mengajak Andi kembali membuka permainan mereka yang kedua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di atas tempat tidur itu, kini Andi mengambil posisi di atas Bu Henny yang berbaring menghadapnya. Tubuhnya siap menindih tubuh Bu Henny yang bahenol itu. Perlahan tapi pasti Andi masuk dan mulai bergoyang penuh kemesraan. Di raihnya tubuh wanita itu sambil menggoyang penuh perasaan. Sepasang kemaluan itu kembali saling membagi kenikmatannya. Suara desahan khas mulai terdengar lagi dari mulut mereka, diiringi kata-kata rayuan penuh nikmat dan gairah cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Andi semakin garang meniduri wanita itu. Gerakannnya tetap santai namun genjotan pinggulnya pada tubuh Bu Henny tampak lebih bertenaga. Hempasan tubuh Andi yang kini turun naik di atas tubuh Bu Henny sampai menimbulkan suara decakan pada permukaan kemaluan mereka yang beradu itu. Bibir mereka saling pagut, kecupan disertai sedotan di leher keduanya semakin membuat suasana itu menjadi tegang dan menggairahkan. Teriakan-teriakan nyaring keluar dari mulut Bu Henny setiap kali Andi menekan pantatnya ke arah pinggul wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat lamanya mereka lalu berganti gaya. Bu Henny menempatkan dirinya di atas tubuh Andi, dibiarkannya Andi menikmati kedua buah dadanya yang menggantung. Dengan leluasa kini pemuda itu menyedot puting susu itu secara bergiliran. Tak puas-puasnya Andi menikmati bentuknya yang besar itu, ia begitu tampak bersemangat sambil sebelah tangannya meraba punggung Bu Henny. Buah dada besar dan lembut nan mulus itupun menjadi kemerahan akibat sedotan mulut Andi yang bertubi-tubi di sekitar putingnya. Sementara Bu Henny kini asik bergoyang mempermainkan irama tubuhnya yang turun naik bergoyang ke kiri kanan untuk membagi kenikmatan dari kemaluan mereka yang sedang beradu. Penis Andi yang tegang dan keras itu seakan bagai batang kayu jati yang tak tergoyahkan. Sekuat wanita itu mendorong ke arah pinggul Andi sekuat itu pula getaran rasa nikmat yang diperolehnya dari pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ooohh…,ooohh…, ooohh…, enaknya Andi…, ooohh enaknya penis kamu sayang…, ibu ketagihan…, oohh lezatnya…, aahh…, uuuhh…, sedooot teruuus susu ibu…, ooohh sayang ooohh”, desah Bu Henny bercampur jeritan menahan rasa nikmat dari goyang pinggulnya di atas tubuh Andi. Untuk kesekian kalinya sensasi kenikmatan rasa dari penis Andi yang besar dan panjang itu seperti bermain di dalam liang vaginanya. Liang kemaluan yang biasanya hanya merasakan sedikit geli saat bersenggama dengan suaminya itu kini seperti tak memiliki ruang lagi oleh ukuran penis pemuda itu. Seperti biasanya saat dalam keadaan tegang penuh, penis Andi memang menjadi sangat panjang hingga Bu Henny selalu merasakan penis itu sampai membentur dasar liang rahimnya yang paling dalam. Dan keperkasaan pemuda itu yang sanggup bertahan berjam-jam dalam melakukan hubungan seks itu kini kembali membuat Bu Henny untuk kedua kalinya mengalami ejakulasinya. Dengan gerakan yang tiba-tiba dipercepat dan hempasan pinggulnya ke arah tubuh Andi yang semakin keras, wanita itu berteriak panjang mengakhiri ronde kedua permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aahh…, ahh…, aa…, aahh…, ibu ke…, lu.., ar laagiii…, ooohh…, kuatnya kamu sayang ooohh”. jeritnya kembali mengakhiri permainan itu.”ooohh bu…, enaak ooohh vagina ibu nikmat jepitannya oooh hh…”, balas Andi sambil ikut menggenjot keras menambah kenikmatan puncak yang dialami bu Henny. Pemuda itu masih saja tegar bergoyang bahkan saat Bu Henny telah lemas tak sanggup menahan rasa nikmat yang berubah menjadi geli itu.&lt;br /&gt;“aawww…, geliii…, Andi stop dulu, ibu istirahat dulu sayang ohh gila kamu And, kok bisa kayak gini yah?”.&lt;br /&gt;“Habiiis ibu sih goyangnya nafsuan banget, jadi cepat keluar kan?”.&lt;br /&gt;“Nggak tahu ya An, ibu kok nafsunya gede banget belakangan ini, sejak ngerasain penis kamu ibu benar-benar mabuk kepayang…”, kata Bu Henny sambil menghempaskan tubuhnya di samping Andi yang masih saja tegar tak terkalahkan.&lt;br /&gt;“Sabar Bu, saya bangkitkan lagi deh..”, seru pemuda itu sekenanya.&lt;br /&gt;“Baiklah An, ibu juga mau bikin kamu puas sama pelayanan ibu, biar adil kan? Sini ibu karaoke penis kamu…, aduuuh jagoanku…, besar dan panjang ooohh…, hebatnya lagi”, lanjut Bu Henny sambil beranjak meraih batang kemaluan Andi yang masih tegang itu lalu memulai karaoke dengan memasukkan penis Andi ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi kembali merasakan nikmat dari permainan yang dilakukan wanita itu dengan mulutnya, penis besarnya yang panjang dan masih tegang itu dikulum keluar masuk dengan buas oleh Bu Henny yang tampaknya telah sangat berpengalaman dalam melakukan hal itu. Sambil berlutut pemuda itu menikmatinya sembari meremas kedua buah payudara Bu Henny yang ranum itu. Telapak tangannya merasakan kelembutan buah dada nan ranum yang begitu ia sukai. Dari atas tampak olehnya wajah wanita paruh baya yang cantik itu dengan mulut penuh sesak oleh batang penisnya yang keluar masuk. Sesekali Bu Henny menyentuh kepala penis itu dengan giginya hingga menimbulkan sedikit rasa geli pada Andi.&lt;br /&gt;“Auuuww…, nikmat Bu sedot terus aahh, aduuuh enaknya”.&lt;br /&gt;“mm…, mm..”, Bu Henny hanya bisa menggumam akibat mulutnya yang penuh sesak oleh penis Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi terlihat begitu menikmati detik demi detik permainannya, ia begitu menyenangi tubuh bongsor wanita yang berumur jauh lebih tua darinya itu. Nafsu birahinya pada wanita dewasa seperti Bu Henny memang sangat besar. Ia tak begitu menyenangi wanita yang lebih muda atau seumur dengannya. Andi beranggapan bahwa wanita dewasa seperti Bu Henny jauh lebih nikmat dalam bermain seks dibanding gadis ABG yang tak berpengalaman dalam melakukan hubungan seks. Setiap kali ia melakukan senggama dengan Bu Henny ia selalu merasakan kepuasan yang tiada duanya, wanita itu seperti sangat mengerti apa yang ia inginkan. Demikian pula Bu Henny, baginya Andi-lah satu-satunya pria yang sanggup membuatnya terkapar di ranjang. Tak seorangpun dari mantan kekasih gelapnya mampu membuat wanita itu meraih puncak kepuasan seperti yang ia dapatkan dari Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit sudah Andi di karaoke oleh Bu Henny. Kemudian kini mereka kembali mengatur posisi saat wanita itu kembali bangkit untuk yang ketiga kalinya. Ia yang telah terkapar dua kali berhasil dibangkitkan lagi oleh pemuda itu. Inilah letak keperkasaan Andi. Ia dapat membuat lawan mainnya terkapar beberapa kali sebelum ia sendiri meraih kepuasannya. Pemuda itu sanggup bermain dalam waktu dua jam penuh tanpa istirahat. Sejenak mereka bermain sambil berdiri, saling menggoyang pinggul, mirip sepasang penari samba. Namun kemudian dengan cepat mereka menuju kamar mandi dan masuk ke dalam bak air hangat yang luas, sembari mengisi bak rendam itu dengan air mereka melanjutkan permainannya di situ, mereka masuk ke dalam bak dan langsung mengatur posisi di mana Andi menempatkan diri dari belakang dan memasukkan penisnya dari arah pantat Bu Henny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan seru kembali terjadi, teriakan kecil menahan nikmat itu terdengar lagi dari mulut Bu Henny yang merasakan genjotan Andi yang semakin nikmat saja. Diiringi suara tumpahan air dari kran pengisi bath tube itu suasana menjadi semakin menggairahkan.&lt;br /&gt;“aahh…, nikmat An, aahh…, ooohh penis kamu sayang ooohh enaak, mmhh lezaatnya ooohh…, genjot yang lebih keras lagi dong…, ooohh enaak”, teriak Bu Henny sejadi-jadinya saat merasakan nikmat di liang vaginanya yang dimasuki penis pemuda itu. Andi juga kini tampak lebih menikmati permainannya, ia mulai merasakan kepekaan pada penisnya yang telah membuat Bu Henny menggapai puncak dua kali itu.&lt;br /&gt;“Ooohh…, Bu…, vagina ibu juga nikmat sekali…, ooohh saya mulai merasa sangat nikmat ooohh…, mmhh…, Bu ooohh, Bu Henny ooohh ibu cantik sekali ooohh…, saya merasa bebas sekali”, oceh mulut Andi menimpali teriakan gila dari Bu Henny yang juga semakin mabuk oleh nikmatnya goyang tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya memang tampak liar dengan gerakan yang semakin tak terkendali. Beberapa kali mereka merubah gaya dengan beragam variasi seks yang sangat atraktif. Kadang di pinggiran bath tub itu Bu Henny duduk mengangkang dengan pahanya yang terbuka lebar sementara Andi berjongkok dari depannya sambil menggoyang maju mundur, mulutnya tak pernah lepas menghisap puting susu Bu Henny yang montok dan besar itu. Bunyi decakan cairan kelamin yang membeceki daerah pangkal kemaluan yang sedang beradu itupun kini terdengar bergericik seiring pertemuan kemaluan mereka yang beradu keras oleh hempasan pinggul Andi yang menghantam pangkal paha Bu Henny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduuuhh Annndiii…, enaaknya goyang kamu sayang ooohh…, teruuus…, aahh genjot yang keraass…, ooohh sampai puaasss…, hhmm enaakk sayangg…, mmhh nikmaatttnya…, ooohh…, enaknya genjotan kamu…, ooohh…, Andi sayang oooh kamu pintar sekali ooohh ibu nggak mau berhenti sama kamu…, ooohh.., jagonya kamu sayang ooohh genjot terus yang keras”.&lt;br /&gt;“Ohh Bu Henny, ibu juga punya tubuh yang nikmat, nggak mungkin saya bosan sama ibu, ooohh…, apalagi susu ini…, ooohh mm…, enaknya…, baru sekali ini saya ketemu wanita cantik manis dengan tubuh yang begitu aduhai seperti ibu, oooh Bu Henny…, goyang ibu juga nikmat sekali oooh meski ibu sudah punya anak tapi vagina ini rasanya nikmat sekali bu, ooohh susu ibu juga mm…, susu yang paling indah yang pernah saya lihat…, auuuhh enaaknya vagina ini…, ooohh…, penis saya mulai sedikit peka bu”, balas Andi memuji wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terus saling menggoyang sambil memuji kelebihan masing-masing, ocehan mereka berkisar pada kenikmatan seks yang sedang mereka alami saat ini. Andi memuji kecantikan dan kemolekan tubuh Bu Henny, sedang wanita itu tak henti-hentinya memuji keperkasaan dan kenikmatan yang ia dapatkan dari Andi. Beberapa saat berlalu, mereka kembali merubah variasi gayanya menjadi gaya anjing, Bu Henny menunggingkan pantatnya ke arah Andi lalu pemuda itu menusukkan kemaluannya dari arah belakang. Terjadilah adegan yang sangat panas saat Andi dengan gerakan yang cepat dan goyang pinggul yang keras memnghantam ke arah pantat Bu Henny. Wanita itu kini menjerit lebih keras, demikian pula dengan Andi yang saat ini mulai merasakan akan menggapai klimaks permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ooohh…, ooohh…, ooohh…, aauuuhh…, ennnaakkk…, An.. Di sayang…, genjooot…, ibu mau keluaar lagii…, ooohh…, nggaak tahan lagi sayang…, nikmaat ooohh”, jerit nyaring Bu Henny yang ternyata juga sedang mengalami ejakulasi, vaginanya merasakan puncak kenikmatan itu seperti sudah diambang rahimnya. Ia masih mencoba untuk bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya dengan Andi yang kini sedang mempercepat gerakan pinggulnya menghantam pantat Bu Henny untuk meraih kenikmatan maksimal dari dinding vagina wanita itu. Kepala penisnyapun mulai berdenyut menandakan puncak permainannya akan segera tiba. Buru-buru diraihnya tubuh Bu Henny sambil membalikkan arahnya menjadi berhadapan, lalu kemudian ia mengangkat sebelah kaki wanita itu ke atas dan dengan gesit memasukkan buah penisnya kembali ke liang vagina Bu Henny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“oooh Bu, saya juga mau keluar. Kita pakai gaya ini yah?! Saya mau keluarkan sekarang juga…, aauuuhh Bu Henny sayang…, ooohh…, enaakkk…, ooohh…, vagina ibu njepit…, enaak”, teriak Andi diambang puncak kenikmatannya, ia begitu kuat merasakan cairan sperma yang sudah siap meluncur dari penisnya yang dalam keadaan puncak ketegangannya itu. Kemaluannya terasa membesar sehingga vagina Bu Henny terasa makin sempit dan nikmat. Wanita itupun merasakan hal yang tak kalah nikmatnya, vaginanya seakan sedang merasakan nikmat yang super hebat dan membuat wanita itu tak dapat lagi menahan keluarnya cairan kelamin dari arah rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ooohh…, aahh…, ibu keeeluuuaarrr laagii…, aahh enaakkk…, Andiii”, teriak Bu Henny mengakhiri permainannya, disaat bersamaan Andi juga mengalami hal yang sama. Pemuda itu tak dapat lagi menahan luncuran cairan spermanya, hingga penisnya pun menyemprotkan cairan itu ke dalam rongga vagina Bu Henny dan membuatnya penuh, dinding vagina itu seketika berubah menjadi sangat licin akibat dipenuhi cairan kelamin kedua manusia itu. Andi tampak tak kalah seru menikmati puncak permainannya, ia berteriak sekeras-kerasnya.&lt;br /&gt;“aahh…, saya keluaarr juga Bu Henny ooohh…, ooohh…, air mani saya masuk ke dalam vagina ibu…, ooohh…, lezaat…, ooohh Bu Henny sayaanng…, ooohh Bu Henny…, enaak”, jeritnya sambil mendekap wanita itu dengan keras dan meresapi sembuaran spermanya dalam jumlah yang sangat banyak. Cairan putih kental itu sampai keluar meluber ke permukaan vagina Bu Henny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kedua insan itu ambruk dan saling mendekap dalam kolam air hangat yang sudah penuh itu. Mereka berendam dan kini saling membersihkan tubuh yang sudah lemas akibat permainan seks yang begitu hebat. Mereka terus saling mencumbu dan merayu dengan penuh kemesraan.&lt;br /&gt;“Andi sayang…”, panggil Bu Henny.&lt;br /&gt;“Ya, bu”.&lt;br /&gt;“Kamu mau kan terus main sama ibu?”.&lt;br /&gt;“Maksud ibu?”.&lt;br /&gt;“Maksud ibu, kamu mau kan terus kencan gini sama ibu?”.&lt;br /&gt;“Oh itu, yah jelas dong bu, masa sih saya mau ninggalin wanita secantik ibu”, jawab Andi sambil memberikan kecupan di pipi Bu Henny.&lt;br /&gt;“Ibu pingin terus bisa menikmati permainan ini, nggak ada yang bisa memuaskan birahi ibu selain kamu. Suami ibu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kamu. Dulu sebelumnya ibu juga pernah pacaran sama pegawai bawahan suami ibu tapi ah mereka sama saja, hanya nafsu saja yang besar, tapi kalau sudah main kaya ayam, baru lima menit sudah keluar”.&lt;br /&gt;“Yah saya maklum saja bu, tapi ibu jangan kuatir. Saya akan terus menuruti kemauan ibu, saya juga senang kok main sama ibu. Dari semua wanita yang pernah saya kencani cuma Ibu deh rasanya yang paling hebat bergoyang. Bentuk tubuh Ibu juga saya paling suka, apalagi kalau yang ini nih..”, kata Andi sambil memilin puting susu Bu Henny.&lt;br /&gt;“Auuuw…, Andi! geliii aahh…, ibu udah nggak tahan…, nanti lagi ah”, jerit Bu Henny merasakan geli saat Andi memilin puting susunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya terus bercumbu rayu hingga saat beberapa puluh menit kemudian mereka mengeringkan badan lalu beranjak menuju tempat tidur. Di sana lalu mereka saling dekap dan hanyut dalam buaian kantuk akibat kelelahan setelah permaian seks yang hebat itu. Merekapun tertidur lelap beberapa saat kemudian. Masih dalam keadaan telanjang bulat keduanya terlelap dalam dekapan mesra mereka. Dua jam lamanya mereka tertidur sampai saat senja tiba mereka terbangun dan langsung memesan makan malam di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama itu Andi dan Bu Henny benar-benar seperti gila seks. Permainan demi permainan mereka lakukan tanpa mengenal berhenti. Saat malam tiba keduanya kembali melampiaskan nafsu birahi mereka sepuas-puasnya. Klimaks demi klimaks mereka raih, sudah tak terkira puncak kenikmatan yang telah mereka lalui malam itu. Dengan hanya diselingi istirahat beberapa belas menit saja mereka kembali lagi melakukannya. Dari pukul delapan malam sampai menjelang jam empat pagi mereka dengan gila mengumbar nafsu seks mereka di villa yang luas itu. Berbagai macam obat kuat dan ekstasi mereka minum untuk memperkuat tenaganya. Minuman keras mereka tegak sampai mabuk untuk menyelingi permainan itu. Televisi yang ada di kamar itupun mereka putarkan Laser Disc porno yang telah mereka siapkan dari Jakarta, sambil melihat adegan seks di TV itu mereka menirukan semua gerakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu sungguh menjadi malam birahi yang panjang bagi kedua orang yang sedang mabuk seks itu. Begitu salah satu dari mereka merasa lemas mereka langsung menegak pil kuat pembangkit tenaga yang telah mereka siapkan. Belasan botol bir sudah habis ditegak Andi ditambah beberapa piring sate kambing untuk membuatnya selalu tegang dan panas. Barulah menjelang dini hari mereka terkapar lemas kemudian tertidur lelap tanpa busana. Kamar itupun tampak berantakan akibat permainan yang mereka lakukan di sembarang tempat, dari tempat tidur sampai kamar mandi, meja makan, sofa, lantai karpet, sampai toilet jongkok yang ada di kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya mereka masih tampak terlelap sampai siang menjelang sore, tubuh mereka terasa penat dan malas.&lt;br /&gt;“Huuuaahhmm”, terdengar Andi menguap.&lt;br /&gt;“Kamu sudah bangun sayang?”, tanya Bu Henny begitu mendengar suara pemuda itu, ia lebih dahulu bangun untuk mengambil pesanan minuman yang ditaruh di meja teras samping kolam renang pribadi yang ada di villa itu. Secangkir kopi ia ambilkan untuk Andi lalu wanita itu beranjak keluar kamar menuju kolam renang di depan kamar mereka. Dengan bebas ia lalu membuka gaun tidur yang dikenakannya dan bermain di kolam renang itu. Andi hanya memperhatikan dari dalam kamar. Villa itu memang dibatasi oleh tembok tinggi bergaya tradisional Bali dengan halaman yang luas. Gerbangnyapun dapat dikunci dari dalam sehingga aman bagi tamu dari gangguan. Mereka juga telah memesan agar tidak diganggu selama hari pertama sampai ketiga agar mereka dapat menikmati kepuasan yang mereka inginkan itu secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi memandang tubuh Bu Henny dari kejauhan sambil membayangkan apa yang telah diraihnya dari wanita paruh baya yang telah bersuami itu. Betapa beruntungnya ia yang hanya seorang biasa pegawai perusahaan swasta itu dapat menggauli istri pejabat tinggi pemerintah yang biasanya sangat sulit didapatkan orang lain. Seleranya pada wanita dewasa yang berumur jauh di atasnya menjadikan pemuda itu sangat menikmati hubungan gelapnya dengan Bu Henny. Tubuh wanita itu putih mulus dengan wajah manis menggairahkan, buah dada yang begitu menantang dengan ukuran yang besar ditambah lagi dengan goyang tubuhnya yang aduhai menjadikannya benar-benar sempurna di mata Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jauh ia menatap tajam ke arah Bu Henny yang kini duduk di pinggiran kolam itu, tampak jelas saat wanita itu sedikit mengangkang memperlihatkan daerah kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Itu adalah bagian yang paling disukai Andi, dalam setiap hubungan seks yang mereka lakukan Andi tak pernah sekalipun melewatkan kesempatannya untuk menjilati daerah itu. Aromanya yang khas dengan permukaan bibir vagina yang merah merekah menjadikannya selalu tampak menantang dan membangkitkan nafsu birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur Bu Henny sudah lebih dari empat puluh tahun justru menambah gairah pemuda itu, ia merasa benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan dari Bu Henny. Gairah dan nafsu birahi yang selalu membara, kedewasaan berfikir maupun teknik bermain cinta yang begitu ia sukai semua ia dapatkan darinya. Kehangatan tubuh wanita bersuami itu sungguh cocok dengan selera Andi. Kehangatan yang tak pernah sekalipun ia dapatkan dari wanita muda, apalagi ABG yang sok seksi seperti yang banyak terdapat di kota-kota besar. Ia sudah bosan dan muak dengan anak-anak kecil yang murahan dan hanya mengenal seks secara pas-pasan itu. Namun hubungannya dengan Bu Henny kini seperti memberinya pengalaman lebih tentang seks dan segala misteri yang ada di dalamnya. Teknik-teknik menikmati senggama yang sebelumnya hanya ia baca dari buku tuntunan seks itu kini dapat ia praktikkan dan rasakan kenikmatannya dari tubuh Bu Henny. Bahkan Bu Henny seperti menuntunnya ke arah kesempurnaan teknik seks yang hari demi hari semakin terasa memabukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat memandangi tubuh bugil itu membuat Andi kembali terangsang. Iapun kemudian beranjak bangun dari tempat tidur dan menyambar sebuah handuk lalu berjalan menghampiri Bu Henny di pinggir kolam itu. Sambil tersenyum Bu Henny menyambutnya dengan sebuah kecupan mesra, Andi merangkulnya dari belakang dan dengan perlahan kemudian mereka masuk ke kolam dan berenang dengan bebas. Mereka asik bermain dengan air, saling menyiram sambil sesekali menggelitik daerah vital. Keduanya bercanda puas dengan sangat bebas. Dunia bagaikan milik mereka berdua di tempat itu. Bu Henny memang sengaja memesan villa dengan bangunan dan lokasi khusus yang jauh dari keramaian, dengan segala fasilitas yang bersifat pribadi seperti kolam, taman dan pantai pribadi yang tertutup untuk tamu lain semua menjadi milik mereka berdua. Dengan sepuas hati mereka menghabiskan sisa waktu siang hari itu untuk bermain di kolam maupun di pantai, berenang kemudian saling berkejaran di pantai dan taman villa itu. Tak ketinggalan mereka melakukan hubungan seks yang cukup seru di kolam renang, hingga hari itu mereka benar-benar sangat ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senjapun tiba, kedua manusia yang dimabuk nafsu birahi itu rupanya sudah terlalu lelah untuk kembali melakukan senggama seperti yang mereka perbuat kemarin. Kini keduanya tampak duduk di sebuah sofa di teras villa itu sambil menikmati snack dan minuman ringan yang mereka pesan. Beberapa saat kemudian dua orang pelayan hotel mengantarkan makan malam yang mewah sekalian menata kembali kamar yang berantakan oleh permainan seks yang mereka lakukan hari sebelumnya. Kedua orang pelayan itu seperti heran melihat keadaan kamar yang cukup berantakan, tapi sedikitpun mereka tak berani mengeluh ataupun bercanda pada kedua tamunya karena Bu Henny memang membayar villa termahal ditambah dengan kondisi khusus yang membuat mereka menjadi tamu terpenting yang paling dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menghabiskan makan malam yang besar dengan menu penuh gizi disertai minuman energi untuk pemulih tenaga itu mereka beranjak naik ke tempat tidur. Bu Henny menyalakan televisi dan memprogram sebuah film horor dari laser disc. Sejenak kemudian mereka sudah terlihat asik saling mendekap sambil menyaksikan film itu hingga larut malam sebelum lalu mereka tertidur saling mendekap mesra. Dua hari itu mereka habiskan dengan mengumbar nafsu birahi sepuas-puasnya hingga kini mereka perlu istirahat yang panjang untuk memulihkan stamina mereka. Hari ketiga mereka habiskan dengan membaca berita dari majalah yang disediakan hotel. Siang harinya mereka mengambil sebuah program hiburan menyelam di laut sekitar pulau itu untuk menyaksikan keindahan bawah laut berupa ikan hias dan karang yang beraneka ragam. Keduanya melakukan itu untuk melengkapi hiburang dan selingan dari tujuan utama mereka, meraih kepuasan seks bebas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di pulau kecil lepas pantai tenggara pulau Bali, Bu Henny dan Andi menghabiskan liburan satu minggu mereka. Keduanya terlihat asyik duduk menikmati matahari terbenam di ufuk barat. Warna kemerahan bercampur birunya laut semakin terlihat indah dengan terdengarnya lagu-lagu yang dimainkan grup hiburan hotel diiringi alat musik akustik spanyol yang eksotik. Pasangan itu mengambil tempat duduk di pojok kanan sebuah hamparan taman rumput dan bonsai yang indah, sedikit terpisah dari tamu yang lain. Mereka tampak sedang menikmati minuman ringan dan seporsi besar sea food berupa lobster dan soup kepiting kegemaran Andi. Sesekali keduanya tampak tertawa kecil bercanda ria membicarakan kisah-kisah lucu yang mereka alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian ketika mereka sedang asik bercanda seorang wanita cantik berumur kurang lebih sama dengan Bu Henny datang dari arah belakang mengejutkan mereka. Begitu dekat wanita itu langsung menepuk pundak Bu Henny yang sama sekali tak melihat kedatangannya.&lt;br /&gt;“Selamat malam pengantin baru”, ucapnya pada Bu Henny, wanita itu langsung membalikkan badan terkejut mendapat sentuhan tiba-tiba itu. Tapi sesaat setelah mengetahui siapa yang datang, matanya tampak berbinar penuh keceriaan.&lt;br /&gt;“Eeeiiihh…, Rani…, aduuuh jantungku hampir copot…, uuuhh hampiiir aja aku mati kaget Ran, eh ngapain kamu di sini dan kok kamu tahu aku disini?”.&lt;br /&gt;“Aduh Hen, aku tuh nyari kamu dari rumah sampai ke kolong jembatan tahu nggak, susaah banget”.&lt;br /&gt;“lantas siapa yang ngasih info kalu aku di sini”.&lt;br /&gt;“Lho kan kamu sendiri yang cerita sama aku sebelum berangkat, kalau kamu mau liburang ke sini”.&lt;br /&gt;“Oh iya aku lupa”.&lt;br /&gt;“Jelas lupa dong, lha kamu lagi bulan madu kayak gini gimana nggak lupa daratan?”, sahut wanita itu menggoda Bu Henny.&lt;br /&gt;“Idiiih kamu nyindir yah?, Awas tak jitak kamu”, lanjut Bu Henny sambil mengacungkan tangannya ke arah wanita itu.&lt;br /&gt;“Jitak aja, ntar aku buka kartu kamu di suami kamu, ya nggak?”, sergahnya tak mau kalah.&lt;br /&gt;“Alaa…, kalau yang itu sih lapor aja, aku sih sekarang sudah punya jagoan, ngapain takut mikirin si botak jelek itu, huh dasar tua bangka…, moga aja dia mati ketabrak kereta api di Luar negeri, toh paling dia juga lagi nyari jajanan di jalan tuh, siapa nggak tahu sih pejabat pemerintah…, eh ngomong-ngomong aku sampai lupa ngenalin Andi sama kamu, nih dia Arjunaku yang sering kuceritakan sama kamu, Ran. Andi ini Tante Rani, teman akrab ibu dari sejak di SMA dulu”.&lt;br /&gt;“Halo Tante…, saya Andi”, kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan pada wanita rekan Bu Henny itu. Sejak tadi ia cuma memperhatikan kedua wanita yang tampak saling akrab itu.&lt;br /&gt;“Halo juga Andi, Bu Henny pernah juga cerita tentang kamu”.&lt;br /&gt;“Eh Ran, kamu ngapain ke sini, pasti deh ada masalah penting di perusahaan, ada apa sih?” tanya Bu Henny penasaran pada Tante Rani, namun raut wajah wanita itu langsung berubah muram saat Bu Henny bertanya.&lt;br /&gt;“Aku ada masalah lagi sama suamiku, Hen”, jawabnya sambil menunduk, wanita itu tampak sedih.&lt;br /&gt;“Ya ampuuun Ran, aku kan sudah bilang sama kamu seribu kali, kalau suami kamu bikin ulah, kamu harus balas. Jangan bodoh gitu dong ah, jangan sok setia begitu. Eh tahu nggak biar kamu nggak cerita sama aku, tapi aku sudah tahu masalah kamu. Pasti suami kamu nyeleweng lagi kan? Eh Ran, Kamu harus sadar tahu nggak, semua yang namanya pejabat itu bangsat, denger yah, bangsat, nggak bisa dipercaya. Kamu susah amat jadi orang setia. eeehh, suami kamu nikmat-enakan di luar sana tidur sama gadis-gadis muda, sadar Ran, kamu harus gitu juga, jangan kalah”, oceh Bu Henny panjang pada Tante Rina yang masih tertunduk. Bu Henny melanjutkan omelan dan nasehatnya pada wanita itu dengan penuh amarah. Ia seperti tak tega jika teman baiknya itu dijadikan bulan-bulanan oleh sumai yang brengsek seperti umumnya pejabat pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau gini aja deh, aku nggak mau kamu jadi kusut kayak begini, sebagai sahabat dekat kamu, aku siap ngebantuin kamu supaya bisa ngelupain masalah ini, okay?”, Bu Henny memberi alternatif pada Tante Rani yang sedari tadi hanya bisa terdiam seribu basa.&lt;br /&gt;Bu Henny melanjutkan kata-katanya dengan penuh semangat, “Okay Ran, ini mungkin akan ngejutin kamu, tapi itupun terserah apakah kamu mau terima atau tidak ini hanya ide, kalau kamu terima ya bagus kalaupun nggak juga nggak apa-apa kok, dengerin yah..”, sejenak ia menghentikan kata-katanya lalu beberapa saat kemudian ia melanjutkan, “malam ini kamu boleh gabung sama kita berdua, maksudku Andi dan aku, aku nggak keberatan kok kalau Arjunaku harus melayani dua wanita sekaligus, toh aku sendiri rasanya nggak cukup buat dia, ya nggak An?” katanya sembari melirik pada Andi.&lt;br /&gt;Pemuda itu langsung terkejut, namun sebelum ia sempat berkata Bu Henny sudah kembali melanjutkan ocehannya, “Tapi, Bu…”&lt;br /&gt;“Alaa.., nggak pakai tapi tapi lagi deh, toh kamu juga pasti senang kan?, lagi pula ibu ingin lihat apa kamu sanggup ngalahin kita berdua”.&lt;br /&gt;“Tapi Hen”, sergah Tante Rani.&lt;br /&gt;“Eh kamu nggak usah malu-malu, pokoknya lihat saja nanti yah, ayo sekarang yang penting kita bisa senang sepuas puasnya, umbar dan raih kepuasan. Nggak ada yang berhak ngelarang kamu Ran”, lanjut Bu Henny tak mau mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Andi dan Tante Rani hanya terdiam dan saling melirik. Andi yang sejak pertama telah memperhatikan bentuk tubuh Tante Rani yang tak kalah indah dari Bu Henny kini merasakan dadanya berdebar keras. Sudah tergambar di benaknya tubuh dua wanita paruh baya yang sama-sama memiliki tubuh bahenol itu akan ia tiduri sekaligus dalam satu permainan segi tiga yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dua orang istri pejabat pemerintah dengan wajah cantik manis dan kulit yang putih mulus itu akan ia nikmati sepuas hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat ia berpikir banyak, Bu Henny tiba-tiba memecahkan keheningan.&lt;br /&gt;“Heh ngelamun kalian berdua yah, ntar aja di kamar lihat kenyataannya pasti asiiik, ya nggak. Sekarang ayoh pesen minuman lagi”, katanya sambil melambaikan tangan pada pelayan bar.&lt;br /&gt;“Dua bir lagi yah, kamu apa Ran, oh yah kamu kan nggak biasa minum”.&lt;br /&gt;“Apa aja deh, Hen”.&lt;br /&gt;“Kasih Gin Tonic aja deh Mas”, lanjut bu Henny pada pelayan itu.&lt;br /&gt;“Baik Bu, saya ulangi, Dua Bir dan Satu Gin Tonic”, ulang si pelayan.&lt;br /&gt;Sesaat kemudian mereka telah terlihat asik berbincang sambil tertawa-tawa kecil. Beberapa botol minuman telah mereka habiskan hingga kini ketiganya tampak mulai mabuk. Pembicaraan mereka jadi ngolor ngidur tak karuan diselingi tawa cekikikan dari kedua wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul setengah sepuluh lewat, mereka bertiga meninggalkan bar terbuka menuju ke villa tempat Andi dan Bu Henny. Ketiga orang itu tampak saling berpelukan sambil sesekali tangan-tangan nakal mereka saling mencubit. Obsesi mereka sudah dipenuhi bayangan yang sama akan apa yang segera akan mereka lakukan di kamar itu, hingga begitu masuk kamar ketiganya langsung saling menyerang di atas tempat tidur yang berukuran besar itu. Dengan nafsu menggelora dan nafas yang terdengar turun naik, ketiganya langsung saling melepas pakaian sampai mereka semua telanjang bulat dan memulai permainan segitiga itu. Andi berbaring telentang menghadap ke atas lalu dengan cepat Bu Henny menyambar kemaluan Andi dan mempermainkan penis yang telah setengah tegang itu dengan mulutnya. Ia mulai menjilat kepala penis sebesar buah ketimun itu dengan penuh nafsu, sementara itu Andi menarik pinggul Tante Rani dan menempatkan wanita itu mengangkang tepat di atas wajahnya sehingga daerah sekitar kemaluan wanita itu terjangkau oleh lidah dan bibir Andi yang siap menjilatinya. Pemuda itu menarik belahan bibir vagina Tante Rani dan mulai menjilat dengan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan segitiga itu mulai sudah, Bu Henny mengkaraoke penis Andi dan pemuda itu memainkan lidah dan menyedoti daerah vagina Tante Rani. Suara desahan kini mulai terdengar memecah keheningan suasana malam itu. Decakan suara lidah Andi yang bermain dipermukaan vagina Tante Rani mengiringi desahan wanita itu yang menahan nikmat dari arah selangkangnya. Sementara itu Andi sendiri mulai merasakan kenikmatan dari penisnya yang keluar masuk mulut Bu Henny. Adegan itu berlangsung beberapa saat sebelum kemudian Bu Henny dengan bernafsu mengambil posisi menunggang di atas pinggul Andi dan langsung memaksukkan penis pemuda itu ke dalam liang vaginanya. “Sreeep blesss”, penis besar dan panjang itu menerobos masuk ke dalam liang vagina Bu Henny.&lt;br /&gt;“aahh…, enaak”, desahnya begitu terasa penis itu membelah dinding vagina yang seperti terlalu sempit untuk penis pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Tante Rani yang sejak pertama terus mendesah keras menahan kenikmatan yang diberikan Andi lewat lidahnya yang menjilati seluruh dinding dan detil-detil alat kelamin wanita itu. Ukurannya tampak lebih tebal dari milik Bu Henny, belahan bibir vagina Tante Rani lebih lebar hingga liangnya tampak lebih nikmat dan menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengimbangi kenikmatan dari lidah Andi, Tante Rani kini meraih buah dada Bu Henny yang bergelantungan berayun seiring gerakannya di atas pinggul Andi. Kedua wanita yang berada di atas tubuh pemuda itu saling berhadapan dan saling meraih buah dada dan saling meremas membuat adegan itu menjadi semakin panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ooouuuhh Hen, nikmat sekali ternyata…, ooohh kamu benar Hen ooohh sedot terus vagina Tante, And.., oooh enaak”, jerit Tante Rani merasakan nikmat itu, nikmat di selangkangannya dan nikmat di buah dadanya yang teremas tangan Bu Henny.&lt;br /&gt;“Kamu mau rasain yang ini Ran? uuuh, bakalan ketagihan kamu kalau udah kesentuh buah penis ini”, Bu Henny menawarkan posisinya pada Tante Rani yang sejak tadi tampak heran oleh ukuran penis Andi yang super besar dan panjang itu. Ia kemudian mengangguk kegirangan sambil beranjak merubah posisi mereka. Matanya berbinar dengan perasaan setengah tak percaya ia memandangi buah penis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uhh besarnya penis ini Hen, pantas kamu jadi gila seks seperti ini.., ooh”, serunya keheranan.&lt;br /&gt;“Ayolah segera coba..”, kata Bu Henny sambil menuntun pinggul wanita itu menuju ke arah penis yang sudah tegang dan keras itu. Namun sebelumnya ia menyempatkan diri menjilati vagina Tante Rani yang tampak merah menggairahkan itu.&lt;br /&gt;“Aduuuh Ran, bagusnya bentuk vagina kamu..”, seru wanita itu sambil menjulurkan lidahnya ke arah kemaluan Tante Rani. Sejenak ia menyempatkan diri memberi sentuhan lidahnya pada vagina Tante Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iiihh kamu Hen, aku udah nggak sabar nih katanya sambil menggenggam batang kemaluan Andi. Kemudian dengan gesit di tuntunnya penis itu sampai permukaan vaginanya yang tampak basah oleh air liur Andi dan Bu Henny Dan.., “Sreeettt”, “Auuuwwww Andiii…, vaginaku rasanya robek Henny aduuuh..”, jeritnya tiba-tiba saat merasakan penis Andi yang menerobos masuk liang vaginanya. Lubang itu terasa sangat sempit hingga ia merasakan sedikit perih seperti waktu merasakan pecah perawan di malam pengantin barunya dulu. Namun beberapa saat kemudian ia mulai merasakan kenikmatan maha dahsyat dari penis besar itu. Ia mulai bergoyang perlahan, rasa perih telah berubah menjadi sangat nikmat.&lt;br /&gt;“uuuhh…, aahh…, ooohh enaakkk, Andi ooohh Hen, baru pertama kali aku ngerasain penis segede ini Hen, ooohh pantas kamu begitu senang berselingkuh…, oooh Hen…, aku bakalan ketagihan kalau seperti ini nikmatnya…, ooohh”, wanita itu mulai mengoceh saat menikmati penis besar Andi yang keluar masuk liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Bu Henny kini menikmati permainan lidah Andi pada permukaan vaginanya yang berada tepat di atas wajah pria itu. Andi sesekali menyedot keras clitoris Bu Henny yang merah sebesar biji kacang di celah vaginanya hingga wanita itu berteriak geli. Dua orang wanita itu kembali saling meremas buah dada. Keduanya dalam posisi berhadap-hadapan. Tangan Andipun sebelah tak mau ketinggalan meremas sebelah susu Bu Henny yang tak sempat diremas Tante Rani. Bergilir diraihnya payudara montok kedua wanita yang menidurinya itu. Penisnya yang tegang terus keluar masuk oleh gerakan naik turun Tante Rani di atas pinggulnya. Goyangan wanita itu tak kalah hebatnya dengan Bu Henny, ia sesekali membuat putaran pada poros pertemuan kemaluannya dengan penis Andi sehingga kenikmatan itu semakin sensasional. Namun itu hanya dapat ia tahan selama lima belas menit, ketika Andi ikut menekan pinggangnya ke atas menghantam posisi Tante Rani, wanita itu berteriak panjang dengan vagina yang berdenyut keras dan cairan kelamin yang tiba-tiba meluncur dari dasar liang rahimnya.&lt;br /&gt;“ooohh Anndiii Taantee keluaarr…, ooohh enaak, Henny aku nggak kuat lagi ooohh…, nikmatnya penis ini…, ooh enaakkk”, teriaknya panjang sebelum kemudian terkapar disamping Andi dan Bu Henny yang masih ingin melanjutkan permainan itu. Andi bangkit sejenak dan memberikan ciuman pada Tante Rani, lau mengatur posisi baru dengan Bu Henny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Bu, kita lanjutin mainnya.., istirahat dulu ya Tante”, seru Andi pada Tante Rani.&lt;br /&gt;“Baiklah, aku mau lihat kalian main aja”, jawabnya sembari kemudian berbaring memandangi Andi dan Bu Henny yang kini saling tindih meraih kepuasan. Kedua orang itu sengaja menunjukkan gaya-gaya bermain yang paling hot hingga membuat Tante Rani terheran-heran menyaksikannya. Goyangan tubuh Bu Henny yang begitu gesit di atas tubuh Andi sementara pemuda itu memainkan buah dada besar Bu Henny yang bergelantungan dengan penuh nafsu. Suara desah nafas yang saling memburu dari keduanya terdengar sangat keras dan terpatah-patah akibat menahan kenikmatan dahsyat dari kedua kemaluan mereka yang beradu keras saling membentur yang menimbulkan bunyi decakan becek. Daerah sekitar kemaluar mereka tampak telah basah oleh cairan kelamin yang terus mengalir dari liang vagina Bu Henny hingga semakin lama Andi merasakan dinding kemaluan Bu Henny semakin licin dan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh anak muda ini begitu perkasanya…”, benak Tante Rani berkata kagum pada pemuda itu. Ia begitu heran melihat keperkasaan Andi dalam bermain seks. Begitu tegarnya anak itu menggoyang tubuh bongsor Bu Henny yang bahenol itu. Andi seperti tak tergoyahkan oleh lincahnya pinggul wanita paruh baya yang bergoyang di atasnya penuh nafsu. Bahkan liang vagina Bu Henny yang sudah punya dua orang anak remaja itu seperti tak cukup besar untuk menampung batang penis Andi yang keluar masuk bak rudal nuklir. Bahkan kini hanya beberapa menit saja mereka bermain Bu Henny sudah tampak tak dapat lagi menguasai jalannya permainan itu. Wanita itu kini mendongak sambil menarik rambutnya untuk menahan rasa nikmat yang begitu dahsyat dari liang vaginanya yang terdesak oleh penis pemuda itu.&lt;br /&gt;“Auuuhh…, ooohh…, mati aku Ran…, enaak…, ooohh…, Andi sayaang…, oooh remas terus susu ibu An”, teriak wanita itu sembari menggelengkan kepalanya liar kekiri dan kanan untuk berusaha menahan rasa klimaks yang diambang puncaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Rani semakin terpesona melihat gerakan liar Bu Henny yang tampak begitu menggodanya untuk kembali mencoba tubuh Andi. Bu Henny tampak begitu menikmatinya dengan maksimal sampai sehisteris seperti yang ia lihat. Keinginannya seperti bangkit kembali untuk mencoba lagi kenikmatan dahsyat dari buah penis besar yang kini tambak semakin bengkak dan keras itu. Menyaksikan hal itu ia lalu bangkit dan mendekati kedua orang yang sedang bermain itu. Andi menyambut Tante Rani dengan mengulurkan tangannya ke arah vagina wanita itu, ia langsung meraba permukaannya yang masih basah oleh caiiran kelamin, lalu dua jarinya masuk ke liang itu dan mengocok-ngocoknya hingga membuat Tante Rani merasa sedikit nikmat. Wanita itu membalas dengan kecupan ke arah mulut Andi hingga mereka saling mengadu bibir dan menyedot lidah. Permainan itu menjadi seru kembali oleh teriakan nyaring Bu Henny yang kini terlihat sedang berada menjelang puncak kenikmatannya. Goyang tubuhnya semakin liar dan tak karuan sampai kemudian ia berteriak panjang bersamaan dengan menyemburnya cairan hangat dan kental dari dalam rongga rahim wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ooouuu…, aakuu keeeluaarr…, aahh enaak…, oooh..”, jeritnya dengan tubuh yang tiba-tiba kejang kemudian lemas tak berdaya.&lt;br /&gt;“Ouuuh hebatnya anak muda ini”, benak Tante Rani kagum pada Andi setelah berhasil membuat Bu Henny terkapar.&lt;br /&gt;“Sialan Ran, aku kok cepat keluar kayak gini yah?”, seru Bu Henny sambil melepas gigitan bibir vaginanya pada penis Andi yang masih keras dan perkasa itu.&lt;br /&gt;“Memang kamu bener-bener jago Andi…, beri Tante kesempatan lagi buat menikmatinya…, ooohh, sini kamu yang di atas dong sayang”, ajak Tante Rani setelah Bu Henny selesai dan menyamping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian berbaring pasrah membiarkan pemuda itu menindihnya dari arah atas. Andi sejenak memegangi kemaluannya yang masih tegang dan kemudian dengan perlahan mencoba masuk lagi ke dalam liang vagina Tante Rani. Wanita itu mengangkat sebelah kakinya agak ke atas dan menyamping hingga belahan vagina itu tampak jelas siap dimasuki penis Andi. Ia langsung terhenyak dan mendesah panjang saat kembali dirasakannya penis itu menerobos masuk melewati dinding vaginanya yang terasa sempit.&lt;br /&gt;“Ohh…, yang pelan aja An…, enaakknya”, pinta Tante Rani sambil meresapi setiap milimeter pergesekan dinding vaginanya dengan buah penis Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi mulai bergoyang dengan perlahan seperti yang diinginkan wanita itu. Tante Rani meremas sendiri buah dadanya yang ranum sementara Andi meraih kedua kakinya dan membentangkannya ke arah kiri dan kanan sehingga membuka selangkangan wanita itu lebih lebar lagi. Tak ayal gaya itu membuat Tante Rani berteriak gila menahan nikmatnya penis Andi yang terasa lebih dalam masuk dan membentur dasar liang vaginanya yang paling dalam.&lt;br /&gt;“Aahh…, ooohh hebatnya kamu Andi…, ooohh Henny nikmat sekali hennn…, ooouuuhh enaakk…, oooh genjotlah yang keras An…, oooh semakin nikmat ooohh pintaar…, ooohh yaahh…, mm…, lezaatt…, ooohh Andi…, pantas kamu senang sama dia Hen…, ooohh ampuuun enaknya…, oohh pintar sekali kamu Andi…, ooohh”, desah Tante Rani setengah berteriak. Pantatnya ikut bergoyang mengimbangi kenikmatan dari hempasan tubuh Andi yang kian menghantam keras ke arah tubuhnya. Penis besar itu benar-benar memberinya sejuta sensasi rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kenikmatan dahsyat yang membuatnya lupa diri dan berteriak seperti orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijambaknya sendiri rambutnya yang tergerai indah sampai ia terlihat seperti orang yang sedang dimasuki roh setan. Tiba-tiba ia berguling dan segera menindih tubuh pemuda itu dan menggoyang turun naik sambil berjongkok. Jari telunjuknya berusaha meraba daerah kemaluannya sendiri untuk membuat clitoris sebesar biji kacang di celah bibir kewanitaannya mendapat sentuhan lebih banyak lagi dari kulit tebal penis Andi yang terasa begitu nikmat membelai permukaan vaginanya. Hempasan demi hempasan dari tubuh pemuda itu berusaha diimbanginya dengan berteriak menahan nikmatnya benturan penis Andi. Sesekali ia membalas dengan juga menghempaskan tubuh dan pantatnya dengan keras, namun gerakan itu justru semakin membuatnya tak dapat bertahan. Kenikmatan maha dahsyat itu kembali membuatnya menggapai puncak permainan untuk yang kedua kalinya. Tak dapat ditahannya akibat dari sebuah genjotan keras yang membuat clitoris sebesar biji kacang di celah vaginanya masuk ke dalam liang itu dan tersentuh kedahsyatan penis Andi yang perkasa. Dengan sepenuh tenaga ia berteriak keras sekali sambil menghempaskan tubuhnya yang bahenol itu sekeras-kerasnya.&lt;br /&gt;“Aooowww…, ooohh…, aku keluaar lagiii…, ooohh enaak Andiii…, ooohh uuuhh…, air maniku tumpah…, ooohh, nikmat sekali ooohh…, nanti main lagi aahh”, teriaknya panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi merasakan denyutan keras pada vagina Tante Rani yang sekaligus menyemburkan cairan hangat dan memenuhi rongga vagina itu. Liang kemaluan itu berubah menjadi sangat licin dan nikmat hingga Andi terangsang untuk terus menggoyang pinggulnya. Direngkuhnya pinggul itu, ia mendekap erat sambil terus menggoyang memutar poros pantatnya hingga penisnya seperti mengaduk-aduk isi dalam vagina Tante Rani. Namun wanita itu merasakan kegelian yang dahsyat. Kenikmatan yang tadinya begitu hebat tiba-tiba berubah menjadi rasa geli yang seakan membuatnya ingin melepaskan penis Andi dari dalam vaginanya. Namun pemuda itu tampak semakin asik menggoyang dan menciumi sekujur tubuhnya penuh nafsu. Hingga tak dihiraukannya gerakan meronta Tante Rani yang berusaha melepaskan diri akibat rasa geli yang tak dapat ditahannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aaww…, geeliii…, ampun sayang Tante nyerah lepasin Tante dong…, geliii”, teriaknya memohon pada Andi. Dengan sedikit perasaan kecewa Andi menghentikan gerakannya, dan melepaskan pelukannya pada pinggul Tante Rani yang langsung saja terjatuh lemas.&lt;br /&gt;“Ohh. Tante nggak kuat lagi Andi.., ooh hebatnya kamu, sudah dua kali tante kamu bikin keluar, gila kamu. Benar-benar jantan, Hen, kamu sungguh beruntung…, ooohh nikmatnya”, lanjutnya sambil membelai kemaluan Andi yang masih saja tegak tak tergoyahkan. Dikecupnya kepala penis itu dengan lembut lalu ia meraih batangnya dan tanpa diminta mengkaraoke pemuda itu. Andi tersenyum melihatnya lalu memberikan belaian pada rambut wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Bu Henny masih terpaku menyaksikan kehebatan Andi, tak pernah sebelumnya ia bayangkan seorang lelaki muda seperti Andi membuat dua orang wanita paruh baya seperti dirinya dan Tante Rani menyerah pada keperkasaan dan kejantanannya. Bahkan ia telah membuat Tante Rani meringis dan memelas memohon Andi untuk berhenti, betapa dahsyatnya keperkasaan pemuda itu. Kini ia hanya memandangi Tante Rani yang tengah berusaha melanjutkan birahi anak itu yang belum juga tuntas. Dilihatnya jam dinding, “Sudah jam satu dini hari, ia sanggup bertahan selama itu, ooohh hebatnya”, batin Bu Henny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam lebih pemuda itu mampu bertahan dari serangan ganas kedua wanita dewasa itu. Kini dengan sisa tenaganya Tante Rani dan Bu Henny kembali mencoba memuaskan Andi. Bergilir mereka melakukan karaoke sambil menunggu saat vagina mereka siap untuk menerima masuknya penis besar Andi. Secara bergilir juga mereka memberi kesempatan pada Andi untuk menjilati daerah kemaluan mereka untuk kembali membangkitkan nafsu birahi itu. Dan beberapa saat kemudian mereka berhasil dan memulai lagi permainan segi tiga itu. Masih bergilir kedua perempuan itu saling menukar posisi untuk mengimbangi kekuatan Andi. Bergantian mereka meraih kenikmatan dari penis besar sang pemuda perkasa itu, beragam gaya mereka pakai agar tidak cepat keluar. Namun keperkasaan Andi memang benar-benar dahsyat hingga salah satu dari mereka yaitu Bu Henny kembali terkapar meraih puncak kenikmatan dari penis Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh Tante…, sebentar lagi saya keluar”, kata Andi tiba-tiba saat memulai permainannya dengan Tante Rani setelah membuat Bu Henny terkapar.&lt;br /&gt;“Ohh kamu kuat sekali An, kalau nggak keluar sekarang mungkin Tante dan Bu Henny nggak sanggup lagi, Tante sudah kamu bikin keluar tiga kali, dan juga Bu Henny.., sekarang keluarin yah sayang..”, rajuk Tante Rani pada pemuda itu.&lt;br /&gt;“Baiklah Tante, saya nggak akan nahan lagi, ayo kita mulai”, ajaknya sembari memeluk tubuh bugil Tante Rani dan langsung menusukkan kemaluannya dalam liang vagina wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kembali bermain, tapi kini dengan gerakan pelan dan mesra seperti dua orang yang saling jatuh cinta. Diiringi kecupan dan remasan pada payudara Bu Rani yang ranum itu Andi terus berusaha meraih kepuasannya secara maksimal. Hingga beberapa puluh menit kemudian ia tampak mulaui mempercepat gerakannya secara bersamaan dengan Tante Rani yang juga mengalami hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naah Tante…, saya mau keluar…, oooh goyang yang keras…, ooohh tekan terus tante…, ooohh memeknya tante jepit lagi…, ooohh nikmat sekali…, ooohh”, terdengar pemuda itu menjerit pelan meresapi kenikmatan dari tubuh Tante Rani.&lt;br /&gt;“Tante jugaa…, Andii…, oooh penis kamu panjang sekali…, ooohh enaak nikmatnya…, ooohh remas yang keras susuku Andi…, ooohh susu tante ooohh teruuus…, tante keluaarr lagiii…, ooohh enaak”, jerit Tante Rani.&lt;br /&gt;“Saya juga keluaarr Tante…, ooohh enaknya…, kocok terus Tante…, ooohh air mani saya mau nyemprot…, aahh”, jerit Andi pada waktu yang bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Bu Henny yang sejak tadi hanya melihat mereka bangkit dan mendekati Andi.&lt;br /&gt;“Cabut An sini semprot ke muka ibu, ibu pingin minum sperma kamu cepaat”, teriaknya.&lt;br /&gt;“Baik Bu…, ooohh…, minum Bu…, ooohh”, teriak Andi sambil berdiri di hadapan Bu henny yang mendongak tepat di bawah penis yang menyemprotkan cairan sperma itu. Lebih dari empatkali ia menyemprotkan cairan itu ke mulut Bu Henny yang menganga dan langsung ia telan, kemudian tak ketingggalan ditumpahkannya juga ke arah muka Tante Rani yang masih tergolek lemas di sampingnya. Wanita itupun menyambut dengan membuka lebar mulutnya, ia bahkan meraih batang penis itu dan mengocokkannya dalam mulut sehingga seluruh sisa cairan sperma pemuda itu ia telan habis. Akhirnya tergapai juga puncak kenikmatan Andi yang begitu lama itu. Dengan diiringi teriakan panjang dari mulut Tante Rani, mereka bertiga terkapar lemas dan tak sanggup lagi melanjutkan permainan itu. Ketiganya kini saling bercanda ria setelah berhasil meraih kepuasan dari hubungan seks yang begitu seru, empat jam lebih mereka mengumbar nafsu birahi itu sampai puas dan kemudian tertidur kelelahan tanpa seutas benangpun melapisi tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liburan seminggu di pulau kecil itu memasuki hari kelima. Andi yang semula hanya ditemani Bu Henny yang memang sengaja merencanakan liburan itu tak pernah menyangka akan mengalami pengalaman hebat seperti saat ini. Seorang lagi istri pejabat pemerintah yang haus kepuasan seksual kini bergabung dan semakin membuat suasana menjadi lebih luar biasa. Dua orang wanita paruh baya yang masing-masing memiliki pesona kecantikan dan tubuh yang sangat disukainya sekarang benar-benar dapat ia nikmati sesuka hatinya. Mereka melampiaskan nafsu seks yang membara itu sepuas hati tanpa ada yang menghalangi. Semua gaya dan tipe permainan cinta dari yang buas sampai yang lembut, satu lawan satu atau dua lawan satu mereka lakukan tanpa kenal henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selama seminggu itupun penuh dengan pelampiasan birahi mereka yang tak pernah sedetikpun mereka rasakan dari suami-suami mereka, para pejabat pemerintah yang berlagak jago tapi hanya mampu bermain seperti ayam yang dalam waktu lima menit saja sudah berteriak menggapai puncak meski istri mereka baru sampai tahap pemanasan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Rani merasakan pengalaman pertamanya berselingkuh dengan anak muda itu sebagai mimpi indah yang tak akan dilupakannya. Setiap ia meminta Andi melayaninya tak pernah sekalipun ia dapat bertahan lebih dari lima belas menit sementara pemuda itu sanggup membuatnya menggapai puncak tak pernah kurang dari tiga kali dalam setiap permainannya. Pernah suatu saat ketika Bu Henny meninggalkan mereka berdua dalam villa untuk berjalan-jalan di sebuah pagi, Tante Rani meminta Andi untuk menggaulinya sepuas hati. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan dari serangan pemuda itu. Dibiarkannya tubuh bahenol putih mulus itu dijadikan seperti bantal guling oleh Andi. Namun hasilnya tetap saja ia tak dapat membuat Andi kalah, meski telah dibiarkannya pemuda itu menggenjot dari segala arah, dibuatnya Andi bernafsu seperti binatang buas yang meraung. Tapi sia-sia saja, bahkan saat Bu Henny kembali ke villa itu setelah dua jam berjalan-jalan di pantai, Andi masih saja tegar menghantamkan penis besarnya dalam liang vaginanya yang sudah tiga kali menggapai puncak dalam satu ronde permainan anak itu. Hingga Bu Henny yang kemudian bergabunng sekalipun dapat ia robohkan dalam beberapa puluh menit saja. Bahkan sampai berulang-ulang lagi Bu Henny bangkit, ia belum keluar juga. Barulah setelah mereka berdua bergilir memberikan liang vaginanya dimasuki dari arah belakang pantat, Andi dapat meraih ejakulasi permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu liburan mereka telah habis, ketiganya kembali ke Jakarta setelah melewati hari-hari yang begitu menggairahkan, hari-hari penuh teriakan kenikmatan hubungan badan yang maha dahsyat. Pengalaman seks di pulau kecil itu benar-benar seperti mimpi bagi kedua wanita paruh baya itu. Justru sekembalinya mereka dari pulau itulah, ada sedikit perasaan gelisah di dalam hati Tante Rani yang membayangkan dirinya kembali ke pelukan lelaki yang sebenarnya tak pernah ia cintai. Suaminya yang botak tua bangka, lelaki penuh nafsu besar dengan kemampuan seperti cacing itu kini membuat perasaannya muak ingin muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak habis-habisnya mereka membicarakan seputar kenikmatan cinta dari Andi yang dialami Tante Rani dalam perjalanan pulang itu. Ada secercah harapan dalam benak Tante Rani saat Bu Henny memberinya ijin untuk boleh bergabung bersamanya menikmati kepuasan dari Andi kapan saja ia suka asalkan mereka melakukannya atas sepengetahuan Bu Henny yang secara resmi adalah pacar gelap Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat yang membawa mereka kembali ke Jakarta telah mendarat, ketiganya berpisah di Bandara lalu pulang ke tempat tinggal masing-masing dengan hati yang riang dan kesan yang begitu kuat akan kenangan dan pengalaman hebat yang mereka lalui dalam seminggu itu. Sesampainya di rumah masing-masing, kedua wanita itu masih tak dapat melepas bayangan keperkasaan Andi, hingga saat mereka berkumpul dengan suami dan anak-anaknya suasana menjadi sangat dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu hari-hari bersama suaminya dirasakan Tante Rani seperti neraka. Setiap malam saat ia melayani suaminya di ranjang tak pernah dapat ia nikmati. Permainan suaminya yang seperti ayam kurang gizi benar-benar membuatnya muak, bahkan ingin muntah. Setiap kali dilihatnya tubuh lelaki itu seakan ia sedang menghadapi bangkai busuk saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam saat suaminya baru pulang dari kantor, Tante Rani yang tampak baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan badannya di atas tempat tidur langsung disambar oleh lelaki botak itu.&lt;br /&gt;“Ayo Ran, aku sudah satu minggu nggak main sama kamu, yuuk layani aku sebentar..”, ajak pria itu. Tante Rani diam saja tak beranjak dari tempat tidur, ia merasa malas menanggapinya.&lt;br /&gt;“Ntar dulu dong pi, aku keringin badan”, jawabnya acuh tak acuh, sementara lelaki botak itu mulai meraba pahanya yang mulus sambil mendaratkan ciumannya di pipi Tante Rani.&lt;br /&gt;“Ayo dong, aduuuh aku nggak tahan nih…”, pria itu merajuk genit sambil membelai bulu-bulu halus di permukaan kemaluan Tante Rani.&lt;br /&gt;“Papi…!, sabar dong..!”, Sengit Tante Rani agak sewot.&lt;br /&gt;“He. Jangan marah dong sayang, aku kan suami kamu”.&lt;br /&gt;“Huh..”, ia berkesah sambil membuang sisir yang ada di tangannya, sementara lelaki itu melepas handuk yang melilit tubuh wanita itu dan langsung saja mengangkat paha istrinya dan membukanya lebar. Lalu lidahnya menjilat-jilat bagaikan anak kecil yang menikmati es krim. Tante Rani hanya memandanginya sambil tersenyum, tak sedikitpun ia menikmati permainan suaminya. Dibiarkannya lelaki botak itu menjilati permukaan vaginanya hingga becek. Tak puas sekedar menjilati, lelaki itu menusukkan dua jarinyanya ke dalam liang kemaluan sang istri yang hanya memandangnya sinis dan tampak jijik. Beberapa saat kemudian ia beranjak duduk di pinggiran tempat tidur dan meminta sang istri untuk menyedot kemaluannya.&lt;br /&gt;“Huuuhh…, ayo karaoke aku sebentar Ran”, pintanya pada Tante Rani, nafasnya terdengar sudah turun naik tak tentu menandakan nafsu birahi yang sudah berkobar.&lt;br /&gt;“ooohh nikmat…, mm”, desahnya begitu penis kecil dan pendek mirip penis monyet itu tersentuh lidah Tante Rani.&lt;br /&gt;“Huh…, dasar botak, aku sangat berharap biar kamu cepat mati saja”, benak Tante Rani dalam hati, ia sangat kesal menghadapi suaminya yang tampak sudah bagai sampah saja. Tak ada daya tarik selain harta dan kekayaan yang didapatkannya dari korupsi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus melayani lelaki itu ia membayangkan dirinya berada bersama Andi, hingga tampak wanita itu memejamkan mata sambil terus menyedot keras batang kemaluan sang suami. Namun hanya beberapa menit saja adegan itu berlangsung tampak pria itu sudah tak dapat menahan kenikmatan.&lt;br /&gt;“ooohh…, ayo cepaat masukin, Ran aku mau keluar aauuuhh…, ooohh”, tiba-tiba ia merengkuh tubuh Tante Rani dan menindihnya. Dengan ngawur ia berusaha memasukkan penis yang sudah akan muntah itu ke arah liang vagina istrinya. Dan baru beberapa detik saja masuk, sebelum Tante Rani sempat bergoyang, penis itu memuntahkan seluruh cairan spermanya.&lt;br /&gt;“aahh…, aku keluarrr…, Ranii…, ooohh”, teriaknya saat merasakan cairan maninya meluncur dalam liang vagina sang istri yang sedari tadi hanya tersenyum sinis melihat tingkahnya yang sok jagoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa menit saja persetubuhan itu berakhir dengan sangat mengecewakan Tante Rani. Dipandanginya lelaki botak itu yang kini tergolek lemas dan hanya bisa membelai permukaan vagina yang tak sanggup ditaklukkannya. Pria itu tampak malu sekali melihat istrinya yang kini terlihat memandanginya dengan senyum menyindir. Namun ia tak sanggup mengatakan apa-apa. Kemudian dengan tak tahu malu ia menutupi mukanya dengan bantal dan berusaha menyembunyikan dirinya dari perasaan malu itu. Beberapa menit kemudian lelaki botak itupun tertidur sebelum berhasil membuat istrinya puas. Namun bagi Tante Rani, yang terpenting adalah ia kini memiliki pasangan lain yang dapat membuatnya meraih kepuasan seks. Yang terpenting kini baginya adalah bahwasanya tidak hanya pria itu yang bisa mencari lawan selingkuh, namun dirinyapun berhak dan sanggup melakukannya. Tentunya dengan bentuk tubuh indah dan wajah manis yang dimilikinya seperti saat ini hal itu sangt mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa aku harus diam sementara suamiku itu dengan seenaknya mengumbar nafsunya dengan para gadis remaja atau pegawai bawahan di kantornya? Akupun sanggup membuat diriku puas dengan mencari pasangan main yang jauh lebih hebat, tak ada asyiknya bermain dengan hanya satu pasangan seperti ini. Apalagi dengan laki-laki seperti ini, “Ciiih jijik aku..”, benaknya berkata sendiri sambil membalik arah badannya kemudian berlalu dan keluar dari kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hari-hari yang kini dilalui oleh Tante Rani semenjak ia mengenal Andi dari Bu Henny. Kini hubungannya dengan dua orang itu menjadi semakin akrab saja. Hampir setiap hari mereka menyempatkan diri untuk saling menghubungi. Dengan rutin pula mereka menentukan jadwal kencan mereka seminggu sekali yang mereka lakukan di hotel-hotel berbintang di mana mereka bisa mengumbar nafsu sepuas-puasnya. Sampai kemudian kedua wanita itu memutuskan untuk membeli sebuah Villa mewah secara diam-diam di kawasan Puncak untuk mereka pergunakan sebagai tempat rendezvous yang aman dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan waktu berlalu dan hubungan cinta segitiga mereka yang semakin dekat saja dari hari ke hari, dua wanita istri pejabat itupun membuat sebuah perusahaan besar yang berbasis di bidang pengangkutan export-import untuk semakin menutupi kerahasiaan hubungan mereka. Sehingga ketiga orang itupun tak perlu lagi mengatur alasan khusus pada suami mereka untuk dapat bertemu Andi setiap hari, hal itu karena mereka berdua menempatkan diri sebagai dewan komisaris dan direktris pada perusahaan itu. Tiap hari kini mereka dapat melampiaskan nafsu birahi mereka pada Andi, di kantor di villa atau di manapun mereka suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Pemuda itupun menjadi sangat bahagia, dengan kebutuhan seksual yang selalu dipenuhi oleh dua wanita sekaligus, ia sudah tak perlu memikirkan tentang wanita lagi. Kehangatan kedua wanita paruh baya yang benar-benar pas dengan seleranya itu sudah lebih dari cukup. Materi berupa harta sudah tak masalah lagi, kedudukannya sebagai direktur perusahaan itu sudah menjadikannya benar-benar lebih dari cukup. Hidupnya kini benar-benar bahagia seperti apa yang pernah ia cita-citakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-2046387742353288587?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/2046387742353288587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=2046387742353288587' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/2046387742353288587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/2046387742353288587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/ibu-heni-dan-temannya.html' title='Ibu Heni Dan Temannya'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-949596368476590739</id><published>2008-02-02T13:31:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:32:16.591+07:00</updated><title type='text'>Wanita Yang Penuh Variasi</title><content type='html'>Nama saya Jeffry dan saya saat ini sedang kuliah di salah satu PTS di salah satu kota besar di Indonesia, dan hari ini adalah hari pertama saya datang ke kota ini karena besok perkuliahan saya sudah dimulai. Sesudah sampai dari kampung, maka saya segera menuju tempat kost saya karena saya sendiri sebenarnya belum mengenal kost baru itu. Sesampainya saya segera menekan bel tapi kemudian terdengar dari rumah sebelah seorang wanita setengah baya memanggil saya dan berkata,&lt;br /&gt;“Kamu Jeffry yach?”&lt;br /&gt;Dan saya menjawabnya,&lt;br /&gt;“Iya, kok tahu?” tanya saya penuh rasa ingin tahu.&lt;br /&gt;Lalu wanita itu segera berkata, “Nggak, saya adalah ibu kost rumah ini dan saya tinggal di sebelah sini.”&lt;br /&gt;Lalu saya bergumam,&lt;br /&gt;“Ooh…”&lt;br /&gt;Setelah itu ibu ini segera membawa saya untuk masuk dan mengenalkan tempat kost ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu segera menerangkan keadaan rumahnya, rumah ini terdiri dari 4 tingkat dan di dalam sudah ada penghuninya yaitu sepasang suami istri yang menyewa tingkat 2, seorang wanita yang menghuni tingkat 3 dan 3 orang mahasiswa dari luar kota yang menghuni tingkat 4 yang terdiri dari 4 ruangan kamar 3x2 meter dan kami masing-masing menempati kamar-kamar ini, dan kamar untuk saya tepat menghadap ke arah tempat jemuran. Setelah itu saya pun berkenalan dengan para mahasiswa ini dan malamnya ketika kami sedang menonton TV (yang di letakkan di tingkat 3) tercium oleh saya wangi parfum yang sangat mengoda. Ternyata seorang wanita yang saya taksir berusia sekita 35 tahun naik ke atas dan dialah yang menghuni kamar di tingkat 3 ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya pun segera berkenalan. Dia bernama Eva, meski sudah berumur tapi dilihat dari bentuk tubuh dan wajahnya dia tak beda dengan wanita usia 20-an. Wajahnya terlihat sangat manis belum lagi dada dan pinggulnya yang sangat menantang. Sungguh membuat saya menelan ludah. Lalu saya tahu dari ketiga temen saya kalau Mbak Eva ini bekerja di salon dan mungkin saja menjadi simpanan seorang pria, lalu saya mengangguk tanda mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa saya sudah tinggal di kost itu hampir 2 minggu dan kalau di pagi hari rumah itu selalu kosong karena selain ketiga teman baru saya itu kuliahnya pagi, Mbak Eva juga selalu keluar rumah dan sepasang suami istri itu juga jarang pulang ke rumah ini. Singkatnya kalau pagi hari saya selalu sendirian, dan pagi ini saya bangun tentu saja suasana sunyi senyap dan saya melihat keluar jendela yang menghadap ke tempat jemuran tampak oleh saya dijemur celana dalam yang berwarna hitam dan tentu saja saya tahu kalau itu adalah celana dalam Mbak Eva, tapi entah kenapa timbul niat saya untuk melihat CD itu dari dekat. Lalu saya pun segera keluar dan setelah melihat situasi cukup aman saya segera mengambilnya ke dalam kamar saya dan di dalamnya saya segera mencium CD itu dan tercium wangi deterjen yang harum. Belum puas dengan tindakan itu, saya segera menurunkan celana sekaligus dengan CD saya dan segera memakai CD itu dan tampak oleh saya sangat memikat yaitu terdapat renda di sekelilingnya dan sekitar selangkangannya terdapat jala-jala yang kalau dipakai oleh Mbak Eva tentu akan tampak di jala-jala ini bulu kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja kemaluan saya segera menegang dan setelah mengembalikan CD-nya ke tempat semula. Saya segera masuk ke kamar mandi untuk mandi dan tentu saja saya segera melakukan onani untuk memuaskan nafsu saya. Setelah kejadian itu saya hampir setiap pagi mempunyai kegiatan rutin yaitu mengamati CD Mbak Eva dan tentu saja memakainya sambil melihat keindahannya, dan tak lama kemudian saya sudah hampir dapat mengetahui jumlah CD Mbak Eva (mungkin karena selalu mengamati CD-nya ), CD Mbak Eva berjumlah sekitar 6 potong dan setiap potongnya mempunyai keunikannya baik dalam coraknya maupun warnanya sepeti warna hitam berenda, warna pink dengan lipatan lipatan kecil, dan warna kuning kilat. Tapi yang paling menarik menurutku adalah CD warna putihnya yang setengahnya yaitu bagian depannya terdiri dari renda dan bagian belakangnya terbuat dari sutra. Selain itu saya juga suka CD-nya berwarna biru langit dan di depannya yaitu tepat di arah selangkangannya terdapat gambar seekor kucing dalam gaya memberikan tanda “peace” (lucu juga CD ini dalam pikiranku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berjalan lancar hingga suatu pagi ketika bangun tentu saja saya segera melihat keluar dan tampak oleh saya CD Mbak Eva. Lalu saya bermaksud untuk mengambilnya untuk diamati. Begitu melepas jepitan jemurannya dan mengambilnya tiba-tiba terdengar ada suara orang naik ke atas dan tentu saja saya terkejut dan segera melempar CD-nya ke lantai lalu saya bermaksud kembali ke kamar saya, tapi baru sampai di pintu saya melihat Mbak Eva sedang memakai baju tidur terusannya dan Mbak Eva bertanya kepada saya, “Lho baru bangun yach?” lalu saya mengiyakannya dan bertanya, “Mbak Eva nggak kerja hari ini?” dan dijawab, “Nggak, malas tuh,” dan saya segera masuk ke kamar saya dengan perasaan was-was lalu tak berapa lama kemudian terdengar pintu kamar saya diketuk, dengan perasaan berdebar saya membuka pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak di luar Mbak Eva dan dengan mata tajam Mbak Eva berkata, “Boleh saya masuk? saya ingin bicara sama kamu,” dan saya pun membiarkan Mbak Eva masuk lalu Mbak Eva masuk dan bertanya sama saya,&lt;br /&gt;“Kamu tadi mau mengambil celana dalam saya yach?”&lt;br /&gt;“Nggak kok.”&lt;br /&gt;“Apanya yang nggak, buktinya itu CD saya terjatuh di lantai padahal saya sudah menjepitnya dengan kuat.”&lt;br /&gt;Seperti sudah tak dapat disembunyikan saya pun mengakui kalau saya yang mengambilnya. Lalu Mbak Eva berkata lagi,&lt;br /&gt;“Sudah berapa lamu kamu melakukan ini?”&lt;br /&gt;“Sudah hampir 2 minggu Mbak.”&lt;br /&gt;“Apa yang kamu lakukan dengan CD saya?”&lt;br /&gt;“Saya menciumnya lalu memakainya, itu saja kok nggak ada yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Eva tersenyum dan berkata, “Apa enaknya kamu mencium dan memakainya, kamu mau nggak melihat saya yang memakainya dan mencium wangi yang sesungguhnya?”&lt;br /&gt;Seperti mendapat kesempatan emas lalu saya berkata, “Ah.. Mbak jangan bercanda ah..”&lt;br /&gt;Dan Mbak Eva berkata, “Nggak, saya nggak bercanda, saya serius, kalau kamu nggak mau yach sudah, Mbak mau turun,” sambil Mbak Eva membalikkan badannya.&lt;br /&gt;Tapi saya segera menarik tangannya dan segera berkata, “Saya mau kok Mbak!”&lt;br /&gt;Sedangkan tangan saya satunya lagi segera menarik rok baju tidurnya ke atas dan tampak oleh saya CD-nya yang menjadi kesukaan saya yaitu CD berwarna putih dengan renda di bagian depan dan bagian belakangnya terbuat dari sutra.&lt;br /&gt;Lalu Mbak Eva berkata, “Ih… kamu jangan gitu ah…’” tapi saya segera mencium bibirnya yang mengoda itu dan Mbak Eva membalasnya dengan hisapan dan gigitan kecil dan tangannya memegang kemaluan saya yang sudah mulai mengeras itu, lalu saya melepas ciuman saya sedangkan tangan Mbak Eva masih di kemaluan saya meskipun cuma dari luar celana tidur saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya segera mendorong tubuh Mbak Eva untuk merapat di dinding, dan kemudian tangan saya mulai bergerilya di daerah sensitifnya dan tentu saja dari luar CD-nya tapi tak lama kemudian karena tak sabar saya segera memasukkan tangan saya ke dalam CD-nya dan menyentuh kemaluannya, Mbak Eva mendesah “Uuh… geli Jeff… tapi nikmat sekali… terus… enak sekali… uh… ah…” Lalu tak lama kemudian kemaluan Mbak Eva sudah mulai basah. Karena sudah terangsang maka Mbak Eva segera mendorong tubuh saya ke tempat tidur dan dengan segera Mbak Eva memeloroti celana saya dan CD saya, lalu dengan pelan dia menjilat kepala kemaluan saya yang sudah menegang itu kemudian memasukannya ke dalam mulutnya hingga masuk semuanya ke dalam mulutnya dan menghisapnya seperti menghisap es batangan. Tanpa sadar karena keenakan saya mendesah, “Uh… enak sekali Mbak… isap terus Mbak… jangan berhenti…!” Lalu tangan saya mulai menjambak rambutnya dan menekan kepalanya terus, sedangkan kaki saya mulai menegang karena keenakan, lalu Mbak Eva menghentikan kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Mbak Eva mulai membuka baju piyamanya dan tampaklah oleh saya sepasang buah dadanya yang sangat menantang terbungkus oleh BH yang unik sekali, tapi seperti sudah tidak tahan Mbak Eva segera melucuti BH-nya dan melepas CD sutranya. Tampaklah oleh saya pemandangan yang sangat indah dengan buah dada yang bulat dan pentilnya yang berwarna kecoklatan menantang dan paha yang mulus tapi yang paling menggoda adalah bagian selangkangan yang ditumbuhi pelindung alami yang cukup lebat tapi terbentuk dan terawat sangat rapi, sungguh membuat saya menelan ludah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Eva naik ke atas tubuh saya, dan dalam posisi jongkok kemudian mengarahkan lubang kemaluannya ke arah kepala kemaluan saya. Begitu tersentuh, saya dan Mbak Eva menjerit pelan bersamaan, “Uuh…” dan dengan pelan Mbak Eva menekan lubang kemaluannya dan kepala kemaluan saya amblas ke dalamnya meskipun tidak terlalu susah tapi untuk ukuran wanita seperti Mbak Eva kemaluannya termasuk sangat sempit, dan Mbak Eva berteriak, “Aduh… sakit sekali… tapi terasa nikmat,” dan saya tak hentinya menjerit, “Terus Mbak… nikmat sekali kemaluannya… terus Mbak…” lalu Mbak Eva makin menekan turun tubuhnya dan tak lama kemudian maka masuklah seluruh batang kemaluan saya yang termasuk ukuran besar itu ke dalam lubang surgawinya. Kemudian tubuh Mbak Eva segera menimpa badan saya dan berteriak, “Aduh sakit sekali… uh… aduh… uh… ahh…” Sesudah istirahat hampir 5 menit lamanya Mbak Eva mulai bangkit dan batang kemaluan saya tentu saja masih di dalam lubang kemaluannya. Lalu Mbak Eva mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur sambil tangannya menopang pada tubuh saya dan terdengar suara tubuh kami berbenturan, “Piak pret piak…” dan dengan gerakan yang liar Mbak Eva menaiki tubuh saya dan sambil terus menggoyang tubuhnya dan terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatan dunia dan terus mendesah, “Uuh… ah… ah… nikmat sekali… uh… ah…” Sedangkan tangan saya tak hentinya meremas buah dadanya dan memainkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sesudah hampir 10 menit Mbak Eva berkata, “Saya mau sampai…”&lt;br /&gt;Saya pun berkata, “Saya juga Mbak… tahan sebentar lagi…”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian terdengar Mbak Eva menjerit “Uuh… saya sampai… uh…”&lt;br /&gt;Dan saya juga merasa bendungan saya sudah jebol dan mendesah, “Uh… saya juga… nikmat sekali… ahhh…. enakkk…” dan terasa adanya cairan hangat di kemaluan saya, lalu Mbak Eva jatuh lemas di tubuh saya, sedangkan kemaluan saya juga belum dicabut keluar karena kami sudah lemas sesedah pertempuran yang hebat tersebut. Lalu setelah hampir 15 menit Mbak Eva bangkit dan sambil tersenyum berkata, “Nikmat sekali Jeff… kamu hebat dech…” dan saya berkata, “Sekali lagi dong Mbak… yach…!” tapi Mbak Eva berkata, “Lain kali aja yach, Mbak capek…’ Lalu saya mengiyakannya dengan sangat kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Eva bangkit dan bermaksud mengambil pakaiannya, tapi melihat bukit kemaluannya Mbak Eva, nafsu saya bangkit kembali. Lalu saya menarik tangan Mbak Eva serta mendorongnya merapat ke dinding lalu saya jongkok dan saya benamkan kepala saya ke selangkangan Mbak Eva dan dengan pelan saya menjilatinya, dan Mbak Eva mendesah, “Aduh… geli.. ah… udah dech!” sambil tangannya menekan kepala saya, tapi saya tidak menghiraukan peringatannya sambil terus memainkan lidah saya di kemaluannya. Setelah seluruh bulu kemaluan Mbak Eva basah, saya beralih ke klitorisnya dan Mbak Eva mendesah hebat sambil menjambaki rambut saya, “Uuh… terus… enak sekali… sungguh… ah… ahhh… ehmm…” dan terus saja lidahku bermain di klitoris dan lubang kemaluannya. Tak lama kemudian jambakan Mbak Eva makin dahsyat dan menjerit serta mencapai orgasme keduanya, “Aduh… saya sampai… terus Jeff… uh… ehm… uh… hu…” dan saya segera menghisap habis seluruh cairan kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama Mbak Eva mulai tenang dan setelah itu saya bangkit tapi tubuh Mbak Eva seperti kehilangan keseimbangan dan mau jatuh, untung saya segera menangkapnya dan dia berkata, “Huh… kamu ini, Mbak lemas sekali gara-gara kamu…”&lt;br /&gt;Dan saya berkata, “Sorry Mbak, soalnya saya nafsu sekali melihat Mbak, tapi Mbak Eva musti janji yach, lain kali Mbak harus menebus kekurangan hari ini.”&lt;br /&gt;Mbak Eva berkata, “Iya dech… Mbak janji tapi sekarang Mbak musti istirahat, Mbak capek sekali, kalau nanti sudah pulih Mbak pasti melayani kamu lagi, tapi sekarang sebagai hukuman kamu musti nemenin Mbak ke bawah, soalnya Mbak lelah sekali nanti jatuh lagi.”&lt;br /&gt;Saya berkata, “Beres Mbak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengantar Mbak Eva ke tempat tidurnya saya mencium pipinya dan berkata, “Selamat beristirahat Mbak!” Mbak Eva tersenyum. Sebelum keluar dari kamarnya, tangan saya pun meremas buah dadanya yang empuk sedangkan tangan satu lagi bergerilya di dalam CD-nya dan memainkan bukit kemaluannya. Mbak Eva segera melototkan matanya kepada saya dan saya segera berlari keluar dengan tersenyum dan Mbak Eva berkata, “Dasar kamu ini nggak pernah puas yach… dan tolong tutup pintunya..!” dan saya menjawabnya penuh kepuasan, “Beres Mbak…’ Lalu saya kembali ke kamar tidur saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-949596368476590739?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/949596368476590739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=949596368476590739' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/949596368476590739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/949596368476590739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/wanita-yang-penuh-variasi.html' title='Wanita Yang Penuh Variasi'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-4905275227504032322</id><published>2008-02-02T13:30:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:31:17.140+07:00</updated><title type='text'>Pagi Yang Indah</title><content type='html'>Pagi ini aku sedang membereskan pakaianku untuk dimasukkan ke dalam koper. Ayahku memperhatikan dengan wajah sedih karena aku satu-satunya anak lelakinya harus pergi demi meraih masa depanku. Aku akan tinggal di Surabaya bersama Tante dan Oomku.&lt;br /&gt;“Papa harap kamu bisa menjaga diri dan berbuat baik, menurut pada Oom Benny dan TanteLenny…” kata papaku.&lt;br /&gt;Aku hanya diam menoleh menatap papaku yang nampak kurang bersemangat karena kepergianku, lalu kupeluk papaku.&lt;br /&gt;“Saya tidak akan mengecewakan Papa..” kataku sambil menuju ke pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik angkot menuju ke terminal bus. Ketika sudah di atas bus, aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya sambil berharap semoga cita-citaku dapat tercapai. Sesampainya di terminal, aku melanjutkan dengan naik angkot menuju perumahan mewah di daerah Darmo.&lt;br /&gt;“Apa ini rumahnya..?” kataku dalam hati.&lt;br /&gt;Nomornya sih bener. Maklum aku belum pernah ke rumahnya.&lt;br /&gt;“Gila.., ini rumah apa istana..?” gumamku bicara pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera menekan bel yang ada pada pintu gerbang. Beberapa saat kemudian pintu gerbang dibuka. Seorang satpam berbadan gemuk mengamatiku, lalu menegurku.&lt;br /&gt;“Cari siapa ya..?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Apa betul ini rumah Oom Benny..?” tanyaku balik.&lt;br /&gt;“Ya betul.. sampean siapa?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;“Saya keponakan Oom Benny dari Jember.”&lt;br /&gt;“Kenapa nggak bilang dari tadi, Sampean pasti Den Wellly, kan..? Tuan sedang keluar kota, tapi Nyonya ada lagi nungguin.”&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekejap aku sudah berada di ruangan dalam rumah mewah yang diisi perabotan yang serba lux. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan bertubuh seksi muncul dari ruang dalam. Kalau kutebak usianya sekitar 35 tahunan, tapi bagikan seorang gadis yang masih perawan.&lt;br /&gt;Dia tersenyum begitu melihatku, “Kok terlambat Well..? Tante pikir kamu nggak jadi datang..” ucap wanita seksi itu sambil terus memandangiku.&lt;br /&gt;“Iya Tante.. maaf…” jawabku pendek.&lt;br /&gt;“Ya sudah.., kamu datang saja Tante sangat senang.. Pak Bowo.., antarkan Welly ke kamarnya..!” perintah Tante Lenny pada Bowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku mengikuti Pak Bowo menuju sebuah kamar yang ada di bagian bawah tangga. Aku cukup senang menempati kamar itu, karena aku langsung tertidur sampai sore hari. Ketika bangun aku segera mandi, lalu berganti pakaian. Setelah itu aku keluar kamar hendak jalan-jalan di halamanbelakang yang luas. Ketika sedang asik menghayal, tiba-tiba suara lembut dan manja menegurku. Aku agak kaget dan menoleh ke belakang. Ternyata tanteku yang sore itu mengenakan kimono dengan rokok di tangannya, rupanya ia baru bangun tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Tante…” sapaku kikuk.&lt;br /&gt;Tante tersenyum, dan pandangan yang nakal tertuju pada dadaku yang bidang dan berbulu lebat. Badanku memang cukup atletis karena sering berenang, fitness, dan aku memang mempunyaiwajah yang lumayan ganteng.&lt;br /&gt;“Kamu sudah mandi ya, Wel..? Tampan sekali kamu..” kata tanteku memuji.&lt;br /&gt;Aku kaget bukan main ketika ia mendekatiku, tangannya langsung mengelu-elus penisku, tentu saja aku jadi salah tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mau ke kamar dulu Tante..” kataku takut kalau nanti dilihat Oom Benny.&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar Wel, Tante ingin minta tolong mijitin kaki Tante.., soalnya keseleo waktu turun tadi..” kata Tante Lenny sambil merengek.&lt;br /&gt;Lalu dia duduk seenaknya, hingga kimono yang tidak dikancing seluruhnya tersingkap, dan bagian dalam tante terlihat olehku. Gila.., ternyata ia tidak memakai CD, sempat juga kulihat bulu-bulu tipis di sekitar kemaluannya seperti habis dicukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menahan nafas dan mencoba mengalihkan pandangan, tapi Tante Lenny yang tahu hal itu malah menarik lenganku dan mengangkat kaki kanannya menunjukkan bagian yang sakit. Aku terpaksa melihat betis dan paha tante yang mulus dan padat itu.&lt;br /&gt;“Tolong diurut ya Wel.., tapi pelan-pelan aja ya..” ucapnya lembut.&lt;br /&gt;Terpaksa aku memijit betis tanteku, meskipun hatiku cemas dan bingung. Apalagi ketika aku mencuri pandang melihat paha dan selangkanganya, sehingga nampak sekilas bagian yang berwarna merah muda itu. Tanteku melirik ke arahku sambil tersenyum genit, aku semakin bingung dan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pengalamanku di hari pertama di rumah Oom Benny. Sudah tiga Hari Oom Benny belum pulang juga, padahal aku ingin bertemu dengannya, sedangkan tiap malam aku diminta oleh tante untuk menemaninya ngobrol, bahkan tidak jarang disuruh menemani menonton VCD porno. Benar-benar gila.Hingga pada suatu malam tanteku merintih kesakitan. Waktu itu tante sedang nonton TV sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba wanita itu memekik, “Achhhh.., aduh.., tolong Wel..!” keluhnya sambil memegangi keningnya.&lt;br /&gt;“Kenapa Tante..?” tanyaku kaget dan khawatir.&lt;br /&gt;“Kepala Tante agak pusing.., aduh… tolong bawa Tante ke kamar Wel..!” keluh tante sambilmemegangi kepalanya.&lt;br /&gt;Aku jadi kebingungan dan serba salah.&lt;br /&gt;“Saya panggil Pak Bowo dulu ya Tante..?” usulku sambil ingin pergi.&lt;br /&gt;Tapi dengan cepat tanteku melarangnya, “Nggak usah, lagi pula Pak Bowo Tante suruh ke Pasuruan ngawal barang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi bertambah bingung. Terpaksa kutuntun tanteku untuk naik ke ruang atas. Tante merebahkan kepalanya pada pelukanku, aku jadi gemeteran sambil terus menaiki tangga.Sesampainya di dalam kamar, tante merebahkan tubuhnya yang seksi itu dengan telentang. Aku menarik napas lega dan bermaksud meninggalkan kamar. Baru saja kubalikkan tubuh, suara lembut itu melarangku.&lt;br /&gt;“Kamu mau kemana..? Jangan tinggalkan Tante.., tolong pijitin Tante.. Wel..!”&lt;br /&gt;Mendengar itu seluruh tubuhku jadi teringat pesan papa agar menuruti perkataan Oom dan Tanteku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kubalikkan badan, ternyata tanteku telah melepas kimononya. Dan kini hanya tinggal CD saja. Tubuhnya yang masih padat membuat nafsuku naik, payudara yang masih montok dan menantang itu membuat penisku mulai tegang, karena aku belum pernah melihat keindahan tubuh wanita dalam keadaan telanjang seperti ini, apalagi tanteku menggeliat perlahan. Desahan bibirnya yang tipis mengundang nafsu dan birahiku, dan penisku semakin dibuatnya tegang. Kuberanikan diri melangkah menuju ranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai, tanteku yang pura-pura pusing itu tiba-tiba bangkit, lalu memelukku dan mencium bibirku dengan penuh nafsu. Wanita yang hipersex itu dengan cepat melucuti seluruh pakaianku.&lt;br /&gt;“Jangan Tante.., jangan, saya takut..” pintaku sambil mau memakai pakaianku kembali.&lt;br /&gt;“Kalo kamu menolak, Tante akan teriak dan mengatakan pada semua orang bahwa kamu mau memperkosa Tante…” ancam tanteku.&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam dan pasrah. Wanita itu kembali mencumbuku, diciuminya dan dijilatinya tubuhku. Begitu tangan halusnya mengenggam penisku, aku langsung membalas ciumannya dan mulai menjilati payudaranya, lalu kukulum putingnya yang berwarna merah agak kecoklatan itu. Tanteku mendesah perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami memainkan posisi 69, sehingga penisku dihisap dan dikemutnya. Nikmat sekali,kurenggangkan kedua pahanya sambil kujilat-jilat kemaluannya yang mulai basah itu.&lt;br /&gt;“Ahhhh.., aahhh.., ayo terus jilat Wel..! Jangan berhenti..!” erang tanteku keenakan.&lt;br /&gt;Rupanya tanteku mengeluarkan cairan dari dalam liang kewanitaannya. Cairan itu memuncrat di wajahku, lalu kuhisap dan kutelan semua. Aku semakin terangsang, kujilati lagi kali ini lebih dalam, bahkan sampai ke duburnya. Kemudian kami berganti posisi, kali ini aku berdiri dan tante jongkok sambil mengulum penisku yang sudah sangat tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tanteku pandai sekali menjilat penis, tidak sampai lima menit aku sudah keluar.&lt;br /&gt;“Ahhh.., ayo Tante.., terus jilat sayang.., acchhh..!” desahku sambil kudorong keluar masuk di mulutnya penisku yang besar ini.&lt;br /&gt;“Tante mau keluar nih.., achhh.. yeahhh..!” erangku sambil kumuncratkan maniku di mulutnya.&lt;br /&gt;Tante menelan semua maniku, bahkan masih mengocoknya berharap masih ada sisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat penisku mulai bangun kembali. Setelah tegang dibimbingnya penisku masuk ke liang kewanitaannya. Kali ini aku di atas dan tante di bawah. Agak susah sih, mungkin sudah lama tidak service oleh Oom Benny. Setelah kepalanya masuk, kudorong perlahan hingga masuk semuanya ke dalam.&lt;br /&gt;“Ayo Wel..! Gerakin dong Sayang..!” pinta tanteku sambil menggerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah karena ia sekarang berada di bawah.&lt;br /&gt;Akhirnya kudorong keluar masuk penisku dengan gerakan yang cepat, sehingga semakin keras erangan tanteku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian aku sudah ingin keluar, “Aahhh..! Tante.., Welly udah mau keluar.., ahhh..!” kataku.&lt;br /&gt;“Sabar Sayang.., Tante sebentar lagi nih..! Yeahh.. ohh.. ahh.., fuck me Wel..! Kita barengan ya Sayang..? Oh.. yeah..!”&lt;br /&gt;Rupanya tanteku juga hampir orgasme. Rasanya seperti ada yang memijat-mijat penisku dan kakinya dilingkarkan ke pantatku. Tante bergetar hebat dan memelukku sambil kemaluannya mengeluarkan cairan yang menyemprot penisku. Tidak lama aku juga mengeluarkan air mani dan spermaku di dalam vaginanya. Terasa begitu nikmatnya dunia ini. Akhirnya kami berdua terkapar lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hebat bener kamu Wel.., Tante nggak nyangka baru kali ini Tante merasakan kenikmatan yang luar biasa..!” tuturnya dengan nafas terengah-engah.&lt;br /&gt;Aku diam tak menjawab, tapi dalam hati aku merasa bersalah telah berhubungan dengan tanteku dan takut ketahuan Oom Benny. Tante turun dari ranjang tanpa busana, lalu dia menyalakan sebatang rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau Oom Benny sampai tahu, Tante..? Saya takut.., saya merasa berdosa…” kataku lemah.&lt;br /&gt;Tapi tanteku malah tersenyum dan memelukku dengan mesra.&lt;br /&gt;“Asal kamu tidak memberitahu orang lain, perbuatan kita aman. Lagi pula Oommu itu udah nggak bisa melakukan hubungan badan sejak lama. Dia itu impotent, Wel..!” tutur wanita tanpa busana yang penuh daya tarik itu.&lt;br /&gt;“Jadi semua ini Tante lakukan karena Oom Benny tidak bisa menggauli Tante lagi, ya..?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Ya. Bukan sekali ini saja Tante melakukan hal seperti ini.., sebelum sama kamu, Tante pernah melakukannya dengan beberapa teman bisnis Oommu. Terus terang Tante nggak tahan kalau seminggu tidak disentuh atau dipeluk laki-laki..” tutur Tante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi geleng kepala mendengar penjelasan tanteku. Lalu aku bergerak mau pergi, tapi dengan cepat tante menahanku dan mengusap-usap dadaku yang berbulu.&lt;br /&gt;“Well.., kamu harus bersihkan badanmu dulu.., mandilah supaya segar..!” ucapnya lembut.&lt;br /&gt;Aku tak menjawab hanya menarik nafas panjang, lalu melangkah ke kamar mandi. Tubuhku terasa letih namun puas juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah pengalaman di Surabaya yang kualami 6 tahun yang lalu. Dan sampai saat ini aku telah mempunyai istri dan seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-4905275227504032322?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/4905275227504032322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=4905275227504032322' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/4905275227504032322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/4905275227504032322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/pagi-yang-indah.html' title='Pagi Yang Indah'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-198489518501847797</id><published>2008-02-02T13:28:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:30:17.105+07:00</updated><title type='text'>Ini Adalah Pengalamnku</title><content type='html'>Ini adalah pengalamanku yang kesekian kalinya bersetubuh dengan wanita setengah baya. Kejadiannya pada saat kenaikkan kelas, aku mendapat liburan satu bulan dari sekolah. Untuk mengisi waktu liburanku, aku mengiyakan ajakan Mas Iwan sopir Pak RT tetanggaku untuk berlibur dikampungnya. Disebuah desa di Jawa Barat. Katanya, sekalian mau nengok istrinya. Aku tertarik omongan Mas Iwan bahwa gadis-gadis di kampungnya cantik-cantik dan mulus-mulus. Aku ingin buktikan omongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mobil pinjaman dari ayahku, kami berangkat ke sana. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sekitar jam 17.00 WIB kami tiba di kampungnya. Rumah Mas Iwan berada cukup jauh dari rumah tetangganya. Rumahnya cukup bagus, untuk ukuran di kampung, bentuknya memanjang.&lt;br /&gt;di rumah Mas Iwan kami disambut oleh Mbak Irma, istrinya dan Tante Sari mertuanya. Ternyata Mbak Irma, istri Mas Iwan, seorang perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih dan bodynya sangat sexy. Sedangkan Tante Sari tak kalah cantiknya dengan Mbak Irma. Meskipun sudah berumur empat puluhan, kecantikannya belum pudar. Bodynya tak kalah dengan gadis remaja. Oh ya, Tante Sari bukanlah ibu kandung Mbak Irma. Tante Sari kimpoi dengan Bapak Mbak Irma, setelah ibu kandung Mbak Irma meninggal. Tapi setelah lima tahun menikah, bapak Mbak Irma yang meninggal, karena sakit. Jadi sudah sepuluh tahun Tante Sari menjanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 20.00 WIB, Mas Iwan mengajakku makan malam ditemani Mbak Irma dan Tante Sari. Sambil makan kami ngobrol diselingi gelak tawa. Walaupun kami baru kenal, tapi karena keramahan mereka kami serasa sudah lama kenal. Selesai makan malam Mas Iwan dan Mbak Irma permisi mau tidur. Mungkin mereka sudah tak sabar melepaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan. Tinggal aku dan Tante Sari yang melanjutkan obrolan. Tante Sari mengajakku pindah ke ruang tamu. Pas di depan kamar Mas Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Tante Sari hanya mengenakan baju tidur transparan tanpa lengan. Hingga samar-samar aku dapat melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sexy. Tante Sari duduk seenaknya hingga gaunnya sedikit tersingkap. Aku yang duduk dihadapannya dapat melihat paha mulusnya, membangkitkan nafsu birahiku. Penisku menegang dari balik celanaku. Tante Sari membiarkan saja aku memelototi paha mulusnya. Bahkan dia semakin lebar saja membuka pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin malam obrolan kami semakin hangat. Tante Sari menceritakan, semenjak suaminya meninggal, dia merasa sangat kesepian. Dan aku semakin bernafsu mendengar ceritanya, bahwa untuk menyalurkan hasrat birahinya, dia melakukan onani. Kata-katanya semakin memancing nafsu birahiku. Aku tak tahan, nafsu birahiku minta dituntaskan. Akupun pergi kekamar mandi. Sampai di kamar mandi, kukeluarkan penisku dari balik celanaku. Kukocok-kocok sekitar lima belas menit. Dan crot! crot! crot! Spermaku muncrat kelantai kamar mandi. Lega sekali rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menuntaskan hasratku, aku balik lagi ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku. Disana di depan jendela kamar Mas Iwan yang kordennya sedikit terbuka kulihat Tante Sari sedang mengintip ke dalam kamar, Mas Iwan yang sedang bersetubuh dengan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafas Tante Sari naik turun, tangannya sedang meraba-raba buah dadanya. Nafsu birahiku yang tadi telah kutuntaskan kini bangkit lagi melihat pemandangan di depanku. Tanpa berpikir panjang, kudekap tubuh Tante Sari dari belakang, hingga penisku yang sudah menegang menempel hangat pada pantatnya, hanya dibatasi celanaku dan gaun tidurnya. Tanganku mendekap erat pinggang rampingnya. Dia hanya menoleh sekilas, kemudian tersenyum padaku. Merasa mendapat persetujuan, aku semakin berani. Kupindahkan tanganku dan kususupkan kebalik celana dalamnya. Kuraba-raba bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Don… Enakk,” desahnya, ketika kumasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya yang telah basah. Setelah puas memainkan jari-jariku dilubang vaginanya, kulepaskan dekapan dari tubuhnya. Kemudian aku berjongkok di belakangnya. Kusingkapkan gaun tidurnya dan kutarik celana dalamnya hingga terlepas. Kudekatkan wajahku ke lubang vaginanya. Kusibakkan bibir vaginanya lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati lubang vaginanya dari belakang, sambil kuremas-remas pantatnya. Tante Sari membuka kedua pahanya menerima jilatan lidahku. Inilah vagina terindah yang pernah kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh… Don… Nik… mat,” suara Tante Sari tertahan merasakan nikmat ketika lidahku mencucuk-cucuk kelentitnya. Dan kusedot-sedot bibir vaginanya yang merah.&lt;br /&gt;“Ohh… Don… Luarr… Biasaa… Enakk… Sedott… terus,” pekiknya semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cairan kelamin mulai mengalir dari vagina Tante Sari. Hampir setiap jengkal vaginanya kujilati tanpa tersisa. Tante Sari menarik vaginanya dari bibirku, kemudian membalikkan tubuhnya sambil memintaku berdiri. Dia mendorong tubuhku ke dinding. Dengan cekatan ditariknya celanaku hingga terlepas, maka penisku yang sudah tegang, mengacung tegak dengan bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Luar biaassaa… Don… Besar sekali,” serunya kagum.&lt;br /&gt;“Isepp… Tante, jangan dipandang aja,” pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sari mengabulkan permintaanku. Sambil melepaskan gaun tidurnya, dia lalu berjongkok dihadapanku. Wajahnya pas di depan selangkanganku. Tangan kirinya mulai mengusap-usap dan meremas-remas buah pelirku. Sedangkan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku dengan irama pelan tapi pasti. Mulutnya didekatkan kepenisku dan dia mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku. Aku meringis merasakan geli yang membuat batang penisku semakin tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Akhh… Tan… Te… Nikk.. matt,” seruku tertahan, ketika Tante Sari mulai memasukkan penisku kemulutnya. Mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang besar dan panjang. penisku keluar masuk di mulutnya. Tante Sari sungguh lihai memainkan lidahnya. Aku dibuatnya seolah-olah terbang keawang-awang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sari melepaskan penisku dari kulumannya setelah sekitar lima belas menit. Kemudian dia memintaku duduk dilantai. Dia lalu naik kepangkuanku dengan posisi berhadapan. Diraihnya batang penisku, dituntunnya ke lubang vaginanya. Perlahan-lahan dia mulai menurunkan pantatnya. Kurasakan kepala penisku mulai memasuki lubang yang sempit. Penisku serasa dijepit dan dipijit-pijit. Mungkin karena sudah sepuluh tahun tidak pernah terjamah laki-laki. Meski agak susah, akhirnya amblas juga seluruh batang penisku ke dalam lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sari mulai menaik-turunkan pantatnya, dengan irama pelan. Diiringi desahan-desahan lembut penuh birahi. Sesekali dia memutar-mutar pantatnya, penisku serasa diaduk-aduk dilubang vaginanya. Aku tak mau kalah, kuimbangi gerakkannya dengan menyodok-nyodokkan pantatku ke atas. Seirama gerakkan pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, senangnya melihat penisku sedang keluar masuk vaginanya. Bibirku menjilati buah dadanya secara bergantian, sedangkan tanganku mendekap erat pinggangnya. Semakin lama semakin cepat Tante Sari menaik turunkan pantatnya. Nafasnya tersengal-sengal. Dan kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Don… Aku… Mau… Keluarr,” pekiknya.&lt;br /&gt;“Tahan… Tan… Te… Akuu… Belumm… Mauu,”sahutku.&lt;br /&gt;“Akuu… Tak… Tahann… Sayang,” teriaknya keras.&lt;br /&gt;Tangannya mencengkeram keras punggungku.&lt;br /&gt;“Akuu… Ke… Ke… Luarr… Sayangg,” jeritnya panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sari tak dapat menahan orgasmenya, dari vaginanya mengalir cairan yang membasahi seluruh dinding vaginanya. Tante sari turun dari pangkuanku lalu merebahkan tubuhnya dipangkuan. Kepalanya berada pas diselangkanganku. Tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Dan mulutnya mengulum kepala penisku dengan lahapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuannya pada penisku membuat penisku berkedut-kedut. Seakan-akan ada yang mendesak dari dalam mau keluar. Dan kurasakan orgasmeku sudah dekat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkanganku. Hingga penisku semakin dalam masuk kemulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhh… Tante… Akuu… Mau keluarr,” teriakku.&lt;br /&gt;“Keluarin… Dimulutku sayang,” sahutnya.&lt;br /&gt;Tante sari semakin cepat mengocok dan mengulum batang penisku. Diiringi jeritan panjang, spermaku muncrat ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;“Ohh… Kamu… Hebatt… Don, aku puas,” pujinya, tersenyum ke arahku. Tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara ranjang berderit di dalam kamar, membuat kami bergegas memakai pakaian dan pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Kemudian masuk ke kamar Masing-masing. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki Mbak Irma ke kamar mandi. Dari balik jendela kamarku dapat kulihat Mbak Irma hanya mengenakan handuk yang yang dililitkan ditubuhnya. Memperlihatkan paha mulus dan tubuh sexynya. Membuatku mengkhayal, alangkah senangnya bisa bersetubuh dengan Mbak Irma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 02.00 dinihari, aku terbangun ketika kurasakan ada yang bergerak-gerak di selangkanganku. Rupanya Tante Sari sedang asyik mengelus-elus buah pelirku dan menjilati batang penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhh… terus… Tante… terus,” gumanku tanpa sadar, ketika dia mulai mengulum batang penisku. Dengan rakus dia melahap penisku. Sekitar sepuluh menit berlalu kutarik penisku dari mulutnya. Kusuruh dia menungging, dari belakang kujilati lubang vaginanya, bergantian dengan lubang anusnya. Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya yang basah dan memerah. Sedikit demi sedikit penisku memasuki lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam, hingga seluruh batang penisku amblas tertelan lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai memaju mundurkan pantatku, hingga penisku keluar masuk lubang vaginanya. Sambil kuremas-remas pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooh… Don… Nikk… Matt… Bangett,” rintihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bernafsu memaju mundurkan pantatku. Tante sari mengimbangi gerakkanku dengan memaju mundurkan juga pantatnya, seirama gerakkan pantatku. Membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Semakin lama semakin cepat gerakkan pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Don… Donnii… Akuu… Tak… Tahann,” jeritnya.&lt;br /&gt;“Akuu… Mauu… Ke… Keluarr,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan menjepit penisku. Tangannya mencengkeram dengan keras diranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooh… Oo… Aku… Keluarr,” lolongnya panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kurasakan ada cairan yang merembes membasahi dinding-dinding vaginanya. Tante Sari terlalu cepat orgasme, sedangkan aku belum apa-apa. Aku tak mau rugi, aku harus puas, pikirku. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kuarahkan ke lubang anusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhh… Donn… Jangann… Sakitt,” teriaknya, ketika kepala penisku mulai memasuki lubang anusnya. Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku lebih keras hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Dan kurasakan nikmatnya jepitan lubang anusnya yang sempit. Perlahan-lahan aku mulai menarik dan mendorong pantatku, sambil memasukkan jari-jariku ke lubang vaginanya. Tante sari menjerit-jerit merasakan nikmat dikedua lubang bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak khan Tante?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Hemm… Enakk… Banget… Sayang,” sahutnya sedikit tersipu malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama semakin cepat kusodok lubang anusnya. Sambil kutepuk-tepuk pantatnya. Kurasakan penisku berkedut-kedut ketika orgasmeku akan tiba dan crott! crott! crott! Kutumpahkan spermaku dilubang anusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penismu yang pertama sayang, memasuki lubang anusku,” katanya sambil membalikkan tubuhnya dan tersenyum padaku.&lt;br /&gt;“Kamu luar biasa Don, belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini,” imbuhnya.&lt;br /&gt;“Tante mau khan, setiap malam kusetubuhi?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Siapa yang menolak diajak enak,” sahutnya seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, hampir setiap malam kusetubuhi Tante sari. Ibu tiri Mbak Irma yang haus sex, yang hampir sepuluh tahun tidak dinikmatinya, sejak kematian suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah lima hari aku berada di rumah Mas Iwan. Selama lima hari pula aku menikmati tubuh Tante Sari, mertuanya yang haus sex. Tante Sari yang sepuluh tahun menjanda, betul-betul puas dan ketagihan bersetubuh denganku. Meski telah berusia setengah baya, tapi nafsu birahinya masih meletup-letup, tak kalah dengan gadis remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, sehabis mandi dan berpakaian, Mas Iwan mengajakku jalan-jalan. Katanya mau ketemu seorang teman yang sudah lama dirindukannya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah kami di rumah teman Mas Iwan. Sebuah rumah yang berada dikawasan yang cukup elite. Kedatangan kami disambut dua orang wanita kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira. Keduanya sama-sama cantik dan sexy. Mas Iwan memperkenalkanku pada kedua teman wanitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Iwan, aku kangen banget,” katanya sambil memeluk Mas Iwan.&lt;br /&gt;“Aku juga Rin,” sahut Mas Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil meminum kopi susu yang disuguhkan Mbak Rina, kami bercakap-cakap. Mbak Rina duduk dipangkuan Mas Iwan. Dan Mas Iwan merangkulnya dengan mesra. Mbak Rina tanpa malu-malu menceritakan, kalau Mas Iwan adalah pacar pertamanya dan Mas Iwanlah yang membobol perawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Vira hanya tersenyum mendengar cerita kakaknya yang blak-blakan. Makin lama kelakuan Mbak Rina makin mesra saja. Tanpa malu-malu, dia mengecup dan melumat bibir Mas Iwan dan Mas Iwan menyambutnya dengan sangat bernafsu. Aku jadi risih menyaksikan kelakuan mereka. Sekitar sepuluh menit mereka bercumbu di depan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita lanjutin di kamar aja say,” kata Mbak Rina pada Mas Iwan. Mas Iwan mengangguk tanda setuju, sambil membopong tubuh Mbak Rina ke dalam kamar.&lt;br /&gt;“Kalian jangan ngintip ya,” kata Mas Iwan pada kami sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Mbak Vira hanya bengong melihat kemesraan mereka. Tanpa menghiraukan larangan Mas Iwan, Mbak Vira beranjak dari tempat duduknya sambil meraih tanganku menuju kamar Mbak Rina. Kami kemudian berdiri di depan pintu kamar Mbak Rina yang terbuka lebar. Dari situ aku dan Mbak Vira melihat Mas Iwan merebahkan tubuh Mbak Rina diatas ranjang dan mulai melepaskan gaun Mbak Rina. Aku terkesima melihat mulusnya dan sexynya tubuh Mbak Rina, ketika seluruh pakaiannya dibuka Mas Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu birahiku tak tertahankan lagi, penisku menegang dibalik celanaku. Tanpa sadar kupeluk tubuh Mbak Vira yang berdiri di depanku. Mbak Vira diam saja dan membiarkanku memeluknya. Malah tangan dibawa ke belakang dan disusupkan ke balik celanaku. Mendapat perlakuan seperti itu, nafsuku semakin memuncak dan penisku semakin menegang. Apalagi saat Mbak Vira menggerak-gerakkan tangannya mengocok-ngocok batang penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di dalam kamar, Mas Iwan menarik tubuh Mbak Rina ketepi Ranjang. Kedua paha Mbak Rina dibukanya lebar-lebar. Maka terpampanglah vagina Mbak Rina yang indah, dihiasi bulu-bulu yang dicukur rapi. Mas Iwan kemudian berjongkok dan mendekatkan mulutnya kebibir vagina Mbak Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Say… Yang… Nikk… Mat,” desah Mbak Rina tertahan, ketika Mas Iwan mulai menjilati vaginanya. Lidah Mas Iwan menari-nari dan mencucuk-cucuk vagina Mbak Rina. Pantat Mbak Rina terangkat-angkat menyambut jilatan Mas Iwan. Kedua pahanya terangkat dan menjepit kepala Mas Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah… Say… Aku… nggak tahan… Masukin punyamu say,” pinta Mbak Rina penuh nafsu. Mas Iwan kemudian berdiri dan melepaskan semua pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit membungkukkan badannya, Mas Iwan memegang penisnya dan mengarahkannya ke lubang vagina Mbak Rina yang telah basah dan merah merekah. Slepp! Kepala penis Mas Iwan mulai memasuki vagina Mbak Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aow… terus… Say… terus… Genjot,” seru Mbak Rina, ketika Mas Iwan mulai mendorong pantatnya naik turun. Penisnya keluar masuk dari vagina Mbak Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Mas Iwan dan Mbak Vira sedang bersetubuh di depanku, membuat nafsu birahiku semakin tinggi. Kususupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dapat kurasakan vaginanya yang telah basah, pertanda Mbak Vira juga bangkit nafsu birahinya. Kucucuk-cucuk vaginanya dengan jari-jariku. Dia mendesah penuh nafsu. Mbak Vira mengimbangi dengan semakin cepat mengocok-ngocok penisku. Sekitar sepuluh menit Mbak Vira mengocok penisku. Mbak Vira kemudian menyudahi kocokkannya dan membalikkan badannya, menghadap ke arahku. Ditariknya celanaku hingga terlepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah celanaku terlepas, keluarlah penisku yang tegang penuh dan mengacung-acung dengan bebasnya. Mbak Vira terpukau melihat penisku yang besar dan panjang. Mbak Vira kemudian berjongkok dikakiku, wajahnya berada pas di depan selangkanganku. Mbak Vira mendekatkan mulutnya kebatang penisku. Mula-mula dia menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Terus dia mulai mengulum dan menghisap kepala penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sedikit demi sedikit batang penisku dimasukkannya ke dalam mulutnya sampai kepala penisku menyodok ujung mulutnya. Dan mulutnya penuh sesak oleh batang penisku. Dengan lihainya, Mbak vira mulai memaju-mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar-masuk dari dalam mulutnya. Mataku merem-melek merasakan nikmat dan badanku serasa panas dingin merasakan kulumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Vira sangat lihai mengulum penisku. Kudorong maju pantatku dan kujambak rambutnya, membenamkan kepalanya ke selangkanganku. Sekitar lima belas menit berlalu Mbak Vira menyudahi kulumannya, dan melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian dia berdiri menghadap ke dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh… Akhh… Akuu… nggak tahann… Don,” serunya tertahan.&lt;br /&gt;“Entot aku… Entott… Don,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik sedikit tubuhnya dari belakang, hingga dia menungging. Kuraih batang penisku dan kuarahkan pas ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku, hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aow… Pelan-pelan Don,” pekiknya, ketika seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya yang masih sempit. Pekikkan yang keluar dari mulutnya membuatku semakin bernafsu dan pelan-pelan kumaju-mundurkan pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhh… Enakk… Don… Enakk… Banget,” desahnya sambil menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku.&lt;br /&gt;“Akhh… Akuu… Ke… luarr, Rin,” teriakkan Mas Iwan dari dalam kamar mengejutkanku, namun tak menghentikan sodokkanku pada Mbak Vira.&lt;br /&gt;“Aku… jugaa… Sayang,” sahut Mbak Rina pada Mas Iwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian Mas Iwan dan Mbak Rina mencapai orgasme bersamaan. Mas Iwan menumpahkan spermanya di dalam vagina Mbak Rina. Kemudian Mas Iwan merebahkan tubuhnya disamping tubuh Mbak Rina, dan tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, aku semakin cepat memaju-mundurkan pantatku, membuat Mbak Vira berteriak-teriak saking nikmatnya. Kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin lama semakin cepat dan menjepit penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Donn… Donii… Akuu… Mauu… Keluarr,” teriaknya panjang.&lt;br /&gt;“Tahann… Mbak… Aku… Belum… Apa-apa,” sahutku.&lt;br /&gt;“Akhh… Akuu… Tak… Tahan… Don… Akuu,” jawabnya terputus dan vaginanya semakin keras menjepit penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Mbak Vira mencapai orgasme. Kurasakan ada cairan-cairan yang merembes didinding vaginanya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kusuruh dia berjongkok dihadapanku. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkangku. Mbak Vira mengerti maksudku. Dia mulai menjilati dan menghisap-isap penisku lalu mengulumnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap buah pelirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian Mbak Rina datang membantu, dan langsung berjongkok dihadapanku. Lidahnya dijulurkan untuk menjilati buah pelirku. Tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Secara bergantian, kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira, mengocok-ngocok, menjilati dan mengulum penisku. Penisku keluar dari mulut Mbak Vira kemudiam masuk ke mulut Mbak Rina, kemudian keluar dari mulut Mbak Rina lalu masuk kemulut Mbak Vira, begitulah seterusnya. Hingga kurasakan penisku berkedut-kedut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbakk… Akuu… Mauu… Ke… Keluarr,” jeritku.&lt;br /&gt;“Keluarin di mulutku Don,” sahut mereka hampir bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan crott! crott! crott! Spermaku muntah dimulut Mbak Vira yang sedang kebagian mengulum. Mbak Vira menelan spermaku tanpa rasa jijik sedikitpun. Kemudian Mbak Rina merebut penisku dari Mbak Vira dan memasukkan ke mulutnya. Dan tak mau kalah dengan adiknya, sisa-sisa spermaku dihisap dan dijilatinya sampai bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu puas Don,” kata Mbak Vira.&lt;br /&gt;“Puas sekali Mbak, Mbak berdua luar biasa,” sahutku.&lt;br /&gt;“Kamu mau yang lebih seru nggak,”kata Mbak Rina.&lt;br /&gt;“Mau, mau Mbak,”sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian mengajakku ke kamarnya, dimana Mas Iwan sedang tertidur pulas sehabis bersetubuh dengan Mbak Rina. Mbak Rina menyuruhku tidur terlentang diranjang. Mbak Rina kemudian menarik kakiku, hingga pantatku berada ditepi ranjang dan kakiku menjuntai kelantai. Lalu Mbak Rina berjongkok dilantai dengan wajah berada pas di depan selangkanganku. Mbak Rina mulai mengusap-usap dan mengocok-ngocok batang penisku yang masih layu, sehabis orgasme. Kurasakan sedikit ngilu tetapi kutahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Rina menyudahi usapan dan kocokannya. Dan mulai menjilati dan menghisap-isap penisku dimulai dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Lidahnya berputar-putar dan menari-nari diatas batang penisku. Puas menjilati penisku, Mbak Rina kemudian memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk kemulutnya. Dan kurasakan sedikit demi sedikit penisku mulai menegang didalam mulutnya, hingga mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang sudah tegang penuh. Mbak Rina sangat pintar membangkitkan birahiku. Mulutnya maju mundur mengulum penisku. Pipinya sampai kempot, saking semangatnya mengulum penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kakaknya yang sedang menjilati dan mengulum batang penisku, Mbak Vira nafsunya bangkit lagi. Dia meraba-raba dan memasukkan jari-jari tangan kirinya ke dalam vaginanya sendiri, sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah dadanya hingga mengeras dan padat. Diiringi desahan-desahan penuh birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas bermain-main dengan vagina dan buah dadanya sendiri, Mbak Vira kemudian naik ke atas tubuhku. Dan mengangkangi wajahku. Lubang vaginanya berada pas diatas wajahku. Dia menurunkan pantatnya, hingga bibir vaginanya menyentuh mulutku. Kujulurkan lidahku untuk menjilati vaginanya yang telah basah. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya, dia mengerang-erang merasakan nikmat. Mbak Vira menarik rambutku, membenamkan wajahku diselangkangannya. Kepalaku dijepit dengan kedua paha mulusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kami bertiga, aku dan kakak beradik sedang berlomba mencari kepuasan. Mbak Vira sedang kujilati vaginanya, sedangkan pada bagian bawah tubuhku Mbak Rina dengan asiknya mengulum batang penisku. Beberapa waktu berlalu Mbak Rina melepaskan kulumannya, dan berjongkok diatas selangkanganku. Dengan tangannya, diraihnya batang penisku dan diarahkannya ke lubang vaginanya. Bless! Dengan sekali dorongan pantatnya, masuklah seluruh batang penisku ke dalam vaginanya yang basah tapi hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Mbak Rina menaik turunkan pantatnya, sambil mengeluarkan desahan-desahan nikmat dari mulutnya. Sesekali pantatnya diputar-putar hingga penisku serasa dipelintir. Saat menikmati goyangan Mbak Rina, aku terus menjilati vagina Mbak vira sambil memasukkan jari-jariku ke lubang anusnya. Sedang asiknya aku menjilati vagina Mbak Vira, kurasakan vaginanya berkedut-kedut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa detik kemudian ada cairan yang keluar dari dalam vaginanya. Mbak Vira mencapai orgasme. Pahanya makin keras menjepit kepalaku. Tanpa rasa jijik kusedot dan kutelan cairan vaginanya.&lt;br /&gt;Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Vagina Mbak Rina juga berkedut-kedut, otot-otot vaginanya menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Don… Aku… Keluar,” teriak Mbak Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air maninya mengaliri deras dan membasahi batang penisku. Kemudian dia terkulai lemas sampingku. Membuat penisku yang masih tegang terlepas dan mengacung-acung. Mbak vira yang kondisi sudah pulih sehabis orgasme, kemudian berjongkok diatas selangkanganku, menggantikan kakaknya. diraihnya penisku dan diarahkannya ke lubang anusnya. Mbak Vira menurunkan pantatnya sedikit demi sedikit hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kurasakan penisku seperti dijepit dan dipijit-pijit oleh sempitnya lubang snusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh… Mbak… Nikk… Matt… Enakk,”teriakku, ketika Mbak Vira mulai menaik turunkan pantatnya, membuat penisku keluar masuk dari lubang anusnya. Sesekali dia menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, membuatku merasakan nikmat yang luar biasa. Sekitar tiga puluh menit Mbak Vira menggenjot tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbakk… Akuu… Ke… Keluarr,” jeritku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan penisku berkedut-kedut dan crott! crott! crott! kutumpahkan seluruh spermaku di dalam lubang anusnya. Mbak Vira kemudian merebahkan tubuhnya diatas tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menindihku dia tersenyum puas. Malam itu, aku dan Mas Iwan menginap disana. Dan berpesta sampai pagi, sampai kami sama-sama puas dan kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panasnya sinar matahari yang menerobos jendela kamarku, membangunkanku dari tidurku yang lelap. Setelah hampir semalam penuh aku merasakan nikmatnya bersetubuh dengan Mbak Rina dan Mbak Vera. Dan aku baru pulang dari rumahnya kerumah Mas iwan jam 05.00 dinihari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit bermalas-malasan, aku pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Selesai mandi badan rasanya segar sekali. Siang itu kurasakan lain dari biasanya, rumah Mas Iwan tampak sepi sekali. Oh ya, aku baru ingat kalau hari ini, Mas Iwan mengantar Tante Sari kondangan ke kampung sebelah. Jadi yang ada di rumah hanya Mbak Erna dan Aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku, aku pergi ke dapur. Membuat secangkir kopi. Sampai didapur kudapati Mbak Erna sedang mencuci piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pagi Mbak,” sapaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Erna tak menjawab sapaanku. Mukanya cemberut. Aku heran, tumben Mbak Erna begitu, biasanya dia sangat ramah padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sih Mbak, kok cemberut begitu,” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Mbak marah sama aku? atau Mbak nggak senang ya, aku disini,” imbuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak erna masih diam saja, membuatku tak enak hati dan bertanya-tanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, Mbak. Kalau Mbak nggak senang, aku pulang aja deh,”&lt;br /&gt;“Jangan-jangan pulang Don, aku nggak marah sama kamu,” sahutnya sambil menarik tanganku.&lt;br /&gt;“Habis Mbak marah sama siapa? Boleh tahu kan Mbak ?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Ok, Mbak akan kasih tahu, tapi jangan bilang sama siapa-siapa ya!,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Aku janji Mbak,” kataku meyakinkannya.&lt;br /&gt;“Don, aku lagi kesal sama Mas Iwan,” kata Mbak sari.&lt;br /&gt;“Kesal kenapa Mbak,” selaku.&lt;br /&gt;“Belakangan ini, Mas Iwan dingin sekali padaku Don,” katanya sambil merebahkan kepalanya didadaku.&lt;br /&gt;“Setiap aku pingin begituan, dia selalu menolak,” imbuhnya sambil tersipu malu.&lt;br /&gt;“Mungkin Mas Iwan lagi lelah Mbak,” hiburku sambil kuusap-usap rambutnya.&lt;br /&gt;“Ah, masak setiap malam lelah,” sahutnya.&lt;br /&gt;“Mungkin ada yang bisa aku bantu, untuk menghilangkan kekesalan Mbak,” pancingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Erna tak menjawab pertanyaanku. Sebagai orang yang cukup berpengalaman soal sex, aku tahu Mbak Erna sangat kesepian dan menginginkan hubungan sexsual. Maka dengan memberanikan diri, kukecup lembut keningnya. Dan kurasakan remasan halus tangannya yang masih memegang tanganku.&lt;br /&gt;Merasa mendapat respon positif, kugerakkan bibirku menciumi kedua pipinya dan berhenti dibelahan bibir mungilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Ernapun membalas kecupanku pada bibirnya dengan kuluman yang hangat, penuh gairah. kukeluarkan lidahku, mencari lidahnya. Kuhisap-hisap dan kusedot-sedot. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan kugerakkan menggerayangi tubuh Mbak Erna. Dan perlahan-lahan kususupkan tangan kananku kebalik gaun tidurnya. Dan kurasakan halusnya punggung Mbak Erna. Sementara tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang padat. Mbak Erna melepaskan seluruh pakaiannya. Agar aku lebih leluasa menggerayangi tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua terlepas maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang montok, perutnya yang ramping dan vaginanya yang dicukur bersih. Membuat nafsu birahiku semakin menjadi-jadi dan kurasakan penisku menegang. Akupun melepaskan kulumanku pada bibirnya dan dengan sedikit membungkukkan badanku. Aku mulai menjilati buah dadanya yang mulai mengeras, secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas menjilati buah dadanya, jilatanku kupindahkan ke perutnya. Dan kurasakan halusnya kulit perut Mbak Erna. Mbak Erna tak mau ketinggalan, ditariknya handuk yang melilit dipinggangku. Dengan sekali sentakan saja, handukku terlepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aow, besar sekali don penismu,” decaknya kagum, sambil memandangi penisku yang telah menegang dan mengacung-ngacung setelah handukku terlepas. Mbak Erna menggerakkan tangannya, meraih batang penisku. Diusap-usapnya dengan lembut kemudian dikocok-kocoknya, membuat batang penisku semakin mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu, Kusudahi jilatanku pada perutnya. Kuangkat tubuhnya dan kududukkan diatas meja dapur. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Dan terpampanglah di depanku bukit kecil yang dicukur bersih. Bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil yang tersembul diatasnya. Kubungkukkan tubuhku dan kudekatkan wajahku ke selangkangannya. Dan aku mulai menjilati pahanya yang putih mulus, dihiasi bulu-bulu halus. Sambil tanganku meraba-raba vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit berlalu, kupindahkan jilatanku dari pahanya ke vaginanya. Mula-mula kujilati bibir vaginanya, terus kebagian dalam vaginanya. Lidahku menari-nari didalam lubang vaginanya yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… terus… Don… terus… Nik… Matt,” serunya tertahan. Membuatku semakin bersemangat menjilati lubang vaginanya. Kusedot-sedot klitorisnya. Pantat Mbak Erna terangkat-angkat menerima jilatanku. Ditariknya kepalaku, dibenamkannya pada selangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Don… Aku… Tak… Tahan… Masukin Don… Masukin penismu,” pintanya menghiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuturuti kemauannya. Aku kemudian berdiri. Kuangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, hingga ujung jari kakinya berada diatas bahuku. Kudekatkan penisku keselangkangannya. Mbak Erna meraih penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak mengatur posisi supaya lebih nyaman, lalu kudorong pantatku lebih keras, membuat seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Kurasakan penisku dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit. Vaginanya penuh sesak karena besarnya batang penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aow… Pelan-pelan… Don… penismu gede sekali,” pekiknya, ketika aku mulai memaju mundurkan pantatku, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah tiga puluh menit aku memaju mundurkan pantatku. Dan kurasakan vagina Mbak Erna berkedut-kedut. Dan otot-otot vaginanya menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Don… Aku… Keluarr… Sayang,” teriaknya lantang. Sedetik kemudian kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Dan Mbak Erna mencapai orgasmenya. Mbak Erna tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan. Dia turun dari atas meja dapur. Kemudian berjongkok dihadapanku. Diraihnya penisku dan dikocok-kocok dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meremas-remas buah pelirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhh… Mbak… Enak… Nikk… Mat… terus,” seruku, ketika Mbak Erna mulai menjilati batang penisku. Dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Mataku merem melek merasakan nikmatnya jilatan Mbak Erna. Aku semakin merasa nikmat ketika Mbak Erna memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Dan mulai mengulum batang penisku. Mbak Erna memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Sementara tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh… Mbak… Akuu… Tak… Tahan,” teriakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kurasakan penisku berkedut-kedut semakin lama semakin cepat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya diselangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak… Akuu… Ke… Luarr,” teriakku lagi lebih keras. Mbak Erna semakin cepat memaju mundurkan mulutnya. Dan crott! crott! crott! penisku memuntahkan sperma yang sangat banyak di mulutnya. Mbak Ernapun menelannya tanpa ragu-ragu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati sisa-sisa spermaku sampai bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih Don, kamu telah memberiku kepuasan,” pujinya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Sama-sama Mbak, aku juga sangat puas,” sahutku.&lt;br /&gt;“Mbak masih mau lagi kan,” tanyaku.&lt;br /&gt;“Mau dong, tapi kita mandi dulu yuk,” ajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami meraih pakaian masing-masing untuk selanjutnya bersama-sama pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Sehabis mandi, masih sama-sama telanjang, kubopong tubuhnya menuju taman disamping rumah. Aku ingin melaksanakan impianku selama ini, yaitu bersetubuh ditempat terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Don… Jangan disini sayang, nanti dilihat orang,” protesnya.&lt;br /&gt;“Kan nggak ada siapa-siapa di rumah Mbak,” sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Ernapun tidak protes lagi, mendengar jawabanku. Sambil berdiri kupeluk erat tubuhnya. Kulumat bibirnya. Mbak Erna membalas lumatan bibirku dengan pagutan-pagutan hangat. Cukup lama kami bercumbu, kemudian aku duduk dikursi taman. Dan kusuruh Mbak Erna berjongkok dihadapanku. Mbak Erna tahu maksudku. Diraihnya batang penisku yang masih layu. Dielus-elusnya lembut kemudian dikocok-kocok dengan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penisku mengeras Mbak Erna menyudahi kocokkannya, dia mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Lidahnya dijulurkan dan mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku, kemudian turun kepangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh… terus… Mbak… Nikmat banget,” desahku.&lt;br /&gt;“Isepp… Mbak… Isep,” pintaku. Mbak Erna menuruti kemauanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimasukkannya penisku kemulutnya. Hampir sepertiga batang penisku masuk ke mulutnya. Sambil tersenyum padaku, dia mulai memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku maju keluar masuk dimulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak… Aku… Tak… Tahan,” seruku. Mbak Erna kemudian naik ke pangkuanku. Vaginanya pas berada diatas selangkanganku. Diraihnya penisku dan dibimbingnya ke lubang vaginanya. Mbak Erna mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama semakin dalam. Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Sesaat kemudian Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali digoyang-goyangkan pantatnya kekiri-kekanan. Aku tak mau kalah, kusodok-sodokkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Don… Aku… Mauu… Ke… luarr,” teriaknya setelah hampir tiga puluh menit menggoyang tubuhku. Dan kurasakan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram dadaku dengan keras. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat merembes dilubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak ingin mengecewakanmu Don,” katanya sambil tersenyum. Dia menarik penisku keluar dari lubang vaginanya, kemudian memasukkannya ke lubang anusnya. Mbak Erna rupanya tahu kesenanganku. Meski agak susah, akhirnya bisa juga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Perlahan tapi pasti Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Membuatku merasakan nikmat yang tiada taranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama Mbak Erna menggoyang-goyangkan pantatnya, kemudian kami berganti posisi. Kusuruh dia menungging, membelakangiku dengan tangan bertumpu pada kursi taman. Kugenggam penisku dan kuarahkan tepat ke lubang anusnya. Kudorong sedikit demi sedikit, sampai seluruhnya amblas tertelan lubang anusnya. Lalu kudorong pantatku maju mundur. Kurasakan nikmatnya lubang anus Mbak Erna. Sambil kucucuk-cucuk lubang vaginanya dengan jari-jariku. Membuat nafsu birahi Mbak Erna bangkit lagi. Mbak Erna mengimbangi gerakkanku dengan mendorong-dorong pantatnya seirama gerakkan pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Demikian juga jari-jariku semakin cepat mencucuk vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak… Mbak… Akuu… Mau… Keluar,” seruku.&lt;br /&gt;“Akuu… Juga… Don,” sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kami mencapai orgasme. Kutarik penisku dari lubang anusnya, dan kutumpahkan spermaku dipunggungnya. Mbak Erna kemudian membalikkan badannya dan berdiri, sambil memintaku duduk kursi taman. Didekatkannya selangkangannya kewajahku. Ditariknya rambutku dan dibenamkannya kepalaku keselangkangannya. Dan akupun mulai menjilati vaginanya sambil duduk. Kuhisap dan kusedot-sedot cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Mbak Erna sangat puas dengan perlakuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu kami melakukan persetubuhan sampai puas, dengan berbagai macam gaya. Sungguh luar biasa Mbak Erna, meskipun tinggal dikampung. Tapi dalam soal bersetubuh dia tak kalah dengan orang kota. Memang sungguh nikmat istri Mas Iwan. Vagina dan lubang anusnya sama nikmatnya. Membuatku ketagihan menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah satu bulan aku berlibur dikampung Mas Iwan. Malam-malam yang kulewati bersama Mbak Erna dan Tante Sari membuat waktu satu bulan terasa cepat sekali. Sudah saatnya aku kembali kekotaku, karena tiga hari lagi aku harus ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berangkat dari kampung Mas Iwan, aku tidak sendirian. Ada Vivi, anak kandung Tante Sari menemaniku. Gadis cantik berkulit putih dan bertubuh langsing ini, baru tamat SMP dan akan melanjutkan SMU di kota. Tante sari meminta tolong padaku agar mengantarkan Vivi, mencari rumah kost di dekat sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kota. Dan setelah berpuar-putar cukup lama, akhirnya kudapatkan rumah kost untuk Vivi. Pemilik rumah adalah seorang janda cantik berusia sekitar 32 tahun, namanya Yeni. Setelah memberikan kunci kamar pada Vivi, Tante Yeni meninggalkan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis membantu Vivi mengangkat barang-barangnya ke dalam kamar, aku merasa haus. Kusuruh Vivi ke warung untuk membeli minuman. Sambil duduk menunggu kedatangan Vivi, iseng-iseng kunyalakan VCD. Ngawur aja kusetel salah satu film. Aku terkejut, ternyata isinya film porno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan-adegan difilm itu, membangkitkan nafsu birahiku. Kurasakan batang penisku mengeras dan berdiri tegak di balik celanaku. Kuturunkan celanaku, dan kukeluarkan batang penisku. Kuelus-elus dan kukocok-kocok batang penisku. Saking asiknya aku mengocok-ngocok batang penisku, sampai kedatangan Vivi tak kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, Doni lagi ngapain,” suara Vivi mengejutkanku.&lt;br /&gt;“Akh, nggak ngapa-ngapain,” sahutku.&lt;br /&gt;“Itu apa?” tanyanya lagi sambil memandangi celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga! Aku lupa menaikkan celanaku. Sehingga Vivi dengan jelas melihat penisku yang sedang berdiri tegak. Merasa sudah kepalang basah, kulanjutkan saja mengocok penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu bisa membantuku Vi?,” tanyaku.&lt;br /&gt;“Bantu apa Mas?,” katanya balik bertanya.&lt;br /&gt;“Kocokkin penisku Vi,” pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vivi menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kutarik tangannya dan kuletakkan diatas penisku. Vivi yang juga sudah terangsang akibat ikut nonton film porno, menggenggam batang penisku. Dengan lembut dia mengelus-elus dari kepala sampai kepangkal penisku. Aku merasa seperti melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melepaskan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Vivi yang sedang mengocok penisku. Kutarik kaosnya dan kususupkan tanganku kebalik BHnya. Kuraba-raba buah dadanya. Perlahan-lahan buah dadanya mengeras. Cukup lama aku meraba-raba buah dadanya, kemudian kutarik Bhnya hingga terlepas. Setelah terlepas, terlihatlah buah dadanya yang padat dan mengeras. Aku melanjutkan lagi meremas-remas buah dadanya. Vivi mendesah-desah merasakan nikmat, tangannya semakin cepat mengocok penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar lima belas menit berlalu kami berganti posisi. Sambil menarik rok mininya, kodorong tubuhnya hingga terlentang diranjang. Hanya celana dalamnya saja yang melekat menutupi selangkangannya. Kutindih tubuhnya dari atas lalu kukecup bibirnya, kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang terbuka. Vivi menyambutnya dengan hisapan yang tak kalah hebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup lama berpagutan, kuputar tubuhku. Membentuk posisi 69. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan selangkangannya berada dibawah wajahku. Kujulurkan lidahku menjilati bagian bawah perutnya, sambil tanganku melepas celana dalam Vivi. Vivi mengangkat pantatnya memudahkan aku melepaskan celana dalamnya dan meleparkannya ke lantai kamar. Lidahku bergerak turun menyapu bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Mas don… Enakk,” desahnya ketika aku mulai menjilati vaginanya yang basah, membuatku semakin bersemangat menjilati vaginanya. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya yang sebesar biji kacang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menjilati lubang vaginanya, Vivi juga sedang asyik menjilati penisku. Sambil tangan kirinya mengocok-ngocok pangkal penisku sedangkan tangan kanannya mengelus-elus buah pelirku dengan lembut. Sesaat kemudian Vivi memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk ke mulutnya. Kudorong pantatku ke atas dan ke bawah, sehingga penisku keluar masuk dimulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Aku bangkit dan berdiri dilantai kamar. Kutarik tubuhnya, hingga pantatnya berada ditepi ranjang. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Kuarahkan penisku tepat ke lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ja… Jangan… Mas, aku masih perawan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak memperdulikan kata-katanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku menyeruak masuk. Vivi berteriak lebih keras ketika aku mendorong lebih keras dan penisku menembus selaput daranya. Akupun lebih bersemangat mendorong pantatku dan amblaslah seluruh batang penisku ke lubang vaginanya yang sangat sempit. Penisku serasa dijepit sempitnya lubang vaginanya. Beberapa detik kubiarkan penisku di dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi wajahnya yang meringis menahan sakit. Dengan perlahan-lahan kuangkat pantatku lalu kuturunkan lagi. Membuat penisku keluar masuk dilubang vaginanya. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Beginikah rasanya menyetubuhi seorang perawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Mas… Enakk,” desahnya yang mulai merasakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmatnya disetubuhi. Pantatnya digerakkan naik turun seirama gerakkan pantatku. Rasa sakitnya telah hilang berganti dengan rasa nikmat. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram seprei dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Mas… Akuu… Mauu,” desahnya terputus.&lt;br /&gt;“Mau keluar sayang,” sahutku.&lt;br /&gt;Vivi mengangguk sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Aku juga Vi,” imbuhku. Semakin cepat kudorong-dorong pantatku.&lt;br /&gt;“A… Akuu… Ke… Luarr,” teriaknya lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan cairan hangat merembes didinding vaginanya. Sedetik kemudian kurasakan penisku berkedut-kedut. Dan Crott! crott! crott! Kutumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang vaginanya. Dan tubuhku ambruk menindih tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu menyesal Vi,” tanyaku sambil tersenyum puas, karena baru kali ini aku menyetubhi seorang perawan.&lt;br /&gt;“Nggak Mas, semua sudah terjadi,” sahutnya.&lt;br /&gt;“Kamu mau lagi khan,” godaku. Vivi tersenyum padaku, senyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira satu jam kami tertidur. Akupun terbangun dan bergegas ke kamar mandi membersihkan badan. Mengingat kejadian tadi, bersetubuh dengan Vivi, membuat nafsu birahiku bangkit lagi. penisku yang tadi telah layu, kini tegang dan mengeras. Setelah mengelap tubuhku dengan handuk akupun bergegas ke kamar, dimana Vivi sedang tertidur pulas. Dan ia terbangun ketika aku lagi asyik menjilati lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh… Mas… Apa yang kamu lakukan,” tanyanya.&lt;br /&gt;“Aku pingin setubuhi kamu lagi sayang,” sahutku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vivi membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku lebih leluasa menjilati vaginanya. Beberapa menit berlalu kusuruh dia menungging. Aku mengambil posisi dibelakangnya. Dari belakang, aku menjilati lubang anusnya, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku. Sedikit demi sedikit penisku masuk ke lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam penisku memasukinya, sampai seluruhnya amblas, tertelan lubang vaginanya. Akupun mendorong pantatku maju mundur, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh… Nikk… Matt… Mas… Enakk,” jeritnya tertahan. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kutarik penisku dari lubang vaginanya hingga terlepas. Kemudian kugenggam penisku dan kuarahkan ke lubang anusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan, Mass sakitt, ja… “jeritnya sambil meringis. Belum habis dia bicara, kudorong pantatku dengan keras. Dan Bless! Seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kukocok lubang anusnya dengan irama pelan semakin lama semakin cepat, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Dan Vivipun merasakan sensasi yang luar biasa dikedua lubangnya. Jeritan-jeritannya berganti dengan desahan-desahan nikmat penuh nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bersemangat mendorong-dorong pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Sepuluh menit kemudian penisku menyemburkan sperma didalam anusnya. Dan tak lama berselang Vivi menyusul, tubuhnya mengejang hebat. Kemudian Vivi terkulai lemas dan tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian berdiri dan mengenakan celanaku. Saat aku akan mengambil handuk ke dalam almari, tanpa sengaja aku menoleh keluar jendela. Samar-samar aku melihat sesosok bayangan wanita yang sedang berdiri dibalik jendela kamar. Rupanya orang itu sedang mengitip aku dan Vivi yang sedang bersetubuh dari balik korden yang lupa aku tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku keluar mencarinya, wanita itu bergegas pergi. Aku membuntuti wanita itu. Melihat potongan tubuhnya dari belakang aku yakin kalau wanita itu adalah Tante Yeni, ibu kostnya Vivi. Dan aku keyakinanku semakin kuat, saat wanita itu masuk kekamar tidur Tante Yeni dan langsung menutup pintu. Aku berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengintip dari lubang kunci. Dan memang benar, wanita yang tadi mengintipku adalah Tante Yeni. Sampai didalam kamar Tante Yeni melepaskan seluruh pakaiannya. Aku terkesima melihat tubuh Tante Yeni yang putih mulus dan sexy, meski sudah berumur sebaya ibuku. Membuat jantungku berdetak kencang. Nafsu birahiku yang baru saja tersalurkan bersama Vivi, perlahan-lahan bangkit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan selanjutnya lebih seru lagi. Tante Yeni merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kaki terbuka lebar-lebar, memperlihatkan indahnya bentuk vaginanya. Tante Yeni meremas-remas buah dadanya sendiri dengan tangan kirinya. Perlahan buah dadanya mulai mengeras. Sedangkan tangan kanannya meraba-raba selangkangannya. Desahan-desahan nikmat keluar dari bibirnya, membuatku semakin tak tahan. Batang kemaluanku sudah berdiri tegak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat hati-hati, aku membuka pintu kamarnya. Dan ternyata tidak terkunci. Sambil melepaskan celanaku, aku berjalan mengendap-endap mendekatinya. Tante Yeni yang sedang asyik meraba-raba tubuhnya sendiri, tidak tahu kalau aku masuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menindihnya. Tante Yeni sangat terkejut melihat kehadiranku. Aku segera menyumpal mulutnya yang sedang Terbuka saat dia hendak berteriak dengan mulutku. Dan aku langsung melumatnya. Tante Yeni yang sedang dirasuki nafsu birahi, membalas lumatanku dengan pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama aku melumat bibirnya, kemudian aku menjilati lehernya, terus turun ke buah dadanya yang sudah mengeras. Kedua buah dadanya aku jilati secara bergantian, membuat desahannya semakin keras. Aku menyudahi jilatanku pada kedua buah dadanya, kemudia aku berlutut ditepi ranjang, diantara kedua kakinya. Tanganku yang nakal mulai meraba-raba bibir vaginanya yang dicukur bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berfikir lama, aku menjulurkan lidahku, menjilati, menghisap dan sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vagina Tante Yeni dan lidahku menari-nari di dalam lubang vaginanya. Tante Yeni mengangkat-angkat pantatnya, menyambut jilatanku. Rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya setiap kali lidahku menghujam lubang vaginanya. Disaat dia sedang menikmati jilatanku, aku memasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya. Sambil sesekali aku menjilati lubang anusnya. Tante Yeni sangat menikmati perlakuanku, dia menekan kepalaku dan membenamkannya diselangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit berlalu, aku menyudahi jilatanku. Aku kemudian berdiri, sambil menarik pinggulnya ketepi ranjang, kedua kakinya kubuka lebar-lebar. Tanpa membuang waktu lagi, batang kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung kuhujamkan ke lubang vaginanya. Tante Yeni menjerit saat batang kemaluanku yang besar dan panjang menerobos masuk ke lubang vaginanya. Aku merasakan jepitan bibir vaginanya yang begitu seret. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Tante Yeni sangat menikmati setiap gerakkan pantatku, dia menggeliat dan mendesah disetiap gerakan kemaluanku keluar masuk dari lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin mempercepat memaju mundurkan pantatku saat Tante Yeni memperlihatkan tanda-tanda orang yang mau orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohh.., Don.., akuu.., mau.., keluarr,” jeritnya cukup keras. Tante Yeni menggelinjang hebat, kedua pahanya menjepit pinggangku. Rintihan panjang keluar dari mulutnya saat klitorisnya memuntahkan cairan kenikmatan. Aku merasakan cairan hangat yang meleleh disepanjang batang kemaluanku. Aku membiarkan Tante Yeni beristirahat sambil menikmati orgasmenya. Setelah Tante Yeni berhasil menguasai dirinya, tanpa membuang waktu lagi aku membalikkan tubuhnya dalam posisi menungging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku menciumi pantatnya. Tante Yeni mengeliat menahan geli saat lidahku menelusuri vagina dan anusnya. Kemudian aku meludahi lubang anusnya beberapa kali. Setelah kurasakan daerah itu benar-benar licin, aku membimbing batang kemaluanku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku membuka lubang anusnya. Tante tak bereaksi apa-apa dan membiarkan saja apa yang kulakukan. Perlahan kudorong pantatku. Tante Yeni merintih sambil menggigit bibirnya menahan rasa perih akibat tusukan kemaluanku pada lubang anusnya yang sempit. Setelah beberapa kali mendorong dan menarik akhirnya seluruh batang kemaluanku masuk ke lubang anusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati jepitan lubang anusnya, aku mendiamkan sebentar batang kemaluanku disana untuk beradaptasi. Tante Yeni menjerit saat aku mulai menghujamkan kemaluanku. Tubuhnya terhentak-hentak ketika sodokkanku bertambah kencang dan kasar. Sambil terus meningkatkan irama sodokkan, tanganku dengan kasar mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Akibat menahan sensasi nikmat ditengah-tengah rasa ngilu dan perih pada kedua lubang bawah tubuhnya, Tante Yeni sampai menangis. Setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke lubang anusnya, dia mengaduh namun dia tak mau aku menyudahinya. Sampai akhirnya kurasakan suatu perasaan yang sangat nikmat mengaliri sekujur tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerang panjang, saat mengalami orgasme yang pertama. Tanganku mencengkeram keras pantatnya. Aku menumpahkan seluruh spermaku didalam lubang anusnya. Tubuhku menegang beberapa saat, kemudian terkulai lemas. Tak lama kemudian Tante Yeni menyusul, dia mengeram sambil tangannya mencengkeram bantal kuat-kuat. Cairan hangat dan kental meleleh dari lubang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nafas yang masih memburu dan tubuh yang masih lemas, Tante Yeni bangkit kemudian duduk ditepi ranjang. Dia meraih batang kemaluanku lalu memasukkan ke mulutnya. Tante Yeni menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan dibatang kemaluanku sampai bersih tanpa tersisa setetespun. Tante Yeni tersenyum puas merasakan nikmat yang sudah cukup lama tidak dirasakannya, sejak dia bercerai dengan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa malu-malu dia meminta aku agar menyutubuhinya lagi. Aku menuruti permintaannya, kami bersetubuh sampai pagi. Sampai kami benar-benar kelelahan. Pagi-pagi sekali aku meninggalkan Tante Yeni yang masih tidur tanpa busana dan masuk kekamar Vivi. Dimana Vivi juga sedang tidur pulas. Aku mengenakan seluruh pakaianku, kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkan kenangan-kenangan nikmat untuk mereka berdua. Sekali waktu aku mengunjungi Tante Yeni dan Vivi untuk menikmati lagi tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-198489518501847797?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/198489518501847797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=198489518501847797' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/198489518501847797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/198489518501847797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/ini-adalah-pengalamnku.html' title='Ini Adalah Pengalamnku'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-2375432523296159723</id><published>2008-02-02T13:27:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:28:28.165+07:00</updated><title type='text'>Desahan Tante Ida</title><content type='html'>Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun. &lt;br /&gt;Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar," pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anton.. apa yang kamu lakukan!!" teriak sebuah suara yang aku kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooooohh... Tante...?!" aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eeeehhhh... ppppffffff...!!! badan tante Ida seketika&lt;br /&gt;mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia&lt;br /&gt;sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai&lt;br /&gt;memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu...!!! Cepat lepas... nanti kulaporkan kau ke om mu..." teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tooonnnn... aaammmpuunn... Toonnnnn... iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghh&lt;br /&gt;hhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!” akibat perlakuanku itu,&lt;br /&gt;kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang&lt;br /&gt;mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin&lt;br /&gt;memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan&lt;br /&gt;kuat dan……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa&lt;br /&gt;angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt..Tooo nnn…&lt;br /&gt;oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!”&lt;br /&gt;akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat,&lt;br /&gt;serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan&lt;br /&gt;tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk&lt;br /&gt;tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri&lt;br /&gt;sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!” sahutku mencari-cari&lt;br /&gt;alasan sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih&lt;br /&gt;menggenggam penisku katanya lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai&lt;br /&gt;segede ini..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!" memang penis ku panjangnya 20&lt;br /&gt;cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi&lt;br /&gt;sangat bernafsu begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai&lt;br /&gt;memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan&lt;br /&gt;tante Ida tak mau lepas dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar&lt;br /&gt;enaaakkk….!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!", perlahan-lahan kedua&lt;br /&gt;tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan&lt;br /&gt;sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua&lt;br /&gt;tangannya segera menggenggam penisku dan kemudian tante Ida mulai&lt;br /&gt;menjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku&lt;br /&gt;menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang&lt;br /&gt;kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang&lt;br /&gt;terlewat dari sapuan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk.&lt;br /&gt;Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan&lt;br /&gt;dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi&lt;br /&gt;sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida&lt;br /&gt;mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin&lt;br /&gt;mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.&lt;br /&gt;Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo&lt;br /&gt;keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu&lt;br /&gt;menyembur dari ujung penisku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya&lt;br /&gt;semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar&lt;br /&gt;tetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi.&lt;br /&gt;Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya&lt;br /&gt;hingga bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur,&lt;br /&gt;sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti&lt;br /&gt;rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas&lt;br /&gt;tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam&lt;br /&gt;keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan&lt;br /&gt;yang sayu dan terlihat pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan&lt;br /&gt;aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar&lt;br /&gt;kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya,&lt;br /&gt;sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina&lt;br /&gt;tante Ida, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan&lt;br /&gt;ku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan&lt;br /&gt;diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala&lt;br /&gt;penisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang&lt;br /&gt;kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku,&lt;br /&gt;kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooooohhhhhh... Toooonnnn... bee.. beeeesaaarrrr&lt;br /&gt;aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan... pee laaan... Tooooonnnnn... ooooohhhhh..!!!!!" tante Ida merintih perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam... terus... terus.... ooohhhhhh... eeeenna aaak... benaaarrrr... terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku&lt;br /&gt;terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus……&lt;br /&gt;terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala penisku terasa mentok,&lt;br /&gt;karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba&lt;br /&gt;menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya&lt;br /&gt;memompa keluar masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun&lt;br /&gt;yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan&lt;br /&gt;sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida&lt;br /&gt;terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam&lt;br /&gt;dasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara tante Ida&lt;br /&gt;bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku&lt;br /&gt;dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot&lt;br /&gt;penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit penisku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg..&lt;br /&gt;hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee…&lt;br /&gt;keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang&lt;br /&gt;ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan&lt;br /&gt;ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot&lt;br /&gt;penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang&lt;br /&gt;berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya&lt;br /&gt;selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan&lt;br /&gt;tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku.&lt;br /&gt;"Aaaaaauuddddduuhhhh... taaannnnnn... teeeee... oooooohhhhh…..!!!!" keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan&lt;br /&gt;…croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat,&lt;br /&gt;mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian&lt;br /&gt;badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara&lt;br /&gt;kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan&lt;br /&gt;sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja&lt;br /&gt;berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!" kataku dengan manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya.. siiihhh….!!!!!" kata tante Ida malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-2375432523296159723?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/2375432523296159723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=2375432523296159723' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/2375432523296159723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/2375432523296159723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/desahan-tante-ida.html' title='Desahan Tante Ida'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-1683373266903718683</id><published>2008-02-02T13:26:00.001+07:00</published><updated>2008-02-02T13:26:55.777+07:00</updated><title type='text'>Nikmatnya Penis Orang Arab</title><content type='html'>Aku sudah punya suami tapi tidak puas dalam hubungan seksual. Karena barang suamiku kecil dan pendek. Selain itu kalau main sebentar. Aku sering membayangkan kalau sekiranya disetubuhi oleh laki-laki yang barangnya gede, tentu nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya suka cerita pada saya bahwa suaminya kuat sekali dalam seks. Kebetulan suaminya orang Arab. Katanya, kalau main ia kerasa nyilu dan kesemutan di vaginanya. Sejak itu aku sering membayangkan suami temanku. Karena orangnya tinggi besar, dadanya berbulu tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari aku main ke rumah temanku itu. Katakan saja namanya Linda, dan nama suaminya Mansur. Pak Mansur buka pijat refleksi. Selain itu ia suka olah raga. Ketika aku sampai di rumahnya ia sedang berolah raga. Dan aku ngobrol dengan Linda sahabat karibku. Aku datang ingin membuktikan cerita Linda, apa benar barang suaminya gede. Tak lama kemudian, ia datang dengan memakai celana olah raga yang cukup tipis. Ia duduk di depanku. Sambil aku minum teh aku ngelirik sedikit ke bagian selangkangannya, tapi karena ada Linda aku tak lama-lama ngeliriknya. Tidak lama Linda pergi untuk menyiapkan sarapan pagi. Tinggallah aku berdua dengan suaminya ngobrol. Kesempatan aku untuk melirik agak lama. Astaga, beneran omongan Linda, nampak menonjol di celananya tonjolan besar dan panjang. Aku berkata dalam hatiku, bagaimana kalau itu ngaceng dan telanjang. Pantesan kalau Linda main, katanya, sampai sambat-sambat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu aku suka membayangkan penis suami teman saya yang Arab itu. Setiap aku main sama suamiku aku membayangkan barang pak Mansur yang besar dan panjang itu. Karena barangnya suami tidak keras secara maksimal aku menyarankan diurut refleksi oleh Pak Mansur. Suamiku sangat setuju, ia minta di datangkan ke rumah. Suami kenal baik dengan Pak Mansur. Kemudian mulai suaminya saya diurut oleh Pak Mansur kira-kira jam 8 malam. Aku berada di sebelah suamiku yang sedang diurut itu. Kesempatan bagiku untuk melihat benjolan di selangkangan Pak Mansur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku cari alasan supaya aku diizinkan diurut oleh Pak Mansur. Dengan alasan yang tepat aku diizinkan. Setelah suamiku diurut giliran aku sekarang diurut. Karena suami tidak tahan, ia pergi mandi. Tinggallah sekarang aku berdua dengan Pak Mansur. Ia mulai ngurut dari betisku yang mulus. Aku bertanya dalam hati, apakah Pak Mansur tidak terangsang melihat betis dan pahaku yang mulus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mulai menyingkap rokku sehingga nampaklah padanya pahaku yang mulus. Ia berkata padaku, "Ibu harus sering diurut refleksi, seminggu sekali, karena ibu punya gejala darah tinggi. Tapi minggu depan kalau bisa jangan pakai rok, pakai sarung saja, supaya mudah ngurutnya di bagian ujung paha dan pinggulnya. Itu kalau suami ibu setuju."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suamiku pasti setuju, kalau memang itu bisa menyembuhkan, apalagi ia sudah percaya sama bapak," balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan suamiku ternyata mengizinkan apa yang disarankan oleh Pak Mansur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu depannya ia datang lagi, suamiku giliran pertama yang diurut. Setelah selesai baru sekarang giliran aku. Aku ganti pakaian dengan sarung, lalu tengkurep. Hatiku mulai dak-dik-duk tidak karuan. Ketika ia mengurut betis kiriku, kaki kananku kumasukkan pelan ke selangkangan Pak Mansur sambil kugerak-gerakkan pelan-pelan. Terasa barang Pak Mansur bergerak-gerak mulai ngaceng. Terasa benar di kakiku kalau barang Pak Mansur besar sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian suamiku pamit ke Pak Mansur untuk keluar beli rokok karena rokoknya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Mansur menjawab "Ya, Pak". Ucapannya yang halus dan lembut membuat suamiku tambah percaya. Pak Mansur mulai berani menyingkap sarungku sampai ke pangkal paha. Ia mengurutku sampai ke pangkal paha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh," kataku ketika jari-jarinya mengenai bibir vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sakit bu?" tanya Pak Mansur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak," sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah ia mengurut agak berani di bagian pangkal pahaku sambil mengelus-ngelusnya, dan aku semakin tidak tidak tahan, dan mulai terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Mansur paham dengan suara rangsanganku. Ia menyuruhku berbalik telentang sehingga ia dapat melihat pemandangan yang menggairahkan. Ia menyingkap lagi sarung sampai ke pangkal paha sampai kelihatan CD-ku. Ia mulai menggerak-gerakkan jarinya ke bibir vaginaku. Aku semakin tidak tahan. Ia semakin memasukkan jarinya semakin dalam hingga mengenai lobang vaginaku dan mendorongnya pelan-pelan, tapi tidak berhasil, karena lobang vaginaku peret. Ia menyopotnya dan memasukkan ke mulutnya sambil diludahi kemudian ia masukkan kembali. Kini baru jari Pak Mansur masuk le lobang vaginaku. Aku menggelinjang kenikmatan. Sayang sekali kenikmatan itu terhenti, karena suamiku datang dari membeli rokok. Walaupun demikian, sebelum suamiku tiba di kamar, kami berdua saling menatap dalam-dalam sambil saling tersenyum. Sekarang kami berdua sudah saling mengerti keinginan masing-masing dan tak malu-malu lagi. Tinggal menunggu kesempatan lain yang lebih baik saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mingggu depannya Pak Mansur datang lagi. Kemudian mengurut suamiku. Tidak lama kemudian telepon berdering, aku yang menerimanya. Teman bisnis suamiku minta agar suamiku datang ke rumahnya untuk membicarakan bisnis yang sangat penting dan menguntungkan. Aku sampaikan hal itu pada suamiku. Ia bilang bahwa ia akan datang setelah diurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati dak-dik-duk, apakah suamiku mengizinkanku diurut tanpa ada dia karena akan pergi ke rumah rekan bisnisnya yang cukup jauh dari rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah suamiku selesai diurut, aku bertanya, "Pak, bagaimana kalau aku tidak usah diurut saja, ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa, diurut saja, aku sudah percaya, kok sama Pak Mansur. Ia orangnya baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mandi suamiku berangkat menuju ke rumah rekannya. Tinggallah aku berduaan dengan Pak Mansur malam-malam sekitar setengah sepuluh. Hatiku dak-dik-duk, aku akan merasakan penis orang Arab malam ini, kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tengkurep. Pak Mansur langsung menyingkap sarung sampai ke pangkal pahaku. Rupanya ia sudah tidak tahan ingin merasakan lobang vaginaku yang kecil. Aku orangnya ramping, tinggi 155 cm. Seangkan Pak Mansur tinggi besar, dan dadanya berbulu tebal. Ia langsung menyingkap CD-ku dan memainkan bibir vaginaku, kemudian CD-ku dipelorotin. Sekarang nampaklah vaginaku, ia meludahi lobang vaginaku dicampur dengan minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, sekarang aku benar-benar tidak tahan, ingin segera dimasuki barangnya. Ia membuka sarungku, BH-ku dan kausku. Kini aku telanjang bulat. Dan ia mulai membuka celananya, kaos. Aku melirik ingin tahu seperti apa barangnya. Begitu ia membuka celana dalamnya, astaga... penis Pak Mansur benar-benar besar dan panjang, ngaceng tegak, seperti barangnya kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku takut bercampur ingin merasakan. Aku takut robek, dan jebol lobang rahimku, bercampur ingin merasakan puncak kenikmatan. Ia mulai mengangkangkan lebar-lebar pahaku. Ia mengarahkan penisnya yang besar, panjang dan keras ke lobang vaginaku. Ia menekankan barangnya. Aku berteriak kecil, "Aduuuh... sakit, Pak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ditahan, Bu. Nanti akan hilang rasa sakitnya berganti kenikmatan yang luar biasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penis Pak Mansur kurang lebih panjangnya 20 cm dan ukurannya besar sekali, seperti barangnya kuda. Ia menekan barangnya sampai tiga kali tapi tidak bisa masuk juga, saking besarnya. Ia sudah tidak tahan, nafsunya membara. Ia meludahi lobang vaginaku banyak sekali sampai meleleh ke pantatku, dicampur dengan minyak. Barang Pak Mansur pun dilumati minyak dicampur ludah biar licin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mengarahkan kembali penisnya ke lobang vaginaku dan menekannya. Aku berteriak sambil menggigit bibirku. Tapi Pak Mansur semakin keras menekannya. Setelah bersusah payah, akhirnya penisnya berhasil masuk juga. Ia menancapkan semuanya. Ia menindihku sampil menciumi dan mengecup bibirku dengan gagar. Ia mulai menggenjotku dengan ganasnya. Sampai terdengar bunyi dari lobang vaginaku... Cprot... Cprot... Sambil memelukku gemes bercampur ganar. Tubuhku yang ramping ditekuk-tekuk sambil digenjot. Sekarang aku mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ia mengenjot lobang vaginaku lama sekali. Aku disetubuhi 3 ronde sampai terasa lemas seluruh tubuhku. Aku melihat sudah jam 1 malam. Berarti kami telah bermain selama 3 jam setengah. Waduuh... nikmatnya luar biasa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, kami tak bisa melanjutkannya semalam suntuk. Kami harus segera berbenah supaya tak kepergok suamiku yang sebentar lagi akan kembali. Tapi aku puas sekali dengan persetubuhan kami malam ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-1683373266903718683?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/1683373266903718683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=1683373266903718683' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/1683373266903718683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/1683373266903718683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/nikmatnya-penis-orang-arab.html' title='Nikmatnya Penis Orang Arab'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-4004545483452011970</id><published>2008-02-02T13:25:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:26:07.349+07:00</updated><title type='text'>Nursalam Yang Enak</title><content type='html'>Namaku Wak Kadir umur 58 tahun. Aku amat menyukai wanita yang bertubuh berisi atau gendut. Aku amat menyukai wanita yang tak menjaga kebersihannya terutama bagian kemaluannya. Didesaku aku menuntut ilmu hitam yaitu ilmu santet saat itulah banyak wanita atau isteri orang sudah aku setubuhi dan meminum air kencingnya untuk menguatkan ilmuku. Kini aku berkerja sebagai pembersih rumah di Brunei nama majikanku Norsalam usianya sudah lewat 40an, Norsalam orangnya cantik berkulit kuning langsat, buah dadanya besar, tubuhnya berisi dan rendah. Perutnya membuncit. Lembik berlemak dan saat Norsalam duduk lipatan lemak perutnya gelebeh mungkin sebab sudah punya empat orang anak itu lho aku pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar enam bulan tinggal dirumahnya pikiran kotorku mula menguasai diriku aku amat pingin menyetubuhinya. Suami Norsalam pula dihantar kursus ke luar negara selama beberapa tahun jadi cuman Norsalam aja tinggal keseorangan bersamaku dirumah, anak-anaknya pula jarang ada dirumah. Norsalam yang sering mengenakan busana panjang membuatku amat susah melihat bentuk tubuhnya mungkin Norsalam agak malu dengan lemak-lemak disekitar tubuhnya. Malam itu Norsalam masih belum pulang dari kerjanya. Aku yang keseorangan, pikiran setanku pingin mencari celana dalam kotor milik Norsalam lantas aku memasuki kekamar tidurnya didalam kamar tidurnya ada kamar mandi. Kamar mandi Norsalam tak begitu luas. Disana-sini nampak bergantungan baju atau celana kotor milik Norsalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah aku melihat ada celana dalam wanita. Tak salah lagi, pasti ini adalah celana dalam milik Norsalam karena size-nya besar, XXL. Siapa lagi?! Perempuan yang berbadan gendut dirumah ini kan hanya Norsalam. Darahku tiba-tiba berdesir. Meyakini bahwa itu adalah celana dalam Norsalam membuat nafsu setanku bangkit. Kenapa celana dalam kumal ini jadi begitu nampak indah di mataku. Kudekatkan wajahku ke arahnya. Lihatlah, bukankah celana ini putih dan sekarang tidak begitu putih lagi. Pinggirannya nampak kekuning-kuningan, mungkin sebab keringat selangkangan Norsalam. Kemudian kulihat bagian bawah bertepatan dengan vaginanya, warnanya semakin kuning pekat penuh dengan lendir-lendir putih kental. Mungkin itu adalah sisa-sisa air kencing campur lendir keputihan Norsalam yang tertinggal. Ah... hidungku kepingin tahu bau celana dalam milik Norsalam ini sebelumnya telah menutupi bagian milik Norsalam yang paling rahasia. Tanpa ragu kudekatkan celana dalam Norsalam itu kehidungku. Aku segera menangkap baunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oohh..sepertinya aku dibawa melayang. Bau pesing kencing dan asem lendir Norsalam membuatku terasa terbang. Tiba-tiba aku kedengaran bunyi ketukan pintu dan ini pasti Norsalam sudah pulang lekas-lekas ku gantungkan semula celana dalam itu selepas ku buka pintu dengan tergesa-gesa kulihat Norsalam menuju kekamar mandi lalu tak lama berselang suara pancaran air yang menyemprot kencang dari kamar mandi. Maka seiring dengan rasa ingin tahu yang muncul kembali tiba-tiba, aku segera mencari celah di dinding agar bisa aku mengintipnya. Ah, ternyata Norsalam tengah kencing sambil berjongkok. Mungkin ia sangat kebelet kencing hingga semprotan air kencingnya yang keluar dari memeknya menimbulkan suara yang berdesir sampai ketelingaku.&lt;br /&gt;Aku jadi tersenyum simpul melihat kenyataan itu. Aku melanjutkan terus mengintip kulihat pantat besar Norsalam yang membulat, posisi jongkok Norsalam memang membelakangiku. Sayangnya aku tidak dapat melihat keindahan memeknya namun karena Norsalam menarik tinggi-tinggi kain yang dikenakannya, aku dapat melihat pantat dan pinggulnya. Ah, Norsalam ini ternyata belum banyak kehilangan daya pikatnya sebagai wanita walaupun sudah bergelar ibu pada empat orang anaknya. Belum habis air kencingnya keluar, masih ada yang keluar sedikit, Norsalam terus bangun. Aku jadi kaget lantas aku bergegas pergi masuk ke kamarku takut-takut ketahuan oleh Norsalam yang aku ngintipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam dua belas malam aku ke kamar mandi karena aku pingin mengambil celana dalam kotor milik Norsalam yang tadi selepasnya kencing kalau-kalau ada digantungnya ternyata ngak ada celana dalamnya disitu. Aku yang hampa terus menuju ke ruang tamu. Namun yang kutemukan di ruang tamu membuatku terpana, televisi 14 inch yang masih menyala dan tengah menyiarkan satu acara dan disetel dengan volume cukup keras. Namun satu-satunya penonton yang ada, yaitu Norsalam, tampak tertidur pulas keletihan karena Norsalam masih berpakaian tadi berbaju kurung dan tudungnya yang masih dikepalanya. Norsalam tidur dengan menyelonjorkan kaki di sofa, sementara kain yang dikenakannya tersingkap cukup lebar hingga kedua kaki sampai ke pahanya nampak menyembul terbuka, inilah kesempatanku, sayang kalau pemandangan yang mengairahkan tidak kulihat. Ketika aku mendekat, Norsalam menggeliat dan posisi kakinya kian terbuka hingga mengundangku untuk melihatnya lebih dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjongkok di antara kedua kakinya. Kini bukan hanya paha mulusnya yang dapat kunikmati aku juga dapat melihat bagian milik Norsalam yang paling rahasia karena Norsalam tidak mengenakan celana dalam. Kemaluannya tidak berbulu aroma bau memek Norsalam asem dan pesing kencingnya kuat menusuk hidungku, bibir kemaluannya sudah agak menggelambir terlihat coklat kehitaman dan nampak berkerut. Pertanda kemaluan Norsalam sering diterobos alat kejantanan pria. Sementara di celahnya, di bagian atas, tampak kelentit Norsalam yang sebesar biji jagung terlihat mencuat. Sementara kontolku langsung menegang. Aku mengulurkan tanganku untuk mengusap memeknya untuk merasakan lembutnya dan ingin merasakan hangatnya celah lubang memek Norsalam. Maka ketika aku mulai mengusap-usap, Norsalam mengelinjang. Kakinya dibukanya lebar-lebar memberi keleluasan padaku untuk melakukan segala yang aku inginkan. Mungkin Norsalam lagi bermimpi sedang bersetubuh dengan suaminya. Ketika jari telunjukku mulai menerobos kecelahnya. Lubang vaginanya ternyata tak cuma hangat. Tetapi telah basah oleh cairannya. Aku semakin bernafsu untuk menngocoknya hingga lubang vagina Norsalam kian basah akibat banyak cairannya yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Norsalam terjaga dari tidurnya mata Norsalam membelalak besar melihatku. Inilah kesempatan ku memukau Norsalam lantas aku mula memukau Norsalam dengan merenung kedua matanya, mata kami bertentangan sambil mulutku membaca jampi setelah dalam beberapa saat Norsalam semakin gelisah dan akhirnya Norsalam akur tunduk padaku. Norsalam yang hanya kupukau separuh sedar akan lemah apabila matanya ku tenung. Norsalam yang masih bertudung dan berbaju kurung mula kuhampiri dengan kasar ku tarik tudung dikepalanya dan terurailah rambut Norsalam yang panjang paras bahu.&lt;br /&gt;"Dasar kurang ajar!! Pergi!!", hardik Norsalam.&lt;br /&gt;"Kan cuma kita berdua.. aku menginginkan mu", sahutku dengan bernafsu sambil merangkul Norsalam dari belakang.&lt;br /&gt;"Menginginkan apa?!", Norsalam agak berteriak sambil berusaha melepaskan pelukanku.&lt;br /&gt;"Aku ingin menyetubuhi mu Norsalam..", aku berkata sambil mengusap-usap perut Norsalam dari belakang.&lt;br /&gt;"Jangan Wak..aku ini isteri orang..", Norsalam berusaha untuk mengingatkanku.&lt;br /&gt;"Justru aku lebih suka", sahutku lantas mengeluarkan kontolku yang sudah berdiri keras. Tangan kiriku merangkul Norsalam dari belakang, tangan kananku berusaha menyingkap kain yang dipakai Norsalam setelah tersingkap keatas. Tanganku meraba-raba memek Norsalam. Aku berusaha memasukkan jariku kedalam lubang kenikmatan Norsalam.&lt;br /&gt;"Wak..To..long..hentika..ka..ka..kaannn", Norsalam berusaha mengingatkan ku lagi.&lt;br /&gt;"Ahhh..Jangan..Wak...lepaskan....", tambahnya lagi.&lt;br /&gt;"Cepatt! Norsalam tanggalkan semua pakaianmu!" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Norsalam akur perintahku Norsalam melepas satu persatu pakaiannya. Tampaklah buah dadanya yang dibungkus oleh baju dalamnya berwarna putih.&lt;br /&gt;"Cepat lepas baju dalammu Norsalam! Aku ingin menyetubuhimu", bentak ku lagi.&lt;br /&gt;Tumpahlah buah dada Norsalam yang sedikit kendur tetapi mengairahkanku, puting susunya yang coklat kehitam-hitaman tampak menantang sekali. Lalu aku berkata padanya, "Norsalam aku menginginkan kehormatanmu sebagai wanita hilang sama sekali malam ini!".&lt;br /&gt;Kemudian aku arahkan Norsalam duduk di kerusi dan aku mengangkangi lebar kedua kaki Norsalam sehingga tampaklah lubang memek Norsalam. aku mulai menyetubuhi Norsalam. Dengan posisi duduk ku enjot pelan lalu mulai cepat, karena nafsuku memang sudah naik keubun-ubun Ketika aku mulai mempercepat genjotannya tampaknya Norsalam juga sudah mulai keenakkan. Buah dada Norsalam tergoncang-goncang kesana-kemari, kepala Norsalam bergoyang menahan birahi yang semakin meninggi.&lt;br /&gt;"Akhh.." erangan suaraku sangat berat melepaskan air maniku ke liang vagina Norsalam.&lt;br /&gt;"Cabuutt...Jang..ann..keluuuarrkann...di..da...lam", kata Norsalam disaat air maniku muncrat didalam rahimnya tetapi sudah tidak ku perdulikan lagi. Air maniku menembaki dinding rahimnya yang membuat banjir liang vagina Norsalam. Tubuh kami berdua melepas dan membiarkan batang kontolku tetap terbenam didalam liang vaginanya. Beberapa saat kemudian kucabut kontolku dari dalam vaginanya.&lt;br /&gt;"Plop!", terdengar suara dari lubang vaginanya manakala kontolku tercabut. Segera kukenakan pakaianku. Sesaat kutatap tubuh telanjang Norsalam. Aku pun berlalu meninggalkan ruang tamu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-4004545483452011970?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/4004545483452011970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=4004545483452011970' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/4004545483452011970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/4004545483452011970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/nursalam-yang-enak.html' title='Nursalam Yang Enak'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-7365378604146121561</id><published>2008-02-02T13:24:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:25:00.270+07:00</updated><title type='text'>Mak Odah</title><content type='html'>Cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu dimana saat itu aku baru saja menyelesaikan kuliahku. Sambil menunggu panggilan dari berkas-berkas lamaran pekerjaan yang telah ku kirim ke beberapa perusahaan, aku memilih untuk pulang ke desa.&lt;br /&gt;Kecuali hari raya, desaku relatif sepi dan tenang karena penduduknya lebih banyak yang bekerja di kota-kota besar termasuk semua saudaraku sehingga praktis di desa yang tinggal umumnya para orang tua saja. Di rumahku yang terbilang luas hanya tinggal Bapak, Ibu serta Nenekku, bahkan seringnya hanya dan Nenekku saja yang selalu ada karena Bapak bersama Ibuku seringnya pergi bersama untuk mengurus usaha dagangnya yang terkadang berhari-hari hingga kalau tidak ada aku otomatis Nenek sendirian di rumah, tetapi untungnya seperti lazimnya kehidupan di desa dimana biasanya satu keluarga besar tinggal berdekatan sehingga banyak saudara yang dengan senang hati menemani Nenek apabila Bapak dan Ibuku pergi meskipun aku ada di rumah, salah satunya adalah Mak Odah. Dalam silsilah keluarga Mak Odah ini pernahnya sepepu Nenekku, dia sudah seperti Nenek sendiri dalam keluargaku.&lt;br /&gt;Rumah Mak Odah yang berada persis di belakang rumahku sudah menjadi rumah kedua bagiku, aku sudah tidak canggung-canggung lagi memasuki rumahnya, tak jarang aku menginap disana setelah mengobrol dengan suaminya Nek Odah.&lt;br /&gt;Suaminya Mak Odah seorang aparat desa yang kerjanya mengurus air untuk pesawahan. Biasanya kalau aku datang kami asik mengobrol ngalor ngidul dan biasanya menjelang tengah malam dia beranjak keluar rumah untuk mengontrol pembagian air atau berkumpul bersama teman-temannya di balai desa hingga subuh, aku pun melanjutkan mengobrol dengan Mak Odah dan terus tidur di rumahnya, pagi-pagi setelah ngopi bersama suami Mak Odah aku pun kembali ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan ibu-ibu lain di desaku, Mak Odah sangat rajin bersih-bersih pekarangan. Di usia nya yang menjelang 50 tahun, Mak Odah begitu telaten merawat pekarangan rumahnya. Setiap sore Mak Odah selalu berada di halaman belakang, terbungkuk - bungkuk menyapu halaman atau mencabuti rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, kalau sedang ada di rumah, biasanya sepanjang sore kubahiskan waktu untuk duduk-duduk di gubuk di belakang rumah sambil terkadang memperhatikan Mak Odah yang berada tak jauh dariku. Terus terang, saya senang sekali mencuri-curi pandang pada gundukan payudaranya yang hampir menyembul dari belahan dasternya, pahanya yang sekali-sekali tersingkap jika Mak Odah menungging, atau memeknya yang membayang dari celana dalamnya yang jelas terlihat sewaktu Mak Odah berjongkok.&lt;br /&gt;Suatu saat, dengan tidak sengaja, Mak Odah membungkuk kearah ku, kedua belah payudaranya yang tanpa beha hampir seluruhnya keluar dari leher dasternya. Kedua putting payudaranya jelas-jelas terlihat. Mungkin karena gerah, Mak Odah tidak mengancingkan hampir separo kancing dasternya. Aku hanya bisa melongo, batang kontolku langsung ereksi, kalau nggak cepat ngacir, mungkin Mak Odah bisa melihat tonjolan batang kontolku di celanaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, aku benar benar ketiban rezeki. Nggak sengaja Mak Odah memberikan tontonan yang membuatku terangsang berat. Seperti biasa aku sedang duduk sambil bertelanjang, aku hanya memakai celana parasit pendek. Sambil mengembalikan kesadaranku, maklum habis tidur siang. Entah kenapa, mungkin karena keasyikan menyiangi rumput, Mak Odah nggak sengaja jongkok tepat di depan mataku hingga dengan jelas aku dapat melihat gundukan memeknya yang mulus tercukur.&lt;br /&gt;Ya ampun, mungkin Mak Odah lupa memakai celana dalam !!!. Kontan aku jadi terangsang luar biasa. Saking terpananya, hingga membuatku nggak peduli lagi sama batang kontolku yang udah keras menjulang dan tampak jelas menegang dari balik celanaku, dan aku baru sadar sewaktu Mak Odah tampak terbelalak melihat kontolku.&lt;br /&gt;Dengan wajah merah karena jengah, aku bangkit dan ngacir ke kamar mandi di belakang rumah yang berada tak jauh dari tempatku.&lt;br /&gt;Di dalam kamar mandi, langsung ku pelorotkan celanaku dan mulai mengocok kontolku, tapi tiba-tiba pintu kamar mandi yang lupa ku kunci terbuka, nampak Mak Odah berdiri di ambang pintu dengan tangan kanannya yang masih memegang sapu.&lt;br /&gt;Mak Odah menatap kontol ku yang tegang mengacung, kemudian menatap wajahku. Aku hanya bisa melongo, tanpa berusaha menghentikan kocokan ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun!”, hanya itu yang keluar dari mulut Mak Odah, entah apa yang dia maksudkan. Ku kocok sekali lagi kontolku, membiarkan Mak Odah melihat kedua tanganku yang menggenggam erat pangkal dan ujung kontolku yang mulai memerah. Ku kocok lebih cepat lagi hingga kedua biji kontolku bergerak ke sana ke mari seirama kocokan pada batang kontolku, sementara Mak Odah hanya terpana melihat apa yang sedang ku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak kusangka, Mak Odah ternyata beranjak masuk sambil menutup pintu kamar mandi di belakangnya. Mak Odah mendekatiku sambil mulai melepas satu persatu kancing dasternya dan kemudian melepaskannya, benar ternyata Mak Odah tidak memakai beha. Kedua bulatan tetek-nya benar-benar membuatku terangsang, walaupun sudah turun namun ukurannya besar.&lt;br /&gt;Beruntung saat itu suasana lagi sepi dan lagi bentuk kamar mandi yang berpintu 2 dengan tembok tengah sebagai penyekat setinggi 2 meter membuatku semakin berani, karena seandainya ada orang masuk ke kamar mandi yang sebelah pasti akan menyangka Mak Odah sendiri yang berada di dalamnya, dan kalau sudah selesai nanti aku dapat memanjat tembok penyekat dan keluar dari pintu sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergerak kedepan menyongsong Mak Odah, sambil tanganku berusaha menggapai salah satu bulatan payudaranya., sambil meremas-remas payudaranya ku peluk pinggang Mak Odah dengan mulutku yang terbuka dan lidahku menjulur keluar. Ujung lidahku akhirnya menyentuh pentil susu Mak Odah yang besar dan kecoklatan, kontolku serasa akan meledak, dengan tergesa-gesa, aku mengisapi dan meremas teteknya yang lain dengan tanganku.&lt;br /&gt;Mak Odah lalu menggenggam batang kontolku dan meremas ujung nya, lalu mengocoknya seperti yang kulakukan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di tengah keremangan gudang, tanpa banyak kata-kata, Mak Odah meraih tanganku dan menggosok-gosokan ke memeknya. Mak Odah semakin membuatku terangsang dengan belaian-belaian tanganku pada memek dan kedua buah payudaranya.Aku membungkuk ke depan dan mulai mengulum lagi tetek Mak Odah sementara tanganku yang lain meremas remas tetek yang lain membelai dan memencet pentilnya.&lt;br /&gt;Tangan Mak Odah yang sedang menggenggam batang kontolku lalu menariknya ke memeknya.&lt;br /&gt;Mak Odah melenguh ketika ujung kontolku menyentuh memeknya. Mak Odah kemudian duduk di bibir bak mandi sambil kemudian mengangkang-kan pahanya yang langsung kuhimpitkan badanku ke tubuh Mak Odah dengan wajahku ku susupkan dicelah kedua payudaranya.&lt;br /&gt;Tangan Mak Odah lagi lagi mencengkram pantatu dan kemudian menariknya hingga batang kontolku masuk ke dalam memeknya. Kemudian kudorong dengan pinggulku sampai setengahnya.&lt;br /&gt;“Sshh…egh..!” Mak Odah mendesis.&lt;br /&gt;Aku mulai memompa kontolku keluar dan masuk, mulutku tetap mengulum kedua teteknya bergantian. Semakin lama semakin cepat aku memompa, dan Mak Odah mulai ikut ikut menggoyangkan pinggulnya menyambut tusukkan-ku. Tubuh mak Odah terkadang menggelinjang dengan mulut yang mengerang lirih.&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian tubuh Mak Odah bergerak liar, desisannya terdengar tertahan. Batang Kontolku kemudian menjadi semakin basah saat cairan hangat dan kental keluar dari memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terus bertahan memompa, dan kemudian, sewaktu aku merasa akan keluar, kudekap pantat Mak Odah erat-erat dan ku benamkan batang kontolku sedalam dalamnya.&lt;br /&gt;Kontolku kemudian meledak, semprotan demi semprotan air mani keluar, jauh didalam memek Mak Odah. Separuh orgasme, kutarik keluar kontolku dan menyusupkannya di celah antara kedua payudara Mak Odah yang besar itu lalu kutekan kedua bulatan payudara Mak Odah agar menghimpit batang kontolku sambil menggosok-gosokannya terus sampai air maniku seluruhnya keluar membasahi dagu, leher dan dada Mak Odah, Mak Odah tampak tersenyum kapadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kukenakan celanaku, sambil tersenyum aku lalu memanjat dinding penyekat kamar mandi dan keluar dari pintu satunya. Sewaktu hendak memanjat kedua tanganku sempat meremas-remas kedua payudara Mak Odah yang di tanggapi Mak Odah dengan tertawa pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, kalau ada kesempatan, aku dan Mak Odah tak pernah berhenti untuk saling bergelut memuaskan gairah seks bahkan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-7365378604146121561?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/7365378604146121561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=7365378604146121561' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/7365378604146121561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/7365378604146121561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/mak-odah.html' title='Mak Odah'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-6958449858989195928</id><published>2008-02-02T13:23:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:24:07.402+07:00</updated><title type='text'>Bu Limah</title><content type='html'>Ceritanya terjadi saat aku masih kuliah di sebuah universitas di dekat kalimalang-Jakarta Timur. Aku menyewa kamar semi permanen yang setengahnya tembok dan setengahnya lagi kayu milik seorang Ibu bernama Halimah yang biasa di panggil Bu Limah. Kamarku terletak agak di belakang rumah bersebelahan dengan kamar mandi. Bagian Belakang rumah Bu Limah di batasi tembok tinggi yang di biarkan tanpa atap, di dalamnya di pergunakan Bu Limah untuk memelihara tanaman dan bunga-bungaan, disana juga tumbuh pohon belimbing yang rindang tempat ngadem dengan menggelar tikar. Kamarku berada persis di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah itu hanya ada 2 kamar kost yang kusewa bersama seorang cowok mahasiswa juga tapi sudah skripsi jadi jarang dirumah. Bu Limah, Ibu kostku ini adalah seorang janda beranak tiga, semua anaknya sudah kawin dan tidak tinggal serumah lagi dengan Bu Limah. Ibu kost ku ini sebenarnya udah cukup tua umurnya kira-kira 50 tahunan, namun menurutku, untuk wanita seusianya, tubuh Bu Limah masih terhitung bagus, meski agak gemuk namun tetap montok dengan bongkahan pantatnya yang bahenol dan buah dadanya yang besar. Rambutnya yang hitam panjang selalu di jepitnya di belakang kepalanya. Pembawaannya tenang dan ramah. Kalau sedang dirumah Bu Limah paling sering memakai daster sehingga bentuk tubuhnya menggodaku untuk selalu mencuri-curi pandang. Buah dadanya yang besar itu juga sering ku lihat terkadang tanpa di tutupi BH sehingga tampak menggantung bergoyang-goyang saat badannya menunduk membersihkan tanamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika itu aku masuk siang jadi agak santai. Setelah membeli koran aku kembali ke kamar untuk membacanya, pintu kamar kubiarkan saja terbuka. Beberapa saat kemudian kulihat ibu kost berjalan ke arah kamar mandi sambil membawa handuk, rupanya mau mandi. Dia berhenti sejenak di depan kamarku untuk menyapaku.&lt;br /&gt;''Kok belum berangkat? '' Sapanya .&lt;br /&gt;''Iya Bu, hari ini masuk siang''. Jawabku.&lt;br /&gt;''Wah enak dong bisa santai..,'' Kata Bu Limah lagi sambil tersenyum dan meneruskan langkahnya menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;Dari kamar mandi ku dengar Bu Limah bersenandung kecil di timpali bunyi air. Saat itu pikiranku jadi ngeres dengan membayangkan Bu Limah telanjang membuat kemaluanku mengeras dan timbul keinginanku untuk mengintipnya.&lt;br /&gt;Segera kututup pintu kamarku dan dengan berhati-hati ku cari celah sambungan papan antara kamarku dengan kamar mandi. dan ternyata ada sedikit lubang tipis yang karena cet nya sudah hancur, tempatnya tepat agak dibawah dekat bak mandi. Dengan hati berdegub keras, aku intip Bu Limah, tampak dia telanjang bulat, badannya masih montok untuk ukuran wanita seusia Bu Limah. Teteknya sudah agak turun tapi besar dan menantang, sedangkan kemaluannya ditutupi bulu cukup lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyabuni teteknya agak lama, dia permainkan putingnya dengan memilin-milinnya, sedang tangan yang satu lagi menyabuni memeknya, jari telunjuknya dimasukan berulang-ulang sedangkan matanya tampak terpejam-pejam mungkin sedang menikmati, gerakannya itu kulihat seperti layaknya orang bersenggama.&lt;br /&gt;Bu Limah lalu menghentikan kegiatannya lalu berjongkok persis menghadapku untuk mencuci BH dan celana dalamnya sehingga memeknya dengan jelas ku lihat membuat gairahku menyala-nyala. Ku keluarkan penisku yang sudah tegang berdiri, kumainkan dengan tanganku tak kuperdulikan lagi kemungkinan seandainya Bu Limah mengetahui apa yang aku lakukan. Semakin lama nafsu seks ku semakin tak terkendali kepalaku sudah tidak bisa berfikir jernih lagi, yang ada di kepalaku bagaimana caranya bisa menikmati tubuh Bu Limah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Limah pun akhirnya selesai mandi, setelah mengelap tubuhnya dengan handuk, dililitkannya handuk itu menutupi tubuhnya, sedangkan pakaiannya di masukannya ke dalam ember yang ada di dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;Aku pun segera bersiap-siap dengan rencanaku. pun keluar dari kamar mandi. Ketika Bu Limah melewati kamarku cepat ku buka pintu kamarku dan tanpa berkata-kata lagi kupeluk tubuh Bu Limah dari belakang sambil menarik handuk yang di pakai Bu Limah hingga ahirnya Bu Limah telanjang, tanganku ku remaskan ke buah dadanya.&lt;br /&gt;''Aw, aduh.., apa-apaan nih..,'' Pekik Bu Limah terkejut.&lt;br /&gt;''Aduh Dal, jangan Dal ah...,'' Bu Limah mencoba menghindar.&lt;br /&gt;Aku tetap tak perduli, tangan kanan ku malah ku arahkan ke memeknya, ku kobel-kobel dan kucolokan jariku masuk ke dalamnya sambil ku ciumi tengkuk dan leher belakang Bu Limah. Tubuh Bu Limah mencoba berontak agar lepas tapi aku tak memberikan kesempatan dengan semakin mempereret pelukanku.&lt;br /&gt;''Aduh.., dal ingat dal, ah.., Ibu sudah tua Dal. Lepasin Ibu Dal.'' Kata Bu Limah memohon.&lt;br /&gt;''Hhh.., Ibu masih seksi koq, buktinya saya nafsu sama Ibu. Udah deh mendingan ibu nikmatin aja lagian kan ibu sudah lama nggak beginian.'' Kataku memaksa.&lt;br /&gt;''Tapi Ibu malu Dal, nanti kalau ada orang yang tahu gimana...?'' Hiba Bu Limah.&lt;br /&gt;''Ya makanya, mending ibu nikmatin saja, kalau begitu kan orang nggak bakalan ada yang tahu.'' Tangkisku.&lt;br /&gt;Akhirnya Bu Limah pun terdiam, tubuhnya tidak berusaha memberontak lagi aku semakin leluasa menjelajahi semua bagian tubuh Bu Limah, kadang kuelus-elus terkadang kuremas-remas seperti pada pantatnya yang besar dan montok itu.&lt;br /&gt;Menyadari sudah tidak ada penolakan dari Bu Limah, aku semakin mengintensifkan gerakanku ke bagian-bagian tubuh Bu Limah yang dapat membuat gairah Bu Limah semakin tinggi agar tidak kehilangan momen.&lt;br /&gt;''Ahh.., ssshh..., aahh..., geli Dal, ahh..,'' Bu Limah mendesah-desah pelan pertanda nafsu seksnya sudah bangkit.&lt;br /&gt;Ku putar tubuhku menghadap Bu Limah, sambil tetap ku peluk, ku ciumi bibirnya, dan lidahku kumasukan ke dalam mulutnya. Bu Limah ternyata mulai mengimbangiku, di balasnya ciuman ku dengan ketat aku dan Bu Limah bergantian saling menghisap bibir dan lidah. Sambil begitu ku tuntun tangan Bu Limah ke kemaluanku dan ku selipkan tangannya ke dalam celana pendek training yang ku pakai. Tanpa ku minta Bu Limah menarik ke bawah celanaku hingga ******ku bebas mengacung. Digenggamnya kontoku, dengan jempolnya kepala penisku dielus-elusnya kemudian dikocoknya. Pelerku pun tak luput di jamahnya dengan meremasnya pelan, sesekali jarinya terasa menelusuri belahan pantatku melewati anus, sensasi seks yang ku rasakan benar-benar lain.&lt;br /&gt;Leher Bu Limah ganti ku ciumi lalu turun ke bagian dadanya. Buah dada Bu Limah yang besar itu kuciumi, kuremas-remas, kusedot-sedot dan ku jilati sepuasnya sedangkan pada putingnya selain ku pelintir-pelintir aku hisapi seperti bayi yang sedang menetek pada ibunya, yang ternyata membuat Bu Limah kian hot. Tangannya mengerumasi rambutku dan terkadang menekan kepalaku ke payudaranya. Desahanannya semakin sering terdengar.&lt;br /&gt;''Aduh.., ahh.., sshh.., terus dal, aahh..,''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi tubuh Bu Limah yang tetap berdiri, aku merendahkan badanku, kuarahkan mulutku ke selangkangannya, Bu Limah ternyata tau apa yang akan kulakukan, di renggangkannya kedua kakinya hingga sedikit mengangkang yang membuat ku lebih leluasa menciumi memeknya. Ku sibak bulu jembut di permukaan memeknya lalu ku dekatkan bibirku ke permukaan memeknya. Lidahku ku julurkan mengulas-ulas bibir memek Bu Limah, itilnya ku terkadang kujepit dengan bibirku sebelum kuhisap-hisap. Tak ketinggalan jariku ku colokan masuk ke dalam memek Bu Limah sambil ku pitar-putar. Apa yang ku lakukan itu membuat Bu Limah menggelinjang-gelinjang dengan mulut tak berhenti berdesah-desah kenikmatan.&lt;br /&gt;''Ahh.., aww.., yahhh.., sshh.., terus Dal, iyaahh..''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bernafsunya aku dan Bu Limah bercinta, hingga aku dan Bu Limah sudah tidak perduli lagi kalau waktu itu kami bergelut di udara terbuka di belakang rumah Bu Limah. Tapi akhirnya kekhawatiranku muncul juga. Ku hentikan sejenak aktifitasku.&lt;br /&gt;''Bu, sebentar yah, saya mau ngunci pintu dulu, takut ada yang datang.'' Kataku sambil berdiri.&lt;br /&gt;''Oh iya, untung kamu ingat, tapi cepet yah Dal, Ibu sudah nggak tahan nih,'' Jawab Bu Limah nakal. Aku hanya tersenyum, sambil berlalu kuremas dulu tetek Bu Limah.&lt;br /&gt;Sebenarnya jarak ke pintu hanya beberapa meter saja, berhubung aku dan Bu Limah sedang diliputi kenikmatan seks hingga tak mau kehilangan waktu meski sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengunci pintu aku kembali, ******ku terayun-ayun waktu berjalan karena celanaku sudah terlepas meskipun aku masih memakai kaos.&lt;br /&gt;''Kalau pintu depan dikunci nggak Bu?'' Tanyaku ketika sudah dekat Bu Limah.&lt;br /&gt;''Dikunci, dari pagi Ibu belum membukanya.'' Jawab Bu Limah sambil merengkuh tubuhku ke pelukannya.&lt;br /&gt;''Dal kita pindah ke kamar yuk!'' Pinta Bu Limah.&lt;br /&gt;''Disini aja deh bu, cari suasana lain, pasti Ibu belum pernah kan ngewe di sama bapak dulu di tempat terbuka seperti ini.''&lt;br /&gt;''Ah, kamu ini ada-ada saja.'' Elak Bu Limah sambil membuka kaosku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Bu Limah kembali berpagutan di atas kursi yang ku tari dari depan kamarku, tubuh Bu Limah ku pangku di atas pahaku, Bu Limah semakin aktif menciumi ku, pentilku pun di hisap dan di jilatinya sedangkan tanganku menggerayangi memeknya yang semakin basah.&lt;br /&gt;Bu Limah kemudian berdiri lalu berjongkok di hadapanku, di hadapkannya mukanya ke arah ******ku lalu lindahnya menjulur mengulas-ulas kepala ******ku beberapa saat kemudian di masukannya ******ku ke dalam mulutnya, di hisap-hisapnya dengan menggerakan kepalanya maju mundur, kemudian pelirku di hisapnya juga. Gerakan lidah Bu Limah benar-benar membuatku di penuhi kenikmatan.&lt;br /&gt;''Ahh, enak Bu..,'' Erangku penuh nafsu.&lt;br /&gt;Tanganku mempermainkan buah dadanya yang menggantung bergoyang-goyang, sesekali ku remas rambutnya dan ku tekan kepalanya agar semakin dalam mulutnya melahap ******ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Limah lalu menghentikan hisapannya pada ******ku.&lt;br /&gt;''Dal, ayo ******mu masukin, memek Ibu sudah kepengen banget di ewe.'' Pintanya sambil membaringkan tubuhnya di atas tikar dengan kedua kakinya dilebarkan memperlihatkan memeknya yang mumplu.&lt;br /&gt;Tanpa berkata lagi aku menyusul Bu Limah dan ku kangkangi tubuhnya dari atas. Bu Limah meraih ******ku lalu di arahkannya ke lubang memeknya. Setelah pas lalu ku tekan perlahan-lahan hingga ******ku masuk seluruhnya ke dalam memek Bu Limah lalu ku tarik dan ku masukan lagi dengan gerakan semakin cepat. Mulut Bu Limah terus berdesis-desis menahan nikmat. Tubuh Bu Limah terhentak-hentak karena dorongan tubuhku, buah dadanya yang bergerak-gerak indah kuremas-remas&lt;br /&gt;penuh nafsu, sambil terus bergerak aku dan Bu Limah berpelukan erat, mulutku dan mulutnya saling hisap.&lt;br /&gt;Bu Limah lalu memintaku berganti posisi di atas, aku berbaring dan Bu Limah duduk di atas selangkanganku setelah ******ku di masukannya ke dalam memeknya. Bu Limah menggoyang-goyangkan pantatnya, terasa seperti memeknya memilin-milin ******ku. Dari bawah tetek Bu Limah ternyata tampak lebih indah menggantung bergoyang-goyang.&lt;br /&gt;Aku dan Bu Limah kembali ke posisi semula. Gerakan aku dan Bu Limah semakin liar. Tusukan ******ku semakin cepat yang diimbangi dengan gerakan pantat Bu Limah yang kadang bergoyang ke kiri dan ke kanan kadang ke atas dan ke bawah menambah semakin panasnya permainan seks yang aku dan Bu Limah lakukan. Hingga akhirnya ku rasakan cairan spermaku segera keluar.&lt;br /&gt;''Bu saya mau ke luar..,'' Erangku.&lt;br /&gt;''Ibu juga mau keluar, Dal..,'' Desah Bu Limah.&lt;br /&gt;Aku dan Bu Limah saling berpelukan dengan ketatnya, bibirku dan bibir Bu Limah saling hisap dengan erat dan spermaku pun menyemprot di dalam memek Bu Limah.&lt;br /&gt;Beberapa saat aku dan Bu Limah saling diam menikmati sisa-saisa kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berbaring di atas tikar di bawah pohon rambutan yang rindang dengan tubuh sama-sama telanjang aku dan Bu Limah melepas lelah sambil ngobrol dan bercanda. Tanganku mempermainkan tetek Bu Limah entah mengapa aku suka sekali dengan tetek Bu Limah itu.&lt;br /&gt;Aku dan Bu Limah lalu membersihkan badan di kamar mandi, saling gosok dan sambil remas hingga gairah ku dan gairah Bu Limah kembali bangkit, aku dan Bu limah kembali bersetubuh di kamar mandi sampai puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita seusia Bu Limah memang sangat berpengalaman dalam memuaskan pasangannya, mereka tidak egois dalam menyalurkan gairah seksnya, bahkan yang kurasakan Bu Milah cenderung memanjakanku agar mendapatkan kenikmatan yang setinggi-tingginya. Maka karena itulah akupun merasa di tuntut untuk bisa mengimbanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gairahku terhadap Bu Milah entah kenapa selalu menyala., maunya setiap hari aku bisa menggaulinya, dan ternyata Bu Milah pun demikian. Hal ini kudengar sendiri ketika aku mengajaknya untuk bersetubuh padahal ketika itu teman kostu sedang ada di kamarnya. Saat Bu Milah sedang mencuci piring ku dekap dia dari belakang, tapi dengan halus Bu Limah menolaknya.&lt;br /&gt;''Jangan sekarang Dal, nanti temanmu tahu.'' Kata Bu Limah.&lt;br /&gt;''Tapi Bu, saya sudah nggak tahan..,'' Sanggahku.&lt;br /&gt;''Ibu juga sama, malahan ibu pengennya tiap hari begituan sama kamu.''&lt;br /&gt;Akhirnya aku mengalah dan kembali ke kamarku dengan kepala penuh hasrat yang tak terlampiaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 4 hari ini gairahku tak tersalurkan, aku dan Bu Milah hanya bisa saling bertukar kode tanpa bisa berbuat lebih, hingga ketika itu sore, mendadak temanku pulang ke kampungnya setelah dapat telepon bapaknya sakit. Setelah temanku pergi ku kunci pintu lalu segera aku mencari Bu Limah. Di dalam rumah tampak Bu Limah baru keluar dari kamarnya. Bu Limah ketika itu memakai baju kurung berkerudung sepertinya Bu Limah mau pergi.&lt;br /&gt;''Mau ke mana Bu?'' Tanyaku mendekatinya.&lt;br /&gt;''Ibu mau ngaji dulu Dal..,'' Jawab Bu Limah.&lt;br /&gt;''..Bu, ayo dong, sudah lama nih..,'' Rujukku.&lt;br /&gt;''Nanti aja yah Dal, Ibu cuma sebentar koq ngajinya.''&lt;br /&gt;''Ayo lah Bu sebentar aja..,'' Paksaku sambil ku peluk Bu Limah. Tanganku segera saja menjalar ke balik baju Bu limah yang gombrong. Buah dada Bu Limah yang besar yang selama beberapa hari ini ku rindukan, jadi mainanku.&lt;br /&gt;''..Dasar kamu, nggak sabaran banget.., tapi sebentar aja yah!'' Rengek Bu Limah akhirnya pasrah.&lt;br /&gt;Ternyata Bu Limah juga sudah panas, ciuman bibirku segera di balasnya dengan bergelora. Meskipun waktu itu Bu Limah memakai kerudung tak menghalangi aku dan Bu Limah untuk saling berbagi kenikmatan malahan aku merasa ada nuansa yang lain yang kian membuat gairah bercintaku menjadi-jadi dan permintaan Bu Limah melepas kerudungnyapun kularang.&lt;br /&gt;''Dal, kerudungnya Ibu lepas dulu yah!'' Pinta Bu limah.&lt;br /&gt;''Jangan Bu, biarin saja, saya semakin bernafsu melihat pakai kerudung..''. Larangku.&lt;br /&gt;''Ah kamu ini ada-ada saja.''&lt;br /&gt;Sambil terus berciuman Bu Limah melepas Bhnya, lalu bajunya ku angkat ke atas dan ku sorongkan wajahku menjamah buah dadanya. Ku ciumi dan ku jilati sepuas-puasnya. Bu Limah merengek-rengek kecil sambil tangannya mengerumasi rambutku.&lt;br /&gt;''..Ah.., ngghh.., yah.., sshh.., ahh..,'' Suara Bu Limah pelan.&lt;br /&gt;Tangan Bu Limah menarik celanaku hingga ******ku yang sudah keras itu mengacung bebas, lalu di permainkannya ******ku dengan meremas-remasnya.&lt;br /&gt;Kain bawahan yang di pakai Bu Limah ku angkat dan ku gelungkan di pinggangnya, lalu pantatnya ku remas-remas setelah kutarik celana dalamnya.&lt;br /&gt;''Dal.., ayo Dal cepet masukin..,'' Pinta Bu Limah.&lt;br /&gt;''Iya Bu, disini aja ya Bu! Jawabku sambil membimbing tubuh Bu Limah ke kursi panjang yang ada di ruang tamu.&lt;br /&gt;''Tapi nanti kalau ada orang gimana Dal?'' Tanya Bu Limah khawatir.&lt;br /&gt;''Tenang aja Bu, kan kita nggak telanjang'' Aku meyakinkan Bu Limah.&lt;br /&gt;''Dal, Ibu di atas yah..!'' Bu limah meminta posisi di atas.&lt;br /&gt;Aku mengiyakan kemauan Bu Limah, ku dudukan tubuhku di atas kursi panjang dengan posisi agak berbaring, selanjutnya Bu limah menempatkan tubuhnya di atasku, dengan kedua kaki melipat sejajar pahaku, lalu Bu limah menurunkan tubuhnya dan mengarahkan memeknya ke ******ku. ******ku di pegangnya agar pas dengan lubang memeknya. Setelah itu Bu Limah menekan tubuhnya hingga ******ku masuk ke dalam memeknya sampai dasar lalu diputar-putarnya pantatnya, lalu diangkatnya memeknya dan di tekan lagi sambil di putar-putar dengan gerakan semakin cepat .&lt;br /&gt;Buah dada Bu Limah yang besar bergoyang keras mengikuti gerakan tubuh Bu Limah yang semakin liar itu segera ku sosor dengan mulutku, ku ciumi dan ku hisapi hingga meninggalkan tanda merah, sementara tanganku meremas-remas bongkahan pantatnya.&lt;br /&gt;Biarpun Bu Limah tidak melepas pakaian dan kerudungnya persetubuhan aku dan Bu Limah tetap dahsyat malah semakin membuatku bernafsu.&lt;br /&gt;Ku imbangi gerakan Bu Limah dengan menghentakan pantatku ke atas apabila Bu Limah Menekan ke bawah sehingga aku merasakan ******ku seperti menghujam ke dalam memek Bu Limah, membuatnya semakin terhempas-hempas kenikmatan.&lt;br /&gt;''Ahhh.., ssshh.., mmhh.., Yaahh..,'' Mulut Bu Limah tak berhenti merintih.&lt;br /&gt;''Ayo Dal, terus tusuk yang dalam memek Ibu.., iyyahh..,'' Katanya di sela-sela rintihannya.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat aku dan Bu Milah saling menggenjot dengan posisi Bu Milah tetap di atas, kurasakan spermaku mau keluar.&lt;br /&gt;''Bu saya mau keluar.., Bu..,'' Erangku.&lt;br /&gt;''Ibu juga dal, mau kaluar.., aahh..,'' Balas Bu Limah.&lt;br /&gt;Gerakan tubuh ku dan tubuh Bu Limah sudah tidak beraturan lagi, aku dan Bu Limah semakin liar menjelang klimaks. Tubuhku dan tubuh Bu Limah saling peluk erat, bibir ku dan bibir Bu Limah bertautan erat saling hisap , hingga akhirnya tubuhku dan tubuh Bu Limah sama-sama mengejang, spermaku pun tumpah di dalam memek Bu Limah. Aku dan Bu limah bersama-sama menikmati puncak permainan seks yang bergelora walaupun tidak begitu lama.&lt;br /&gt;Aku dan Bu Limah sama-sama terdiam dengan masih berpelukan menikmati sisa-sisa gairah. Setelah keadaan dirasa normal Bu Limah mengangkat tubuhnya lalu berdiri, baru tampak olehku kalau pakaian dan kerudung yang dipakai Bu Limah begitu acak-acakan akibat pergumalan tadi.&lt;br /&gt;''Udah ya Dal, Ibu mau berangkat.'' Kata Bu Limah sambil beranjak menuju kamar mandi. Aku lalu mengikutinya. Aku dan Bu Limah sama-sama masuk kamar mandi untuk membersihkan cairan sisa pergumulan. Sambil saling bercanda aku dan Bu Limah saling Basuh.&lt;br /&gt;''Gara-gara ini nih Ibu jadi terlambat..,'' Kata Bu Limah sambil meremas pelan ******ku yang mulai layu.&lt;br /&gt;Aku hanya nyengir mendengar gurauan Bu Limah. Setelah dirasa bersih aku dan Bu Limah keluar dari kamar mandi, aku masuk ke dalam kamarku sedang Bu Limah berjalan ke dalam rumah.&lt;br /&gt;Ku ganti kaos dan celanaku lalu aku duduk di depan kamarku, ngeroko sambil baca koran. Dari dalam terlihat Bu Limah berjalan ke arahku dia sekarang sudah rapi kembali.&lt;br /&gt;''Dal, Ibu berangkat ngaji dulu yah.., kalau mau istirahat jangan lupa pintu depan kunci dulu.'' Kata Bu Limah.&lt;br /&gt;''Iya Bu''. Jawabku sambil berdiri dan berjalan mengikuti Bu Limah, iseng dari belakang ku remas pantat Bu Milah yang bergoyang-goyang. Bu Limah hanya mendelik manja.&lt;br /&gt;''Dal, ah nakal kamu, belum puas yah..?''&lt;br /&gt;''Nggak tahu nih Bu, kalau ngelihat Ibu bawaannya jadi nafsu.''&lt;br /&gt;Setelah menutup pintu aku kembali ke kamar untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya aku dan Bu Limah nonton TV berdua di rumahnya, kami hanya mengobrol dan bercanda saja, tak enak juga untuk mengajak Bu Limah bersetubuh lagi kasihan sepertinya dia cape. Ketika aku mau kembali ke kamar telepon Bu Limah berdering yang ternyata dari cucunya Bu Limah yang mengatakan bahwa besok siang mau berkunjung. Wah alamat gairahku bisa tak tersalurkan lagi nih, kataku dalam hati.&lt;br /&gt;Jam setengah tujuh pagi aku bangun dan langsung mandi. Saat berjalan ke kamar mandi kulihat Bu Milah sedang berada di dapur dengan hanya memakai daster tipis membuat gairahku naik. Ketika mandi pikiranku tertuju terus ke Bu milah, dan acara mandi pagi pun ku percepat. Pikirku kalau sekarang nggak bisa menikmati tubuh Bu Limah bisa gigit jari, soalnya kalau cucu Bu Limah datang bisa berhari-hari mereka tinggal. Aku segera mengganti kaos, sedangkan celana pendek tetap ku pakai biar praktis. Aku lalu mengendap-ngendap mendekati Bu Limah yang sedang berdiri di depan meja dapur dengan posisi membelakangiku. Setelah dekat dengan Bu Milah kepalaku langsung ku susupkan ke bawah pantat Bu Milah setelah terlebih dahulu bagian bawah dasternya aku angkat dan langsung ku ciumi belahan pantat Bu Milah yang ternyata tidak memakai celana dalam.&lt;br /&gt;''Aw!.., apaan nih..!'' Teriak Bu Limah terkaget-kaget setelah tiba-tiba merasa ada sesuatu yang mendesak-desak pantatnya, tapi setelah tahu aku yang melakukannya Bu Limah pun tenang kembali.&lt;br /&gt;''Iiih, kamu ini ngapain sih, ngagetin Ibu aja, untung Ibu nggak Jantungan''. Rutuknya. Sambil membiarkan saja apa yang aku lakukan terhadapnya.&lt;br /&gt;Aku terus saja menciumi sekeliling pantat Bu Milah yang masih berwangi sabun, rupanya Bu milah juga baru habis mandi. Dari balik dasternya, tanganku ku julurkan ke ke atas untuk meraih teteknya yang menggantung yang juga tidak memakai BH, setelah terpegang lalu ku remas-remas, sedangkan Bu Milah sejauh ini masih cuek saja dengan terus memilih-milih sayuran.&lt;br /&gt;''Dal, Ibu sih sudah menebak kalau pagi ini kamu pasti minta jatah sama Ibu.'' Kata Bu Milah.&lt;br /&gt;''Memangnya kenapa Bu.'' Tanyaku dari dalam dasternya.&lt;br /&gt;''Iya, kamu semalam denger kan kalau cucu Ibu mau datang. Kasihan deh kamu Dal bakal nganggur beberapa hari, hi.., hi.., hi..,'' Jawab Bu Milah sambil tertawa mengikik membayangkan penderitaanku nanti.&lt;br /&gt;''Nasib-nasib.., '' Sesalku. Bu Limah kembali tertawa mendengar ratapanku itu.&lt;br /&gt;Sambil terus menciumi pantat Bu Limah, kuminta dia agar sedikit melebarkan kedua kakinya, dan setelah kedua kakinya lebar mengangkang ku geser tubuhku semakin kedalam lalu ku balikan badan dengan wajahku menghadap keatas persis di bawah memeknya. Memek Bu Limah yang berbulu tebal itu lalu ku ciumi dan ku jilati, dan lubang memeknya ku masuki dengan jari tanganku sambil ku putar-putar di dalamnya. Bu Milah pun mengimbangi dengan menggoyang-goyangkan dan menekan-nekankan pantatnya, sepertinya gairah Bu Milah pun mulai naik.&lt;br /&gt;''Dal berhenti dulu sebentar'' Pintanya. Dan setelah aku menghentikan kegiatanku, dengan masih tetap berdiri di tariknya kursi makan di sebelahku lalu diangkatnya satu kakinya dan di letakan di atas kursi, dengan posisi seperti itu memungkinkan aku semakin bebas menjelajahi memeknya. Memek Bu Limah kembali ku jelajahi , dan tak lama berselang kurasakan Bu Limah mengejang dengan kepala kini munumpu di atas meja satu tangannya menekan kepalaku tersuruk kian dalam ke memeknya., lalu gerakan Bi Limah pun melemah kemudian terhenti, hanya dengus nafasnya saja terdengar masih cepat.&lt;br /&gt;Seiring dengan melemahnya gerakan Bu Limah, aku pun menghentikan permainan ku pada memek Bu Limah. Tanganku kini berpindah meremasi buah dada Bu Limah yang menggantung bergoyang-goyang karena kepala Bu Milah masih tergeletak di atas meja dan tubuhnya menjadi doyong ke depan. Mulutku ikut menyerbu, buah dada Bu Milah dengan rakus ku ciumi, ku hisapi dan kuremas-remas.&lt;br /&gt;Setelah merasa pulih, Bu Milah lalu bangkit, dan akupun kemudian duduk di atas kursi. Bu Milah lalu memelukku dari arah depan hingga kedua teteknya yang empuk menghimpitku karena saat itu aku masih duduk di kursi. Bu Limah menciumi kepalaku lalu ciumannya turun ke wajah. Aku dan Limah saling berpagutan dan bertukar lidah.&lt;br /&gt;Bu Limah Lalu jongkok, di tariknya celana pendekku hingga ******ko yang sudah keras itu mengacung. Dipermainkannya ******ku dengan mengocoknya lalu dimasukannya ke dalam mulutnya sambil di hisap-hisapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Bu Limah menuju ke menu utama permainan, dengan menyingsingkan dasternya, Bu Milah lalu tengkurap diatas meja satu kakinya tetap menginjak lantai sedang yang satunya di angkat melintang di atas meja, menampilkan pemandangan erotis pada memeknya. Terlihat memeknya sedikit mendongak. Segera kuarahkan ******ku ke belahan memek Bu Limah, kemudian ku dorong hingga amblas dan ku tarik lagi dengan lebih cepat. Tubuh Bu Milah terhempas-hempas terdorong oleh hentakanku, untung saja meja makan yang di jadikan tumpuan tubuh Bu Limah kuat, itupun sesekali beradu juga dengan dinding hingga menimbulkan suara berdegup. Aku dan Bu Limah lalu berganti posisi dengan berbaring di lantai dapur. Bu Limah memiringkan tubuhnya, aku yang sudah berjongkok di depannya segera mengangkat dan menahannya dengan pandak satu kaki Bu Limah hingga terpentang, lalu kuarahkan ******ku ke memek Bu Limah yang tampak merekah itu dan ku tusukan hingga dasar memek Bu Limah.&lt;br /&gt;Ketika kurasakan saat-saat puncak sudah dekat, ku setubuhi Bu Limah dengan meniindihnya dari atas, mulutku menciumi buah dada Bu Limah. Kedua kaki Bu Limah melingkar di pinggangku, hingga aku akhirnya aku klimaks, spermaku tumpah di dalam memek Bu Limah. Aku dan Bu Limah berpelukan erat dengan bibir saling berpagutan, aku dan Bu Limah mengahiri pergulatan puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu aku dan Bu Limah segera bangkit karena khawatir kalau-kalau cucu Bu Limah datang, dan benar saja tak lama setelah aku tidur-tiduran di kamarku terdengar cucu-cucu Bu Limah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata cucu Bu Limah tinggal lama karena sekolahnya sedang libur panjang, tinggal aku yang sengsara menahan gairah sama Bu Limah yang tidak dapat tersalurkan. Akhirnya aku tak tahan lagi, suatu sore, ketika Bu Limah hendak mandi dan cucunya sedang main di depan, ku hentikan langkah Bu Limah di depan kamarku dengan berpura-pura ngobrol aku utarakan hasratku pada Bu Milah.&lt;br /&gt;''Bu, saya sudah nggak tahan lagi nih..,'' Rengekku pada Bu Limah.&lt;br /&gt;''Sabar dong Dal, kamu kan tahu sendiri ada cucuku, Ibu juga sama, sudah kepengen, tapi ya gimana.'' Jawab Bu Limah.&lt;br /&gt;''Tuh Ibu juga sama, sudah kepengen kan ayolah Bu, sebentar saja.'' Desakku.&lt;br /&gt;''Iya sih, tapi nggak ada kesempatannya, cucu Ibu itu lho, maunya sama Ibu terus..''&lt;br /&gt;''Bu, gimana kalau nanti malam, setelah cucu Ibu tidur Ibu pura-pura saja sakit perut, atau setelah semua tidur Ibu nanti ke sini.''&lt;br /&gt;''Terus kalau pas kita lagi begitu ada yang ke kamar mandi gimana?'' Kata Bu Limah Khawatir.&lt;br /&gt;''Kitakan begituannya tidak di kamar mandi.''&lt;br /&gt;''Habis dimana?, di kamarmu?'' Tanya Bu Limah lagi.&lt;br /&gt;''Ya nggak lah itu sih resikonya sama, disitu aja tuh, tempatnya kan gelap, orang nggak akan melihat kita, lagian kalau ada orang rumah yang keluar kita bisa segera tahu.'' Kataku sambil menunjuk tempat dekat pohon belimbing di depan gudang yang gelap kalau malam.&lt;br /&gt;''Ya udah deh kalau gitu, nanti malam ibu coba kesini, sudah ya nanti ada melihat.'' Jawab Bu Milah setuju.&lt;br /&gt;Saat Bu Limah berlalu, aku sempatkan meremas bongkahan pantatnya setelah melihat keadaan di dalam rumah Bu Limah sepi. Bu Limah hanya merintih pelan sambil terus berjalan ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semakin mematangkan rencana, dari sehabis isya aku berpura-pura tidur dan lampu kamarku pun ku matikan. Menjelang tengah malam sekitar jam sebelas ku dengar pintu belakang rumah Bu Limah di buka, segera ki intip dari celah jendela, dan seperti yang ku harapkan terlihat memang Bu Milah yang keluar. Segera aku bangun dan keluar. Tanpa mengeluarkan kata, setelah menutup kembali pintu rumahnya dan melihatku keluar dari kamar, Bu Milah langsung menuju tempat yang telah di rencanakan, aku menyusulnya delangkah hati-hati.&lt;br /&gt;Setelah berdekatan, aku dan Bu Limah langsung saling berpelukan sambil berciuman dengan panas. Bibirku dan bibir Bu Limah saling pagut dengan liar dan penuh nafsu untuk melepaskannya yang selama ini sama-sama di tahan. Tanganku dan tangan Bu Limah sama sama sibuk saling menggerayangi. Ku selusupkan tanganku ke balik daster Bu Limah hingga bagian bawah daster Bu Milah ikut terangkat ketika tanganku mulai ku remaskan ke belahan pantatnya lalu berpindah ke depan mengobel memeknya yang ternyata tidak bercelana dalam. Bulu jembutnya yang lebat ku permainkan dulu dengan menarik-nariknya dengan pelan sebelum menjamah memeknya. Memek Bu Limah yang tembam itu lalu kepermainkan, itilnya kucubit-cubit halus, jariku lalu ku masukan ke belahan memek Bu limah dan kuputar- putar di dalamnya. Sedangkan tangan Bu limah segera menyongsong ******ku yang sudah tegang di kocok-kocoknya perlahan batang ******ku seperti sedang mengurut, kemudian berpindah meremas buah zakarku. Karena situasinya tidak begitu begitu kondusif aku dan Bu Limah tidak berlama-lama melakukan cumbuan, segera saja aku dan Bu limah bersetubuh. Dengan mencoba tetap waspada kalau-kalau ada orang rumah yang keluar. Tubuh Bu Limah berdiri menyender di dinding dengan ujung daster bagian bawah di tariknya ke atas, satu kakinya naikan ke atas dan ku tahan dengan tanganku, tubuhku menghimpit tubuh Bu Limah ke dinding dan setelah dirasa posisinya pas mulai ku hujamkan ******ku ke memek Bu Milah. Biarpun dalam keadaan yang tidak begitu leluasa, aku dan Bu Limah saling bergelut dengan liar. Aku dan Bu Limah sama-sama penuh gairah dalam persetubuhan yang kami lakukan. Nafasku dan nafas Bu Limah saling memburu. Dengan tetap menusuk-nusukan ******ku tubuh Bu Limah sedikit ku angkat dengan tangan ku yang sebelumnya meremasa-remas bongkahan pantat Bu Limah. Aku dan Bu Limah terus bergerak untuk saling berbagi kenikmatan dengan mulut yang tanpa mengeluarkan suara angkat dan kutahan. Dengan cara seperti itu ternyata aku merasakan sensasi bersetubuh yang lain, yang tak kalah nikmat nya dengan persetubuhan biasa. Aku dan Bu Milah menjadi lebih panas dan penuh gairah untuk segera menuntaskan permainan penuh nafsu ini.&lt;br /&gt;Mukaku ku labuhkan di tengah-tengah payudara Bu Limah setelah Bu Limah membuka kancing daster nya, lalu ku permainkan buah dada Bu Limah dengan mulutku dengan menciumi dan menghisapinya dan pada putingnya mulut ku menyosot seperti sedang menyusu membuat Bu Limah meliuk-liuk penuk nikmat.&lt;br /&gt;Dan Akhinya dengan tanpa merubah posisi kami yang tetap berdiri aku dan Bu Limah sampai ke ujung klimaks, tubuhku dan tubuh Bu Limah bergelut kian rapat, pantat Bu Limah menggeol-geol tak beraturan dengan semakin liar dan ku hujamankan ******ku semakin kencang sedangkan bibirku dan bibir Bu Limah terus berpagutan dengan ganasnya saling melumat dan bertukar lidah, hingga pada akhirnya tubuhku dan tubuh Bu Limah sama-sama mengejang menahan kenikmatan yang tiada tara itu, spermaku pun tumpah memenuhi rongga-rongga memek Bu Limah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-6958449858989195928?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/6958449858989195928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=6958449858989195928' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/6958449858989195928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/6958449858989195928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/bu-limah.html' title='Bu Limah'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-6932648425938037522</id><published>2008-02-02T13:21:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:23:24.389+07:00</updated><title type='text'>Tante Vivi tetanggaku Di Apartemen</title><content type='html'>Pada waktu aku telah menyelesaikan, karena letak kantorku yang amat sangat jauh dengan rumah. Aku memutuskan untuk mengontrak Apartemen di daerah Kuningan sehingga jika ke kantor tidak terlalu jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Bramanto. Sekarang saya berkerja di salah satu perusahaan telekomunikasi di daerah kuningan Jakarta. Dulu aku tinggal bersama kedua orang tuaku di sebuah kompleks tentara yang amat membosankan sehingga aku memutuskan untuk mandiri dengan menghuni apartemen milik dari saudaraku yang baru menikah sehingga dia di boyong oleh suaminya ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama aku menghuni aku lapor dengan Ketua Perhimpunan Pengurus Apartemen dimana aku tinggal beliau kebetulan tinggal di lantai 12 sedangkan aku di lantai 11. Setelah melapor aku dimohon bantuannya untuk menjaga kebetulan adik perempuan beliau tinggal di sebelahku yaitu Tante Vivi. Hari kedua aku mencoba untuk berkenalan dengan Tante Vivi, ternyata beliau tidak terlalu tua, kelihatannya sekitar 38 - 40 tahunan. Orangnya ramah dan baik sekali. Yang aku heran sampai umur segitu beliau belum menikah, mungkin punya masalah dengan karir karena aku melihat mobilnya ada dua yaitu Toyota Alphard dan Toyota Camry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Vivi begitu aku memanggilnya memiliki 2 pembantu dan seorang sopir yang telaj melayani beliau selama 3 tahun di Apartemen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah pengalamanku diwaktu tidak terduga dimana aku dititipkan kunci Apartemen oleh beliau karena semua pembantu dan sopirnya cuti lebaran, sehingga beliau tingal di rumah kakaknya di lantai 12,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar gambaran, Tante Vivi mempunyai tinggi badan sekitar 165 cm, mempunyai pinggul yang besar, buah pantat yang bulat, pinggang yang ramping, dan perut yang agak rata (ini dikarenakan senam aerobic, fitness, dan renang yang diikutinya secara berkala), dengan didukung oleh buah dada yang besar dan bulat (belakangan saya baru tahu bahwa Tante Vivi memakai Bra ukuran 36B untuk menutupinya). Dengan wajah yang seksi menantang dan warna kulit yang putih bersih, wajarlah jika Tante Vivi menjadi impian banyak lelaki baik-baik maupun lelaki hidung belang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu sore, saat saya pulang kerja saya mendengar ada ketukan pintu di apartemenku , kemudian saya intip dari lubang pintu ternyata Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"eh ya ada apa tante" kataku sambil membuka pintu.&lt;br /&gt;"Ngga Bram ada surat atau tagihan kartu kreditku ngga dari Front Office depan?" jawan tante Vivi.&lt;br /&gt;"Sepertinya ngga ada tante" jawabku&lt;br /&gt;"Eh aku numpang ke kamar mandimu ya" sambil meringis, mungkin dia udah kebelet pips he he he.&lt;br /&gt;"silahkan tan tapi kamar mandinya ngga sebersih punya tante lho maklum bujangan" kataku sambil tertawa.&lt;br /&gt;" Ngga apa apa" jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baru aku sadar bahwa si tante vivi memakai baju training tipis mungkin baru lari atau fitness di lantai 2.&lt;br /&gt;"Abis lari ya tan" tanyaku&lt;br /&gt;"Iya tapi nyari kamar mandi susah mana liftnya lama lagi" ujar tante vivi sambil ngeloyor ke kamar mandiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil jalan ke dapur aku berfikir kok kayaknya ada yang salah ya dengan membiarkan si tante ke kamar mandi tapi apa ya?. Ya ampun tadi khan aku lagi nonton BF di laptop memang kebetulan mau coli sih maklum belum ada pasangan/pacar. Wah mati gue ketahuan dah sama tante vivi. Ah bodoamatbodo amat kaya dia ngga pernah muda aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu keluar dari kamar mandi si tante senyum-senyum, wah malu deh aku.&lt;br /&gt;"Hayo kamu tadi lagi ngapain Bram? tanya si tante.&lt;br /&gt;"Ngga ngapa-ngapain kok tan" jawabku sambil menunduk kebawah, Malu cing.&lt;br /&gt;Dan tanpa saya sadari tiba-tiba dia mencekal tangan saya.&lt;br /&gt;"Bram.." katanya tiba-tiba dan terlihat agak sedikit ragu-ragu.&lt;br /&gt;"Ya Tante..?" Jawab saya.&lt;br /&gt;"Eee.. nggak jadi deh.." Jawabnya ragu-ragu.&lt;br /&gt;"Ada yang bisa saya bantu, Tante..? Tanya saya agak bingung karena melihat keragu-raguannya.&lt;br /&gt;"Eee.. nggak kok. Tante cuma mau nanya.." jawabnya dengan ragu-ragu lagi.&lt;br /&gt;"Kamu sering ya nonton film itu di kamar mandi..?" tanya dia.&lt;br /&gt;"Iya sih tan. Maklum tan belum punya pasangan..?" jawab ku terpaksa.&lt;br /&gt;"Terus pake sabun ya ? he he he kata tante vivi sambil tertawa&lt;br /&gt;"Iya tan, udah ah aku tengsin nih malu ditanya terus" Tegasku sambil ngomel.&lt;br /&gt;"Jangan marah dong , biasa lagi bujangan yang penting jangan main pelacur, jorok nanti kena penyakit" jawab tante vivi.&lt;br /&gt;"Eee.. mau dibantuin Tante nggak..? sambungnya&lt;br /&gt;"Maksud tante? Tanya ku wah ibarat ada lanjutan dari film ku tadi nih. Kayaknya si tante horni abis.&lt;br /&gt;" Iya kamu nonton bareng tante khan biar ngga malu lagi" sambil melayang tangan tante vivi ke selangkangan ku.&lt;br /&gt;"sana ambil laptop mu"&lt;br /&gt;asik banget dah pikirku tanpa tendeng aling-aling aku berlari kekamar madi dan membawa keluar laptop itu.&lt;br /&gt;Kemudian aku setel lebih dulu film yang tadi saya tonton dan belum habis. Beberapa menit kemudian Tante vivi duduk disebelahku sambil membawa teh panas dengan wangi tubuh yang segar. Saya selidiki tiap sudut tubuhnya yang masih terbalut baju training dan kemudian beliau melepas atasannya sehingga terlihat tanktop tipis biru muda yang agak menerawang tersebut, sehingga dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya karena dia tidak memakai Bra. Tanpa kusadari, di antara degupan jantungku yang terasa mulai keras dan kencang, kejantananku juga sudah mulai menegang. Dengan santai dia duduk tepat di sebelahku, dan ikut menonton film BF yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;"Cakep-cakep juga yang main.." akhirnya dia memberi komentarnya.&lt;br /&gt;"Dari kapan Bram mulai nonton film beginian..? tanyanya.&lt;br /&gt;"Udah dari dulu Tante.." kataku.&lt;br /&gt;"Mainnya juga bagus dan tidak kasar. Bram udah tahu rasanya belum..? tanya dia lagi.&lt;br /&gt;"Ya sempet sih tan waktu di rumah sakit sama suster"&lt;br /&gt;"wah enak dong lagi sakit di servis suster"&lt;br /&gt;"Iya tapi udah lama tan udah lupa rasanya, tapi kata temen-temen sih enak. Emang kenapa Tante, mau ngajarin saya yah? Kalau iya boleh juga sih", kataku.&lt;br /&gt;"Ah Bram ini kok jadi nakal yah sekarang", katanya sambil mencubit lenganku.&lt;br /&gt;"Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kamu tahu rasanya", tambahnya dengan sambil melirik ke arahku dengan agak menantang.&lt;br /&gt;Tidak lama berselang, tiba-tiba Tante Vivi menyenderkan kepalanya ke bahuku. Seketika itu pula aku langsung membara. Tapi aku hanya bisa pasrah saja oleh perlakuannya. Sebentar kemudian tangan Tante Vivi sudah mulai mengusap-ngusap daerah tubuhku sekitar dada dan perut . Rangsangan yang ditimbulkan dari usapannya cukup membuat aku nervous karena itu adalah kali pertama aku diperlakukan oleh seorang wanita yang usianya diatasku. Kejantananku sudah mulai semakin berdenyut-denyut siap bertempur.&lt;br /&gt;Kemudian Tante Vivi mulai menciumi leherku, lalu turun ke bawah sampai dadaku. Sampai di daerah dada, dia menjilat-jilat ujung dadaku, secara bergantian kanan dan kiri. Tangan kanan Tante Vivi juga sudah mulai masuk ke dalam celanaku, dan mulai mengusap-usap kejantananku.&lt;br /&gt;Karena dalam keadaan yang sudah sangat terangsang, aku mulai memberanikan diri untuk meraba celana yang dia pakai. Aku remas payudaranya dari luar tanktop, dan aku remas-remas, terkadang aku juga mengusap ujung-ujung tersebut dengan ujung jariku. "Ssshh.. ya situ Bram.." katanya setengah berbisik. "Ssshh.. oohh.."&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia memaksa lepas celana pendekku, dan diusapnya kejantananku. Akhirnya bibir kami saling berpagutan dengan penuh nafsu yang sangat membara. Dan dia mulai menjulur-julurkan lidahnya di dalam mulutku. Sambil berciuman tanganku mulai bergerilya melalui celana trainingnya yang aku pelorotkan ke bawah sampai pada permukaan celana dalamnya, yang rupanya sudah mulai menghangat dan agak lembab. Aku melepaskan celana dalam Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu kami membuka baju, sehingga kami berdua menjadi telanjang bulat. Kutempelkan jariku di ujung atas permukaan kemaluannya. Dia kelihatan agak kaget ketika merasakan jariku bermain di daerah seputar klitorisnya. Lama kelamaan Aku masukkan satu jariku, lalu jari kedua. "Aaahh.. sshh.. oohh.. terus Bram.. terus.." bisik Tante Vivi.&lt;br /&gt;Ketika jariku terasa mengenai akhir lubangnya, tubuhnya terlihat agak bergetar. "Ya.. terus Bram.. terus.. aahh.. sshh.. oohh.. aahh.. terus.. sebentar lagi.. teruuss.. oohh.. aahh.. aarrgghh.." kata Tante Vivi.&lt;br /&gt;Seketika itu pula dia memeluk tubuhku dengan sangat erat sambil menciumku dengan penuh nafsu. Aku merasakan bahwa tubuhnya agak bergetar (yang kemudian baru aku tahu bahwa dia sedang mengalami orgasme). Beberapa saat tubuhnya mengejang-ngejang menggelepar dengan hebatnya. Yang diakhiri dengan terkulainya tubuh Tante Vivi yang terlihat sangat lemas di sofa.&lt;br /&gt;"Saya kapan Tante, kan saya belum..?" Rujukku.&lt;br /&gt;"Nanti dulu yah sayang, sebentar.. beri Tante waktu untuk istirahat sebentar aja", kata Tante Vivi.&lt;br /&gt;Tapi karena sudah sangat terangsang, kuusap-usap bibir kemaluannya sampai mengenai klitorisnya, aku dekati payudaranya yang menantang itu sambil kujilati ujungnya, sesekali kuremas payudara yang satunya. Sehingga rupanya Tante Vivi juga tidak tahan menerima paksaan rangsangan-rangsangan yang kulakukan terhadapnya. Sehingga sesekali terdengar suara erangan dan desisan dari mulutnya yang seksi. Aku usap-usapkan kejantananku yang sudah sangat amat tegang di bibir kemaluannya sebelah atas. Sehingga kemudian dengan terpaksa dia membimbing batang kemaluanku menuju lubang kemaluannya. Pelan-pelan saya dorong kejantananku agar masuk semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala kejantananku mulai menyentuh bibir kewanitaan Tante Vivi. "Ssshh.." rasanya benar-benar tidak bisa kubayangkan sebelumnya. Lalu Tante Vivi mulai menyuruhku untuk memasukan kejantananku ke liang kewanitaannya lebih dalam dan pelan-pelan. "Aaahh.." baru masuk kepalanya saja aku sudah tidak tahan, lalu Tante Vivi mulai menarik pantatku ke bawah, supaya batang kejantananku yang perkasa ini bisa masuk lebih dalam. Bagian dalam kewanitaannya sudah terasa agak licin dan basah, tapi masih agak seret, mungkin karena sudah lama tidak dipergunakan. Namun Tante Vivi tetap memaksakannya masuk. "Aaagghh..Bram " rasanya memang benar-benar luar biasa walaupun kejantananku agak sedikit terasa ngilu, tapi nikmatnya luar biasa. Lalu terdengar suara erangan Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Tante Vivi mulai menyuruhku untuk menggerakkan kemaluanku di dalam kewanitaannya, yang membuatku semakin gila. Ia sendiri pun mengerang-ngerang dan mendesah tak karuan. Beberapa menit kami begitu hingga suatu saat, seperti ada sesuatu yang membuat liang kewanitaannya bertambah licin, dan makin lama Tante Vivi terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang membuat dia berteriak dan mengerang dengan sejadi-jadinya karena tidak kuasa menahannya. Dan tiba-tiba kemaluanku terasa seperti disedot oleh liang kewanitaan Tante Vivi, yang tiba-tiba dinding-dinding kewanitaannya terasa seperti menjepit dengan kuat sekali. Aduuh.. kalau begini aku makin tidak tahan dan.. "Aaarrgghh.. sayaang.. Tante keluar lagii.." jeritnya dengan keras, dan makin basahlah di dalam kewanitaan Tante Vivi, tubuhnya mengejang kuat seperti kesetrum, ia benar-benar menggelinjang hebat, membuat gerakannya semakin tak karuan. Dan akhirnya Tante Vivi terkulai lemas, tapi kejantananku masih tetap tertancap dengan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba membuatnya terangsang kembali karena aku belum apa-apa. Tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kanan, sambil sesekali kupilin-pilin ujungnya dan kuusap-usap dengan ujung jari telunjukku. Sedang payudara kirinya kuhisap sambil menyapu ujungnya dengan lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssshh.. shh.." desahan Tante Titik sudah mulai terdengar lagi. Aku memintanya untuk berganti posisi dengan doggy style. Aku mencoba untuk menusukkan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya, pelan tapi pasti. Kepala Tante Vivi agak menengok ke belakang dan matanya melihat mataku dengan sayu, sambil dia gigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang timbul. Sedikit demi sedikit aku coba untuk menekannya lebih dalam. Kejantananku terlihat sudah tertelan semuanya di dalam kewanitaan Tante Vivi, lalu aku mulai menggerakkan kejantananku perlahan-lahan sambil menggenggam buah pantatnya yang bulat. Dengan gaya seperti ini, desahan dan erangannya lebih keras, tidak seperti gaya konvensional yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus menggerakkan pinggulku dengan tangan kananku yang kini meremas payudaranya, sedangkan tangan kiri kupergunakan untuk menarik rambutnya agar terlihat lebih merangsang dan seksi. "Ssshh.. aarrgghh.. oohh.. terus Bram.. terus.. aarrgghh.. oohh.." Tante Vivi terus mengerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit berlalu, kemudian Tante Vivi merasa akan orgasme lagi sambil mengerang dengan sangat keras sehingga tubuhnya mengejang-ngejang dengan sangat hebat, dan tangannya mengenggam bantalan sofa dengan sangat erat. Beberapa detik kemudian bagian depan tubuhnya jatuh terkulai lemas menempel pada sofa itu sambil lututnya terus menyangga pantatnya agar tetap di atas. Dan aku merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut dan aku memberitahukan hal tersebut padanya, tapi dia tidak menjawab sepatah kata pun. Yang keluar dari mulutnya hanya desahan dan erangan kecil, sehingga aku tidak berhenti menggerakkan pinggulku terus.&lt;br /&gt;Aku merasakan tubuhku agak mengejang seperti ada sesuatu yang tertahan, sepertinya semua tulang-tulangku akan lepas dari tubuhku, tanganku menggenggam buah pantat Tante Vivi dengan erat, yang kemudian diikuti oleh keluarnya cairan maniku di dalam liang kewanitaan Tante Vivi. Tubuhku terasa sangat lemas sekali. Setelah kami berdua merasa agak tenang, aku melepaskan kejantananku dari liang nikmat milik Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan raca kecapaian yang luar biasa Tante Vivi membalikkan tubuhnya dan duduk di sampingku sambil menatap tajam mataku dengan mulut yang agak terbuka, sambil tangan kanannya menutupi permukaan kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah kok ngga ditarik sih Bram, nanti aku hamil lho..? tanyanya dengan suara yang agak bergetar.&lt;br /&gt;"Maaf tan aku lupa abis keenakan sih" jawabku&lt;br /&gt;"Ya sudahlah.. tapi lain kali kalau sudah kerasa kayak tadi itu langsung buru-buru dicabut dan dikeluarkan di luar ya..?" katanya menenangkan diriku yang terlihat takut.&lt;br /&gt;"I.. iiya Tante.." jawabku sambil menunduk.&lt;br /&gt;"Ya santai aja aku sebenarnya udah minum pil kok Bram" jawan Tante Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah rupanya nih tante udah pengalaman dalam hal beginian, tapi ngga apa-apa dah gua belagak culun aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami berpelukan di sofa, dan melakukan perbuatan itu sekali lagi tapi di kamar mandi. Doggie style terus bro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-6932648425938037522?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/6932648425938037522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=6932648425938037522' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/6932648425938037522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/6932648425938037522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/tante-vivi-tetanggaku-di-apartemen.html' title='Tante Vivi tetanggaku Di Apartemen'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-4775086653992856288</id><published>2008-02-02T13:13:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:21:35.498+07:00</updated><title type='text'>Ibu Fatimah</title><content type='html'>Namanya Ustadzah Fatimah tapi biasa di panggil Bu Fat. Umurnya kutaksir sekitar 50 tahunan. Meskipun tidak begitu cantik namun mukanya selalu terlihat bersih. Wajahnya hanya dilapisi mik-up tipis dengan lips-gloss pada bibirmya serta farfum berwangi kembang selalu tercium dari tubuh Bu Fat. Maklum sudah berumur, badan Bu Fat sedikit gempal dan sepasang buah dadanya pun besar dan terlihat masih montok .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa pagi itu Bu Fat datang ke rumahku untuk mengajar ngaji anakku. Aku pun mempersilahkannya masuk.&lt;br /&gt;''Eh, dik Lan, anak-anak sama dik Wati ke mana?'' Tanya Bu Fat.&lt;br /&gt;''Iya bu saya minta maaf sama ibu karena lupa ngasih tahu kalau hari ini anak saya libur dulu soalnya ikut ibunya ke rumah saudara, bantu-bantu mau ada hajatan''. Jawabku.&lt;br /&gt;"Oh begitu, nggak apa-apa, wah dik Lan bujangan lagi dong hari ini?" Kata Bu Fat sambil tersenyum tipis.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum menanggapinya, lalu aku tawarkan padanya minum, pertamanya sih dia menolaknya tapi setelah kutawarkan lagi akhirnya Bu Fat mau juga. Aku pun segera pergi ke dapur membuat minuman.&lt;br /&gt;"Kopi aja yah, Bu Fat" Tawarku.&lt;br /&gt;''O, yah nggak apa-apa, apa aja deh''. Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba otak aku mula memikirkan yang bukan-bukan, sewaktu aku ke dapur, Bu Fat duduk di atas sofa dan kulihat kain yang di pakai Bu Fat tersingkap menampakkan paha Bu Fat yang agak besar. Aku mencuri pandang sedikit sambil terus berjalan. Karena mataku asik memperhatikan paha Bu Fat aku tidak sadar kalau saat itu sudah dekat dinding dapur hingga kepalaku terantuk, ku gosok-gosok jidatku untuk menghilangkan sakit. Melihatku terantuk Bu Fat langsung bangun dan mendekatiku.&lt;br /&gt;"Eh.. dik Lan.. kenapa?" Tanya Bu Fat.&lt;br /&gt;Aku tak menjawab, sedangkan wajahku meringis menahan sakit.&lt;br /&gt;"Ada apa sih dik Lan? Bu Fat bertanya lagi sambil tersenyum, mungkin lucu melihatku meringis, sedangkan tangannya diulurkan untuk memegang tanganku yang sedang menggosok-gosok jidat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak apa-apa bu..," Jawabku.&lt;br /&gt;Setelah tahu jidatku tidak apa-apa Bu Fat tersenyum lagi lalu dilepaskan pegangan tangannya yang memegang pergelangan tanganku, dan aku terus ke dapur untuk menyiapkan minum untuk Bu Fat dan sesudah siap kemudian ku hidangkan di meja tamu di depan Bu Fat.&lt;br /&gt;''Kopinya di minum ya dik..'' Kata Bu Fat sambil mengangkat gelas kopi lalu menghirupnya perlahan setelah meniup-niup permukaan air kopi agar tidak terlalu panas.&lt;br /&gt;''Oh iya silahkan Bu..,'' Aku mempersilahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu nafsu seksku kembali naik ketika kuperhatikan lagi paha Bu Fat yang kembali tersibak, karena Bu Fat duduk persis dihadapanku, aku dapat melihat dengan jelas hingga ke celana dalamnya yang berwarna krem. Tapi lama-lama Bu Zila rupanya sadar, lalu dibetulkannya letak kain yang dipakainya sehingga pahanya tertutup.&lt;br /&gt;"Wah.. dik Lan ini nggak boleh melihat pemandangan, matanya sampai nggak ngedip-ngedip.'' Canda Bu Fat mengagetkanku.&lt;br /&gt;''Ah Bu Fat bisa aja.'' Elakku sambil cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu seksku kian terbakar, otakku dipenusi fantasi seks dengan Bu Fat, bisa nggak yah aku ngedapetin wanita berusia 50 tahun ini, bisik hatiku bertanya. Ku coba mereka cara agar nafsuku terhadap Bu Fat dapat terlampiaskan . Aku memang sangat suka wanita yang sudah berumur seperti Bu Fat, bagiku mereka lebih seksi juga lebih memahami dan tidak egois dalam bermain sex.&lt;br /&gt;"Er.. air kopi ni aja ke yang boleh hilangkan dahaga?" tanya aku dengan muka selamberr aja.&lt;br /&gt;Kak Zi. tersentak sekejap.&lt;br /&gt;"...maksud dik Lan? "&lt;br /&gt;''Eh.. mana ada maksud apa apa? Saya hanya bergurau saja.." kata aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya, setelah Bu Fat menghirup kopi, diletakkannya gelas kopi di atas meja, tapi ketika itu Bu Fat lantas bangun. Aku diam saja, dalam hatiku bertanya Bu Fat mau ngapain yah?. Ku lihat Bu Zila berjalan menuju ke lemari dimana aku memajang benda-benda hiasan.&lt;br /&gt;"Istri dik Lan cantik yah?, anaknya juga cakep" Katanya sambil mengamati fotret istrik dan anakku.&lt;br /&gt;"Pasti dong bu, siapa dulu bapaknya" kata aku mencuba bercanda.&lt;br /&gt;"Katanya istri dik Lan sedang mengandung anak kedua?'' Tanya Bu Fat.&lt;br /&gt;Aku mengiyakan.&lt;br /&gt;"Sudah berapa bulan?"&lt;br /&gt;"5 bulan Bu".&lt;br /&gt;"Wah, itu artinya air naik ke kepala dik lan?" Lanjut Bu Fat sambil memandangku.&lt;br /&gt;"..Emmh, maksud ibu? " Tanyaku tidak mengerti maksud perkataan Bu Fat.&lt;br /&gt;''Nggak usah di terangin juga dik Lan nanti pasti ngerti, tadi kan dik Lan puas memandang selangkangan ibu memangnya ibu nggak tahu, udah gitu gaya dik Lan ini seperti orang yang tak puas saja" Serang Bu Fat.&lt;br /&gt;"Tapi.., tadi itu saya, eu.. eh..,.. bukan.. anu..," Kata ku tergagap tak tahu harus berkata apa untuk membela diri.&lt;br /&gt;"Ya sudah dik Lan, tenang aja mungkin rezeki dik Lan bisa melihat paha ibu." Kata Bu Fat sambil tersenyum aneh.&lt;br /&gt;Aku bingung melihat sikap Bu Fat, hatiku bertanya-tanya apa sih maksud Bu Fat sebenarnya.&lt;br /&gt;"Istri dik Lan perginya lama nggak?" Bu Fat bertanya.&lt;br /&gt;"Sepertinya sih lama bu, soalnya dia pergi kerumah uwaknya, mau ada hajatan katanya, jadi ya.. bantu-bantu disana, malah mungkin nginap disana" Jawabku.&lt;br /&gt;"Oh.. gitu.. toh'' Kata Bu Fat.&lt;br /&gt;Bu Fat lalu membalikan badannya dan berjalan menuju kembali ke sofa lalu di hempaskan badannya.&lt;br /&gt;''..Ssshh, ahh.., panas banget yah, rasanya semua bagian badan ibu berkeringat nih..'' Gumam Bu Fat, kemudian dibukanya kerudung yang dipakainya.&lt;br /&gt;Aku hanya diam sambil memperhatikan saja.&lt;br /&gt;"Apa Bu Fat mau mandi?, atau mau buka baju saja, silahkan saja bu" Kataku. Kuberanikan diri untuk mulai memancingnya ke arah situasi yang kuinginkan.&lt;br /&gt;"Kalau iya gimana dik Lan, tapi tutup dulu dong gordennya nanti keliatan orang nggak enak." Sambut Bu Fat sambil melihat ke arah gorden.&lt;br /&gt;Entah perasaan apa yang kurasakan ketika itu, aku segera bangun, kutarik kain gorden sampai rapat sambil membelakangi Bu Fat. Samar-samar ku dengar bunyi resleting di buka, aku menoleh kebelakang, nampak Bu Fat sedang membuka kain bagian bawah yang di pakainya lalu melepasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan berdiri saja dik Lan, kalau mau lihat, kesini dong biar dekat.'' Goda Bu Fat.&lt;br /&gt;Mendengar itu, segera ku dekati Bu Fat yang tengah menyandarkan dirinya atas sofa, dengan hanya memakai baju kurung tanpa kain bawah. Mata Bu Fat tampak dipejamkan sambil tangannya mengipas-ngipas badannya, sedangkan aku bermaksud kembali ketempatku semula, namun tiba-tiba Bu Fat menarik tangan aku saat aku melintas di depannya hingga badanku terhuyung mau jatuh di atas tubuhnya, kemudian tanpa ku duga Bu Fat lalu menarik ke atas baju kurung dia, dan terpampanglah bra yang menutupi buah dada Bu Fat yang besar. Mataku terbelalak melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kembali menyandarkan dirinya ke sofa, aku masih berdiri bingung di samping Bu Fat, kemudian bu Fat menarik pantatnya ke tepi sopa lantas bangun dan berdiri.&lt;br /&gt;"Dik Lan, ibu mau ke kamar mandi, mau mandi biar segar." Kata Bu Fat.&lt;br /&gt;Aku mempersilahkannya, lalu berjalan di depannya untuk menunjukan kamar mandi. Tak lama, terdengar suara air jebar-jebur sepertinya Bu Fat sedang mandi, tiba-tiba ku dengar suara benda jatuh dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;"Kelumpanggggg!!!!!! Pang pang pang!!!!''&lt;br /&gt;''Aduhhhhh......!" Suara Bu Fat menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tergopoh-gopoh ku dekati kamar mandi, tanganku mencoba mendorong pintu kamar mandi, ternyata tak dikunci, ku beranikan diri saja membuka pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya aku, nampak Bu Fat dengan keadaan tubuhnya yang telanjang bulat terduduk di lantai kamar mandi dengan kedua kaki mengangkang menampakkan memeknya yang di tumbuhi bulu agak lebat denan bibir memeknya sedikit tebuka, sedangkan sepasang buah dadanya yang besar tampak menggantung berguncang-guncang.&lt;br /&gt;"Kenapa bu, apa yang terjadi.. bu?'' Tanyaku khawatir.&lt;br /&gt;"Ibu jatuh, kepeleset dik, lantainya kamar mandinya licin, aduhhhh.. pantat ibu sakit.'' Kata Bu Fat dengan suara menahan sakit.&lt;br /&gt;Tanpa berkata-kata lagi segera ku raih dan ku bopong tubuh Bu Fat lalu memapahnya keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuhnya masih telanjang bulat, sambil tertatih-tatih ku papah Bu Fat ke sofa lalu ku baringkan.&lt;br /&gt;"Oh, yah ibu mau saya ambilkan baju ibu di kamar mandi?" Tanyaku.&lt;br /&gt;"Nggak usahlah dik, lagian bukannya tubuh ibu sudah nggak ada lagi yang belum dilihat sama dik Lan kan?'' Jawab Bu Fat.&lt;br /&gt;Aku diam aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dik Lan... tolong dong urutin ini." Pinta Bu Fat sambil menunjuk bagian belakang tubuhnya.&lt;br /&gt;Aku mengganguk saja, Bu Fat kemudian membaringkan badannya di atas sofa sedangkan aku duduk di sampingnya sambil memijitkan tanganku ke tubuh Bu Fat. Pantat Bu Fat yang besar montok membuatku sangat bernafsu untuk meremas-remasnya, namun aku coba menahan diri kupikir belum waktunya.&lt;br /&gt;''Bawahan sedikit dik Lan, dekat pinggang, nah itu!"&lt;br /&gt;Aku turutkan saja permintaan Bu Fat. Seperti saat Bu Fat memintaku mengurut bagian pinggangnya. Kulit Bu Fat terasa Lembut meski sudah tidak kencang lagi.&lt;br /&gt;Semakin lama nafsuku semakin tinggi hingga aku menjadi sedikit liar dan nekad. Pijatanku kini sudah semakin ngaco dan hanya ku arahkan ke bagian-bagian tubuh Bu Fat yang menurutku menarik secara seksual. Pantat Bu Fat ku remas-remas sambil sesekali jariku sengaja ku sentuhkan ke memeknya. Kontolku semakin keras dan tegang saja. Hingga akhirnya aku tak kuat lagi menahan nafsu, kuciumi saja pantat Bi Fat dan ku panjangkan lidahku mencoba menjangkau memek Bu Fat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh.., dik Lan, koq malah ke situ?" Tanya Bu Fat dengan suara perlahan.&lt;br /&gt;Tak ku indahkan lagi pertanyaan Bu Fat, nafsuku sudah sangat tinggi, dengan liar ku jilati memek Bu Fat, ku kuakkan kaki Bu Fat hingga memek Bu Fat yang berjembut agak tebal itu tampak lebih lebih jelas lagi. Aku terus menurunkan lagi lidahku menikmati bahagian bawah memek Bu Fat yang ternyata sudah basah oleh lendir, saat lidahku menyapu sekitar bibir Bu Fat, Bu Fat terdengar mengeluh.&lt;br /&gt;"..Mmmmmmmm.., sshh.., jilat yang dalam dik Lan.." Desah Bu Fat.&lt;br /&gt;Aku pun menjilati memek Bu Fat dan sesekali mengigit kecil bibir memek serta itil Bu Fat.&lt;br /&gt;Sambil menjilat, jari tangan ku ku masukan dan ku putar-putar di dalam lubang memek Bu Fat.&lt;br /&gt;"..mmm.., aahh.., ayo masukin yang dalam jarinya, dik lan, nah ..sshh, aahhh.., putar-dik, ahhh..,'' Racau Bu Fat semakin ghairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsuku semakin tak terbendung lagi, kuminta Bu Fat untuk terlentang. Bu Fat lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu kakinya mengangkang, muka ku langsung ku hujamkan ke memek Bu Fat. Bu Fat memegang erat kepala aku sambil meramas ramas rambutku.&lt;br /&gt;"..sssshh.., mmhh.., aahhhh..," Badan Bu Fat sampai terhempas-hempas menikmati jilatan lidahku pada memek dan itilnya, sesekali ku gigit pelan sampai Bu Fat melenguh agak keras..&lt;br /&gt;"Awwwww.., uiiih..., seperti itu.., yaaaa..., aahh.., ayo lagi dik Lan.'' Lenguh Bu Zilahlagi.&lt;br /&gt;Sambil ku nikmati memeknya, tangan ku meremas-remas tetek Bu Fat yang menggantung bergantian, dan Bu Fat membongkokkan badannya untuk meraih kontolku, aku terus saja menjilat dan menghisap memek Bu Fat sampai aku rasakan seluruh badan Bu Fat bergeletar.&lt;br /&gt;"Jilat dik Lan, Jilat semuanya,..ssshhh.., mmmmmmm.., yah..,''&lt;br /&gt;Bu Fat mengangkat kepalaku sambil tersenyum dia berkata..,&lt;br /&gt;"Ayo dik Lan, biar ibu udah tua tapi memek ibu masih legit koq..,'' Kata Bu Fat sambil memegang dan menepuk-nepuk memeknya.&lt;br /&gt;Aku senyum, tanganku ku usap-usapkan ke permukaan memek Bu Fat, jembutnya ku tarik pelan-pelan.&lt;br /&gt;"Sekarang gantian, ibu pengen ngelihat punya dik Lan.'' Pinta Bu Fat.&lt;br /&gt;Aku bangun dan berdiri didepan Bu Fat, ku lepas celanaku, dan tersembulah kontolku yang sudah mengacung keras itu. Melihat itu Bu Fat tersenyum.&lt;br /&gt;"Ini kalau ibu jilatin sebentar juga pasti keluar" Kata Bu Fat tersenyum.&lt;br /&gt;Aku tak menanggapinya, Bu Fat lalu mendekatkan wajahnya ke kontolku dan mulutnya meraih kontolku, setelah terlebih dahulu lidahnya menjilati. Kontolku terasa hangat ketika Bu Fat memasukannya ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;Kontolku lalu dihisap-hisapnya dengan gerak maju mundur.&lt;br /&gt;"mmmmph..... mmmmmppphh" Bunyi mulut Bu Fat ketika menghisap kontolku yang bercampur air liurnya. Bu Fat juga kemudian mengulum pula buah zakar ku.&lt;br /&gt;Sesekali Bu Fat memasukkan seluruh batang kontolku kedalam mulutnya dan pada bagian inilah yang aku sangat tak tahan.&lt;br /&gt;"..mmmhhhh..., oohh.., Bu Fat terus bu" Aku mengeluh enak sambil ku pegang erat kepala Bu Fat, waktu kurasakan air maniku tak dapaat ku tahankan lagi.&lt;br /&gt;''..aahh.., bu saya keluar bu'' Erangku.&lt;br /&gt;Air maniku pun muncrat di dalam mulut Bu Fat yang terus saja menghisapi kontolku sambil memainkan lidahnya mengulas-ulas kepala kontolku.&lt;br /&gt;Bu Fat tetap memegangi kontolku yang mulai mengecil. Aku terus duduk di sebelah Bu Fat.&lt;br /&gt;"Wah nggak nyangka ibu pinter banget ngisep..,'' Kata ku memuji.&lt;br /&gt;"Iya dong dik Lan, soalnya lelaki itu sebenarnya banyak yang lebih suka itunya di hisap dan dijilati, perempuan juga sama banyak yang lebih suka barangnya dijilati saja. Sebab tidak menguras tenaga. Pastinya, kalau lelaki pandai membuat perempuan itu puas secara begini, perempuan akan dapat melayani kembali lelaki itu dengan sempurna." Bu Fat menerangkan.&lt;br /&gt;''Ibu memang sangat suka ngewe, tapi kalau ngewe tapi akhirnya tak puas buat apa? Mending usaha sendiri aja sampai puas." Kata dia lagi sambil meremas-remas kontolku yang perlahan mulai mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Hah .. Macam dik Lan ni,, batang dahlah boleh tahan.. besar.. panjangnya cukup.. dan air pulak banyak.. puaslah perempuan tu.. tapi kalau dik lan tak reti.. susahlah nanti. Syok Sendiri.'' kata dia lagi. Aku pun dah mula nak meara main cipap Kak Zi pula.&lt;br /&gt;"Dik lan, memek ibu memang sudah agak longgar sedikit, maklum aja ibu kan sudah tua, makanya dik Lan harus menusukkan kontolnya keras.'' Kata Bu Fat.&lt;br /&gt;''Tenang saja bu soal tusuk menusuk sih rasanya saya sanggup.'' Kataku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Fat lantas menyandar kembali di atas sofa dan mengangkangkan kakinya, memeknya terlihat sudah basah.&lt;br /&gt;''Ayo Dik Lan masukin kontolmu cepat.'' Pinta Bu Fat.&lt;br /&gt;Aku pun tanpa menunggu lagi segera saja memasukkan kontolku kedalam memek Bu Fat, ku hentak dengan sekuat hati.&lt;br /&gt;"Aww.., aduuhh., ayo hentak lagi dik Lan, puaskan ibu...'' Bu Fat mengerang.&lt;br /&gt;''Dik Lan coba goyangin sedikit kontolnya deh, biar memek ibu semua ngerasain.'' Kata Bu Fat.&lt;br /&gt;Ku ikuti permintaannya, sambil mendorong koputar kontolku bahkan seperti hendak menyungkit isi memek Bu Fat keluar.&lt;br /&gt;Gerakan ku menusuk-nusukan kontol kulakukan dengan simultan, aku juga meremas-ramas tetek Bu Fat sambil tetap ku hetakan kontoku kedalamnya.&lt;br /&gt;Ku rasakan Bu Fat mengemut-ngemutkan memeknya hingga kontolku serasa di remas-remas nikmat. Aku dan Bu Fat kemudian berganti posisi, Bu Fat memutar badannya supaya aku menusuknya dari belakang.&lt;br /&gt;"..aahh, ..oohhh, ..aaahh, ...oohhh, ...mmmhhh. .." Bu Fat mengeluh keenakan.&lt;br /&gt;Hingga beberapa saat kemudian,&lt;br /&gt;"Aaaahh.., sshh.....'' Bu Fat mendesah-desah disertai gerakan tubuhnya yang semakin liar sepertinya Bu Fat klimaks.&lt;br /&gt;Aku segera mencabut kontolku dari lobang memek Bu Fat yang ternyata di fahami oleh Bu Fat dengan memutar badannya dan disongsongnya kontolku dengan mulutnya. Dan dihisap-hisapnya kontolku lagi, hingga akhirnya kurasakan cairan kenikmatan menjalari kontolku, kenikmatan itu bertambah dengan hisapan yang di lakukan Bu Fat memberi sensasi seks yang berbeda yang tentunya lebih dahsyat karena spermaku seakan-akan disedot keluar oleh mulut Bu Fat. Tubuhku mengejang sedangkan tanganku sibuk mempermainkan sepasang tetek Bu Fat, merasakan kenikmatan itu sampai tetes terahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku dan Bu Fat sama-sama terdiam beberapa saat, Bu Fat lalu beringsut kemudian berjalan ke kamar mandi. Ku dengar air mencebok, sepertinya Bu Fat sedang membersihkan memeknya. Bu Fat keluar dari kamar mandi sudah dengan memakai celana dalamnya tanpa BH karena Bhnya dan juga pakaiannya di bawa di tangannya sehingga tetek Bu Fat tampak berayun-ayun mengikuti gerak jalan Bu Fat. Ketika ku perhatikan teteknya Bu Fat tampak tanda merah yang secara nggak sadar ku buat ketika ngewe dengan Bu Fat tadi.&lt;br /&gt;Bu Fat tersenyum kecil saja ketika melihat ku, dipakainya kembali pakaiannya. Dia kemudian mengenakan kerudungnya dan kembali ke sofa.&lt;br /&gt;Aku yang masih bertelanjang bulat santai saja tiduran di sofa. Bu Fat lalu duduk di sampingku, dipegangnya kontolku yang sudah layu itu dan di remas-remasnya hingga keras dan tegang lagi.&lt;br /&gt;"Wah, dik Lan mau lagi ya?, ininya keras lagi nih.'' Goda Bu Fat sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Aku Tak menjawabnya hanya tersenyum sambil mengedipkan mata. Bu Fat mengangsurkan mukanya mendekati kontolku dan mulutnya menggapai kontolku untuk kemudian dihisapnya lagi.&lt;br /&gt;''Dik Lan kita main sekali lagi yah..,'' Ajak Bu Fat kepadaku.&lt;br /&gt;Langsung ku anggungkan kepalaku, karena memang itu yang aku maui apa lagi setelah kontolku di sepongnya tadi nafsuku bangkit lagi.&lt;br /&gt;Aku dan Bu Fat akhirnya ngewe lagi kali ni Bu Fat masih memakai kerudungnya membuatku semakin bernafsu mengewenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah merapikan lagi pakaian dan kerudung yang di pakainya, Bu Fat pamit, dia bilang mau pergi mengajar lagi satu di rumah. Aku mengenakan celanaku dan kubukakan pintu untuk Bu Fat, dia tersenyum melirikku sambil memakai sepatunya.&lt;br /&gt;''Istirahat dulu ya dik, biar lebih segar makan telur setengah matang 2 butir dan minum air dicampur madu." Pesan Bu Fat sambil berbisik.&lt;br /&gt;"Kalau dik Lan kepengen lagi, kasih tahu ibu yah, atau talepon dulu" Lanjut Bu Fat.&lt;br /&gt;''Baik bu..,'' Jawabku sambil meremas pantat Bu Fat yang gempal..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan ku dengan Bu Fat terus berlangsung hingga kini, kapan pun aku mau ngewe dengan Bu Fat aku tinggal meneleponnya, dan Bu Fat tak pernah menolaknya, karena biar pun Bu Fat sudah tua ternyata nafsu seksnya masih tetap tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-4775086653992856288?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/4775086653992856288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=4775086653992856288' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/4775086653992856288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/4775086653992856288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/ibu-fatimah.html' title='Ibu Fatimah'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-7150224462224430419</id><published>2008-02-02T13:10:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:12:11.018+07:00</updated><title type='text'>Tante Vida</title><content type='html'>Nama saya Dodi. Sekarang saya masih kuliah di Universitas dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat saya sekarang haus akan seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.&lt;br /&gt;Dia bilang, “Dod, sudah tidur?”&lt;br /&gt;Saya jawab dari dalam, “Belum, tante!”&lt;br /&gt;Tante Vida bertanya, “Kalau belum boleh tante masuk.”&lt;br /&gt;Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, “Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?” Tanpa pikir panjang, saya jawab, “Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Vida berkata, “Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk” Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, “Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod.” Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu. Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkan jari saya, dia meritih, “Akhh, Dodi!” Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, “Aakhh, Dodi terus Dod!” Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. “Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?” Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, “Akhh! Lagi tante.. lagi tantee.” Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “Hiperseks” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-7150224462224430419?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/7150224462224430419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=7150224462224430419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/7150224462224430419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/7150224462224430419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/tante-vida.html' title='Tante Vida'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-2981345323514651363</id><published>2008-02-02T13:08:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:10:02.435+07:00</updated><title type='text'>Tante Ita</title><content type='html'>Namaku Otong (bukan nama sebenarnya),aku kerja di sebuah perusahaan cukup&lt;br /&gt;terkenal jawa barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di&lt;br /&gt;daerah perkampungan yang dekat dengan kantor. Di daerah tersebut terkenal dengan&lt;br /&gt;gadis-gadisnya yang cakep-cakep manis. Aku dan temen-temen kost setiap kali&lt;br /&gt;pulang kantor selalu menyempatkan diri buat mejengin cewek-cewek yang sering&lt;br /&gt;lewat didepan kost.&lt;br /&gt;Disebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian&lt;br /&gt;untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti,&lt;br /&gt;permen, dsb dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung sebelah. Kadang&lt;br /&gt;kalo pas ngga' bawa uang ato pas belanja uangnya kurang aku udah ngga'&lt;br /&gt;sungkan-sungkan untuk nge-bon. Warung itu milik ibu Ita (tapi aku memanggilnya&lt;br /&gt;tante Ita), seorang janda cerai beranak satu yang taun ini baru masuk TK nol&lt;br /&gt;kecil. Warung tante Ita buka pagi-pagi banget sekita jam lima-an, trus tutupnya&lt;br /&gt;juga sekitar jam sembilan malam. warung itu ditungguin ama tante Ita sendiri dan&lt;br /&gt;keponakannya yang SMA, Krisna namanya.&lt;br /&gt;Seperti biasanya, sepulang kantor aku mandi, pake sarung trus udah stand by di&lt;br /&gt;depan tivi, sambil ngobrol bareng temen-temen kost. Aku bawa segelas kopi&lt;br /&gt;hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang... apa ya..??? oh ya&lt;br /&gt;rokok, tapi setelah aku liat jam dinding udah menunjukkan jam 9 kurang 10 menit&lt;br /&gt;(malam), aku jadi ragu, apa warung tante Ita masih buka ya...???, Ah... aku coba&lt;br /&gt;aja kali-kali aja masih buka.... Oh.. ternyata warung tante Ita belum tutup,&lt;br /&gt;tapi kok sepi... "mana yang jualan..." bathinku. "tante...., tante.... dik&lt;br /&gt;Krisna...dik Krisna...." lho kok kosong.... warung ditinggal sepi seperti ini...&lt;br /&gt;kali aja lupa nutup warung... Ah kucoba panggil sekali lagi.... " permisi,&lt;br /&gt;...tante Ita....???". "Oh ya... tungguuuuu....". Ada suara dari dalam. Wah jadi&lt;br /&gt;dech beli rokok akhirnya.&lt;br /&gt;Yang keluar ternyata tante Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitin di dada,&lt;br /&gt;jalan tergesa-gesa ke warung sambil ngucek-ngukek rambutnya yang keliatannya&lt;br /&gt;baru habis mandi juga abis keramas. Oh... maaf tante,saya mau mengganggu nich..&lt;br /&gt;saya mo beli rokok ---gudang garam inter---, lho dik krisna mana...???.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;O...&lt;br /&gt;krisna sedang dibawa ama kakeknya... katanya kangen ama cucu..., maaf ya mas&lt;br /&gt;Otong tante pake' pakaian kayak gini... baru abis mandi sich... ngga' apa-apa&lt;br /&gt;kok tante, sekilas mataku melihat badan yang lain yang ngga' terbungkus&lt;br /&gt;handuk... putih mulus, seperti masih gadis-gadis, baru kali ini aku liat&lt;br /&gt;sebagian besar tubuh tante Ita, saolnya biasanya tante Ita selalu pake baju&lt;br /&gt;kebaya. Dan lagi aku baru sadar dengan hanya handuk yang dililitin di atas&lt;br /&gt;dadanya berarti tante Ita ngga' pake BH. Pikiran ngeresku mulai kumat.&lt;br /&gt;Malam gini kok belum tutup tante..??? iya mas Otong, ini juga tante mau tutup,&lt;br /&gt;tapi mo pake' pakaian dulu...??. Oh biar saya bantu ya tante, sementara tante&lt;br /&gt;berpakaian, kataku. Masuklah aku ke dalam warung, trus nutup warung dengan&lt;br /&gt;rangkain papan-papan. Wah ngerepoti mas Otong kata tante Ita... sini biar tante&lt;br /&gt;ikut bantu juga.&lt;br /&gt;Warung udah tertutup, kini aku pulang lewat belakang aja. Trimakasih lho mas&lt;br /&gt;Otong...?? sama-sama...kataku. Tante saya lewat belakang aja.... Pas aku dan&lt;br /&gt;tante Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku nyenggol tante,&lt;br /&gt;tanpa diduga handuk penutup ---yang ujung handuk dilepit di dadanya--- itu&lt;br /&gt;terlepas, dan tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda aja...&lt;br /&gt;Tante Ita menjerit sambil secara reflek memeluk aku... "Mas Otong .... tolong&lt;br /&gt;ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di badan tante..." kata tente dengan muka&lt;br /&gt;merah pedam. Aku jongkok mau ngambilin handuk tante yang jatuh, saat tanganku&lt;br /&gt;mengambil handuk, kini didepanku persis ada pemandangan yang sangat indah ...&lt;br /&gt;celana dalam merah muda, dengan background hitam rambut-rambut halus disekitar&lt;br /&gt;memeknya yang tercium harum.... kemudian aku cepet - cepet berdiri sambil&lt;br /&gt;membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika aku mau&lt;br /&gt;melilitkan handuk tanpa aku sadari burungku yang udah bangun sedari tadi&lt;br /&gt;menyentuh tante... "Mas Otong... burungnya bangun ya...???" Iya tante.. ah jadi&lt;br /&gt;malu saya... abis saya liat tante seperti ini mana harum lagi, jadi nafsu saya&lt;br /&gt;tante....". " Ah ngga' apa-apa kok mas Otong itu wajar...". "Eh ngomong-ngomong&lt;br /&gt;Mas Otong kapan mo nikah...?". "Ah belum terpikir tante..." "Yah... kalo mo'&lt;br /&gt;nikah harus siap lahir bathin lho... jangan kaya' mantan suami tante... ngga'&lt;br /&gt;bertanggung jawab kepada keluarga... nah akibatnya sekarang tante harus&lt;br /&gt;bersetatus janda. Gini ngga' enaknya jadi janda, malu... tapi ada yang lebih&lt;br /&gt;menyiksa mas Otong... kebutuhan bathin...". "Oh ya tante... trus gimana caranya&lt;br /&gt;tante memenuhi kebutuhan itu..." tanyaku usil. "Yah.. tante tahan -tahan&lt;br /&gt;aja..".... Kasihan.... bathinku...andaikan...andaikan...aku diijinin biar&lt;br /&gt;memenuhi kebutuhan bathin tante Ita...ough....pikiranku tambah usil&lt;br /&gt;Waktu itu bentuk sarungku udah berubah, agak kembung... rupanya tante juga&lt;br /&gt;memperhatikan. "Mas Otong burungnya masih bangun ya...??" aku cuman nggangguk&lt;br /&gt;aja... trus sangat diluar dugaanku... tiba-tiba tante Ita meraba burungku...&lt;br /&gt;"wow besar juga burungmu, Mas Otong...burungnya udah pernah ketemu sarangnya&lt;br /&gt;belom ...???". "Belum...!!" jawabku bohong... sambil terus diraba turun&lt;br /&gt;naik...aku mulai merasakan kenikmatan yang udah lama ngga' pernah aku rasakan.&lt;br /&gt;"Mas.... boleh dong tante ngeliatin burungmu bentarrrrr aja...???" belum sempat&lt;br /&gt;aku menjawab, tante Ita udah menarik sarungku, praktis tinggal celana dalamku&lt;br /&gt;yang tertinggal plus kaos oblong."Oh.... sampe' keluar gini mas...???". "iya&lt;br /&gt;emang kalo burungku lagi bangun panjangnya suka melewati celana dalam, aku&lt;br /&gt;sendiri ngga' tau persis berapa panjang burungku...?" kataku sambil terus&lt;br /&gt;menikmati kocokan tangan tante Ita.&lt;br /&gt;" Wah... tante yakin , yang nanti jadi istri mas Otong pasti bakal seneng dapet&lt;br /&gt;suami kaya Mas Otong..." kata tante sambil terus ngocok burungku, oughhhhh....&lt;br /&gt;nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu...Aku&lt;br /&gt;tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tau, ante Ita udah melepaskan lagi&lt;br /&gt;handuk yang aku lilitkan tadi, itu aku tau karena burungku ternyata udah&lt;br /&gt;digosok-gosokan diantara buah dadanya yang ngga' terlalu besar itu ... "&lt;br /&gt;ough...tante.... nikmat tante...ough.... "desahku sambil bersandar memegangi&lt;br /&gt;dinding rak dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang&lt;br /&gt;kecil,dengan buasnya dia keluar masukkan burungku dimulutnya sambil sekali-kali&lt;br /&gt;menyedot... ough.... kaya terbang rasanya... kadang-kadang juga dia sedot habis&lt;br /&gt;buah salak yan dua itu...ough... sesssshhhh,&lt;br /&gt;Aku kaget, tiba-tiba tante mengehentikan kegiatannya... dia pegangi burungku&lt;br /&gt;sambil berjalan ke meja dagangan yang agak kesudut, tante Ita naik sambil&lt;br /&gt;nungging diatas meja membelakangi aku... sebongkah pantat terpampang jelas&lt;br /&gt;didepanku kini, "Mas Otong... berbuatlah sesukamu... cepet&lt;br /&gt;mas...cepet.....??!!!"&lt;br /&gt;Tanpa basa basi lagi aku tarik celana dalamnya selutut... woooow... pemandangan&lt;br /&gt;begini indah... memek dengan bulu halus yang ngga' terlalu banyak... aku jadi&lt;br /&gt;ngga' percaya kalo' tante Ita udah punya anak... aku langsung aja nyosor itu&lt;br /&gt;memek... harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya...&lt;br /&gt;aku lahap rakus memek tante... aku maenkan lidahku di kelentitnya, sesekali aku&lt;br /&gt;masukkan lidahku ke lubang vaginanya..... "ough mas.... ough.... " desah tante&lt;br /&gt;sambil memegangi susunya sendiri.... "terus mas..... maaas......", aku semakin&lt;br /&gt;keranjingan... terlebih lagi waktu aku masukkan lidahku kedalam vaginanya ada&lt;br /&gt;rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuat aku gila....&lt;br /&gt;Kemudian tante Ita membalikkan badannya terlentang diatas meja dengan kedua paha&lt;br /&gt;diatekuk keatas... "ayo Mas Otong.... tante udah ngga' tahan... mana burungmu&lt;br /&gt;mas... burungmu udah pengen kesarangnya.... wowwww.mas otong.... burung mas&lt;br /&gt;Otong kalo bangun dongak ke atas ya...???" Aku hampir ngga' denger komentar&lt;br /&gt;tante Ita soal burungku, aku melihat pemandangan demikian menantang, vagina&lt;br /&gt;dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat&lt;br /&gt;mengkilat, aku langsung tancapkan burungku dibibir vaginanya.... "aoghhhhh..."&lt;br /&gt;teriak tante... "kenapa tante... ???" tanyaku kaget.. "udahlah mas....&lt;br /&gt;teruskan...teruskan ..." aku masukkan kepala burungku di vaginanya.... sempit&lt;br /&gt;sekali ... "tante... sempit sekali tante..???". " Ngga' apa-apa mas... terus&lt;br /&gt;aja... soalnya udah lama sich tante ngga' ginian... ntar juga enak..." yah&lt;br /&gt;...aku paksain dikit-demi dikit.... baru setengah dari burungku amblas....tante&lt;br /&gt;Ita udah seperti cacing kepanasan gelepar kesana kemari... ough... mas...ouh...&lt;br /&gt;mas...enak mas... terus mas...oughhhhhhh..... begitu juga aku... walaupun&lt;br /&gt;burungku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya oughhh luar biasa...&lt;br /&gt;nikmat sekali... semakin lama gerakanku semakin cepat... kali ini burungku udah&lt;br /&gt;amblas dimakan vagina tante Ita.... keringat mulai membasahi badanku dan badan&lt;br /&gt;tente ... tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku mencakarku..... "Oughhhh&lt;br /&gt;mas... ough... luar biasa.... oughhh..., mas otong ..."katanya sambil merem&lt;br /&gt;melek..." kayaknya ini yang namanya orgasme...ough....", burungku tetap di&lt;br /&gt;vagina tante Ita... "mas Otong udah mau keluar ya...???" aku menggeleng...&lt;br /&gt;kemudian tante Ita terlentang kembali... aku seperti kesetanan menggerakkan&lt;br /&gt;badaku maju mundur..., aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku,&lt;br /&gt;aku menunduk aku cium puttingnya yang coklat kemerahan.... Tante Ita semakin&lt;br /&gt;mendesah....ough...mas...., tiba-tiba lagi tante Ita memelukku sedikit agak&lt;br /&gt;mencakar punggungku... "oughhhhmas... aku keluar lagi....." trus vaginanya aku&lt;br /&gt;rasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa.... aku&lt;br /&gt;dibuat terbang rasanya.... ach rasanya aku udah mau keluar.... sambil terus&lt;br /&gt;goyang aku tanya tante Ita... "tante... aku keluarin dimana tante... ??? didalam&lt;br /&gt;boleh nga..???" ".... ttterrrsseeerrraaah.... "desah tante....ough...aku&lt;br /&gt;percepat gerakanku, burungku berdenyut keras .... ada sesuatu yang akan&lt;br /&gt;dimuntahkan oleh burngku... akhirnya semua terasa enteng , badanku serasa&lt;br /&gt;terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa... akhirnya peju-ku aku muntahkan&lt;br /&gt;dalam vagina tante Ita...masih aku gerakkan badanku...rupanya kali ini tante&lt;br /&gt;Ita orgasme kembali ..... dia gigit dadaku... oughhhh " mas otong....mas&lt;br /&gt;otong.... hebat kamu mas..."&lt;br /&gt;Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku.... Tante ita masih tetep&lt;br /&gt;telanjang terlentang diatas meja,...." Mas Otong... kalo mau beli rokok lagi&lt;br /&gt;yah... jam-jam sekian aja ya... nah kalo udah tutup digedor aja... ngga'&lt;br /&gt;apa-apa... malah kalo ngga' digedor tante jadi marah... " kata tante menggodaku&lt;br /&gt;sambil mainin putting dan klentitnya yang masih nampak bengkak ... " Tante ingin&lt;br /&gt;Mas Otong sering bantuin tante tutup warung...." kata tante sambil tersenyum&lt;br /&gt;genitnya... Trus aku pulang... baru terasa lemes sakali badan ini, tapi itu&lt;br /&gt;ngga' berarti sama sekali dibandingin kenikmatan yang barusan kau dapat.&lt;br /&gt;Keesokan harinya ketika aku hendak berangkat ke kantor, pas didepan warung tante&lt;br /&gt;Ita, aku di panggil tante.... "rokoknya udah habis ya.... ntar malem beli lagi&lt;br /&gt;ya...????" katanya penuh pengharapan... padahal pembeli pas lagi&lt;br /&gt;banyak-banyaknya... tapi mereka ngga' tau apa maksud perkataan tante Ita tadi,&lt;br /&gt;aku pun pergi kekantor dengan sejuta ingatan kejadian kemaren malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-2981345323514651363?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/2981345323514651363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=2981345323514651363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/2981345323514651363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/2981345323514651363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/tante-ita.html' title='Tante Ita'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-1520502279434138402</id><published>2008-02-02T13:07:00.001+07:00</published><updated>2008-02-02T13:07:56.700+07:00</updated><title type='text'>Gairah Bu RT</title><content type='html'>Usia Bu Harjono sebenarnya tidak muda lagi. Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak Harjono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak Harjono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak Harjono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har (begitu biasanya aku dan warga lain memanggil) sebagai wanita belum kehilangan daya tariknya. Memang beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona. Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut.Kisahnya berawal ketika Pak Harjono mendadak menderita sakit cukup serius. Ia masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantu menemaninya selama suaminya berada di RS menjalani perawatan. Dan aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak Harjono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,?” Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah sakit. Bahkan Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat sibuk. Harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya. Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak Harjono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang diderita. Maka akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. “Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau beristirahat. Sudah dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har,” kataku menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk (oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah), ia meminta para pembesuk untuk menunggui suaminya. “Saya mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari saya tidak sempat mandi,” katanya kepada rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat berdesir. Gara-gara mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di kampungku. Pikiran nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi. Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk ganti. “Jangan lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har. Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring kecil. Dan mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. “Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai,” suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan kue. Saat itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,.. benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya. Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap mataku. Bahkan ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah, .. yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau lebih. Sebagai wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu Har. Sayang cuma sekilas, begitu aku membatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku duduk. Di sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harus membungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari (seperti ia sengaja melakukan hal ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke pangkalnya. Paha yang sempurna , putih mulus dan tampak masih kencang. Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan? Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam hatiku. Bahkan terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total. Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak tubuhnya. Gairahku jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore hari. Maka orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air hujan. Sementara aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di sana. Awalnya Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janji ya Rid (setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku), kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli rokok. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian,” katanya.&lt;br /&gt;“Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi,” jawabku.&lt;br /&gt;Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat. Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah meter. Sambil tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak Harjono. Menurut Bu Har penyakit diabetis itu diderita suaminya sejak delapan tahun lalu. Dan karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu?”&lt;br /&gt;“Kata siapa, Rid?”&lt;br /&gt;“Eh,.. anu, kata artikel di sebuah koran,” jawabku agak tergagap.&lt;br /&gt;Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har.&lt;br /&gt;“Rupanya kamu gemar membaca ya. Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua,” ujarnya lirih.&lt;br /&gt;Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita itu. Sebab kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut,” katanya lirih.&lt;br /&gt;Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu. Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seperti anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan - karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur - aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sampai di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu selimut. Akhirnya, ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku. Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah dasternya. Baru ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita itu. Ia mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi di bagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan dasternya. Lalu seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har. Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita itu. Payudara berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah mengeras. Kata teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau apa Rid,.. jangan di sini ah nanti ketahuan orang,” katanya lirih.&lt;br /&gt;“Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar.”&lt;br /&gt;Hujan saat itu memang semakin deras.Entah karena mempercayai omonganku. Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke bawah. Bahkan ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Namun berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah. Slep… penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di vaginanya. Sementara sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat. Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi aksiku. Pantat besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasan nikmat yang melambungkan jauh anganku entah kemana. Bahkan sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah,.. ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah,”&lt;br /&gt;“Aku juga enak Rid, uh.. uh… uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh,.. ah.. ah,”&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian membanjir. Nafsuku kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku.&lt;br /&gt;“Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shhh, ah, .. ah,”&lt;br /&gt;“Aku juga Rid, terus goyang, ya .. ya,.. ah,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita itu. Maniku cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku. Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan.&lt;br /&gt;“Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat,” kata Ia sambil masih tiduran di dekatku.&lt;br /&gt;Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu.&lt;br /&gt;“Ya Maaf,.. soalnya tadi,..”&lt;br /&gt;“Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti itu. Soalnya sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu dan menimbulkan aib diantara kita,” ujarnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya. Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum kesampaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti yang dipesankannya, aku berusaha mencoba bersikap sewajar mungkin saat berada diantara orang-orang. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa diantara kami. Kendati aku sering harus menekan keinginan yang menggelegak akibat darah mudaku yang gampang panas saat berdekatan dengannya. Dan sejak itu lokasi teras di belakang kamar mayat menjadi saksi sekitar tiga kali hubungan sumbang kami. Hubungan sumbang yang terpaksa kuhentikan seiring kedatangan Bu Hartini, adik Pak Harjono yang bermaksud menengok kondisi sakit kakaknya. Hanya terus terang, sejak kehadirannya ada perasaan kurang senang pada diriku. Sebab sejak Ia ada yang menemani merawat suaminya di rumah sakit, kendati aku tetap diminta untuk membantu mereka dan selalu berada di rumah sakit, aku tidak lagi dapat menyalurkan hasrar seksualku. Hanya sesekali kami pernah nekad menyalurkannya di kamar mandi ketika hasrat yang ada tak dapat ditahan. Itu pun secara kucing-kucingan dengan Bu Tini dan segalanya dilaksanakan secara tergesa-gesa hingga tetap tidak memuaskan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika, saat Pak Har telah siuman dan perawatannya telah dialihkan ke bangsal perawatan yang terpisah, Bu Tini menyarankan kepada Ia untuk tidur di rumah.&lt;br /&gt;“Kamu sudah beberapa hari kurang tidur Mbak, kelihatannya sangat kelelahan. Coba kamu kalau malam tidur barang satu dua hari di rumah hingga istirahat yang cukup dan tidak jatuh sakit. Nanti kalau kedua-duanya sakit malah merepotkan. Biar yang nunggu Mas Har kalau malam aku saja diteman Dik Rido kalau mau” ujarnya.&lt;br /&gt;Ia setuju dengan saran adik iparnya. Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam itu. Maka hatiku bersorak karena terbuka peluang untuk menyetubuhinya di rumah. Tetapi bagaimana caranya pamit pada Bu Tini? Kalau aku ikut-ikutan pulang untuk tidur di rumah apa tidak mengundang kecurigaan? Aku jadi berpikir keras untuk menemukan jalan keluar. Dan baru merasa plong setelah muncul selintas gagasan di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 22.00 malam, lewat telepon umum kutelepon rumahnya. Wanita itu masih terjaga dan menurut pengakuannya tengah menonton televisi. Maka nekad saja kusampaikan niatku kepadanya. Dan ternyata ia memberi sambutan cukup baik.&lt;br /&gt;“Kamu nanti memberi tanda kalau sudah ada di dekat kamar ibu ya. Nanti pintu belakang ibu bukakan. Dan sepeda motornya di tinggal saja di rumah sakit biar tidak kedengaran tetangga. Kamu bisa naik becak untuk pulang,” katanya berpesan lewat telepon.&lt;br /&gt;Untuk tidak mengundang kecurigaan, sekitar pukul 23.00 aku masuk ke bangsal tempat Pak Har dirawat menemani Bu Tini. Namun setengah jam sesudahnya, aku pamit keluar untuk nongkrong bersama para Satpam rumah sakit seperti yang biasa kulakukan setelah kedatangan Bu Tini. Di depan rumah sakit aku langsung meminta seorang abang becak mengantarku ke kampungku yang berjarak tak lebih dari satu kilometer. Segalanya berjalan sesuai rencana. Setelah kuketuk tiga kali pintu kamarnya, kudengar suara Ia berdehem. Dan dari pintu belakang rumah yang dibukakannya secara pelan-pelan aku langsung menyelinap masuk menuju ruang tengah rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, bertemu di tempat terang membuat kami sama-sama kikuk. Sebab selama ini kami selalu berhubungan di tempat gelap di teras kamar mayat. Maka aku hanya berdiri mematung, sedang Ia duduk sambil melihat televisi yang masih dinyalakannya. Cukup lama kami tidak saling bicara sampai akhirnya Ia menarik tanganku untuk duduk di sofa di sampingnya. Setelah keberanianku mulai bangkit, aku mulai berani menatapi wanita yang duduk di sampingku. Ia ternyata telah siap tempur. Terbukti dari daster tipis menerawang yang dikenakannya, kulihat ia tidak mengenakan Bra di baliknya. Maka kulihat jelas payudaranya yang membusung. Hanya, ketika tanganku mulai bergerilya menyelusuri pangkal paha dan meremasi buah dadanya ia menolak halus.&lt;br /&gt;“Jangan di sini Rid, kita ke kamar saja biar leluasa,” katanya lirih.&lt;br /&gt;Ketika kami telah sama-sama naik ke atas ranjang besar di kamar yang biasa digunakan oleh suami dan dia, aku langsung menerkamnya. Semula Ia memintaku mematikan dulu saklar lampu yang ada di kamar itu, tetapi aku menolaknya. “Saya ingin melihat semua milikmu,” kataku.&lt;br /&gt;“Tetapi aku malu Rid. Soalnya aku sudah tua,.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persetan dengan usia, dimataku, Ia masih menyimpan magnit yang mampu menggelegakkan darah mudaku. Sesaat aku terpaku ketika wanita itu telah melolosi dasternya. Dua buah gunung kembarnya yang membusung nampak telah menggantung. Tetapi tidak kehilangan daya pikatnya. Buah dada yang putih mulus dan berukuran cukup besar itu diujungnya terlihat kedua pentilnya yang berwarna kecoklatan. Indah dan sangat menantang untuk diremas. Maka setelah aku melolosi sendiri seluruh pakaian yang kukenakan, langsung kutubruk wanita yang telah tiduran dalam posisi menelentang. Kedua payudaranya kujadikan sasaran remasan kedua tanganku. Kukulum, kujilat dan kukenyot secara bergantian susu-susunya yang besar menantang. Kesempatan melihat dari dekat keindahan buah dadanya membuat aku seolah kesetanan. Dan Ia, wanita berhidung bangir dengan rambut sepundak itu menggelepar. Tangannya meremas-remas rambut kepalaku mencoba menahan nikmat atas perbuatan yang tengah kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua gunung kembarnya, setelah beberapa saat bermain di sana, dengan terus menjulurkan lidah dan menjilat seluruh tubuhnya kuturunkan perhatianku ke bagian perut dan di bawah pusarnya. Hingga ketika lidahku terhalang oleh celana dalam yang masih dikenakannya, aku langsung memelorotkannya. Ah, vaginanya juga tak kalah indah dengan buah dadanya. Kemaluan yang besar membusung dan banyak ditumbuhi rambut hitam lebat itu, ketika kakinya dikuakkan tampak bagian dalamnya yang memerah. Bibir vaginanya memang nampak kecoklatan yang sekaligus menandakan bahwa sebelumnya telah sering diterobos kemaluan suaminya. Tetapi bibir kemaluan itu belum begitu menggelambir. Dan kelentitnya, yang ada di ujung atas, uh,.. mencuat menantang sebesar biji jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan wanita itu, mulailah mulutku yang bicara. Awalnya mencoba membaui dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di hidungku. Segar dan membuatku tambah terangsang. Dan ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat-jilat pelan di seputar bibir vaginanya besar itu, Ia tampak gelisah dan menggoyang-goyang kegelian.&lt;br /&gt;“Ih,.. jangan diciumi dan dijilat begitu Rid. Malu ah, tapi, ah..ah.. ah,”&lt;br /&gt;Tetapi ia malah menggoyangkan bagian bawah tubuhnya saat mulutku mencerucupi liang nikmatnya. Goyangannya kian kencang dan terus mengencang. Sampai akhirnya diremasnya kepalaku ditekannya kuat-kuat ke bagian tengah selangkannya saat kelentitnya kujilat dan kugigit kecil. Rupanya ia telah mendapatkan orgasme hingga tubuhnya terasa mengejang dan pinggulnya menyentak ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seumur hidup baru kali ini vaginaku dijilat-jilat begitu Rid, jadinya cepat kalah. Sekarang gantian deh Aku mainkan punyamu,” ujarnya setelah sebentar mengatur nafasnya yang memburu.&lt;br /&gt;Aku dimintanya telentang, sedang kepala dia berada di bagian bawah tubuhku. Sesaat, mulai kurasakan kepala penisku dijilat lidah basah milik wanita itu. Bahkan ia mencerucupi sedikit air maniku yang telah keluar akibat nafsu yang kubendung. Terasa ada senasi tersendiri oleh permainan lidahnya itu dan aku menggelinjang oleh permainan wanita itu. Namun sebagai anak muda, aku merasa kurang puas dengan hanya bersikap pasif. Terlebih aku juga ingin meremas pantat besarnya yang montok dan seksi. Hingga aku menarik tubuh bagian bawahnya untuk ditempatkan di atas kepalaku. Pola persetubuhan yang kata orang disebut sebagai permainan 69. Kembali vaginanya yang berada tepat di atas wajahku langsung menjadi sasaran gerilya mulutku. Sementara pantat besarnya kuremas-remas dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu jilatan lidahku tidak berhenti hanya bermain di seputar kemaluannya. Tetapi terus ke atas dan sampai ke lubang duburnya. Rupanya ia telah membersihkannya dengan sabun baik di kemaluannya maupun di anusnya. Maka tak sedikit pun meruap bau kotoran di sana dan membuatku kian bernafsu untuk menjilat dan mencoloknya dengan ujung lidahku. Tindakan nekadku rupanya membuat nafsunya kembali naik ke ubun-ubun. Maka setelah ia memaksaku menghentikan permainan 69, ia langsung mengubah posisi dengan telentang mengangkang. Dan aku tahu pasti wanita itu telah menagih untuk disetubuhi. Ia mulai mengerang ketika batang besar dan panjang milikku mulai menerobos gua kenikmatannya yang basah. Hanya karena kami sama-sama telah memuncak nafsu syahwatnya, tak lebih dari 10 menit saling genjot dan menggoyang dilakukan, kami telah sama-sama terkapar. Ambruk di kasur empuk ranjang kenikmatannya. Ranjang yang semestinya tabu untuk kutiduri bersama wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, aku dan dia melakukan persetubuhan lebih dari tiga kali. Termasuk di kamar mandi yang dilakukan sambil berdiri. Dan ketika aku memintanya kembali yang keempat kali, ia menolaknya halus.&lt;br /&gt;“Tubuh ibu cape sekali Rid, mungkin sudah terlalu tua hingga tidak dapat mengimbangi orang muda sepertimu. Dan lagi ini sudah mulai pagi, kamu harus kembali ke rumah sakit agar Bu Tini tidak curiga,” katanya.&lt;br /&gt;Aku sempat mencium dan meremas pantatnya saat Ia hendak menutup pintu belakang rumah mengantarku keluar. Ah,.. indah dan nikmat rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia Pak Har ternyata tidak cukup panjang. Selama sebulan lebih dirawat di rumah sakit, ia akhirnya meninggal setelah sebelumnya sempat dibawa RS yang lebih besar di Semarang. Di Semarang, aku pun ikut menunggui bersamanya serta Bu Tini selama seminggu. Juga ada Mbak Dewi dan suaminya yang menyempatkan diri untuk menengok. Hingga hubunganku dengan keluarga itu menjadi kian akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hubungan sumbangku dengannya terus berlanjut hingga kini. Bahkan kami pernah nekad bersetubuh di belakang rumah keluarga itu, karena kami sama-sama horny sementara di ruang tengah banyak sanak famili dari keluarganya yang menginap. Entah kapan aku akan menghentikannya, mungkin setelah gairahnya telah benar-benar padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-1520502279434138402?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/1520502279434138402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=1520502279434138402' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/1520502279434138402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/1520502279434138402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/gairah-bu-rt.html' title='Gairah Bu RT'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-5772726433103944944</id><published>2008-02-02T13:05:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:06:54.613+07:00</updated><title type='text'>Ganasnya Tante Yustina</title><content type='html'>Sesaat lamanya aku hanya berdiri di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah tetapi berarsitektur gaya Jawa kuno. Hampir separuh bagian rumah di depanku itu adalah terbuat dari kayu jati tua yang super awet. Di depan terdapat sebuah pendopo kecil dengan lampu gantung kristalnya yang antik. Lantai keramik dan halaman yang luas dengan pohon-pohon perindangnya yang tumbuh subur memayungi seantero lingkungannya. Aku masih ingat, di samping rumah berlantai dua itu terdapat kolam ikan nila yang dicampur dengan ikan tombro, greskap, dan mujair. Sementara ikan geramah dipisah, begitu juga ikan lelenya. Di belakang sana masih dapat kucium adanya peternakan ayam kampung dan itik. Tante Yustina memang seorang arsitek kondang dan kenamaan.&lt;br /&gt;Enam tahun aku tinggal di sini selama sekolah SMU sampai D3-ku, sebelum akhirnya aku lulus wisuda pada sebuah sekolah pelayaran yang mengantarku keliling dunia. Kini hampir tujuh tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sini. Sama sekali tidak banyak perubahan pada rumah Tante Yus. Aku bayangkan pula si Vivi yang dulu masih umur lima tahun saat kutinggalkan, pasti kini sudah besar, kelas enam SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulirik jarum jam tanganku, menunjukkan pukul 23:35 tepat. Masih sesaat tadi kudengar deru lembut taksi yang mengantarku ke desa Kebun Agung, Sleman yang masih asri suasana pedesaannya ini. Suara jangkrik mengiringi langkah kakiku menuju ke pintu samping. Sejenak aku mencari-cari dimana dulu Tante Yus meletakkan anak kuncinya. Tanganku segera meraba-raba ventilasi udara di atas pintu samping tersebut. Dapat. Aku segera membuka pintu dan menyelinap masuk ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku melepas sepatu ket dan kaos kakinya. Hmm, baunya harum juga. Hanya remang-remang ruangan samping yang ada. Sepi. Aku terus saja melangkah ke lantai dua, yang merupakan letak kamar-kamar tidur keluarga. Aku dalam hati terus-menerus mengagumi figur Tante Yus. Walau hidup menjanda, sebagai single parents, toh dia mampu mengurusi rumah besar karyanya sendiri ini. Lama sekali kupandangi foto Tante Yus dan Vivi yang di belakangnya aku berdiri dengan lugunya. Aku hanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan celah di bawah pintu kamar Vivi sudah gelap. Aku terus melangkah ke kamar sebelahnya. Kamar tidur Tante Yus yang jelas sekali lampunya masih menyala terang. Rupanya pintunya tidak terkunci. Kubuka perlahan dan hati-hati. Aku hanya melongo heran. Kamar ini kosong melompong. Aku hanya mendesah panjang. Mungkin Tante Yus ada di ruang kerjanya yang ada di sebelah kamarnya ini. Sebentar aku menaruh tas ransel parasit dan melepas jaket kulitku. Berikutnya kaos oblong Jogja serta celana jeans biruku. Kuperhatikan tubuhku yang hitam ini kian berkulit gelap dan hitam saja. Tetapi untungnya, di tempat kerjaku pada sebuah kapal pesiar itu terdapat sarana olah raga yang komplit, sehingga aku kian tumbuh kekar dan sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perduli dengan kulitku yang legam hitam dengan rambut-rambut bulu yang tumbuh lebat di sekujur kedua lengan tangan dan kakiku serta dadaku yang membidang sampai ke bawahnya, mengelilingi pusar dan terus ke bawah tentunya. Air. Ya aku hanya ingin merasakan siraman air shower dari kamar mandi Tante Yus yang bisa hangat dan dingin itu. Aku hendak melepas cawat hitamku saat kudengar sapaan yang sangat kukenal itu dari belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andrew..? Kaukah itu..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera memutar tubuhku. Aku sedikit terkejut melihat penampilan Tante Yus yang agak berbeda. Dia berdiri termangu hanya mengenakan kemeja lengan panjang dan longgar warna putih tipis tersebut dengan dua kancing baju bagian atasnya yang terlepas. Sehingga aku dapat melihat belahan buah dadanya yang kuakui memang memiliki ukuran sangat besar sekali dan sangat kencang, serta kenyal. Aku yakin, Tante Yus tidak memakai BH, jelas dari bayangan dua bulatan hitam yang samar-samar terlihat di ujung kedua buah dadanya itu. Rambutnya masih lebat dipotong sebatang bahunya. Kulit kuning langsat dan bersih sekali dengan warna cat kukunya yang merah muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngg.., selamat malam Tante Yus… maaf, keponakanmu ini datang dan untuk berlibur di sini tanpa ngebel dulu. Maaf pula, kalau tujuh tahun lamanya ini tidak pernah datang kemari. Hanya lewat surat, telpon, kartu pos, e-mail.., sekali lagi, saya minta maaf Tante. Saya sangat merindukan Tante..!” ucapku sambil kubiarkan Tante Yus mendekatiku dengan wajah haru dan senangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouh Andrew… ouh..!” bisik Tante Yus sambil menubrukku dan memelukku erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada dadaku yang membidang kasar oleh rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sejenak hanya membalas pelukannya dengan kencang pula, sehingga dapat kurasakan desakan puting-puting dua buah dadanya Tante Yus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pikir hanya kamu ya, yang kangen berat sama Tante, hmm..? Tantemu ini melebihi kangennya kamu padaku. Ngerti nggak..? Gila kamu Andrew..!” imbuhnya sambil memandangi wajahku sangat dekat sekali dengan kedua tangannya yang tetap melingkarkan pada leherku, sambil kemudian memperhatikan kondisi tubuhku yang hanya bercawat ini. Tante Yustina tersenyum mesra sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menghapus air matanya. Ah Tante Yus…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, untuk itulah aku minta maaf pada Tante…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja, kumaafkan..” sahutnya sambil menghela nafasnya tanpa berkedip tetap memandangiku, “Kamu tambah gagah dan ganteng Andrew. Pasti di kapal, banyak crew wanita yang bule itu jatuh cinta padamu. Siapa pacarmu, hmm..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum punya Tante. Aku masih nabung untuk membina rumah tangga dengan seorang, entah siapa nanti. Untuk itu, aku mau minta Tante bikinkan aku desain rumah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayarannya..?” tanya Tante Yus cepat sambil menyambar mulutku dengan bibir tipis Tante Yus yang merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut, tetapi dalam hati senang juga. Bahkan tidak kutolak Tante Yus untuk memelukku terus-menerus seperti ini. Tapi sialnya, batang kemaluanku mulai merinding geli untuk bangkit berdiri. Padahal di tempat itu, perut Tante Yus menekanku. Tentu dia dapat merasakan perubahan kejadiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku… ngg…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh, kamu Andrew. Tante sangat kangen padamu, hmm… ouh Andrew… hmm..!” sahut Tante Yus sambil menerkam mulutku dengan bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sejenak terkejut dengan serbuan ganas mulut Tante Yus yang kian binal melumat-lumat mulutku, mendesak-desaknya ke dalam dengan buas. Sementara jemari kedua tangannya menggerayangi seluruh bagian kulit tubuhku, terutama pada bagian punggung, dada, dan selangkanganku. Tidak karuan lagi, aku jadi terangsang. Kini aku berani membalas ciuman buas Tante Yus. Nampaknya Tante Yus tidak mau mengalah, dia bahkan tambah liar lagi. Kini mulut Tante Yus merayap turun ke bawah, menyusuri leherku dan dadaku. Beberapa cupangan yang meninggalkan warna merah menghiasi pada leher dan dadaku. Kini dengan liar Tante Yus menarik cawatku ke bawah setelah jongkok persis di depan selangkanganku yang sedikit terbuka itu. Tentu saja, batang kemaluanku yang sebenarnya telah meregang berdiri tegak itu langsung memukul wajahnya yang cantik jelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouh, gila benar. Tititmu sangat besar dan kekar, An. ouh… hmmm..!” seru bergairah Tante Yus sambil memasukkan batang kejantananku ke dalam mulutnya, dan mulailah dia mengulum-ngulum, yang seringkali dibarengi dengan mennyedot kuat dan ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tangan kanannya mengocok-ngocok batang kejantananku, sedang jemari tangan kirinya meremas-remas buah kemaluanku. Aku hanya mengerang-ngerang merasakan sensasi yang nikmat tiada taranya. Bagaimana tidak, batang kemaluanku secara diam-diam di tempat kerjaku sana, kulatih sedemikian rupa, sehingga menjadi tumbuh besar dan panjang. Terakhir kuukur, batang kejantanan ini memiliki panjang 25 sentimeter dengan garis lingkarnya yang hampir 20 senti. Rambut kemaluan sengaja kurapikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Yus terus-menerus masih aktif mengocok-ngocok batang kemaluanku. Remasan pada buah kemaluanku membuatku merintih-rintih kesakitan, tetapi nikmat sekali. Bahkan dengan gilanya Tante Yus kadangkala memukul-mukulkan batang kemaluanku ini ke seluruh permukaan wajahnya. Aku sendiri langsung tidak mampu menahan lebih lama puncak gairahku. Dengan memegangi kepala Tante Yus, aku menikam-nikamkan batang kejantananku pada mulut Tante Yus. Tidak karuan lagi, Tante Yus jadi tersedak-sedak ingin muntah atau batuk. Air matanya malah telah menetes, karena batang kejantananku mampu mengocok sampai ke tenggorokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu kesempatan, aku berhasil mencopot kemejanya. Aku sangat terkejut saat melihat ukuran buah dadanya. Luar biasa besarnya. Keringat benar-benar telah membasahi kedua tubuh kami yang sudah tidak berpakaian lagi ini. Dengan ganas, kedua tangan Tante Yus kini mengocok-ngocok batang kemaluanku dengan genggamannya yang sangat erat sekali. Tetapi karena sudah ada lumuran air ludah Tante Yus, kini jadi licin dan mempercepat proses ejakulasiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Crooot… cret.. croot… creeet..!” menyemprot air maniku pada mulut Tante Yus. Saat spermaku muncrat, Tante Yus dengan lahap memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam mulutnya sambil mengurut-ngurutnya, sehingga sisa-sisa air maniku keluar semua dan ditelan habis oleh Tante Yus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouhh… ouh.. auh Tante… ouh..!” gumamku merasakan gairahku yang indah ini dikerjai oleh Tante Yus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm… Andrew… ouh, banyak sekali air maninya. Hmmm.. lezaat sekali. Lezat. ouh…hmmm..!” bisik Tante Yus menjilati seluruh bagian batang kemaluanku dan sisa-sisa air maninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku hanya mengolah nafasku, sementara Tante Yus masih mengocok-ngocok dan menjilatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, Andrew… kemarilah Sayang.., kemarilah Baby..!” pintanya sambil berbaring telentang dan membuka kedua belah pahanya lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tanpa membuang waktu lagi, terus menyerudukkan mulutku pada celah vagina Tante Yus yang merekah ingin kuterkam itu. Benar-benat lezat. Vagina Tante Yus mulai kulumat-lumat tanpa karuan lagi, sedangkan lidahku menjilat-jilat deras seluruh bagian liang vaginanya yang dalam. Berulang kali aku temukan kelentitnya lewat lidahku yang kasar. Rambut kemaluan Tante Yus memang lebat dan rindang. Cupangan merah pun kucap pada seluruh bagian daging vagina Tante Yus yang menggairahkan ini. Tante Yus hanya menggerinjal-gerinjal kegelian dan sangat senang sekali nampaknya. Kulirik tadi, Tante Yus terus-menerus melakukan remasan pada buah dadanya sendiri sambil sesekali memelintir puting-putingnya. Berulang kali mulutnya mendesah-desah dan menjerit kecil saat mulutku menciumi mulut vaginanya dan menarik-narik daging kelentitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouh Andrew… lakukan sesukamu.. ouh.., lakukan… please..!” pintanya mengerang-erang deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang sepuluh menit kemudian, aku kini merayap lembut menuju perutnya, dan terus merapat di seluruh bagian buah dadanya. Dengan ganas aku menyedot-nyedot puting payudaranya. Tetapi air susunya sama sekali tidak keluar, hanya puting-puting itu yang kini mengeras dan memanjang membengkak total. Di buah dadanya ini pula aku melukiskan cupanganku banyak sekali. Berulang kali jemariku memilin-milin gemas puting-puting susu Tante Yus secara bergantian, kiri kanan. Aku kini tidak tahan lagi untuk menyetubuhi Tanteku. Dengan bergegas, aku membimbing masuk batang kemaluanku pada liang vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooouhkk.. yeaaah… ayoo.. ayooo… genjot Andrew..!” teriak Tante Yus saat merasakan batang kejantananku mulai menikam-nikam liar mulut vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menopang tubuhku yang berpegangan pada buah dadanya, aku semakin meningkatkan irama keluar masuk batang kemaluanku pada vagina Tante Yus. Wanita itu hanya berpegangan pada kedua tanganku yang sambil meremas-remas kedua buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Blesep… sleeep… blesep..!” suara senggama yang sangat indah mengiringi dengan alunan lembut. Selang dua puluh menit puncak klimaks itu kucapai dengan sempurna, “Creeet… croot… creeet..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouuuhhhkk.. aooouhkk… aaahhk..,” seru Tante Yus menggelepar-gelepar lunglai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante… ouhhh..!” gumamku merasakan keletihanku yang sangat terasa di seluruh bagian tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan batang kemaluan yang masih tetap menancap erat pada vagina Tante Yus, kami jatuh tertidur. Tante Yus berada di atasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-5772726433103944944?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/5772726433103944944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=5772726433103944944' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/5772726433103944944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/5772726433103944944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/ganasnya-tante-yustina.html' title='Ganasnya Tante Yustina'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-26558281029908209</id><published>2008-02-02T13:04:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:05:06.413+07:00</updated><title type='text'>Ngincer Anak, Dapat Ibunya</title><content type='html'>Selama menjadi mahasiswa di ibukota provinsi ini, aku selalu dan hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan milik pemerintah provinsi, sehingga hampir semua pegawai yang bekerja pada instansi ini mengenalku dan akrab denganku, baik yang pria dan wanitanya.&lt;br /&gt;Namun dalam pikiran nakalku yang mampu menilai sesorang, hanya terdapat dua orang ( yang jelas wanita ) yang mampu menarik perhatianku sehingga aku selalu memberikan atensi yang lebih terhadap dua orang ini&lt;br /&gt;Yang pertama adalah staf bagian informasi dan teknologi yang sebut saja namanya Mbak Diah, aku memanggilnya begitu, 32 th-an, perempuan cantik semampai proporsional berkulit putih berambut sepunggung yang selalu memakai supra-nya setiap ke kantor, belum menikah dan aku belum terlalu mendalami kehidupan pribadinya.&lt;br /&gt;Kedua adalah staf administrasi yang berkantor di lantai tiga bangunan ini, Ibu Ayu, manis berambut sebahu, 37 th-an, corak standar manusia-manusia Indonesia, menikah dan punya 2 anak, yang paling kecil SMP kelas 2 dan satunya SMU kelas 3, escudo kuning yang selalu menemaninya tiap pagi saat berangkat ke kantor.&lt;br /&gt;Dari kedua wanita tersebut hanya dengan Ibu Ayu saja aku tampak lebih akrab sehingga aku pun mengetahui dengan benar seluk beluk kehidupan rumah tangganya beserta dengan segala masalah yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu siang, saat aku baru datang, kulihat Ibu Ayu sedang melihat TV yang memang sengaja dipasang di lobby untuk para pengunjung instansi ini, kudekati dan duduk di sebelahnya.&lt;br /&gt;“Siang, Bu!, lagi santai nih?” Tanyaku membuka percakapan&lt;br /&gt;“Eh, Dik Adi!, iya, tadi habis kunjungan keluar bareng ibu kepala dan nganter si Santi (putri tertuanya) pulang. Udah selesai kuliahnya?” jawabnya&lt;br /&gt;“Sudah.., tadi cuma ada satu mata kuliah”&lt;br /&gt;“O gitu!, O ya, ntar malam di ***** Cafe ada konsernya ( Ibu Ayu menyebut satu nama Band yang baru ngetop di Indon), mau nonton nggak?”&lt;br /&gt;“Sama Santi, ya!, ntar saya ikut!” Kataku merajuk soalnya anaknya itu menuruni kecantikan ibunya sewaktu muda&lt;br /&gt;“Ya, nanti Santi tak suruh ikut!”&lt;br /&gt;“Lha emang Bapak ( suaminya ) kemana, Bu?”&lt;br /&gt;“Lagi mengikuti Pak Walikota ke Jakarta sampai tiga hari mendatang”&lt;br /&gt;“Okelah kalau begitu, nanti sore saya kesini lagi, trus berangkat!”&lt;br /&gt;“Sip kalau begitu ” Jawabnya senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore yang dijanjikan pun tiba, aku masuk kedalam kantornya dan menemukan dia sedang membereskan beberapa map pekerjaannya.&lt;br /&gt;“Tunggu di bawah ya, Dik!, aku mau ganti baju, dan tadi Santi telepon katanya tidak bisa ikut karena besok ada ulangan dan agak tidak enak badan” Katanya menyambutku&lt;br /&gt;Dan aku pun mengeluh, gagal deh kencan dengan Santi&lt;br /&gt;Tak berapa lama kutunggu, Ibu Ayu sudah menemuiku dengan berganti pakaian dinasnya menjadi blus ketat dengan jins, wah.., oke juga nih ibu-ibu, nggak mau kalah dengan yang muda dalam soal dugem.&lt;br /&gt;“Ayo!” Ajaknya&lt;br /&gt;Aku pun mengikutinya menuju escudo kuningnya dan berlalu dari kantor instansi tersebut.&lt;br /&gt;“Kemana kita?, bukannya konsernya ntar malam?” Tanyaku&lt;br /&gt;“Bagaimana kalo kita cari makan dulu sambil ngobrol-ngobrol nunggu jam lapan buat nonton konser ? ” Usulnya&lt;br /&gt;“Boleh juga!, dimana?”&lt;br /&gt;“Ntar, liat aja, biar Ibu yang charge, OK!”&lt;br /&gt;Aku pun mengangguk mengiyakan nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah resto china dijalan protokol kota ini, setelah menyantap hidangan laut, kami pun mengobrol mengahbiskan waktu dengan membahas berbagai persoalan baik itu maslah sosial maupun pribadi. Seperti halnya Ibu Ayu menceritakan padaku tentang bagaimana menjemukannya kehidupan rumah tangganya.&lt;br /&gt;“Wah, kalau soal itu saya tidak bisa memberikan pendapat, Bu!, masalahnya saya belum pernah berumah tangga.” kataku merespon nya&lt;br /&gt;“Ini cuma sekedar curhat koq, Dik!, biar besok menjadi semacam panduan bila nantinya dik Adi sudah menjalan kehidupan bersama” Jawab Ibu Ayu diplomatis&lt;br /&gt;“Dan, jangan panggil Ibu, dong!, panggil saja Mbak, khan usia kita ngga terlalu jauh banget bedanya, paling cuma 13 tahun !” Tambahnya&lt;br /&gt;Dan aku pun tertawa mendengar kelakar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika waktu telah menunjukkan saatnya, kami keluar dari resto tersebut disambut dengan gerimis, berlari-lari menuju mobil untuk meluncur ke cafe yang dimaksud. Selama konser tampak Ibu Ayu sangat menikmati suasana tersebut sambil sesekali mengenggam tanganku, sehingga mau tidak mau pun aku menjadi ikut terbawa oleh suasana yang menyenangkan.&lt;br /&gt;Konser pun berakhir, dan saatnya kami untuk pulang. Sambil-sesekali berceloteh dan bersenandung, kami menuruni tangga cafe, yang entah karena apa, Ibu Ayu terpeleset namun untunglah aku sempat memegangi nya namun salah tempat karena secara reflek aku menariknya kedalam pelukan ku dan tersentuh buah dadanya. Sejenak Ibu Ayu terdiam, memandangku, mempererat pelukannya dan seakan enggan melepaskannya.&lt;br /&gt;“Bu, eh..Mbak, udah dong, malu ntar dilihat orang” Kataku&lt;br /&gt;Dia pun melepaskan pelukannya, dan kami menuju ke mobil dengan keadaan Ibu Ayu sedikit pincang kaki nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam kurang sedikit, kami sampai di rumah Ibu Ayu, karena aku sudah terbiasa pulang pagi, jadi kudahulukan untuk mengantar kerumahnya untuk memastikan keadaannya. Rumah dalam keadaan sepi, penghuninya sudah tidur semua kurasa, dan aku pun duduk di sofa sambil sejenak melepaskan lelah.&lt;br /&gt;Sambil terpincang-pincang, Ibu Ayu membawakan segelas teh manis hangat untukku, dan duduk di sampingku. Aku jadi teringat kejadian di tangga cafe tadi.&lt;br /&gt;“Masalah tadi, maafin saya Mbak, itu reflek yang nggak sengaja.” Kataku&lt;br /&gt;“Nggak papa koq, Mbak ngga hati-hati si, pegel banget nih!” Katanya&lt;br /&gt;“Sini saya pijitin” kataku sambil mengangkat kakinya dang menggulung celana jins nya sampai selutut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun merebahkan badannya agar aku bisa leluasa memijitnya. Tak berapa lama kemudian dia bangkit sambil ikut memijiti kakinya sendiri. Saat tangan kami bersentuhan ada getar-getar halus yang kurasakan menggodaku namun berhasil kutepiskan. Namun tak disangka, Ibu Ayu memegang lengan ku dan menarikku ke dalam pelukannya.&lt;br /&gt;“temani aku malam ini, Dik!” Bisiknya lirih di telingaku&lt;br /&gt;Kurasa habislah pertahanan ku kali ini. Di lumatnya bibirku dengan ganasnya, apa boleh buat, aku pun memberikan respon serupa. Kami saling berpagut dengan sesekali mempermainkan lidah. Tangannya menggerayangi tubuhku, mengusap-usap celanaku yang menggembung, sedangkan aku meremas-remas buah dadanya yang masih cukup ranum untuk wanita seusianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kami bercumbu di atas sofa, lalu Ibu Ayu menggamitku untuk memasuki kamarnya, dan kami meneruskan cumbuan sepuas-puasnya. Foreplay dilanjutkan setelah kami saling membuka baju, hanya tinggal mengenakan celana dalam saja kami bergelut di atas kasur yang empuk dalam kamar berpendingin udara. Kujilati puting susunya sampai Mbak Ayu mendesah-desah, sementara tangannya menggengam kemaluanku yang dengan lembut dikocoknya perlahan.&lt;br /&gt;“Mbak.., aku buka ya, celananya!” Bisikku yang disambut dengan anggukannya&lt;br /&gt;Setelah secarik kain tipis itu terlepas dari pinggulnya, Ibu Ayu mengangkang kan pahanya, dan tampak vaginanya yang kehitaman tertutup lebat rambut. Saat kusibak kerimbunan itu, gundukan daging itu berwarna kemerahan berdenyut panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Ayu memekik dan mendesah perlahan saat vaginanya kujilati. Ditekan nya kepalaku sepertinya dia sangat menikmati permainan ini, sampai suatu saat kurasa vaginanya mulai basah dengan keluarnya lendir yang berlebihan.&lt;br /&gt;Dengan nafas terengah-engah Ibu Ayu menarik kemaluanku untuk dimasukkan kedalam vaginanya. Kupegan tangannya dan kupermainkan kemaluanku di pintu masuk liang kenikmatan nya itu beberapa lama, kupukul-pukul kan kepala kemaluanku dibibir vaginanya, kumasukkan kemaluanku sedikit dalam vaginanya lalu kutarik keluar kembali, begitu berulang-ulang.&lt;br /&gt;“Ayo dong, Dik!, jangan buat aku semakin ……” bisiknya&lt;br /&gt;“Tapi aku belum pernah berhubungan badan, Mbak!” Balasku berbisik&lt;br /&gt;“Ayolah, Dik!, aku beri kamu pengalaman menikmati surga ini, ayo..!”&lt;br /&gt;Akupun mengangguk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Ayu berbaring telentang di pinggiran ranjang dengan kaki mengangkang, sementara aku berlutut hendak memasukkan kemaluanku. Di pegangnya kemaluanku dan di arahkan ke dalam vaginanya, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku dibibir vaginanya sementara dia mendesah-desah, lalu dengan dorongan perlahan kubenamkan seluruh kemaluanku kedalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;Sebuah sensasi kenikmatan dan kehangatan yang luar biasa menyelubungi ku, sejenak keresapi kenikmatan ini sebelum Ibu Ayu mulai mengalungkan pahanya pada pinggulku dan memintaku untuk mulai menyetubuhi nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudorong tubuh Ibu Ayu ketengah ranjang, setelah tercapai posisi yang enak, kugerakkan pinggulku maju mundur mengeksplorasi seluruh kenikmatan yang dimiliki oleh Ibu Ayu. Ruangan kamar yang dingin seolah tidak terasa lagi, yang ada hanya lengguhan-lengguhan kecil kami di timpahi suara kecepok beradunya kemaluan kami, sementara disekeliling kepala kami terbungkus dengan hawa dan bau khas orang bersetubuh.&lt;br /&gt;“hh..terus, Dik!, goyangnya yang cepat..Ohh..ohh, Ouuch!” Desahnya&lt;br /&gt;“Yang erat, Mbak!, ayo sayang,..sshh,..hhh..” Desahku&lt;br /&gt;“Ouuw…hh..,…lebih ce…aaahhhh!”&lt;br /&gt;“Tenang aja, manisku…ohh.., enak Mbak!”&lt;br /&gt;“Sss….sama…aku juga…ohh..ohh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah berapa lama kami saling bergelut mencari kenikmatan, lambat laun kemaluanku terasa seperti diremas-remas, lalu Ibu Ayu mendesah panjang sebelum pelukannya terasa melemah.&lt;br /&gt;“aku.., sam…,Dik!, …Aaaaakkhhh !” Desahnya&lt;br /&gt;Kurasakan momen ini yang ternikmat dari bagian-bagian sebelumnya, maka sebelum remasn-remasan itu mengendur, kupercepat gerakanku dan kurasakan panas tubuhku meningkat sebelum ada sesuatu yang berdesir dari seluruh bagian tubuhku untuk segera berebut keluar lewat kemaluanku yang membuatku bergetar hebat dengan memeluk tubuh Ibu Ayu lebih erat lagi&lt;br /&gt;“Ohhh..ohh….!” Desahku tak lama kemudian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergulir di samping Ibu Ayu mencoba mengatur nafas, sementara dia terpejam dengan ritme nafas yang tak beraturan juga. Kemaluan ku masih tegak berdiri berkilat-kilat diselimuti cairan-cairan licin sebelum lemas&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat, nafasku pulih kembali, kubelai rambut Ibu Ayu. Dia tersenyum padaku.&lt;br /&gt;“Makasih, Mbak! Enak sekali tadi” Kataku tersenyum&lt;br /&gt;“Sama-sama,Dik! Hebat sekali kamu tadi, padahal baru pertama, ya! ” jawabnya&lt;br /&gt;Ibu Ayu mencoba duduk, kulihat cairan spermaku meleleh keluar dari lipatan vaginanya yang lalu di usapnya dengan selimut.&lt;br /&gt;“Aku keluarkan di dalam tadi, Mbak! habis enak dan ngga bisa nahan lagi, ngga jadi anak khan nanti?” Tanyaku&lt;br /&gt;“Enggak, santai saja, sayang!” Katanya manja sambil mencium pipiku&lt;br /&gt;“Emm..,Mbak!” Tanyaku&lt;br /&gt;“Apa sayang?” Jawabnya&lt;br /&gt;“Kapan-kapan boleh minta lagi, nggak?”&lt;br /&gt;“Anytime, anywhere, honey!” Katanya sambil memelukku dan melumat bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, tiga hari berikutnya aku menikmati servis istimewa dari Ibu Ayu untuk lebih mengeksplorasi ramuan kenikmatan dengan berbagai gaya yang diajarkan olehnya, bahkan masih berlangsung hingga saat ini.&lt;br /&gt;Pada mulanya anaknya yang kuincar menjadi cewek ku, ternyata malah mendapat layanan plus yang memuaskan dari ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-26558281029908209?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/26558281029908209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=26558281029908209' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/26558281029908209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/26558281029908209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/ngincer-anak-dapat-ibunya.html' title='Ngincer Anak, Dapat Ibunya'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-6315440758421025326</id><published>2008-02-02T12:55:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T13:03:45.430+07:00</updated><title type='text'>Ibu Mertuaku</title><content type='html'>Saya bernama Bambang, usia pada tahun 2000 ini 37 tahun, pekerjaan wiraswasta. Menikah dengan Linda pada tahun 1993, saat ia berusia 29 tahun. Kami telah dikarunia dua orang anak yang lucu-lucu. Pada kesempatan ini, saya akan menceritakan pengalaman saya dengan ibu mertua saya. Saya memiliki minat seksual khusus terhadap wanita yang lebih tua. Bahkan minat khusus tersebut telah ada sejak saya remaja. Saat remaja, saya ingat bahwa ketika saya bermasturbasi, saya lebih suka membayangkan tante-tante tetangga rumah, teman-teman ibu saya, ibu guru, maupun wanita-wanita lain yang masih terbilang ada hubungan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dikata, saya sangat jarang menjadikan cewek-cewek sebaya saya sebagai obyek fantasi ketika bermasturbasi. Minat tersebut rupanya terus bertahan sampai saat ini, walaupun saya sudah berkeluarga. Salah satu wanita yang saya minati dan sering menjadi obyek fantasi seksual saya sampai saat ini adalah ibu mertua saya sendiri yang bernama Nani. Saat ini beliau berusia 57 tahun. Ibu mertua saya ini sudah menjanda sejak tahun 1984, karena bapak mertua saya meninggal karena kecelakaan waktu itu. Rasa tertarik terhadap ibu mertua saya ini sudah timbul pada saat saya pertama kali diperkenalkan oleh pacar (isteri) saya padanya di tahun 1990. Sejak saat itu, saya sering menjadikan beliau menjadi obyek fantasi saat saya bermasturbasi. Begitu besarnya rasa tertarik saya pada beliau, sehingga pernah terlintas pikiran untuk kawin dengan beliau entah bagaimana caranya. Tetapi pikiran tersebut tidak saya kembangkan lebih lanjut karena saat itu beliau sudah menopause, sedangkan saya masih memiliki keinginan untuk memiliki anak. Lagipula, pasti akan banyak masalah dan hambatan untuk mewujudkan pikiran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah akhirnya, saya tetap melanjutkan hubungan saya dengan Linda, sehingga akhirnya kami menikah pada tahun 1993. Saat baru menikah, kami tinggal bersama ibu mertua saya ini. Karena 3 orang kakak isteri saya yang telah menikah telah memiliki rumah sendiri-sendiri, sedangkan 2 orang adik isteri saya sedang kuliah di Bandung dan Yogyakarta. Kami tinggal di rumah ibu mertua saya tersebut, selain untuk menemani beliau, juga karena kondisi keuangan kami saat itu belum memadai untuk memiliki rumah sendiri. Selama kurang lebih satu tahun tiga bulan tinggal bersama mertua inilah, ada sejumlah pengalaman baru, yang makin menunjang saya untuk menjadikan beliau menjadi obyek fantasi favorit saya. Pengalaman baru yang maksud misalnya adalah saya sering mendapat kesempatan melihat paha mertua saya, entah ketika nonton TV, atau sedang bersih-bersih rumah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sering juga saya memergoki beliau keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Bahkan pernah sekali waktu saya beruntung dapat melihat payudara ibu mertua saya tersebut dalam keadaan telanjang ketika ia membuka lilitan handuknya hendak berganti baju. Sayangnya beliau masih memakai celana dalam. Pernah juga saya melihat puting payudaranya menyembul keluar daster secara tidak sengaja ketika beliau nonton TV sambil tidur-tiduran di sofa. Pengalaman-pengalaman baru seperti itulah yang semakin memperkuat minat seksualku pada beliau. Terkecuali, pada saat-saat kesadaran moral dan religius saya sedang baik, saya sering memiliki keinginan untuk dapat menyetubuhi ibu mertua saya tersebut. Namun, saya tidak tahu caranya. Yang dapat saya lakukan saat itu hanyalah berfantasi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan cukup sering, ketika saya bersetubuh dengan isteri saya, yang ada dalam kepala saya adalah bersetubuh dengan ibu mertua saya tersebut. Selain berfantasi, paling jauh saya hanya memiliki kesempatan untuk cium pipi dan memeluk ibu mertua saya tersebut pada tiga kesempatan. Yaitu pada saat hari ulang tahun beliau, ulang tahun saya dan ulang tahun perkawinan saya dengan Linda. Pada kesempatan di hari ulang tahun saya, ketika menerima cium dan peluk dari ibu mertua, untuk pertama kalinya saya merasakan himpitan payudara beliau di dada saya. Pengalaman ini sangat berkesan pada diri saya. Saya ingat bahwa pada malam itu, saya sangat bernafsu dan menggebu-gebu memesrai isteri saya. Saat itu, saya sanggup sampai empat kali mengalami ejakulasi ketika kami bersetubuh. Padahal, biasanya paling banyak saya hanya tahan dua kali saja. Yang pasti, ketika memesrai isteri saya, yang terbayang saat itu adalah ibunya. Pengalaman lebih jauh yang saya alami dengan ibu mertua saya tersebut terjadi ketika saya dan isteri saya menemani beliau ke Semarang untuk menghadiri pernikahan salah satu keluarga dekat dari almarhum bapak mertua saya. Ketika itu kami menginap di rumah keluarga calon pengantin. Karena terbatasnya tempat, kami hanya mendapat satu kamar dengan satu tempat tidur ukuran besar. Terpaksa, malam itu kami tidur bertiga di tempat tidur itu. Posisinya adalah, saya di sisi kiri, isteri saya di tengah dan ibu mertua saya di sisi kanan. Lampu kamar dimatikan ketika kami berangkat tidur. Ketika terbangun pagi harinya, saya kemudian sadar bahwa isteri saya sudah tidak ada di tempatnya. Sambil berbaring saya berusaha mencari isteri saya di kamar, tetapi saya tidak dapat menemukannya. Secara samar-samar saya hanya melihat tubuh ibu mertua tidur memunggungi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung menduga bahwa isteri saya pasti ke kamar mandi sebagaimana kebiasaannya. Isteri saya terbiasa secara teratur bangun jam 04.30 dan kemudian ke kamar mandi untuk buang air besar dan mandi. Saat itu timbul pikiran kotor dan nakal dalam otak saya. Apalagi pada pagi hari biasanya si "Adik Kecilku" berdiri tegak dan kencang. Pikiran saya saat itu tidak jauh dari situ. Dengan bergaya masih dalam keadaan tidur, saya bergeser mendekat ke arah tubuh mertua saya. Setelah cukup dekat (bahkan hampir rapat tapi belum bersentuhan), dengan gaya tidak sengaja saya menggeser tangan kiri saya ke atas pinggul mertua saya. Tidak ada reaksi apa-apa dari mertua saya. Dengan lembut dan perlahan kemudian saya mulai menggerakkan telapak tangan saya di pinggul mertua saya. Juga tidak ada reaksi atau perubahan apa-apa. Saya kemudian memberanikan diri untuk mengelus-elus pantat mertua saya. Empuk dan halus rasanya. Saya juga dapat merasakan tekstur dari bagian pinggir celana dalamnya. Yang terpikir dalam otak saya saat itu, akhirnya ada juga yang jadi kenyataan khayalanku. Sementara itu, si "Adik kecilku" semakin tegak dan keras saja, dan kemudian secara refleks tangan kanan saya mulai meraba-raba si "Adik Kecilku". Ingin rasanya saya mengarahkan tangan kiri saya ke arah kemaluan ibu mertua saya. Namun, saat itu saya takut ibu mertua jadi terbangun. Karena itu, dengan susah payah saya berusaha menahan keinginan tersebut. Kemudian, masih dalam gaya pura-pura masih tidur saya merapat dan memeluk ibu mertua dari belakang. Posisi ibu mertua saya kemudian agak berubah dari memunggungi saya menjadi lebih telentang, walaupun wajahnya masih ke arah yang berlawanan dengan posisi di mana saya berada. Ibu mertua saya saat itu terlihat masih dalam keadaan tidur yang cukup nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi karena perjalanan dengan kereta api sore-malam itu cukup melelahkannya. Kemudian saya menggeser tangan kiri saya ke arah payudara kiri ibu mertua saya. Merasa tidak ada reaksi apa-apa kemudian saya memberanikan diri untuk menggerak-gerakkan tangan kiri saya. Dengan berhati-hati sekali saya mengusap-usap payudara beliau. Saya kemudian sadar bahwa beliau tidak memakai BH ketika saya merasakan bahwa puting payudara beliau semakin menonjol dan sangat terasa di telapak tangan saya. Lebih jauh lagi, kemudian secara lembut saya sesekali meremas payudara beliau secara perlahan sekali. Nafsu saya semakin meninggi, dan rasanya debaran jantung saya saat itu sangat cepat dan agak keras. Saya terkejut dan takut sekali ketika tiba-tiba tubuh beliau bergerak dan menjadi lebih menghadap tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati aku, pikirku saat itu. Tapi kemudian saya sadar bahwa beliau masih tetap tidur, karena nafasnya masih teratur. Hanya ketika membalikkan badannya saja tampaknya beliau agak menghela nafas. Dengan posisi yang berhadapan, saya dapat melihat dengan cukup jelas, walaupun agak samar-samar juga karena gelap, mulut ibu mertua saya agak sedikit terbuka. Melihat pemandangan yang demikian, apalagi memang bibirnya itu sering saya khayalkan untuk saya kecup, kemudian dengan tekanan ringan saya menempelkan bibir saya ke bibir beliau. Tapi kemudian saya tidak tahan lagi, dan secara refleks kemudian bibir saya mulai mengulum bibir beliau, seraya tubuh saya bergerak menindih tubuhnya dan menekan kemaluan saya ke pahanya. Kejadian yang terjadi dalam waktu yang singkat tersebut akhirnya menyebabkan ibu mertua saya terbangun. Dimulai dengan suatu lenguhan pendek, "Nngggghh...", kemudian beliau terjaga dan kemudian mengatakan, "Heh! apa-apaan ini?". Saya kaget setengah mati waktu itu, dan kemudian menggeser tubuh saya ke samping tubuh ibu mertua saya. Ibu mertua saya kemudian mengangkat punggungnya dan duduk di tempat tidur. Setelah beberapa saat kemudian dia berkata. "Apa yang kamu lakukan pada Ibu Bang? Koq kamu sudah mulai berani kurang ajar?". Setelah terdiam beberapa saat, kemudian sayapun bangkit duduk dan mengatakan. "Maaf Bu, saya kira tadi ibu itu Linda". "Lho, Lindanya mana?", tanya ibu mertuaku. "Tidak tahu Bu", jawabku. Kemudian ibu mertua saya turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamar. Saya hanya dapat duduk diam sambil menutup kedua muka saya dengan tangan saya. Ibu mertua saya kemudian berkata. "Jangan sampai terjadi lagi ya Bang kejadian seperti tadi. Ibu tidak suka. Itu tidak baik dan dosa". "Maaf Bu, saya sungguh-sungguh minta maaf, karena saya tadi tidak sadar. Habis, biasanya kalau pagi kami biasanya melakukan hubungan suami-isteri sih Bu", jawabku dengan refleks sambil bangun dari tempat tidur untuk sungkem kepada ibu mertua saya itu. "Mau ngapain kamu?", sergah ibu mertuaku. "Mau sungkem Bu", jawabku. "Tidak perlu, yang penting jangan sampai terjadi lagi", kata ibu mertuaku sambil membalikkan tubuh dan berjalan menuju pintu. Akhirnya aku duduk terpekur sendiri di tempat tidur. Sambil membaringkan kembali tubuhku, terbayang lagi kejadian-kejadian yang baru terjadi itu. Seingat saya, ada tiga hal yang paling berkesan untuk saya saat itu. Pertama, makin menonjolnya puting payudara ibu mertuaku ketika tanganku mengusap-usapnya. Kedua, persentuhan lidah kami ketika aku mengulum bibirnya yang menyebabkan beliau terbangun. Ketiga, lirikan sepintas ibu mertuaku ke arah selangkanganku ketika beliau berbalik hendak keluar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, semua yang baru saja terjadi saat itu merupakan perwujudan dari sebagian khayalanku terhadap ibu mertuaku. Selain itu, dorongan nafsu yang belum tersalurkan saat itu rasanya agak menyiksa diriku. Tidak berapa lama kemudian isteriku masuk ke kamar. Terlihat rambutnya agak basah, tampaknya ia baru keramas. "Ibu mana?", tanya isteriku. "Keluar" jawabku secara singkat seraya bangkit dari tempat tidur menuju ke arah pintu. Kemudian aku mengunci pintu dan berjalan ke arah isteriku yang sedang berdiri di depan meja rias. "Mau ngapain sih Mas pakai dikunci segala", tanya isteriku. "Biasa, kayak kamu nggak tahu saja. Aku sedikit horny nih", jawabku sambil memeluk dia dari belakang. "Jangan ah Mas..., nggak enak, ini kan di rumah orang", katanya. Tapi aku terus aja meraba-raba dan menciumi tengkuk dan lehernya dari belakang. "Aku nggak tahan nih..., lagian kan masih pada tidur", kataku. Akhirnya isteriku mulai menyambut serangan-seranganku. Dia tahu persis bahwa aku bisa marah dan uring-uringan seharian kalau lagi ingin banget tapi dia tidak mau. "Tapi yang cepetan saja ya Mas...", katanya. Mendengar jawabannya, saya menjadi semakin aktif. Saya menekan tubuhnya sehingga ia membungkuk dan meletakkan tangannya di atas kursi meja rias yang ada di kamar itu. Kemudian saya singkapkan dasternya ke pinggang dan saya tarik celana dalamnya sampai lepas. Batang kemaluan saya yang memang sudah mulai basah sejak kejadian dengan ibu mertua saya tadi kugesek-gesekkan ke selangkangannya. Setelah cukup licin, akhirnya dalam posisi dia berdiri membungkuk dan saya di belakangnya, kumasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, seperti biasanya. Dengan nafsu yang sudah tertahan-tahan sejak tadi, saya tidak dapat bertahan lama, dan kemudian akhirnya ejakulasi sambil membayangkan bahwa yang saya setubuhi itu adalah ibu mertua saya. Ah seandainya saja benar-benar beliau.... Sepulang dari Semarang, untuk beberapa waktu interaksi antara saya dengan ibu mertua saya agak sedikit kaku. Kadang-kadang saya merasa kikuk kalau harus berinteraksi dengan beliau. Kekakuan itu akhir berkurang dengan berjalannya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kemudian kami dapat mulai mencicil rumah kami sendiri, dan akhirnya pindah dari rumah mertua saya itu ketika salah satu adik isteri saya lulus dan kembali tinggal di Jakarta. Sejak kejadian di Semarang itu saya semakin sering memfantasikan ibu mertua saya maupun memimpikannya ketika tidur. Cukup sering saya merasa khawatir kalau-kalau saya mengigau dan isteri saya mengetahui bahwa saya mendambakan ibunya. Setelah tinggal di rumah sendiri, saya dapat dikatakan hampir tidak pernah lagi mendapat "pemandangan-pemandangan indah" dari tubuh mertua saya itu. Dan cukup sering saya kangen padanya. Setelah berjalan beberapa waktu akhirnya saya mulai mengenal internet dan berlangganan pada salah satu internet provider yang cukup baik. Dari pengalaman menjelajah internet inilah saya mendapatkan beberapa ide sehubungan dengan ketertarikan saya terhadap ibu mertua saya. Salah satu ide yang ingin saya wujudkan saat itu adalah membuat rekaman video dari ibu mertua saya. Untuk itu, terpaksa saya menabung untuk membeli kamera video. Setelah kamera video terbeli, saya menjadi rajin mengabadikan acara-acara keluarga dengan kamera tersebut. Tentunya juga dengan harapan bahwa ada "pemandangan-pemandangan indah" dari tubuh ibu mertua saya yang dapat saya rekam. Tapi harapan tidak dapat terwujud. Malah pemandangan indah yang sempat terekam adalah paha-paha dari kakak ipar saya yang bernama Susi dan adik ipar saya yang bernama Lena. Dengan hasil itu, saya harus puas bermasturbasi hanya dengan memandangi rekaman ibu mertua saya dalam pakaian lengkap. Tapi saya tetap saja dapat terangsang hanya dengan pemandangan yang demikian. Khususnya pada rekaman yang memperlihatkan ibu mertua saya memakai kebaya. Lekuk-lekuk tubuhnya masih dapat terlihat, walaupun ibu mertua itu dapat dikatakan agak kurus. Pinggul besar yang terbungkus kain itulah yang menggemaskan untuk dicubit. Saya mencoba untuk menjajaki kemungkinan untuk merekam di kamar mandi di rumah mertua saya itu, tapi saya tidak dapat menemukan lokasi-posisi yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terpikir oleh saya untuk memiliki kamera kecil (Spy Camera) yang sudah mulai banyak ditawarkan di internet saat itu. Namun karena harganya mahal, apalagi dapat dikatakan hanya didistribusikan di Amerika, pikiran itu tidak dikembangkan lebih lanjut. Kesempatan untuk membuat rekaman yang lebih menarik akhirnya datang juga. Dalam rangka pernikahan adik ipar saya, kami (saya dan isteri saya) menginap di rumah mertua saya, karena isteri saya saat itu sedang hamil tua dan agak melelahkan kalau harus pulang pergi Depok-Rawamangun. Ketika menginap itulah timbul ide untuk meletakkan kamera di dalam tasnya sedemikian rupa sehingga lensanya masih tetap dapat merekam gambar di hadapannya. Dalam rencana saya, tas kamera itu akan saya letakkan di kamar ibu mertua saya, yang kebetulan juga dapat dikatakan sudah menjadi kamar umum di rumah itu, siapa saja anak-anaknya yang datang pasti masuk dulu ke kamar tersebut, dan bisanya juga menaruh barang-barang di kamar itu. Setelah mencoba-coba, maka untuk kamuflase saya mempergunakan kain bekas kaos yang berbentuk jaring (jala-jala) yang kebetulan berwarna hitam. Berdasarkan coba-coba itu, saya mendapatkan kesimpulan bahwa kain tersebut tidak akan terekam kalau posisi lensa pada tele (jarak jauh) bukan wide (jarak dekat). Semakin dekat akan semakin jelas terlihat kain tersebut, bahkan dapat dikatakan mendominasi gambar yang terekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin tele, maka akan semakin kabur gambar kain tersebut. Hasil pertama dan hasil kedua yang saya dapat sangat mengecewakan saya, karena rekaman yang dapatkan hanyalah gambar jala-jala dari kaos hitam tersebut dan beberapa bayangan yang bergerak-gerak. Setelah pengalaman yang pertama, tadinya saya mengira bahwa yang menjadi penyebab karena saya menyetel lensa pada posisi wide. Namun, karena pada hasil yang kedua, rekaman yang saya dapatkan juga sama, saya menjadi sedikit penasaran. Setelah dipelajari, akhirnya saya mengetahui penyebabnya. Yakni, karena saya mempergunakan sarana autofocus dari kamera tersebut. Akhirnya setelah saya menyetelnya ke posisi manual, hasil yang saya dapatkan cukup memuaskan saya. Pada usaha yang ketiga, akhirnya saya mendapat rekaman yang menggambarkan ibu mertua saya sedang berganti baju. Sayangnya, saya tidak mendapat rekaman yang menunjukkan kemaluannya. Hanya payudaranya saja yang telanjang. Namun setidaknya, hasil ini cukup untuk bahan atau alat bantu kalau saya mengkhayalkannya. Apalagi kalau dibandingkan dengan gambar jala-jala hitam. Rekaman yang saya dapatkan ketika hari H dari perkawinan adik ipar saya sungguh mengejutkan dan sangat menyenangkan saya. Karena setelah saya periksa, banyak sekali terdapat pemandangan sangat indah yang hanya berbaju dalam yang didapatkan. Payudara-payudara indah dan montok walaupun sebagian besar masih memakai BH maupun paha-paha mulus bukan hanya milik ibu mertua saja, tapi juga milik kakak-kakak ipar, beberapa sepupu isteri saya dan juga beberapa orang tantenya, yang mempergunakan kamar tersebut sebagai kamar ganti dan dandan. Yang paling mengejutkan, dalam rekaman tersebut terdapat pemandangan tubuh bulat polos tanpa sehelai benangpun milik Mbak Uci, isteri dari kakak ipar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun tubuhnya mungil, tapi proporsional dan menawan. Apalagi rambut di selangkangannya terlihat hitam dan lebat sekali. Setelah memiliki rekaman tersebut, obyek fantasi seksual saya pun bertambah. Bukan hanya semata-mata ibu mertua saya, tetapi juga merembet ke yang lain. Tapi, ibu mertua tetap merupakan obyek yang paling favorit. Sebagaimana umumnya laki-laki lain, saat-saat menanti kelahiran anak pertama merupakan saat-saat yang penuh kekhawatiran. Demikian juga pada diri saya. Selain khawatir terhadap keselamatan calon anak, saya saat itu juga khawatir dengan keselamatan isteri saya. Kekhawatiran yang saya ingat adalah bagaimana nasib bayi saya kalau ibunya tidak selamat (meninggal). Di tengah kekhawatiran seperti itupun sempat terpikir oleh saya seandainya isteri saya meninggal, maka saya berniat untuk menjadi ibu mertua saya menjadi isteri saya. Kalau ingat-ingat hal itu, perasaan saya sukar tidak keruan. Tetapi akhirnya, isteri saya dapat melahirkan dengan selamat. Berhubung anak pertama, maka isteri saya pun meminta ibu mertua saya untuk menemaninya dan mengajarinya terlebih dahulu bagaimana merawat bayi. Artinya, isteri saya meminta ibu mertua saya untuk sementara waktu menginap di rumah kami setidaknya selama seminggu pertama sejak kepulangan dari rumah sakit. Selama ibu mertua menginap di rumah kami tersebutlah saya dapat menambah koleksi rekaman video saya. Dan yang terutama adalah rekaman beliau telanjang bulat di kamar mandi. Kamera video itu sendiri sudah saya pasang di kamar mandi satu hari sebelum isteri saya pulang dari rumah sakit. Kamera saya letakkan di balik kaca satu arah (one way mirror). Setelah saya memiliki kamera video (handy cam), saya memang membuat rak khusus di kamar mandi yang tebalnya kira-kira 12 cm. Di mana salah satu bagiannya adalah kaca selain bagian-bagian untuk menyimpan handuk, dan perlengkapan mandi lainnya. Di balik kaca tersebut terdapat ruang kosong untuk menaruh kamera video. Isteri saya tidak mengetahui bahwa kaca yang saya pergunakan adalah kaca one way mirror.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi resiko ketahuan, bagian belakang kaca tersebut (dalamnya) saya cat hitam agar selalu lebih gelap dari bagian depan dari kaca. Di depan kaca tersebut (bagian atasnya) saya pasang lampu neon 15 watt untuk lebih mendukung persembunyian kamera video saya sekaligus juga sebagai sumber listrik jika saya menaruh kamera di balik kaca tersebut. Untuk itu saya memasang satu stop kontak di balik kaca tersebut. Karena ketebalannya, di rak itu kamera video hanya dapat diletakkan secara menyamping (lensa tidak langsung berhadapan dengan kaca), sehingga untuk dapat merekam situasi di kamar mandi, maka masih diperlukan satu alat tambahan yang namanya Video Mirror Scope, yang fungsinya adalah merekam gambar ke samping lensa kamera (bukan ke depan kamera). Alat saya dapatkan melalui teman yang pulang dari Amerika ke Indonesia. Kalau tidak salah belinya di ADORAMA di West 18 th Street New York. Harganya sekitar 40 US$. Keberadaan dan fungsi alat itu sendiri saya ketahui dari Majalah Video Maker. Ide untuk membuat rak dan membeli alat tambahan tersebut terutama disebabkan karena saya juga ingin memiliki rekaman video isteri saya ketika dia telanjang bulat. Jangankan telanjang bulat, masih memakai pakaian dalam saja ia marah-marah ketika saya mencoba memvideonya. Selain itu, ketidakmungkinan mewujudkan ide memasang kamera video di kamar mandi di rumah mertua saya, akhirnya saya wujudkan di rumah sendiri. Sejujurnya, pada awalnya tidak pernah terbayang bagi saya kalau pada akhirnya saya memiliki kesempatan untuk merekam ibu mertua saya. Apalagi sampai berhari-hari. Hasil rekaman tersebutlah yang saya pergunakan sebagai bahan masturbasi di hari-hari selanjutnya. Khususnya, ketika saya dan isteri saya tidak dapat melakukan hubungan suami-isteri karena dia baru melahirkan. Tanpa saya sadari sepenuhnya, rekaman-rekaman tersebut justru membuat saya semakin tergila-gila pada ibu mertua saya. Bahkan ketika melihat rekaman yang menunjukkan belahan pantat beliau, yaitu ketika ia membungkuk mengambil sabun yang terjatuh, woww..., mantap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disuruh menciumi pantatnya pun rasanya saya mau melakukannya dengan senang hati. Pokoknya, menjadi semakin tergila-gila... Kira-kira satu minggu beliau menginap di rumah kami dan kemudian kembali ke rumahnya di Rawamangun. Setelah itu, tidak terlalu banyak perubahan atau kemajuan yang saya dapatkan. Paling-paling, koleksi video bertambah ketika lahir anak saya yang kedua. Itupun cuma satu hari beliau menginap di rumah kami. Tapi meskipun demikian aku merasa cukup puas dengan kehadiran ibu mertuaku di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-6315440758421025326?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/6315440758421025326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=6315440758421025326' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/6315440758421025326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/6315440758421025326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/ibu-mertuaku.html' title='Ibu Mertuaku'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-5242313202816505312</id><published>2008-02-02T12:52:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T12:55:17.701+07:00</updated><title type='text'>Dirumah Tante</title><content type='html'>Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun. Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar," pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba...&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anton.. apa yang kamu lakukan!!" teriak sebuah suara yang aku kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooooohh... Tante...?!" aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eeeehhhh... ppppffffff...!!! badan tante Ida seketika&lt;br /&gt;mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia&lt;br /&gt;sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai&lt;br /&gt;memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu...!!! Cepat lepas... nanti kulaporkan kau ke om mu..." teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tooonnnn... aaammmpuunn... Toonnnnn... iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaaagggghh&lt;br /&gt;hhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooonnnnn……! !!!!” akibat perlakuanku itu,&lt;br /&gt;kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang&lt;br /&gt;mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin&lt;br /&gt;memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan&lt;br /&gt;kuat dan……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..jaaa&lt;br /&gt;angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaaaatttt..Tooo nnn…&lt;br /&gt;oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!”&lt;br /&gt;akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat,&lt;br /&gt;serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan&lt;br /&gt;tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi masuk&lt;br /&gt;tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri&lt;br /&gt;sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!” sahutku mencari-cari&lt;br /&gt;alasan sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih&lt;br /&gt;menggenggam penisku katanya lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai&lt;br /&gt;segede ini..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!" memang penis ku panjangnya 20&lt;br /&gt;cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi&lt;br /&gt;sangat bernafsu begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai&lt;br /&gt;memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan&lt;br /&gt;tante Ida tak mau lepas dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn…. biar&lt;br /&gt;enaaakkk….!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!", perlahan-lahan kedua&lt;br /&gt;tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan&lt;br /&gt;sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua&lt;br /&gt;tangannya segera menggenggam penisku dan kemudian tante Ida mulai&lt;br /&gt;menjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku&lt;br /&gt;menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang&lt;br /&gt;kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang&lt;br /&gt;terlewat dari sapuan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk.&lt;br /&gt;Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida. Kurasakan&lt;br /&gt;dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi&lt;br /&gt;sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida&lt;br /&gt;mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin&lt;br /&gt;mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.&lt;br /&gt;Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo&lt;br /&gt;keluar,…….aaauuugghhhh…..taaannnn..!!!!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu&lt;br /&gt;menyembur dari ujung penisku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya&lt;br /&gt;semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar&lt;br /&gt;tetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi.&lt;br /&gt;Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya&lt;br /&gt;hingga bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur,&lt;br /&gt;sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti&lt;br /&gt;rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas&lt;br /&gt;tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam&lt;br /&gt;keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan&lt;br /&gt;yang sayu dan terlihat pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan&lt;br /&gt;aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar&lt;br /&gt;kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya,&lt;br /&gt;sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina&lt;br /&gt;tante Ida, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan&lt;br /&gt;ku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan&lt;br /&gt;diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala&lt;br /&gt;penisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang&lt;br /&gt;kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku,&lt;br /&gt;kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooooohhhhhh... Toooonnnn... bee.. beeeesaaarrrr&lt;br /&gt;aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan... pee laaan... Tooooonnnnn... ooooohhhhh..!!!!!" tante Ida merintih perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam... terus... terus.... ooohhhhhh... eeeenna aaak... benaaarrrr... terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn….!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku&lt;br /&gt;terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus……&lt;br /&gt;terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala penisku terasa mentok,&lt;br /&gt;karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba&lt;br /&gt;menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya&lt;br /&gt;memompa keluar masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun&lt;br /&gt;yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan&lt;br /&gt;sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida&lt;br /&gt;terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam&lt;br /&gt;dasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara tante Ida&lt;br /&gt;bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku&lt;br /&gt;dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot&lt;br /&gt;penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit penisku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg..&lt;br /&gt;hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee…&lt;br /&gt;keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang&lt;br /&gt;ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan&lt;br /&gt;ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot&lt;br /&gt;penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang&lt;br /&gt;berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya&lt;br /&gt;selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan&lt;br /&gt;tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku.&lt;br /&gt;"Aaaaaauuddddduuhhhh... taaannnnnn... teeeee... oooooohhhhh…..!!!!" keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan&lt;br /&gt;…croott.. croott….croooootttt….semburan..maniku menyemprot dengan kuat,&lt;br /&gt;mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian&lt;br /&gt;badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara&lt;br /&gt;kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan&lt;br /&gt;sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja&lt;br /&gt;berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!" kataku dengan manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya.. siiihhh….!!!!!" kata tante Ida malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7488637119135902252-5242313202816505312?l=pujangga-sex-diary.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/feeds/5242313202816505312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7488637119135902252&amp;postID=5242313202816505312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/5242313202816505312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7488637119135902252/posts/default/5242313202816505312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pujangga-sex-diary.blogspot.com/2008/02/dirumah-tante.html' title='Dirumah Tante'/><author><name>Pujangga</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06621358809754661153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7488637119135902252.post-3659648030445534282</id><published>2008-02-02T12:48:00.000+07:00</published><updated>2008-02-02T12:51:33.051+07:00</updated><title type='text'>Desahan Santi</title><content type='html'>Nama saya Erwin (23 tahun), WNI keturunan yang tinggal di &lt;br /&gt;Bandung dan kuliah ekonomi manajemen di Universitas Maranatha. Kuliahku agak tersendat karena keranjingan membantu orang tuaku menjalankan usaha percetakan keluarga kami, jadi SKS-nya kuambil sedikit-sedikit biar tidak semerawut. Dalam materi aku sama sekali tidak ada masalah, begitupun halnya dalam pergaulan, statusku membuat orang-orang mudah dekat denganku, terutama wanita, sudah beberapa kali aku gonta-ganti pacar dan hampir semua pernah ML denganku. Orang tuaku sudah mempercayai perusahaan ini sepenuhnya padaku sehingga mereka bisa menikmati hari tuanya dengan santai dengan bepergian ke luar negeri atau mengunjungi sanak saudara lainnya. Aku mempunyai seorang cici yang sudah menikah dan ikut suaminya, jadi sekarang aku tinggal sendirian di rumah yang megah ini mengurus bisnis sekaligus kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian gila ini terjadi pada bulan Agustus 2004 yang lalu. Waktu itu aku baru putus dengan pacarku, dalam kesepian itu kalau sudah tidak ada kerjaan aku menghibur diriku dengan nonton bokep, clubbing (tapi tidak sering karena besoknya harus bangun pagi-pagi, malu dong bos kesiangan), ataupun main internet berjam-jam. Suatu hari aku membaca cerita-cerita ah-uh.tk, disitu aku menemukan hiburan yang menggairahkan, aku sangat terkesan dengan cerita-cerita karya penulis wanita seperti Lily Panther, Citra Andani, Dania, Deknas, dll dimana wanita-wanita itu terlibat dalam seks liar, ternyata wanita jaman sekarang tidak kalah berani dari pria. Lalu aku sampai pada cerita berjudul "Kejutan Untuk Teman-temanku" yang memberiku inspirasi mengadakan acara gila ini. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terbayang-bayang dalam pikiranku dimana cewek putih cantik, sexy, dan imut dikerjai &lt;br /&gt;oleh cowok-cowok kasar, tua, hitam, dan jelek yang statusnya lebih rendah darinya, sungguh suatu kekontrasan seks yang menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian mulai memikirkan rencana untuk mewujudkan fantasi liarku, &lt;br /&gt;rencanaku mencari cewek-cewek dari kalangan teman-temanku untuk diadu dengan buruh-buruh bawahanku. Yang pertama harus kulakukan adalah mencari ceweknya dulu, karena cukup sulit dan perlu lobi-lobi yang jitu, kalau untuk prianya itu sih nanti saja, kemungkinan menolaknya pasti kecil, cuma satu banding sepuluh. Besoknya aku kuliah siang dan membicarakan hal ini dengan seorang teman wanita yang pernah ML denganku, hasilnya nol, ditolak mentah-mentah. Aku jadi malu dan hampir mengurungkan niatku, tapi bintangku mulai bersinar di waktu malam ketika ngedugem, di sana &lt;br /&gt;aku bertemu Santi (22) dan Sandra (22) yang juga sefakultas denganku, mereka akrab denganku maka aku tanpa tendeng aling-aling mengutarakan maksudku pada mereka. Mulanya mereka merasa risih dengan ideku, tapi setelah susah payah kurayu-rayu, akhirnya Santi bangkit juga gairahnya membayangkan hal itu, sedangkan Sandra, meskipun masih ragu-ragu, akhirnya mengiyakan juga karena kudesak terus (duh...kaya salesman aja nih !). &lt;br /&gt;Setelah puas ngedugem, aku mengantar Santi pulang (Sandra naik mobil sendiri), sambil menyetir Santi sempat mengoralku sampai keluar dan dihisapnya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya aku mencari seorang lagi untuk lebih meriah, kutelepon beberapa teman yang pernah kencan denganku dan mereka-mereka yang bispak (bisa pakai). Dari tiga orang yang kuhubungi akhirnya ada juga yang setuju yaitu Ivana (23), mahasiswi Sastra Inggris yang pernah pacaran singkat denganku, kebetulan waktu itu dia baru putus dengan pacarnya. &lt;br /&gt;Phew...akhirnya jerih payahku dengan menebalkan muka tidak sia-sia. Kini tinggal &lt;br /&gt;mencari cowoknya, aku keliling pabrikku untuk menyeleksi kandidat yang pas, lima orang saja kurasa cukup, kalau terlalu banyak takutnya berabe, bisa ada kasak-kusuk ga enak. Sebentar saja aku sudah mendapatkan lima kandidat itu, pilihanku jatuh pada : Pak Andang, seorang buruh tua berumur lima puluhan yang telah bekerja sejak usaha kami masih kecil-kecilan, kurasa pantas dia menerima hadiah ini mengingat pengabdiannya, meskipun berusia senja dan sudah mulai beruban, tubuhnya masih tetap fit karena terbiasa kerja keras; Pak Usep, usianya sebaya dengan Pak Andang, sudah menduda, jadi kupikir inilah saatnya sekali-sekali memberi upah biologis padanya; Mang Nurdin, berusia empat puluhan, badannya kekar dan berisi, inilah yang menjadi pertimbanganku memilih dia; Mang Obar, tiga puluhan, tampangnya mirip tikus dengan kumis tipis, kurus tinggi seperti pohon kelapa; Endang, paling muda dari kelimanya, baru dua puluh tiga tahun, bekerja disini baru setahun lebih, tapi rajin dan kerjanya &lt;br /&gt;bagus, patut mendapat hadiah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai jam kerja aku memanggil mereka untuk bertemu secara pribadi di kantorku. Awalnya mereka bingung kok dipanggil mendadak seperti ada salah saja. Namun setelah aku menjelaskan maksudku selama beberapa menit, mereka hampir terlompat, antara kaget dan senang, seperti tidak percaya apa yang baru kutawarkan.&lt;br /&gt;"Hah, serius nih tuan ?" Pak Andang dan Mang Obar bertanya hampir bersamaan&lt;br /&gt;"Iya, siapa yang main-main, pokoknya kalian tinggal datang dan nge-jos, &lt;br /&gt;apa-apanya saya yang atur, dan satu hal lagi jangan sampai ada yang tau lagi selain kita, atau tidak sama sekali" jawabku meyakinkan.&lt;br /&gt;Seperti yang kuduga, tak satupun dari mereka ragu atau menolak, tidak sesulit mengajak para ceweknya. Ya, sifat dasar pria lah, siapa sih yang bisa melewatkan kesempatan emas gini lalu begitu saja, apalagi kalau soal perempuan, bahkan Raja Daud yang bijak itu saja tidak bisa menghindar dari godaan seksual, ya kan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya menurut rencana harusnya besok bisa mulai, tapi karena Santi meng-SMS bilang bahwa ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, terpaksa acara ditunda besok lusa. Duh, aku jadi agak bete, tidak sabar menunggu hari esok, satu jam jadi terasa setahun karena sudah kebelet. Malamnya aku sampai masturbasi saking bergairahnya, tapi sisi positif dari tertundanya acara ini aku bisa mempersiapkan segalanya lebih baik. Ketiga pembantu wanitaku kubebastugaskan hari itu, yang kebetulan sehari &lt;br /&gt;sebelum hari kemerdekaan RI, kusuruh saja mereka berkunjung ke sanak saudaranya atau kemana kek, pokoknya tidak mengganggu acara gilaku. Kupompa kasur udaraku yang empuk (beli dari Dr. TV, hehe..promosi nih ceritanya?) dan kuletakkan di ruang tamu sebagai arena pertarungan nanti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampai juga hari-H itu, sekitar pukul dua siang aku sudah membereskan segala dokumen yang harus kutangani, sisanya, pekerjaan kecil lainnya kuserahkan pada staffku. Saat itu sudah ada SMS masuk dari Ivana yang mengatakan bahwa dia sudah datang dan sedang menunggu di depan kediamanku.&lt;br /&gt;"Pagi-pagi amat dia datang, baru juga jam segini" pikirku. Aku pun segera menuju ke rumahku yang terletak di samping pabrik, dibatasi dua buah gerbang kayu. Aku memasuki pekarangan rumahku, disana Ivana sedang jongkok mengelus-elus si Buster, kelinci peliharaanku.&lt;br /&gt;"Hoi, Na, cepat amat kesininya, kan gua bilang jam limaan sesudah bubar kerja" sapaku&lt;br /&gt;"Tanggung, kalo pulang, nanti harus bolak-balik jauh lagi" jawabnya&lt;br /&gt;"Naik apa kesini ?"&lt;br /&gt;"Tadi nebeng si Stephanie kan dia di Lingkar Selatan sana"&lt;br /&gt;Hari itu Ivana terlihat cantik sekali, kaos ketatnya tanpa lengan dan celana panjang sedengkulnya semua serba putih, rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Walaupun pernah putus denganku akibat ketidakcocokan sifat, namun kami masih berteman baik, bahkan terkadang kita melakukan hubungan badan. Secara fisik, dia termasuk perfect, buah dadanya sedang saja, standar cewek Asia, tubuhnya langsing bak biola, dia juga jago dancing dan piano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuajak dia masuk ke rumah, disana kami menonton DVD Troy sambil &lt;br /&gt;ngobrol dan makan snack menunggu waktu bubaran pabrik. Ketika film lagi seru-serunya, tiba-tiba intercom berbunyi, ada urusan di pabrik yang memintaku datang.&lt;br /&gt;"Gimana sih nih orang-orang, masih butuh gua juga !" omelku dalam hati&lt;br /&gt;"Lu nonton sendiri dulu, gua ada perlu dulu nih, sori yah"&lt;br /&gt;Huh, ternyata cuma ada dokumen yang perlu kutandatangan, cuma itu saja, &lt;br /&gt;itulah kenapa aku tidak mengatur acaranya jam segini, ya banyak gangguan seperti ini loh. Aku memeriksa sejenak kegiatan di pabrik, setelah yakin tidak ada apa-apa lagi aku pun kembali ke samping. Waktu keluar dari sana, kulihat Vios hitamnya Santi sudah ada di halaman pabrik. Aku menengok arlojiku, wah...sudah mau jam setengah lima, ga kerasa ya, cepat amat, berarti sebentar lagi pesta gila-gilaan ala Kaisar Caligula akan segera dimulai hehehe...aku jadi ngeres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, si Santi mana, tadi ada mobilnya di depan ?" tanyaku pada Ivana karena tidak melihat Santi di rumah&lt;br /&gt;"Tuh, lagi ke WC, masih lama ga nih acaranya Win, gua udah deg-degan nih ?" tanyanya&lt;br /&gt;"Bentar lagi kok, jam lima baru bubar, rileks aja Na, ga usah tegang gitu, ntar juga enjoy" kataku&lt;br /&gt;"Yo, San darimana aja, you are so hot today !" sapaku begitu keluar dari kamar mandi&lt;br /&gt;Waktu itu Santi memakai tank-top merah yang talinya diikat ke leher dan membiarkan setengah punggungnya terbuka. Bawahnya memakai rok yang mini dari bahan jeans ungu memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku terpana beberapa detik menatap tubuh mulus Santi yang tinggi semampai (170cm), wajahnya cantik ala oriental namun ekspesinya agak dingin, sehingga sering terkesan jutek bagi yang belum kenal dekat dengannya, tapi kalau akrab dia enak diajak bicara, blak-blakan dan pendengar yang baik, &lt;br /&gt;setahuku dia ini orangnya pilih-pilih dalam memilih patner sex, tapi mau saja menerima tantanganku ini, entah dia yang kepingin atau diplomasiku yang hebat.&lt;br /&gt;"Dari rumahlah, masa dari kampus pake baju glamor gini, eh tinggal si Sandra ya yang belum ada ?" jawabnya&lt;br /&gt;"Iya belum tuh, ga ada berita lagi, tadi gua telepon HPnya ga dinyalain"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lu pake ginian bikin gua kepanasan nih San" kataku sambil memandangi dirinya, dibalik celanaku, adikku juga mulai bangun.&lt;br /&gt;Tak dapat menahan diri lagi, langsung kupeluk tubuh Santi, tanganku menggerayangi pahanya sambil menyingkap roknya, lalu telapak tanganku bergerak ke belakang meremas pantatnya yang montok.&lt;br /&gt;"Nngghh...buru-buru amat sih, ntar aja ah !" katanya antara menolak dan menerima&lt;br /&gt;"Sori San...dikit aja, lu bikin gua nafsu sih" sahutku seraya memagut lehernya&lt;br /&gt;Rambutnya yang pendek model Utada Hikaru memudahkan aku menjilati lehernya yang jenjang hingga ke tenguknya. Dari sana bibirku menjelajah secara erotis ke dagu, pipi, hingga mencaplok bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan meremas pantatnya, aku menciuminya dengan panas, nafas kami yang memburu terasa pada wajah masing-masing. Perhatian Ivana pada layar TV jadi tersita ke arah mantan pacarnya yang berciuman dengan penuh gairah dengan temannya. Dia menatapi kami tanpa berkedip dan terlihat gelisah, tangannya secara sembunyi-sembunyi meremas payudara sendiri. Aku yakin cintanya padaku masih tersisa sedikit walaupun cuma lima persen, dan hal itu tentu menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santi pun mulai merespon dengan meremas selangkanganku yang sudah menonjol. Lagi enak-enak ber-French kiss, tiba-tiba bel musikku berbunyi, kami melepaskan diri. Hhmm...siapa ya, Sandra atau para bawahanku ? Pintu kubuka, ternyata para buruhku, lima-limanya pula, aku memberitahukan bahwa cewek-ceweknya sudah datang tapi dari tiga baru dua yang datang, kuminta agar mereka bisa berbagi jatah dengan adil.&lt;br /&gt;"Ini beneran kan tuan ? kita ga usah keluar uang kan ?" si Endang seakan masih tak percaya, aku cuma mengangguk meyakinkannya&lt;br /&gt;"Udahlah ga usah banyak bacot, enjoy aja euy !" Pak Usep menepuk punggung pemuda itu&lt;br /&gt;Kubawa mereka ke ruang tengah dan kupertemukan dengan para cewek. Ivana terlihat nervous, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum dipaksa ketika kuperkenalkan buruh-buruhku satu persatu. Sedangkan Santi, meskipun agak gugup, namun lebih luwes, dia berdiri menyambut kedatangan mereka bahkan menyalami mereka waktu keperkenalkan. Ketika Mang Obar dengan nakal mencolek pantatnya pun, dia membalasnya dengan senyum menggoda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak kupersilakan mereka memilih sesuai selera mereka, dengan ini pesta resmi kubuka. Pak Usep dan Endang sepertinya lebih memilih Ivana, merekapun menghampirinya dan duduk disofa mengapit kanan dan kirinya. Sedangkan sisanya yang memilih Santi mulai berdiri mengerubunginya. Aku sendiri duduk di sebuah sudut yang strategis untuk menyaksikan the hottest live show ini.&lt;br /&gt;Nah, pembaca, dari sini aku sempat bingung bagaimana menguraikan kedua adegan ini secara lengkap dan detail, karena tidak seru kan kalau aku hanya menguraikannya sekilas-sekilas. Akhirnya setelah kupikir-pikir aku memutuskan menceritakannya per adegan plus berdasarkan penuturan mereka, supaya lebih fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang kurasakan waktu itu, semoga metode berceritaku ini memuaskan pembaca sekalian, aku akan memulainya dengan adegan Santi. (beberapa dialog disini, terutama yang diucapkan para buruhku adalah dalam Bahasa Sunda, sebenarnya aku lebih sreg menuliskan seperti aslinya, namun mengingat pembaca ah-uh.tk bukan cuma dari Jawa Barat, juga peraturan dari admin yang mengharuskan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka aku harus taat sama aturan mainnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santi dikerubungi ketiga orang itu Santi nampak tegang, namun dia menutup-nutupi ketegangan itu dengan senyumannya dan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terkadang mereka mengajukannya pertanyaan nakal yang membuat wajahnya memerah tersipu-sipu. Pak Andang mulai berani mengelusi punggung Santi yang terbuka.&lt;br /&gt;"Eeemm...geli Pak !" desahnya menggoda.&lt;br /&gt;"Masa digituin aja geli sih Neng, gimana kalo diginiin ?" Mang Obar meremas payudaranya.&lt;br /&gt;Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Nurdin juga mulai merayapi lekuk tubuh Santi sambil menyingkap rok mininya, paha mulus itu dia raba-raba, tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan Santi yang masih tertutup celana dalam biru langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak buka bajunya ya Neng"&lt;br /&gt;Tanpa menunggu jawaban Santi, Pak Andang membuka tali leher yang menyangga pakaiannya. Santi tidak memakai bra karena tank top itu mempunyai cup dada didalamnya sehingga begitu melorot payudara montok dengan puting kemerahan itu langsung terekspos. Pak Andang dan Mang Obar mencaplok masing-masing kiri dan kanannya. Mang Nurdin kini berjongkok sedang mengagumi keindahan paha Santi yang jenjang dan mulus itu, tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu.&lt;br /&gt;"Neng, pahanya mulus amat...putih lagi" puji Mang Nurdin sambil menjilatnya.&lt;br /&gt;Yang tak kalah menarik tentu bagian pangkalnya dan kini tangan Mang Nurdin telah sampai kesitu membelai kemaluannya dari luar, jari-jarinya lalu menyusup lewat tepi celana dalamnya. Mang Obar mengenyot payudara kanannya. Santi menengadah dengan mata terpejam, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan. Dia telah mabuk birahi, tubuhnya menggelinjang saat Mang Nurdin menggosok vaginanya dengan jari-jarinya sampai terlihat bercak cairan vaginanya di tengah celana dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Andang, disana aja atuh, cape dong berdiri melulu ?" kataku menunjuk kasur pompa yang terletak tak jauh dari situ.&lt;br /&gt;Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Santi di kasur empuk itu, &lt;br /&gt;lalu pakaiannya dilucuti satu persatu hingga tak tersisa apapun lagi di tubuhnya. Tampaklah tubuh mulus Santi yang berpayudara kencang, berperut rata, dan kemaluannya yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan tercukur rapi. Setelah menelanjanginya, mereka juga membuka baju masing-masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap menembak, Santi sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera ‘membantainya’ itu. Ketiganya kembali mengerubungi Santi yang terlihat nervous dengan menutupi kemaluan dan payudaranya dengan tangan.&lt;br /&gt;"Hehehe...si neng malu-malu gini bikin saya tambah nafsu aja ah !" kata &lt;br /&gt;Mang Nurdin mengangkat tangan kiri Santi yang menutup payudaranya.&lt;br /&gt;"Wah ternyata bodynya amoy bagus banget ya!" kata Mang Obar yang tangannya mulai menjelajahi tubuh mulus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Andang menciumi payudara kanannya sambil tangannya meraba-raba kemaluannya. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah lalu dengan ujung lidahnya dia main-mainkan putingnya. Jantungku berdebar-debar dan mataku melotot menyaksikan adegan itu, ditambah lagi adegan pada sofa di hadapanku dimana tubuh telanjang Ivana sedang dijilati dan digerayangi. &lt;br /&gt;Aku membuka celana pendekku dan mengeluarkan penisku lewat pinggir celana dalam lalu mulai memijatnya, ini jauh lebih spektakuler dari film bokep dengan artis tercantik sekalipun. Mang Nurdin mencium dan menjilat leher jenjang Santi sambil mengusap-usap payudara satunya, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelikitik kupingnya menyebabkan Santi menggeliat dan mendesah nikmat. Dari telinga mulut Mang Nurdin memagut bibir Santi, mulut lebar dengan bibir tebal itu seolah mau menelan bibir Santi yang mungil lagi tipis. Sekonyong-konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Santi nampak sudah tidak merasa risih lagi, yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini, terlihat dari matanya yang terpejam menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah dengan meraih penis Mang Nurdin dalam genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Obar sedang berlutut diantara kedua paha Santi, tapi dia belum juga mencoblosnya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh mulus itu. Sekarang dia sedang membelai-belai tubuh bagian bawahnya, terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri itu, lalu menciumi mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia emut jari kaki yang lentik itu. Lagi enak-enak nonton live-show sambil ngocok, tiba-tiba ada SMS masuk, kuraih HP-ku, oh...si Sandra, hampir lupa aku sama anak ini saking asyiknya, pesannya berbunyi demikian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Win, pstanya jd g? psti lg asyk y? sori nih tlat, td diajak tmn jln2 sih, kl stgh7 gw ksana msh bsa g?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brengsek bikin orang nunggu aja, mana datangnya telat banget lagi, tapi aha...terbesit sebuah cara untuk menghukumnya, hihihi...aku nyeringai sambil mereply SMS-nya&lt;br /&gt;"Gile tlat amt sih, y dah u dtg aja, mngkin msh kburu, kl g kta skalian &lt;br /&gt;mkn mlm aja, ok"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, kini Santi sedang menjilati secara bergantian penis Pak Andang dan Mang Nurdin yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu Mang Obar menjilat serta menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Santi, rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepala Mang Obar. Kini Santi membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada penis Pak Andang, setelah masuk ke mulutnya, dia mulai &lt;br /&gt;mengulum benda itu dengan nikmatnya sambil tangan kanannya mengocok pelan penis Mang Nurdin. Tak lama kemudian Mang Obar menghentikan jilatannya dan merentangkan paha Santi lebih lebar, dia bersiap memasukkan penisnya. &lt;br /&gt;Santi juga menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis yang makin mendekati bibir vaginanya dengan deg-degan.&lt;br /&gt;"Pelan-pelan yah Mang, saya takut sakit abis kontol Mang gede gitu !" ucap Santi memperingatkan&lt;br /&gt;"Tenang aja Neng, Mamang ga bakal kasar kok !" hiburnya sambil mengarahkan senjatanya ke liang senggamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya Mang Obar kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Santi karena ukurannya itu, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong.&lt;br /&gt;"Aakkhh...nggghhh...sakit !" rintih Santi menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum juga masuk seluruhnya&lt;br /&gt;"Masa pelan gitu sakit sih Neng ?" kata Pak Andang yang memegangi tangannya sambil membelai payudaranya&lt;br /&gt;"Mungkin si Neng aja yang memeknya kekecilan kali !" sahut Mang Nurdin cengengesan.&lt;br /&gt;"Aaaaahhh..." jeritnya saat Mang Obar menghentakkan pinggulnya ke depan hingga penisnya terbenam seluruhnya ke dalam liang itu.&lt;br /&gt;Selanjutnya, tanpa ampun dia menggenjotnya dengan buas tanpa menghiraukan perbandingan ukurannya dengan vagina Santi. Sementara di kiri dan kanannya kedua orang itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya. Mang Nurdin dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kanannya yang disedot dan dikulum dengan rakus. Pak Andang menelusuri tubuh itu dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuh Santi tidak luput dari jilatannya. Santi mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan &lt;br /&gt;kepalanya, tubuhnya menggelinjang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar saja Santi sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk ke atas, desahannya makin hebat. Namun Mang Obar masih belum keluar, dia menaikkan kedua betis Santi ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya dia menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Santi, cairan itu nampak menetes dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya. Santi hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Andang mencicipi &lt;br /&gt;vaginanya. Mula-mula dia meminta Santi membasahi penisnya dulu, setelah dikulum sebentar, dia menindih Santi sambil memasukkan penisnya, pinggulnya mulai bergerak naik-turun diatas tubuhnya, Santi yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Andang melumat bibir mungil Santi yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu aku sudah keluar sekali, kuambil tissue mengelap tanganku yang basah. Mang Obar mengambil aqua gelas yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelahku.&lt;br /&gt;"Gimana Mang, sip ga ?"&lt;br /&gt;"Enak banget Bos, Mamang ga pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini, &lt;br /&gt;sering-sering bikin yang kaya gini ya!" komentarnya dengan antusias&lt;br /&gt;"Tenang Mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh !" &lt;br /&gt;nasehatku, kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Sandra kalau dia datang nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Santi kini diatasnya. Dia lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya diatas penis yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya. Mang Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Santi mulai menjilatinya dimulai dari &lt;br /&gt;kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu, buah zakarnya yang &lt;br /&gt;besar dia emut beberapa saat.&lt;br /&gt;"Uuuhh...ayo Neng, enak gitu...mmm !" desah Mang Nurdin&lt;br /&gt;Semakin hanyut dalam lautan birahi, Santi tidak malu-malu lagi mengemut &lt;br /&gt;penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya, dengan gemas Pak Andang menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Endang baru saja selesai dengan Ivana, setelah menyemprot perut Ivana dengan spermanya dia minum dulu dan langsung menuju Santi, sementara itu Mang Obar mulai mencicipi Ivana. Endang duduk di sebelah kanannya dan meminta ijin Pak Andang yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit putingnya karena badan Santi mengejang dan mendesah tertahan di tengah &lt;br /&gt;aktivitasnya mengoral Mang Nurdin, dia mengenyot dan kadang menarik-narik puting itu dengan mulutnya.&lt;br /&gt;"Ooohh...isep Neng...iseepp !!" tiba-tiba Mang Nurdin mendesah panjang dan makin menekan kepala Santi ke selangkangannya.&lt;br /&gt;Spermanya menyembur di dalam mulut Santi, mungkin karena badannya berguncang-guncang hisapan Santi tidak sempurna, cairan itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Santi setelah di cleaning service, diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba goyangan Santi makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang, kepalanya menengadah sambil mendesah panjang, kedua tangannya memegang erat lengan Pak Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak Andang belum, dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Santi. &lt;br /&gt;Tubuh Santi melemas kembali dan ambruk ke depan menindihnya. Saat itu Endang sudah pindah ke belakangnya, dia meremas pantat yang sekal itu sambil mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang, tangannya menuntun penisnya memasuki liang dubur itu diiringi rintihan pemiliknya. &lt;br /&gt;Tubuh Santi kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich, kedua penis itu menghujam-hujam kedua lubangnya dengan ganas.&lt;br /&gt;"Ooohh....oooh...aakkhh !" gairah Santi mulai bangkit lagi, vaginanya berdenyut-denyut memijat penis Pak Andang yang sudah di ambang klimaks.Pak Andang lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Santi akhirnya dia terbaring lemas di kolong tubuh Santi dengan nafas terengah-engah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ditinggalkan Pak Andang, Santi cuma melayani Endang saja, namun pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga dia menjerit-jerit. &lt;br /&gt;Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung di remas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks, sperma Endang tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. Keadaan Santi sudah babak-belur, tubuhnya bersimbah peluh, bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus, sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tissue. Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku, dengan tissue kuseka keringat di dahinya, minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis.&lt;br /&gt;"Udah ya San, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu!" saranku&lt;br /&gt;Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng, ga apa-apa katanya cuma perlu istirahat sedikit, dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu. Waktu itu Pak Usep menghampiri kami bermaksud menikmati Santi, tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tubuh Santi yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke kamar mandi, kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum keluar kami berpelukan, kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari, cairan sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku, sehingga aku harus cuci tangan.&lt;br /&gt;"Dah mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action !" kataku&lt;br /&gt;Dia cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah kakiku, aku melompat kecil dan keluar sambil tertawa-tawa. Begitu aku keluar, waw...gile, Ivana mantan pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu, dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet, the hottest gangbang i've ever seen ! Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivana, Endang dan Pak Usep duduk mengapit Ivana masing-masing di kanan dan kirinya. Ivana terlihat tegang sekali beberapa kali dia memanggil-manggil namaku.&lt;br /&gt;"Kenapa Na, kok sekarang tegang gitu katanya mau ngebalas pacarlu itu!" kataku&lt;br /&gt;"Oh, jadi Neng udah punya pacar yah !" kata Pak Usep&lt;br /&gt;"Ngga, baru putus kok" jawabnya malu-malu&lt;br /&gt;"Putusnya kenapa Neng ?" tanya Endang&lt;br /&gt;Ivana cuma menggeleng tanpa menjawabnya.&lt;br /&gt;"Udah ah lu, kalau ga mau dijawab jangan maksa !" kata Pak Usep pada rekannya&lt;br /&gt;"Eh, Neng sama pacar yang dulu pernah ngentotan ga ?" tanya Endang cengengesan&lt;br /&gt;Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawabnya sambil tersenyum malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo gitu pernah diginiin dong Neng hehehe !" Pak Usep tertawa-tawa meremas buah dada Ivana.&lt;br /&gt;"Diginiin juga pernah !" Endang meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar.&lt;br /&gt;Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak Usep makin gemas memijati payudaranya, si Endang sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu Pak Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya, Ivana sepertinya menurut saja, dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana &lt;br /&gt;panjang selututnya.&lt;br /&gt;"Ini dibuka aja ya Neng" pinta Endang&lt;br /&gt;Ivana mengangguk, maka Endang pun dengan cekatan membuka bra-nya &lt;br /&gt;sehingga dia telanjang dada. Endang langsung melumat yang kanan dengan rakus.&lt;br /&gt;"Pentilnya bagus ya Neng, kecil, merah lagi" komentar Pak Usep sambil &lt;br /&gt;memilin-milin putingnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Ivana membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup lehernya membuat tanda kemerahan disitu, rambut Ivana yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu. &lt;br /&gt;Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak Pak Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil Endang yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya.&lt;br /&gt;"Eh, Dang, kita taruhan yu, yang menang boleh ngentot si Neng duluan !" tantangnya&lt;br /&gt;"Taruhan apaan Pak, saya mah ayu aja"&lt;br /&gt;"Coba tebak, si Neng ini jembutan ga ?" tanyanya dengan nyengir lebar&lt;br /&gt;Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini, aku juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini dikerjai orang lain.&lt;br /&gt;"Hmmm...ada ga Neng ?" tanya Endang sambil menatapi selangkangan Ivana&lt;br /&gt;"Eee...nanya lagi, orang disuruh tebak !" omel Pak Usep menyentil kepalanya Ivana senyum mesem dan menjawab tidak tahu menjawab si Endang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada aja deh !" tebak si Endang&lt;br /&gt;"Yuk kita tes, bener ga !" kata Pak Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Ivana&lt;br /&gt;"Eemmhhh..." desis Ivana saat merasakan tangan Pak Usep merabai kemaluannya&lt;br /&gt;"Weleh...sialan, bener juga lu Dang !" gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana memangnya berbulu, lebat lagi.&lt;br /&gt;Endang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Ivana. Merekapun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Usep tetap didalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Endang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan resletingnya, sebelumnya dia menyuruh Pak Usep menyingkirkan tangannya dulu. &lt;br /&gt;Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Endang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Ivana telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Si Endang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana, tentu dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian.&lt;br /&gt;"Duh, cantik banget sih Neng ini, bikin saya ga tahan aja !" kata Pak Usep sambil mendekap tubuhnya.&lt;br /&gt;Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu, belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai menyentuh bibir kemaluannya, pasti dia bisa merasakan nafas Endang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua &lt;br /&gt;bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran.&lt;br /&gt;"Wah...asyik, saya baru pernah liat memeknya amoy, dalemnya merah muda, seger euy !" komentar Endang mengamati vagina itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Usep, mau liat ga nih, bagus banget loh !" sahut Endang padanya&lt;br /&gt;"Hmmm...iya bagus ya, kamu aja dulu Dang, saya mau netek dulu !" kata &lt;br /&gt;Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya, waktu dia keluarkan cairan lendirnya menempel dijari itu.&lt;br /&gt;Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya, dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain.&lt;br /&gt;"Hhhnngghh...Mang, oohh !" Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Usep.&lt;br /&gt;Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati selangkangannya dan&lt;br /&gt;"Aaaahh...!" desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala Endang.&lt;br /&gt;Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya, klitorisnya tak luput dari lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan saling bersahut-sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oi, kalian berdua kok belum buka baju sih, kasih liat dong kontolnya ke Neng Ivana pasti dah ga sabar dia !" kataku pada Endang dan Pak Usep.&lt;br /&gt;Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil, dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada Ivana&lt;br /&gt;"Nih, Neng kontol Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana ?" tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu&lt;br /&gt;"Gede yah Mang...keras" jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya&lt;br /&gt;Ivana yang tadinya malu-malu hilang rasa malunya saking terangsangnya, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar, yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu. &lt;br /&gt;Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan, belum berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapir dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cepetan dong, kan kamu harusnya nusuk duluan, kalo ngga mau saya tusuk juga nih !" kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.&lt;br /&gt;"Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih" kata Endang yang mulai menanggalkan pakaiannya&lt;br /&gt;"Yuk Neng, basahin dulu nih...isep !" dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya.&lt;br /&gt;Ivana agak ragu memasukkan penis Endang, mungkin agak jijik kali belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya, apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian Endang mengeluarkan penisnya, diangkatnya kaki Ivana ke sofa sehingga dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep. &lt;br /&gt;Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaakkhh...!" demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai, kedia tangannya memegangi betis Ivana.&lt;br /&gt;"Ah-ah-ah....uuhh...!!" desah Ivana dengan mata terpejam&lt;br /&gt;"Enak ya Neng ?" kata Pak Usep dekat telinganya&lt;br /&gt;Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya &lt;br /&gt;sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan &lt;br /&gt;jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas &lt;br /&gt;kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena &lt;br /&gt;daritadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak Usep, &lt;br /&gt;dia mengocok-ngocok penis itu karena hornynya. Kedua kakinya menjepit &lt;br /&gt;pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga &lt;br /&gt;posisinya berbaring menyamping, satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow...seru &lt;br /&gt;sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan &lt;br /&gt;penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah &lt;br /&gt;dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat &lt;br /&gt;risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya dengan &lt;br /&gt;tangan, sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di &lt;br /&gt;mulutnya tadi, belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak &lt;br /&gt;terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu, dan dia juga &lt;br /&gt;tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri, makannya &lt;br /&gt;dia tidak pernah mau ngeseks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali &lt;br /&gt;ini saja, pertama dan terakhir demikian tegasnya.&lt;br /&gt;"Jilatin dong Neng, jangan cuma main tangan aja !" pinta Pak Usep tidak &lt;br /&gt;sabar merasakan mulutnya&lt;br /&gt;"Ngga Mang...jijik...ga mau..ahh !" gelengnya dengan sedikit mendesah.&lt;br /&gt;"Lho, gimana sih si Neng ini, tadi kan dia dikasih, masa saya ngga ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo dong Neng, sebentar aja kok !" Pak Usep terus mendesak dengan &lt;br /&gt;menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan &lt;br /&gt;tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana, karena &lt;br /&gt;mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep &lt;br /&gt;menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya dimulut, Pak Usep memaju-mundurkan &lt;br /&gt;kepalanya dengan menjambak kuncirnya.&lt;br /&gt;"Emmhh..eehmm...Mang...saya...mmm !" Ivana berusaha protes tapi malah &lt;br /&gt;tersendat-sendat karena terus dijejali penis.&lt;br /&gt;"Mmmm...gitu dong Neng baru namanya anak manis, udah lama Mamang ga &lt;br /&gt;diginiin uuh !" Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana.&lt;br /&gt;Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU, tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku, apalagi waktu itu Santi juga sedang main kuda-kudaan diatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan bernafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Ivana orgasme duluan, badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh. &lt;br /&gt;Badannya menegang beberapa saat lamanya, Pak Usep menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Endang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Sambil orgasme dia memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas, posisinya segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep memberikan &lt;br /&gt;minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya.&lt;br /&gt;"Euleuh...si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja !" gerutu &lt;br /&gt;Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana.&lt;br /&gt;Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih, Ivana juga ikut tertawa kecil.&lt;br /&gt;"Udah, gampang Mang, dibersihin aja kan beres !" hiburku padanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak &lt;br /&gt;Usep, mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan.&lt;br /&gt;"Ooohh...oohhh !!" desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan &lt;br /&gt;ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar.&lt;br /&gt;Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal, &lt;br /&gt;diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat &lt;br /&gt;tangannya merayap ke kemaluan, tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan &lt;br /&gt;jari Mang Obar yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di &lt;br /&gt;belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tenguk dan bahunya.&lt;br /&gt;"Hehehe...liat nih udah basah gini !" sahut Mang Obar mengeluarkan &lt;br /&gt;jarinya dari vagina Ivana "Emm...enak pisan !" dijilatinya cairan yang &lt;br /&gt;blepotan di jari itu&lt;br /&gt;Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya &lt;br /&gt;dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka &lt;br /&gt;bibirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masukin Neng, pelan-pelan !" suruhnya&lt;br /&gt;Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya, &lt;br /&gt;lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam &lt;br /&gt;vaginanya. Namun kerena besar penis itu baru masuk kepalanya saja, itu &lt;br /&gt;sudah membuat Ivana merintih-rintih dan meringis menahan nyeri.&lt;br /&gt;"Duh...sakit nih Mang, udah ya !" rintihnya&lt;br /&gt;"Wah, kagok dong Neng kalo gini mah, ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok !" kata Pak Usep&lt;br /&gt;"Nanti juga enak kok Neng, sakitnya bentar aja !" timpal Mang Obar&lt;br /&gt;Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya, akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya, mata Ivana sampai berair menahan sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya&lt;br /&gt;"Arrgghh...uuhhh...sempit amat...enak !" gumam Pak Usep di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Ivana.&lt;br /&gt;Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana, wajahnya mendekat dan &lt;br /&gt;hup...mulut mereka bertemu, lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana, &lt;br /&gt;dia hanya pasrah saja menerimanya, dengan mata terpejam dia coba menikmatinya lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limabelas menit lamanya batang Pak Usep yang perkasa menembus vagina &lt;br /&gt;Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan &lt;br /&gt;mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Usep dan sofa di &lt;br /&gt;bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Ivana memeluk &lt;br /&gt;erat-erat kepala Mang Obar yang sedang mengenyot payudaranya. &lt;br /&gt;Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana, rupanya &lt;br /&gt;Pak Usep juga telah orgasme. Desahan mereka mulai reda, keduanya &lt;br /&gt;melemas kembali. Nampak olehku ketika Pak Usep melepas penisnya, dari vagina &lt;br /&gt;Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya. Waktu &lt;br /&gt;beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Obar langsung menyambar &lt;br /&gt;tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan. &lt;br /&gt;Segera saja tubuhnya memacu naik-turun diatasnya. Ivana menggelinjang &lt;br /&gt;setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu Mang Nurdin dan Pak &lt;br /&gt;Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu. &lt;br /&gt;Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu diatas tubuh mantan pacarku &lt;br /&gt;itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu aku kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Santi &lt;br /&gt;ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini kuceritakan berdasarkan &lt;br /&gt;penuturan Mang Nurdin yang kuanggap paling akurat. Dari sofa, Mang Obar &lt;br /&gt;menurunkan Ivana ke karpet, dia berlutut di antara paha Ivana dan terus &lt;br /&gt;menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang &lt;br /&gt;menggiurkan itu. Pak Andang berlutut di samping kepalanya dan menjejalkan &lt;br /&gt;penisnya ke mulutnya, sambil diemut dia memegangi payudara Ivana. &lt;br /&gt;Endang dan Pak Usep yang nganggur kembali mendatanginya, merekapun ikut bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh mulus itu, ada yang mengelus pahanya, ada yang meremas payudaranya, ada yang memelintir putingnya, beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih. Pemandangan itulah yang kulihat ketika keluar dari kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari lima menit dia menjadi objek seks kelima buruhku. Mulanya aku sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di tubuhnya, ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun aku mulai merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka dengan mulutnya, beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulutnya, aku terpaksa turun tangan menyudahinya ketika kulihat air matanya mulai menetes. Aku tahu semasa pacaran denganku dulu dia memang tidak terlalu suka oral seks dan menelan sperma, jijik katanya, apalagi sekarang dengan yang hitam-hitam gitu, tentu saja aku tidak tega melihatnya dipaksa-paksa sampai menangis.&lt;br /&gt;"Udah-udah Mang, cukup...jangan diterusin lagi, nangis nih dia !" kataku membubarkan mereka&lt;br /&gt;Kemudian aku sandarkan dia di kaki sofa dan memberinya minum, kulap sperma yang membasahi mukanya. Dia memelukku dan menangis sesegukan, aku balas memeluknya dan menenangkannya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang masih lengket-lengket.&lt;br /&gt;"Duh...maaf banget Neng, abis tadi kita kirain Neng nikmatin, ga taunya nangis beneran !" kata Mang Obar&lt;br /&gt;"Iya, kalo tau Neng ga suka ngemut kontol, kita juga ga maksa, tadi Neng reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu" tambah Pak Usep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sori, sori, Na gua lupa bilang tadi, abis mandi lu pulang aja yah !" hiburku mengelus-elus rambutnya&lt;br /&gt;"Ngga, ga papa kok Win, gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu, gua kan ga suka oral" katanya setelah lebih tenang sambil membersihkan air mata.&lt;br /&gt;Legalah kami mendengar dia berkata begitu, kami kira dia bakal trauma atau shock. Aku lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit, dia pun berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Aku dan para buruhku duduk-duduk di ruang tamu merenggangkan otot, kupersilakan mereka menyantap snack dan minuman sambil menunggu Sandra. Aku ngobrol-ngobrol tentang pendapat mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk menghukum Sandra yang terlambat nanti. Sandra memang bukan type yang &lt;br /&gt;malu-malu seperti Ivana, tapi aku tetap harus memperingatkan mereka agar tidak bertindak kelewatan, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan gara-gara mewujudkan fantasi gilaku.&lt;br /&gt;"Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu ?" terdengar suara Santi bertanya dari belakang, dia berjalan ke arahku dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya, rambutnya masih agak basah&lt;br /&gt;"Ga kok, cuma belum biasa dikeroyok aja, jadi sedikit...ya gitulah !" jawabku sambil meraih pinggangnya mengajak duduk di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Nurdin mengajak Santi duduk disebelahnya saja, tapi Santi menolaknya&lt;br /&gt;"Nggak ah Pak, mending simpen tenaga aja buat si Sandra !" tolaknya&lt;br /&gt;Ketika kami ngobrol-ngobrol ada yang misscall ke HP-ku, si Sandra, semenit kemudian disusul bunyi bel, nah pasti ini dia, pikirku.&lt;br /&gt;Aku menyuruh buruh-buruhku sembunyi di dapur dengan membawa pakaian masing-masing, aku berencana membuat surprise sekaligus hukuman baginya. &lt;br /&gt;Kupakai celana pendekku untuk menyambutnya (iya dong, kalau ternyata bukan Sandra, masa aku menyambutnya memakai celana dalam).&lt;br /&gt;"Hai, sori yah telat" katanya begitu pintu terbuka "gua jadi ga usah main sama buruh-buruhlu yah"&lt;br /&gt;"Udah malam gini, kita baru aja bubar, masuk !" ajakku &lt;br /&gt;"Ngapain aja seharian tadi ?"&lt;br /&gt;"Nge-bowling di BSM, pada minta nambah game melulu sih, kan ga enak &lt;br /&gt;kalo gua pulang dulu, sori banget"&lt;br /&gt;Sandra orangnya cantik, rambut panjang kemerahan direbound, tinggi kurang lebih 160cm, dadanya tegak membusung 34B, lebih montok daripada Ivana dan Santi, tampangnya sedikit mirip Vivian Chow, artis HK tahun 90an itu loh, dengan modal itu dia pantas bekerja paruh waktu sebagai SPG. &lt;br /&gt;Hari itu dia memakai baju putih lengan panjang dengan dada rendah dan rok selutut dari bahan jeans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandra&lt;br /&gt;"Hi, baru lembur nih !" sapanya pada Santi&lt;br /&gt;Kubiarkan mereka berbasa-basi sebentar sampai aku menarik rambutnya dari belakang sehingga dia merintih kaget&lt;br /&gt;"Udah arisannya nanti lagi, kaya ga tau lu punya salah aja !"&lt;br /&gt;"Aww...aduh, ngapain sih sakit tau !" rintihnya&lt;br /&gt;Mohon pembaca jangan salah paham mengira aku ini psikopat atau apa, dalam bermain sex dengannya aku memang sering memakai cara kasar, karena dia juga menikmati dikasari, cuma sebatas main jambak dan tampar sih, tidak sampai masokisme dengan pecut, lilin, dan sejenisnya. Karena dia suka variasi seks kasar inilah aku mengajukan tantangan padanya.Aku mendekapnya dan menciumi bibir dan lehernya habis-habisan sampai nafasnya mulai memburu. Dia pun mulai meraba selangkanganku. Setelah memberi syarat dengan gerakan tangan ke arah dapur, mendadak aku melepas ciumanku dan menepis tangannya dari selangkanganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh, dasar gatel, datang-datang udah pengen kontol, kalo lu mau kontol gua kasih lu lima sekaligus !" makiku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur di lantai&lt;br /&gt;Dia menjerit kecil dan begitu menengok ke belakang disana sudah berdiri para buruhku yang bugil yang senjatanya sudah di reload, mengacung tegak siap untuk pertempuran selanjutnya. Sebelum sempat bangun dia sudah diterkam kelima orang itu.&lt;br /&gt;"Heeaaa...sikat !" seru mereka sambil menyerbunya&lt;br /&gt;"Win...sialan lu, gila !!" jeritnya&lt;br /&gt;"Huehehehe...tenang San, gua masih nyisain buat lu kok, kan lu suka dikasarin, coba deh biar tau rasanya diperkosa, dijamin sensasional abis !" aku menyeringai padanya&lt;br /&gt;Sandra meronta-ronta, tapi dia tidak bisa menghindar karena kedua kaki dan tangannya dipegangi mereka, malah itu hanya menambah nafsu mereka. &lt;br /&gt;Mereka tertawa-tawa sambil mengeluarkan komentar jorok bagaikan gerombolan serigala melolong-lolong sebelum menyantap mangsanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keributan disini memancing Ivana melongokkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi, kupanggil dia, tapi dia bilang nanti, mandinya belum selesai. Pak Usep meremasi payudaranya yang masih terbungkus pakaian&lt;br /&gt;"Waw...teteknya gede nih, asyik !" komentarnya&lt;br /&gt;Mang Obar dan Pak Andang yang memegangi kakinya juga tak mau kalah, mereka menyingkap roknya sehingga terlihatlah celana dalamnya yang warna hitam dan pahanya yang putih mulus, tangan-tangan mereka segera mengelus-elus pahanya dan terus naik ke pangkal pahanya, bukan cuma itu, jari-jari itu juga mulai menyelinap lewat pinggir celana dalam itu menggerayangi kemaluannya. Mang Nurdin menyusupkan tangannya lewat bawah kaosnya sehingga dada kirinya menggelembung dan ada yang bergerak-gerak. Si Endang meraih tangan Sandra dan menggenggamkannya pada penisnya.&lt;br /&gt;"Kocok Neng, kocokin yang saya !" suruhnya&lt;br /&gt;"Erwin...mhhpphh...Win...gua...mmm !" desahnya di tengah cecaran bibir Pak Usep yang akhirnya melumat bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyaksikan adegan ini dari jarak satu meteran sambil duduk merangkul Santi.&lt;br /&gt;"Win, dasar kelainan seks lu, tega amat lu ngeliat kita digituin tiko!" katanya sambil mencubit pahaku&lt;br /&gt;"Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu hot gitu goyangnya, ngaku lo !" sambil memencet payudaranya.&lt;br /&gt;"Buka ah handuknya ngehalangin aja !" kutarik lepas handuk yang melilit badannya&lt;br /&gt;"Lu juga dong buka, biar adil !" balasnya sambil melepasi pakaianku&lt;br /&gt;"Sepongin San, sambil nonton si Sandra dismack down nih !" suruhku&lt;br /&gt;Dengan posisi duduk di sebelahku, dia merunduk menservis penisku, jilatan dan kulumannya menyemarakkan acara yang sedang kusaksikan, seperti popcorn yang menemani nonton di bioskop. Sambil menikmati liveshow dan sepongan, tanganku memijati payudaranya dan menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rontaan Sandra semakin lemah, dia sudah pasrah bahkan hanyut menikmati ulah mereka. Aku berasumsi dia sudah tenggelam dalam hasrat seksualnya, hasrat terliar dalam dirinya, dia menikmati pagutan bibir Mang Nurdin tanpa ada paksaan, mengocok penis Endang dengan sukarela, juga ketika Pak Usep menempelkan penisnya ke mulutnya, tanpa diminta dia sudah menjilat dan mencium penis itu.&lt;br /&gt;"Telanjangin euy, biar kita bisa ngeliat bodinya !" kata salah seorang dari mereka&lt;br /&gt;"Iya bugilin, bugilin, ewe...ewe !!" timpal yang lain&lt;br /&gt;Mereka bersorak-sorak dan mulai melucuti baju Sandra, pakaiannya beterbangan kesana-kemari hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah selain arloji, cincin, dan gelang kakinya. Kelimanya memandangi tubuh telanjang Sandra tanpa berkedip.&lt;br /&gt;"Anjrit, kulitnya mulus banget, cantik lagi !" komentar seseorang&lt;br /&gt;"Wih, teteknya...jadi ga tahan pengen netek eemmm...!" sahut Mang Nurdin yang langsung melahap payudara kanannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelah sini juga bagus" sahut Pak Andang membuka lebar kedua belah pahanya.&lt;br /&gt;Bersama Mang Obar dia memandangi daerah kemaluan Sandra yang berbulu lebat dengan tengahnya yang memerah. Keduanya menjilati vaginanya yang mulai becek. Tubuhnya menggelinjang hebat merasakan dua lidah menggelikitik vaginanya. Endang menciumi leher, bahu dan sekitar ketiak, sambil jarinya memilin-milin putingnya. Pak Usep menjilati bagian pinggir tubuhnya sambil tangannya menelusuri punggung dan pantatnya. Sandra hanya bisa menggeliat-geliat dikerubuti lima buruh kasar, mulutnya mengeluarkan suara desahan. Saat itu Ivana baru selesai mandi, dia menjatuhkan &lt;br /&gt;pantatnya di sebelahku, seperti Santi tadi dia juga memakai handuk melilit badannya, rambutnya masih agak basah.&lt;br /&gt;"Buka ah ! ngapain sih malu-malu gitu !" kataku menarik lepas handuknya&lt;br /&gt;Bekas cupangan memerah masih nampak pada kulit payudara dan lehernya yang putih, kurangkul tubuhnya yang mulus itu di sisi kiriku. Santi tidak terlalu menghiraukan kedatangan Ivana, dia terus saja menjilat penisku dengan gerakan perlahan sambil memijat lembut buah pelirnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kasian ih, masa lu tega si Sandra dikeroyok gitu !" kata Ivana&lt;br /&gt;"Santai aja Na, Sandra kan ga kaya lu, dia sih enjoy aja dikasarin gitu, dah biasa" jawabku santai&lt;br /&gt;"Ooo...ga kaya gua yah !" sehabis berkata dia langsung menyambar putingku dan menggigitnya&lt;br /&gt;"Adawww...!!" jeritku refleks menepis kepalanya.&lt;br /&gt;"Jahat ih, keras gitu masa gigitnya, putus nanti" kataku mengelus-elus putingku yang &lt;br /&gt;nyut-nyutan digigitnya.&lt;br /&gt;Dia malah tertawa melihatku begitu, si Santi juga ikutan ketawa.&lt;br /&gt;"Lho, kan ke Sandra lu bilang suka main kasar, baru digituin aja dah kaya disembelih hihihi !" Santi mengejekku&lt;br /&gt;"Ini sih bukan kasar, tapi sadisme gila" gerutuku.&lt;br /&gt;"Dah ah, lu terusin aja sana, jangan ngeledek ah !" kutekan kepalanya ke bawah&lt;br /&gt;"Sini lo !" kusambar tubuh Ivana yang masih cekikikan ke pelukanku&lt;br /&gt;Dengan bernafsu kupaguti lehernya dan payudaranya kuremas-remas sehingga dia mendesah-desah kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma menjilat, Mang Obar juga memasukkan jarinya ke liang vagina Sandra, diputar-putar seperti mengaduknya sementara lidahnya terus menjilati bibir vaginanya. Setelah puas menjilat, Mang Obar menyuruh Pak Andang menyingkir, dia angkat sedikit pinggul Sandra dan menekankan penisnya pada belahan kemaluan itu, dia melenguh ketika kepala penisnya sudah mulai masuk, lalu ditekan lagi dan lagi. Sandra menahan nafas dan menggigit bibir merasakan benda sebesar itu menyeruak ke vaginanya.&lt;br /&gt;"Aaakkhh !" erangan panjang keluar dari mulut Sandra saat penis Mang Obar masuk seluruhnya dengan satu hentakan kuat.&lt;br /&gt;Penis itu keluar-masuk dengan cepatnya, suara desahan Sandra seirama dengan ayunan pinggul Mang Obar. Desahan itu sesekali teredam bila ada yang mencium atau memasukkan penis ke mulutnya.&lt;br /&gt;"Hehehe...liat tuh teteknya goyang-goyang, lucu ya !" sahut Pak Usep memperhatikan payudara yang ikut tergoncang karena tubuhnya terhentak-hentak&lt;br /&gt;"Mulutnya enak, hangat, terus Neng, mainin lidahnya !" kata Endang yang lagi keenakan penisnya diemut Sandra.&lt;br /&gt;"Uuuhh...uuhh...iyahh !" jerit klimaks Mang Obar, penisnya dihujamkan dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Mang Obar segera digantikan oleh Pak Andang, dia melakukannya dalam posisi sama dengan rekannya tadi sambil tangannya menggerayangi pahanya dengan liar. Sementara Endang mengerang lebih panjang, wajahnya mendongak ke atas dan meringis. Rupanya dia telah orgasme dan spermanya ditumpahkan ke mulut Sandra, dia menyedotnya, namun sebagian meleleh keluar bibirnya, dikeluarkannya sebentar untuk dikocok dan diperas, maka sperma itu pun nyiprat ke wajahnya. Kemudian dijilatnya lagi penis Endang yang mulai menyusut membersihkannya dari sisa-sisa sperma. Tugas Sandra menjadi sedikit lebih ringan setelah dua orang yang telah dibuatnya orgasme menyingkir, keduanya kini terduduk di pinggirnya, memulihkan tenaga sambil sesekali megang-megang tubuhnya. Tubuh Sandra menggelinjang merasakan sensasi yang selama ini belum dia rasakan, tangannya yang menggenggam penis Pak Usep nampak semakin gencar mengocoknya sehingga pemiliknya melenguh keenakan.&lt;br /&gt;"Aahhh...emm...gitu Neng, enak...oohhh !" sambil tangannya meremasi payudaranya.&lt;br /&gt;Mang Nurdin yang tadi menyusu sekarang mulai menciumi perut S
